27 April 2010

Belajar dari Gayus Tambunan



Sejak dulu Indonesia memang dikenal sebagai sarang korupsi. Pabrik koruptor ada di negara Pancasila yang, katanya, berketuhanan itu. Maka, ketika ada Gayus Tambunan yang punya uang Rp 28 miliar, padahal gaji resminya Rp 12 juta. Golongannya 3A, usia pun masih 30-an.

Gayus tidak sendiri. Ada jaringan mafia yang beraksi di sana, yang melibatkan aparat penegak hukum. Penegak hukum malah melanggar hukum. Gila!!! "Bawa saja ke pengadilan! Proses hukum saja! Hukuman mati saja koruptor!" begitu teriak banyak orang.

Bagaimana mau meluruskan hukum kalau penegak hukum saja tidak lurus?

Beberapa teman saya mengaku jenuh dengan berita soal Gayus Tambunan, makelar kasus, Susno Duadji, cicak-buaya, Bank Century, dan sebagainya. "Ngapain sih capek-capek bahas korupsi? Bukankah korupsi itu BUDAYA bangsa Indonesia? Kita harus bangga menjadi negara terkorup di Asia atau dunia. Bagaimana kalau korupsi itu diambil sisi positifnya?" kata Cak Kadir di Gedangan Sidoarjo.

"Positifnya gimana?"

"Semua orang kan ingin kaya, punya uang banyak, rumah mewah banyak, barang-barang mahal. Gayus sangat cerdik. Gajinya sedikit, tapi duitnya miliaran. Apa gak hebat itu? Mestinya orang Indonesia yang kebanyakan miskin itu mencontoh kecerdasan Gayus Tambunan, sehingga bisa kaya-raya begitu."

Cak Diri terus saja nerocos. "Lha, kalau semua orang Indonesia cerdik kayak Gayus, punya uang banyak, hidup orang Indonesia kan lebih enak. Gak usah antre BLT kayak wong sing kere-kere itu. Gayus itu, kata Cak Diri, aslinya ya orang biasa-biasa saja. Orang tuanya sederhana, rumah di kampung, bukan keturunan pengusaha kaya.

Kesimpulannya? "Gayus Tambunan itu harus jadi inspirasi," kata Cak Diri.

Kok gitu sih? "Korupsi itu prestasi kita, kebanggaan kita. Harus kita lestarikan dan ekspor ke luar negeri. Korupsi itu kan bisa bikin kaya orang. Tau!!!!"

1 comment: