17 April 2010

60 Tahun Indonesia - Tiongkok



Meriah dan bersahabat. Itulah suasana perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok yang digelar Konjen Tiongkok di Hotel Shangri-La, Kamis (15/4) malam. Di pintu masuk ballroom berkapasitas seribu orang itu, para undangan disambut atraksi barongsai dan reog ponorogo dari Yayasan Senopati.

Para undangan yang datang bersama istri hampir semuanya mengenakan setelan batik. Sebagian besar pengusaha dan tokoh terkemuka di Surabaya hadir. Suasana ballroom sendiri ditata secara informal, layaknya perjamuan kawin. Tuan pestanya tak lain Konjen Tiongkok Wang Huagen bersama istri, Zhao Yuezhen.

Semua undangan disambut hangat Mr Wang dan istri. Usai bersalaman, foto bersama dan bincang-bincang santai. Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf alias Gus Ipul terlihat sangat akrab dengan Pak Konjen. Tak lupa, Gus Ipul menggojlok beberapa pengusaha yang sudah dikenalnya.

"Suasana perayaan malam ini enak sekali. Kita seperti berada di rumah sendiri," kata Liem Oe Yen, pengusaha besi lonjoran, yang juga pengurus Paguyuban Masyarakat Tionghoa Indonesia. Liem terlihat akrab dengan Pak Konjen dan nyonya serta Xu Lian serta sejumlah staf Konjen RRT.

"Biasanya, acara Konjen RRT selalu diadakan tepat waktu. Tapi malam ini terlambat sedikit karena tamu-tamu sangat banyak," kata Xu Lian, konsul muda RRT, yang selama ini menjadi penerjemah resmi di Konjen RRT, kepada Radar Surabaya.

Malam itu Xu Lian berdandan elegan aktris Mandarin. "Kalau sudah dandan seperti ini, saya boleh difoto. Kalau kemarin itu jangan difoto," kata gadis yang ramah ini.

Setelah dihibur atraksi kesenian dari anak-anak Great Crystal school, Little Sun School, san Yayasan Senopati, Xu Lian naik ke atas panggung dengan latar belakang merah ala bendera Tiongkok. Aha, Xu Lian ternyata jadi pembawa acara (master of ceremony).

Nona manis ini bicara dalam dua bahasa: Mandarin dan Indonesia. Setelah kata pengantar, Xu Lian mengajak hadirin mengheningkan cipta untuk korban gempa bumi berkekuatan 7,1 skala Richter di Provinsi Qinghai, Tiongkok.

Kemudian lagu kebangsaan Tiongkok, Zhongguo Guoge, disusul Indonesia Raya. Lagu kebangsaan kedua negara ini sama-sama berirama mars yang energik. Pidato tuan rumah, Konjen Tiongkok Wang Huagen, disampaikan dalam bahasa Mandarin dan diterjemahkan oleh Xu Lian.

Berkali-kali terdengar tepuk tangan hadirin yang paham Mandarin karena retorika Mr Wang memang memukai. Pidatonya tidak datar-datar saja macam sebagian besar pejabat kita, tapi penuh dinamika. Nada suaranya naik turun, kadang cepat, kadang lambat.

Pada 13 April 1950, Tiongkok dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik. Indonesia, menurut Mr Wang, termasuk negara yang paling dini menjalin hubungan resmi dengan Tiongkok. Indonesia juga merupakan negara ASEAN pertama yang mengakui Republik Rakyat Tiongkok.

"Selama 60 tahun ini hubungan kedua negara mengalami kemajuan menonjol, terutama sejak ditandatanganinya kesepakatan kemitraan strategis antara Presiden Hu Jintao dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," katanya.

Konjen Tiongkok di Surabaya telah mempererat kerja sama dengan kota-kota di empat provinsi (Jatim, Bali, NTB, NTT) dengan kota-kota seperti Zhejiang, Shandong, Hainan, Guangzhou, Xiamen, Shanghai, Tianjin. Menurut Mr Wang, Konjen Tiongkok akan terus mendorong pertukaran dan kerja sama antara empat provinsi ini dengan provinsi-provinsi di Tiongkok.

"Semoga Tiongkok dan Indonesia berkembang dengan makmur dan sejahtera," tegas Mr Wang disambut aplaus meriah.

Giliran Gus Ipul, wagub Jatim berpidato. Sang Gus yang tahun lalu sempat jadi bintang film Laksamana Cheng Hoo itu menggunakan referensi sejarah ekspedisi utusan Tiongkok itu sebagai bahan pidatonya.

"Hubungan Tiongkok-Indonesia itu resminya 60 tahun. Tapi tidak resminya sudah lebih dari 600 tahun. Sejak zaman Kublai Khan kita sudah berhubungan. Bahkan, Tiongkok itu menjalin hubungan khusus dengan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur ini," tegas Gus Ipul.

Karena sudah sedemikian panjang, menurut Gus Ipul, tak ada yang bisa memisahkan Indonesia dan Tiongkok. "Tak akan lekang oleh panas, tak akan lapuk oleh hujan," kata Gus Ipul mengutip pepatah lama.

Gus Ipul juga menyinggung kontribusi Tiongkok dalam pembangunan Jembatan Suramadu. Tanpa partisipasi Tiongkok, kata wagub Jatim ini, jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura sepanjang 5,4 kilometer itu belum bisa diresmikan.

"Kenapa? Tiongkok itu yang mengerjakan bagian tengahnya sepanjang 1,7 kilometer. Lha, kalau yang di tengah itu nggak ada, masak kita harus melompat sejauh 1,7 kilometer?" tukas Gus Ipul disambut tawa hadirin.

Selanjutnya, Gus Ipul mulai "menggarap" Mr Wang Huagen. Setelah mengapresiasi kerja keras Mr Wang di Jatim, meski belum setahun bertugas di Surabaya, diplomat kawakan ini dinilai sudah melakukan banyak hal untuk menjalin kerja sama Jatim dengan Tiongkok.

"Kami merasa seperti saudara sendiri. Siapa tahu beliau nanti punya menantu orang Surabaya," kata Gus Ipul, bekas wartawan dan ketua Gerakan Pemuda Anshor, ini dengan banyolan khasnya. " Tapi kami tidak berdoa supaya beliau punya istri lagi di Surabaya. Kalau sampai terjadi, ya, tanggung jawab sendiri."

Hehehehe..... Bisa-bisa aja Gus Ipul ini. Diplomat seniorpun dikerjain di forum resmi!

Hadirin ketawa-ketawa, sementara Mr Wang sendiri hanya tersenyum simpul karena tidak mengerti bahasa Indonesia. "Kalau kalimat yang itu, saya tidak mau terjemahkan. Hahaha...," kata Xu Lian lantas tertawa.

Setelah pemotongan nasi tumpeng dan bersulang, demi kemakmuran kedua negara, para undangan dipersilakan menikmati sajian makanan yang sudah disiapkan. Makan sampai kenyang!

No comments:

Post a Comment