29 April 2010

Bahasa Indonesia Jeblok di Unas



Biologi 92, Bahasa Inggris 80, Bahasa Indonesia 62. Nilai unas terbaik SMA Takmariyah Surabaya tahun 2010.

Hasil ujian nasional (unas) di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, juga di tempat-tempat lain di tanah air, jeblok karena BAHASA INDONESIA. Di semua jurusan, menurut Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Sahudi, hasil unas Bahasa Indonesia jeblok di semua jurusan. Ya IPA, IPS, bahkan jurusan bahasa.

Nilai rata-rata Bahasa Indonesia untuk jurusan IPA 7,37. Nilai Bahasa Indonesia ini terendah dibandingkan pelajaran lain macam matematika, fisika, kimia, biologi, bahasa Inggris. Rata-rata unas IPS untuk Bahasa Indonesia 6,84. Untuk yang jurusan bahasa rata-rata Bahasa Indonesia 6,84.

Anehkah kalau pelajar Indonesia, yang nota bene bisa berbahasa Indonesia, berbahasa nasional bahasa Indonesia, terengah-engah menggarap soal Bahasa Indonesia?

Ya, banyak orang bilang aneh. Bahasanya sendiri kok gak bisa. Bahasa Inggris malah lebih bagus. Bahkan, mata pelajaran eksakta seperti kimia, fisika, matematika, biologi... yang dulu jadi momok siswa tak separah Bahasa Indonesia. Ada apa dengan pelajar Indonesia?

Saya sendiri tidak terkejut dengan kenyataan pahit ini. Sudah lama saya merasakan betapa kacaunya cara berbahasa Indonesia para pelajar mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Saya hampir setiap hari membaca dan menyunting tulisan mahasiswa semester akhir. Termasuk calon sarjana jurusan bahasa Indonesia. Alamak, kacau balau!

Fakta menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Indonesia orang Indonesia yang katanya terdidik itu tidak lebih baik daripada orang-orang asing alias ekspatriat. Bahkan, bahasa Indonesia ekspatriat terpelajar seperti pastor-pastor asal Eropa atau Amerika yang bekerja di Indonesia jauh lebih bagus ketimbang bahasa Indonesianya dosen atau profesor asli Indonesia.

Sebut saja Prof. Dr. Josef Glinka SVD, pastor dan guru besar antropologi Universitas Airlangga Surabaya. Bahasa Indonesianya profesor asal Polandia ini boleh dikata nyaris sempurna. Prof. Glinka bahkan risi mendengar gaya bahasa sejumlah mahasiswa atau cendekiawan "pribumi" yang kacau-balau, gado-gado bercampur baur dengan kata-kata bahasa daerah atau bahasa Inggris.

Prof. Dr. Andrew Weintraub, profesor musik di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, hanya sekali-sekali datang ke Indonesia untuk mengkaji musik dangdut. Saya terkejut ketika berbicara empat mata dengan Prof. Andrew. Bahasa Indonesianya "bersih", tata bahasanya nyaris sempurna. Beda dengan bahasa Indonesianya profesor-profesor asli Jawa yang bahasanya bergelemak-peak sering kita dengar di radio atau televisi.

Lha, kalau dosen-dosen kita saja, termasuk yang bergelar profesor-doktor, tak becus berbahasa Indonesia, bagaimana pula dengan pelajar SMA, SMK, apalagi SD atau SMP? Terus terang, saya meragukan kompetensi guru-guru kita dalam mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak-anak didiknya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, bukan?

Pekan lalu, saya diminta menyunting artikel seorang profesor doktor yang namanya cukup terpandang di Indonesia. Uraian si profesor sebenarnya bagus, runut, logis, poin yang disampaikan sangat jelas. Tapi, sayang, si profesor yang pernah tinggal lama di Eropa itu lemah di tata bahasa. Beliau sulit membedakan kata depan DI dan awal DI-. Cara penulisan kata majemuk tidak konsisten. Juga masih banyak lagi kesalahan sintaksis yang merata di tubuh artikel.

Lha, kalau profesor yang sudah banyak menerbitkan buku saja seperti ini, bagaimana dengan mahasiswanya? Karena itu, saya tidak heran mengapa nilai unas Bahasa Indonesia jeblok di mana-mana. Karena itu, saya bisa mengerti mengapa para mahasiswa atau calon sarjana S-1 di Indonesia tidak bisa menulis karangan dalam bahasa Indonesia. Alih-alih bahasa Indonesia "yang baik dan benar", menulis dalam bahasa Indonesia yang santai dan komunikatif saja susah.

