08 April 2010

Bahaya Wanita Cantik



Di depan para pejabat Partai Komunis, Presiden Hu Jintao menyampaikan pidato menarik. Hu minta semua pejabat di Tiongkok untuk tidak tergiur cobaan wanita cantik. Seperti dikutip kantor berita Xinhua, 7 April 2010, Hu Jintao berkata:

"Leading cadres at all levels should always maintain a spirit of moral character and be aware of the temptations of power, money and beautiful women."

Begitu membaca judulnya saja di internet, saya langsung tertarik membaca berita ini. Bukan main! Seorang pemimpin tertinggi Tiongkok bicara secara terbuka tentang moralitas. Negara komunis, yang selama ini dianggap ateis, tak beragama, tak pernah menyebut-nyebut nama Tuhan, mungkin jarang berdoa... menekankan moralitas luhur.

Hati-hati sama wanita cantik!

Sebetulnya pidato Presiden Jintao ini tak asing bagi telinga orang Indonesia. Kita sering mendengar nasihat agar mewaspadai 3-TA: harta, tahta, wanita. Makhluk yang namanya wanita--entah cantik, sedangan, atau jelek--sejak dulu dianggap sebagai godaan besar bagi para pejabat yang memang dominan laki-laki. Wanita cantik (dan muda tentu saja) sering dijadikan pelumas atau umpan untuk memuluskan urusan.

Bahkan, di Indonesia kabarnya ini ada klub sepak bola yang sangat hebat, tapi tak berdaya kalau diumpan dengan... cewek cantik. Menjelang pertandingan, cerita teman saya, pihak lawan cukup menyediakan beberapa "ayam cantik" untuk servis para pemain kunci. Plus minuman keras kelas atas, sedikit hiburan, habislah dia.

Kita punya lembaga antikorupsi yang hebat bernama KPK: Komisi Pemberantasan Korupsi. Kinerjanya bagus. Petugas KPK berkali-kali sukses menangkap tangan koruptor kelas kakap. Tapi, seperti disitir Hu Jintao, pejabat-pejabat KPK yang laki-laki normal tak kebal dari godaan wanita cantik. Umpankan saja gadis cantik 20-an atau belasan tahun. Ehm... dan si pejabat KPK yang tangguh itu pun akhirnya bertekuk lutut di hadapan caddy cakep.

Wanita cantik memang sakti. Pekan lalu, saya bertemu seorang pria mapan di Surabaya. Selama ini saya menganggap dia alim, sayang istri-anak, sering bikin kegiatan sosial. Di meja makan sebuah restoran, bapak ini menggandeng gadis 20-an tahun. Sangat akrab, pangku-pangkuan segala. Wanita cantik berwajah oriental.

Siapa gerangan dia? "Hehehe.... Teman sharing, teman luar dalam. Anaknya sudah mulai kerasan di Surabaya," kata sang bos.

Saya tak berani bicara lebih panjang karena ini urusan privat dan sensitif. Bagaimana kalau istrinya tahu dia main serong? Sang bos harus keluar uang banyak untuk membayar biaya hidup, makanan, pakaian, hiburan, gaya hidup, si nona. Yah, demi nona manis itu, entah sudah berapa duit terkucur. Sampai kapan permainan ini berlangsung?

Wanita, entah jelek atau cantik, sebetulnya sama dengan laki-laki. Sama-sama manusia. Kita yang laki-laki sering menyalahkan wanita cantik sebagai iblis penggoda, tukang kuras uang, perusak rumah tangga. Padahal, akar persoalan ada di dalam diri kita sendiri.

Tapi bagaimanapun juga nasihat Hu Jintao, presiden Tiongkok, tetap layak disimak dan dipraktikkan:

HATI-HATI DENGAN WANITA CANTIK!

4 comments:

  1. Bung, moralitas sebenarnya tidak terikat dengan Tuhan. Malah yang disebut agama Kong Hu Cu itu sebenarnya ialah sistem etika dan moral. Tuhan tidak berperan banyak seperti dalam agama2 Ibrahimi. Dalam agama Buddha apalagi, nggak ada yang namanya Tuhan. Masyarakat Yunani kuno pun sudah mempunya kode etik dan moral sendiri, yang lebih berhubungan dengan filosofi, bukan agama.

    Kesimpulan Bung benar, bukan wanita cantiknya yang salah, tinggal diri sendiri bagaimana. Cuman judul tulisan Bung yang provokatif, seakan2 wanitanya yang salah.

    ReplyDelete
  2. yg jelas wanita cantik sedap dipandang. hehehe

    ReplyDelete
  3. Abang,,,yang menarik yang labu mean...kita titip salam o....

    ReplyDelete
  4. Kecantikan bukan diukur dari wajah, melainkan dilihat dari hati yang paling dalam......

    ReplyDelete