29 April 2010

Melantjong ke Koeboeran Toea Soerabaia



Sekitar 50 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia 3, Minggu (25/4/2010), menikmati enam objek wisata yang ada kaitan dengan kematian dan Ceng Bing di Surabaya. Capek, tapi asyik.


Sebelum pukul 08.00, para peserta sudah berkumpul di sebuah rumah tua Jalan Bibis 2, bekas kantor redaksi koran Tionghoa, Sin Tit Po. Paulina Mayasari, tour leader sekaligus pemrakarsa, menyampaikan brifing singkat kepada para peserta, khususnya tradisi Ceng Beng. Maklum, tidak semua peserta keturunan Tionghoa. Ada juga yang Jawa, Batak, Sunda, Betawi, Flores, hingga Kalimantan.

"Kita akan melihat tempat-tempat yang ada hubungan dengan kematian. Sebab, Ceng Beng pada bulan April itu merupakan tradisi Tionghoa untuk mengenang dan menghormati orang tua, leluhur, dan kerabat yang telah meninggal dunia," jelas Maya, sapaan akrab Paulina Mayasari.

Lantas, para peserta menumpang bemo-bemo yang sudah disiapkan Maya dan kawan-kawan. Toko Nisan Praloyo alias Tjwan Tik Sing, pembuat bongpay terkenal di Jalan Bunguran 91, menjadi tujuan pertama. Tiba di lokasi, belasan pekerja terlihat sibuk mengukir batu-batu nisan khas Tionghoa yang sangat indah.

Suwanto, bos Tjwan Tik Sing, dengan antusias menjelaskan sejarah perusahaan, jenis-jenis bongpay, bahan baku bongpay, hingga tren bongpay masa kini. Suwanto mengaku sebagai generasi ketiga penerus usaha yang dirintis pada 1937 itu. "Setahu saya bongpay di sini tertua di Surabaya, bahkan Indonesia. Sebab, bongpay-bongpay lainnya yang seangkatan sudah nggak aktif lagi," kata pria yang ramah ini.

Menurut dia, seperti juga produk yang lain, bongpay pun terus-menerus mengalami penyesuaian dari masa ke masa. Bongpay yang sekarang cenderung lebih sederhana, tak serumit zaman dulu. Bongpay di tanah air, khususnya Surabaya, pun tak sama persis dengan di Tiongkok.

"Tapi batu yang diimpor dari Tiongkok memang yang paling kuat dan berkualitas tinggi," tutur Suwanto sembari memperlihatkan bongpay-bongpay khas tempo doeloe di bagian belakang.

Karena sudah banyak orang Tionghoa yang beragama Katolik, Kristen Protestan, dan Buddha, jelas Suwanto, bongpay-bogpay pun disesuaikan dengan agama dan kepercayaan si empunya kubur. Pihak Tjwan Tik Sing pun memahat petikan ayat Alkitab atau figur-figur Kristiani macam Yesus Kristus, Bunda Maria, atau malaikat yang bersayap.

Sembari mendengar penjelasan panjang lebar soal bongpay, sebagian peserta yang kebetulan fotografer bolak-balik mengambil gambar. "Kesempatan seperti ini sangat langka. Jangan sampai dilewatkan," ujar Cak Nawi, fotografer amatir kelahiran Bandung.

Dari rumah produksi bongpay, peserta Melantjong Petjinan Soerabaia beringsut ke Peti Mati Ario di Jalan Dinoyo. Ario Karjanto, bos Ario, bersama putri tunggalnya, Yohana, dan menantunya, Richard Woo, menyambut rombongan dengan ramah. Suasana semakin meriah karena Pak Ario ini ternyata piawai bercerita dan melontarkan joke-joke segar.

"Bisnis peti mati itu seperti bisnis hiburan. Saya ini kayak EO, event organizer," kata Ario disambut tawa para pelancong lokal ini.

"Lha, iya, tugas kami di Ario ini adalah bagaimana menghibur dan membesarkan hati keluarga yang berduka. Melayani sedemikian rupa mulai dari menyediakan peti, memandikan jenazah, mencarikan romo atau pendeta atau modin, persemayaman, sampai pemakaman," ujar Ario Karjanto.

Rombongan kemudian menuju ke kompleks makam Tionghoa di Kembang Kuning. Kembali para peserta seakan berlomba mengabadikan makam-makam lama yang kental dengan berbagai simbol khas Tionghoa. Ada sejumlah makam telantar yang kini ditinggali penduduk setempat. "Habis nggak ada yang ngurus," ujar seorang warga Kembang Kuning.

Setelah mendengar penjelasan tentang metode kremasi dari Surawi, petugas Krematorium Eka Praya, acara melancong dilanjutkan ke Makam Simokwagean dan finis di Adi Jasa, Jalan Demak 90-92. Peserta bisa melihat begitu banyak objek menarik di Adi Jasa. Mulai dari cara pengawetan jenazah dengan es di cold storage, penyemayaman, hingga penyimpanan dan perawatan abu jenazah.