Beginilah akibatnya ketika orang Indonesia sendiri, termasuk pejabat-pejabat tinggi setingkat menteri atau kolumnis terkenal, menggampangkan bahasa nasionalnya! Orang Indonesia, yang sekarang makin berkiblat ke Amerika, menurut Remy Sylado, memang semakin digerogoti penyakit NGINGGRIS.

"NGINGGRIS adalah gejala suatu bangsa terjajah yang diliputi perasaan ragu, bimbang, dan tak punya konfidensi untuk berdiri sebagai bangsa berharkat dengan bahasa nasional, sehingga mereka merasa harus bercakap Indonesia dengan menyelang-nyelingkan kata-kata dan istilah, bahkan kalimat, bahasa Inggris, ke dalam bahasa Indonesia."

Nah!

16 comments:

  1. Wah tambah berat dong jadi dosen, sudah harus memperhatikan plagiarisme, mana gaji yang tidak mendukung, mau masak aja mikir, apalagi mau sisihkan uang untuk belajar !
    Kalau gitu lulus S1 perlu ditambah 1 tahun lagi untuk urusan berkomunikasi !
    Dan saya kira tidak semua orang SUPERMAN, yang bisa menguasai bidang tertentu, tidak semua pintar berbahasa, tidak semua pintar berteknologi. Kalau semua SERAGAM maka kita adalah ROBOT alias temannya ROBOT GEDEK. Jadi ukuran yang anda pakai hanya dari sudut subjektif sempit yang tidak melihat kelebihan orang dibalik kelemahan orang. Saya pikir orang Inggris pun bingung juga dengan penggunaan bahasa mereka, ada yang ngucap begini ada yang begitu, membingungkan !
    Saya pikir selama makna dibalik tulisan bisa dimengerti itu adalah sebuah berkah, dibandingkan hanya bisa mengkoreksi cara seseorang berkomunikasi yang berdasarkan standar guru BAHASA !

    Salam
    SW

    ReplyDelete
  2. bhs indonesia itu gampang, tapi memang kurang diperhatikan siswa karena dianggap semua org indonesia bisa dg sendirinya. jadi gak ada usaha khusus untuk belajar. beda dg matematika atau IPA atau kimia atau bhs inggris yg perlu perhaian khusus.

    ReplyDelete
  3. Saya tidak setuju dengan komentar anonymous saudara SW. Kemampuan berbahasa merupakan ukuran intelektualitas seseorang. Seorang sarjana S1 (bahkan seorang lulusan SMU) sudah selayaknya mampu berbahasa Indonesia yang baik, tidak perlu makan waktu satu tahun lagi untuk belajar berkomunikasi, itu tanda kebodohan. Memang tidak semua orang harus jadi sastrawan atau guru bahasa. Akan tetapi, kemampuan mengajukan pikiran, beradu pendapat, secara tertulis dan lisan, dengan menggunakan bahasa yang baik itu merupakan kunci sukses dalam pekerjaan. Justru jika semua orang mampu berbahasa yang baik, tidak akan menjadi robot karena mampu mengutarakan pikiran aslinya yang unik dengan baik.

    ReplyDelete
  4. Salut bung Curious George, memang belajar bahasa adalah suatu keniscayaan. Kita pembaca atau pendengar akan paham kalau uraiannya mudah dimengerti, sehingga pesan apapun dari narasumber akan sampai dengan utuh. Masalah ejaan dan tata bahasa semestinya sudah ada dalam 'memori' penutur/penulis bahasa Indonesia.
    Mari kita mulai dari diri sendiri untuk berbahasa Indonesia dengan ejaan dan tata bahasa yang benar, baik dan komunikatif.
    Terima kasih bang Hurek, posting lebih banyak lagi seputar bahasa agar kita semakin paham dan sadar akan kaidah bahasa yg benar.

    Salam/JW

    ReplyDelete
  5. setuju!!! bhs indonesia memang cenderung dianggap remeh. moga2 hasil unas thn ini jadi bahan pelajaran. salam.

    anton

    ReplyDelete
  6. Menurut saya bukan bahasa indonesia yang cenderung dianggap remeh tapi para pengajar yang sering kali malas untuk mengajar bahasa indonesia di sekolah. Ingat dulu waktu masa SMU, guru bahasa indonesia malas menjelaskan pelajaran dan lebih senang duduk diam saja, tinggal menyuruh murid membaca buku. Ketika tes hasilnya satu kelas dapat nilai rata-rata 4. Ada teman yang nyeletuk: kita kan kelas favorit di sekolah ini, satu kelas kok dapet nilai 4 semua? Yang bego gurunya atau muridnya? Si guru malah ketawa-ketawa aja dan bisa ditebak waktu UAS rata-rata dapet nilai 6 padahal bahasa inggris dapet 9.

