07 April 2010

Empati Pramoedya untuk Hoakiao



Selain menulis sekian banyak novel berlatar belakang sejarah, almarhum Pramoedya Ananta Tour sangat gigih membela hak-hak warga keturunan Tionghoa (hoakiao) di Indonesia. Buku berjudul HOAKIAO DI INDONESIA simpati Pram terhadap para hoakio pasca-PP 10.

Menurut Oei Hiem Hwie, kolektor buku yang juga teman dekat Pramoedya Ananta Tour semasa pembuangan di Pulau Buru, buku Hoakiao ditulis menyusul terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959. PP 10 itu intinya melarang warga Tionghoa alias hoakio berdagang di luar ibukota kabupaten/kota.

Tak sedikit hoakio yang terkena dampak langsung PP ini. Ribuan hoakiao akhirnya dipulangkan secara massal ke Tiongkok yang waktu itu masih belum maju. Padahal, orang-orang Tionghoa itu sudah bertahun-tahun, bahkan sudah beberapa generasi, tinggal dan berusaha di Indonesia.

"Sebagai wartawan dan orang yang sangat humanis, Pak Pram tidak bisa mendiamkan keadaan ini. Dia melakukan korespondensi dengan temannya di Tiongkok," jelas Oei Hiem Hwie dalam bedah buku Hoakiao di Indonesia di Perpustakaan Medayu Agung, Surabaya, pekan lalu (1/4/2010).

Surat-menyurat itu juga dimuat di surat kabar. Nah, kumpulan esai-esai pendek Pram, sapaan Pramoedya Ananta Tour, itu kemudian dibukukan seperti kita kenal sekarang. Menurut Pram, PP 10 itu tidak adil karena di sisi lain pemerintah membuka masuknya investasi dari negara-negara asing.

"Lha, kok modal para hoakiao yang sudah tinggal beberapa generasi di Indonesia malah dilarang," tegas Oei, yang juga mantan wartawan Trompet Masjakarat pada era 1960-an.

Gara-gara menulis serial Hoakiao ini, lanjut Oei, Pram ditangkap aparat berwajib, kemudian dipenjara selama satu tahun di Penjara Cipinang, Jakarta. Sejumlah tokoh Tionghoa waktu itu ikut prihatin dengan apa yang dialami Pram. Karena itu, Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) mengutus Oei Tjoe Tat menemui istri Pram, Maimunah, untuk menyampaikan simpati.

Situasi semakin sulit setelah Gerakan 30 September pada 1965. Pram bersama tokoh-tokoh lain dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik. Pada 1990-an, ketika Pram sudah dibebaskan, Oei Hiem Hwie mengaku datang menemui Pram di Jakarta. Dia mengajak Oei Tjoe Tat, mantan menteri kepercayaan Bung Karno, ke rumah Pram.

"Itulah pertama kali Pak Pram dan Pak Oei bertemu secara langsung. Sebelumnya, mereka tak pernah bertemu," kenang Oei Hiem Hwie seraya tersenyum.

Menurut dia, Pram sangat terharu mendengar cerita kalau Oei Tjoe Tat sempat menemui istri Pram, Maimunah, ketika dirinya ditahan aparat. Selama ini tak ada orang yang menceritakan kejadian itu, termasuk Maimunah. "Pak Pram bilang terima kasih banyak atas perhatian Baperki, khususnya Pak Tjoe Tat," tutur Oei.

Dari paparan sejarah singkat ini, menurut Oei Hiem Hwie, terlihat sekali betapa dekatnya hubungan antara Pram dengan kalangan Tionghoa. Bahkan, ketika berada di Pulau Buru, Oei Hiem Hwie menjadi orang kepercayaannya.

"Saya diminta membaca dan mengoreksi naskah-naskah yang ditulis Pak Pram," ungkap Oei.

No comments:

Post a Comment