    Sekedar info guru saya lulusan universitas negeri nomor satu di yogya jurusan bahasa indonesia.

    ReplyDelete
  7. Menarik...
    Mohon izinnya untuk post kalimat yang terakhir itu di facebook saya.

    NEM SMA saya itu bahasa Inggris nya 8.2 bahasa Indonesia nya 6.2... Jadi malu...
    Padahal kakak saya dosen Bahasa Indonesia.

    Sayangnya, Presiden kita juga menunjukkan gejala yang sama. Kalau beliau berpidato, pasti ada selingan bahasa Inggrisnya. Dan ketika berpidato di forum Internasional pasti memakai Bahasa Inggris.

    ReplyDelete
  8. Belajar Bahasa Indonesia dari Detik.Com :
    Menyusuri Kota Terlarang di China.
    Bu Inah nyusur setelah nginang.

    Apa hubungan kata susur dari kedua kalimat diatas ?

    ReplyDelete
  9. Saya ingat waktu saya sekolah di SMA katolik top di Surabaya. Kala pelajaran Bhs Indonesia tidak pernah disuruh membaca buku. Hanya tata bahasa, menganalisa kalimat. Terus menerus selama 3 tahun. Tidak ada menulis esai, membaca buku2 tebal, berdebat. Bagaimana seorang murid bisa jadi pintar berbahasa? Ketika Ebtanas, ditanyai sinopsis dan pelaku dalam buku2 sastra Indonesia jaman Balai Pustaka, Pujangga Baru. Kita hanya kenal pengarangnya tetapi tidak pernah membaca bukunya. Bagaimana nilai Bhs Indonesia bisa bagus?

    Saya bandingkan dengan anak2 saya yang bersekolah di California di tahun 2000-an hingga kini, di sekolah2 negeri yang rayonnya (school district) bagus. Dari SD kelas 3 diajarkan menulis, bedah buku sesuai dengan kelasnya. Di kelas 5, diajarkan berdebat, pro dan kontra suatu isu.

    Begitu SMA, sudah bedah buku2 sastra macam Tom Sawyer / Huckleberry Finn (Mark Twain), Moby Dick (Melville) dan buku2 karangan Hemingway, Toni Morison, Jane Austen, bahkan buku pemikiran Sartre sudah sarapan sehari-hari. Menulis laporan secara kritis dalam pelajaran2 sosial (terutama Sejarah) merupakan keharusan. Tidak ada penjurusan Fisika, Bahasa di tingkat SMA. Walaupun kamu mau sekolah teknik nantinya, harus pintar berbahasa juga.

    Tanpa tempaan yang seperti itu, bagaimana suatu rakyat mampu berpikir kritis, dan mampu membedakan hoax dan berita yang benar? Mampu membaca suatu propaganda bajingan dan berita yang sudah melalui redaksi dan fact-checking?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget mas meiguo.
      Analisis yg akurat tentang pelajaran bahasa kita. Di smp pun kita sudah dijejali tata bahasa. Rumus kalimat SPO + K. Objek penderita, objek pelaku, transitif dsb.

      Memang jarang atau hampir tidak ada kewajiban untuk membaca buku. Karena memang gak ada buku. Perpustakaan tidak ada. Kita cuman dikasih buku pelajaran. Buku paket proyeknya Balai Pustaka itu.

      Tata bahasa memang sangat dominan. Pake rumus2 tentang kata benda, kata sifat, kata kerja... dsb. Semua hafalan. Makanya saya selalu dapat 90 meskipun saat smp saya belum lacar bicara bahasa Indonesia.

      Pelajaran bahasa Inggris juga sama. Tata bahasa. Grammar. Belajar tenses. Ada 16 kalo gak salah. Gak ada latihan ngomong english. Kalaupun ada sangat sedikit. Makanya bahasa inggrisnya dosen2 kita kalah sama pembantu lulusan smp yg kerja satu tahun di singapura.

      Pelajaran bahasa pake rumus, tata bahasa, jadi penting karena itu yg akan keluar di ebtanas atau unas. Hehe...

      Syukurlah di jaman (yg baku: zaman) internet ini, para pelajar dan siapa saja bisa membaca apa saja di ponsel atau komputer. Alasan gak ada buku2 sudah gak cocok. Gak ada majalah atau koran juga gak relevan. Tinggal baca baca baca baca...

      Sejak ada HP lawas hingga HP pinter, masyarakat jadi terbiasa menulis pesan pendek atau apa saja di media sosial dsb. Ini budaya baru yg bagus.

      Internet sudah jadi perpustakaan raksasa dengan koleksi tak terbatas. Saya kira ini keajaiban dunia yg luar biasa.

      Delete
  10. Bung Hurek sering menulis tentang wartawan zaman sekarang, yang asal nulis, tanpa memperhatikan tata bahasa dan pilihan kata yang tepat.
    Detik.com. : Menyusuri Kota Terlarang di China.
    Menurut logika saya, jika seorang menyusuri kota terlarang di Beijing, maka yang dia lihat hanyalah atap istana, tembok tinggi bercat merah, selokan selebar 50 M yang digenangi air sedalam 6 M. Menoleh kearah selatan yang terlihat adalah Tiananmen, ke utara Jingshangongyuan, ke barat Zhongnanhai, ke timur Hutong.

    Dia berjalan menyusuri pantai, sungai, jalan.
    Logikanya; dia berjalan dipinggir laut, dipinggir kali, dipinggir jalan.

    Si wartawan-detik masuk kedalam area kota terlarang, kok dia menulis menyusuri.

    ReplyDelete
  11. Dui dui... xiansheng pancen joss. Jaman biyen MENYUSURI memang jalan di pinggir sungai danau laut dsb. Tapi makin lama kata ini dipakai dalam arti yg makin meluas. Keliling-keliling entah jalan kaki, naik motor, sepeda pancal dsb juga dianggap menyusuri. Kesannya agak puitis. Malah ada orang yg nulis menyusuri awan... hebat tenan.

    Kata2 di kamus memang cenderung berkembang dari masa ke masa. Sering berbeda jauh dari makna aslinya.

    Matur nuwun Xiansheng sudah kasih masukan yg bagus untuk para pewarta. Detik com itu sejak dulu pake gaya jurnalisme suroboyoan yg banyak memasukkan bahasa percakapan. Biar lebih ringan kalau dibaca. Beda dengan Kompas atau Antara yg pakai bahasa Indonesia baku yg baek dan bener. Bahasa baku ini kalau diterjemahkan pake mesin google translate hasilnya lebih akurat. Lain kalo gaya bercakap yg rada informal.

    ReplyDelete
  12. Bahasa Indonesia itu prioritas keempat untuk penerimaan pelajar baru. Urutannya: matematika, IPA, english, bahasa Indonesia.

    Malah sekarang banyak orang bilang gak perlu ada pelajaran bahasa Indonesia. Anak2 otomatis pasti bisa berbahasa Indonesia. Yang penting itu pelajaran agama agama agama akhlak. Jam pelajaran agama terlalu sedikit. Begitu yg saya denger di televisi breaking news usai ledakan bom di Surabaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ironis. Padahal senjata utama yang membuat Indonesia merdeka ialah Bahasa Indonesia: dimulai dengan penggunaan Bahasa Melayu sebagai lingua franca di Nusantara, dipopulerkan oleh koran-koran Tionghoa peranakan (seperti pendahulu Jawa Pos), dan akhirnya diteguhkan dengan Sumpah Pemuda. Tanpa Bahasa Indonesia, tidak ada NKRI.

      Delete
    2. Jawa Pos juga koran Tionghoa peranakan. Markasnya persis di pintu gerbang Kembang Jepun. Tapi Mr The Cunģ Sen laopan Jawa Pos termasuk golongan tionghoa berpikiran barat. Hollandspreiken.
      Bahasa melayu tionghoa, juga melayu betawi, melayu manado, ambon, kupang, larantuka dsb, adalah bahasa lisan. Bahasa penghubung yg bisa dimengerti banyak orang yg berbeda suku ras agama dsb.

      Mungkin itu yg membuat bahasa indonesia tidak dianggap penting sebagai bahasa akademis. Bahasa indonesia masih lumayan ketimbang bahasa melayu di malaysia. Orang malaysia termasuk pribumi juga cenderung menganggap bahasa melayu sebagai bahasa pasar atau bahasa rendahan. Bahasa inggris yg jadi bahasa resmi utama.

      Delete
  13. Pelajaran bahasa indonesia dan english juga berat di hafalan. Bukan dirancang agar siswa bisa casciscus pake bahasa inggris. Beda dengan kursus english atau mandarin atau belanda yg sangat menekankan percakapan. Speak speak speak...

    Saya jadi ingat pelajaran olahraga di pelosok ntt dulu. Kita hafal ukuran lapangan basket, law of the game, dsb tapi tidak pernah lihat lapangan basket. Tidak pernah pegang bola basket. Hafal gaya2 renang tapi tidak praktik karena ndak ada kolam renang. Semua siswa bisa berenang tapi di laut. Belajar sendiri di kampung karena kami orang pantai. Tidak mungkin pake gaya2 atlet karena air laut kan asin banget.

    ReplyDelete