"Abu yang paling lama di Adi Jasa ini sudah 18 tahun. Sementara rekor penyemayaman jenazah sampai 40 hari. Itu karena suhu yang dipakai untuk menentukan hari baiknya dari Taiwan, bukan suhu Surabaya," cerita Agus Piawai, pengurus Adi Jasa.

Peserta pun tertawa terbahak-bahak karena Pak Agus ini pandai melucu. Ini juga membuat kelelahan fisik dalam melancong selama hampir tujuh jam ini tak terasa. "Senang, dapat banyak pengetahuan baru di Surabaya," kata Febby, peserta asal Jakarta. (rek)

Bahasa Indonesia Jeblok di Unas



Biologi 92, Bahasa Inggris 80, Bahasa Indonesia 62. Nilai unas terbaik SMA Takmariyah Surabaya tahun 2010.

Hasil ujian nasional (unas) di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, juga di tempat-tempat lain di tanah air, jeblok karena BAHASA INDONESIA. Di semua jurusan, menurut Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Sahudi, hasil unas Bahasa Indonesia jeblok di semua jurusan. Ya IPA, IPS, bahkan jurusan bahasa.

Nilai rata-rata Bahasa Indonesia untuk jurusan IPA 7,37. Nilai Bahasa Indonesia ini terendah dibandingkan pelajaran lain macam matematika, fisika, kimia, biologi, bahasa Inggris. Rata-rata unas IPS untuk Bahasa Indonesia 6,84. Untuk yang jurusan bahasa rata-rata Bahasa Indonesia 6,84.

Anehkah kalau pelajar Indonesia, yang nota bene bisa berbahasa Indonesia, berbahasa nasional bahasa Indonesia, terengah-engah menggarap soal Bahasa Indonesia?

Ya, banyak orang bilang aneh. Bahasanya sendiri kok gak bisa. Bahasa Inggris malah lebih bagus. Bahkan, mata pelajaran eksakta seperti kimia, fisika, matematika, biologi... yang dulu jadi momok siswa tak separah Bahasa Indonesia. Ada apa dengan pelajar Indonesia?

Saya sendiri tidak terkejut dengan kenyataan pahit ini. Sudah lama saya merasakan betapa kacaunya cara berbahasa Indonesia para pelajar mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Saya hampir setiap hari membaca dan menyunting tulisan mahasiswa semester akhir. Termasuk calon sarjana jurusan bahasa Indonesia. Alamak, kacau balau!

Fakta menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Indonesia orang Indonesia yang katanya terdidik itu tidak lebih baik daripada orang-orang asing alias ekspatriat. Bahkan, bahasa Indonesia ekspatriat terpelajar seperti pastor-pastor asal Eropa atau Amerika yang bekerja di Indonesia jauh lebih bagus ketimbang bahasa Indonesianya dosen atau profesor asli Indonesia.

Sebut saja Prof. Dr. Josef Glinka SVD, pastor dan guru besar antropologi Universitas Airlangga Surabaya. Bahasa Indonesianya profesor asal Polandia ini boleh dikata nyaris sempurna. Prof. Glinka bahkan risi mendengar gaya bahasa sejumlah mahasiswa atau cendekiawan "pribumi" yang kacau-balau, gado-gado bercampur baur dengan kata-kata bahasa daerah atau bahasa Inggris.

Prof. Dr. Andrew Weintraub, profesor musik di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, hanya sekali-sekali datang ke Indonesia untuk mengkaji musik dangdut. Saya terkejut ketika berbicara empat mata dengan Prof. Andrew. Bahasa Indonesianya "bersih", tata bahasanya nyaris sempurna. Beda dengan bahasa Indonesianya profesor-profesor asli Jawa yang bahasanya bergelemak-peak sering kita dengar di radio atau televisi.

Lha, kalau dosen-dosen kita saja, termasuk yang bergelar profesor-doktor, tak becus berbahasa Indonesia, bagaimana pula dengan pelajar SMA, SMK, apalagi SD atau SMP? Terus terang, saya meragukan kompetensi guru-guru kita dalam mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak-anak didiknya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, bukan?

Pekan lalu, saya diminta menyunting artikel seorang profesor doktor yang namanya cukup terpandang di Indonesia. Uraian si profesor sebenarnya bagus, runut, logis, poin yang disampaikan sangat jelas. Tapi, sayang, si profesor yang pernah tinggal lama di Eropa itu lemah di tata bahasa. Beliau sulit membedakan kata depan DI dan awal DI-. Cara penulisan kata majemuk tidak konsisten. Juga masih banyak lagi kesalahan sintaksis yang merata di tubuh artikel.

Lha, kalau profesor yang sudah banyak menerbitkan buku saja seperti ini, bagaimana dengan mahasiswanya? Karena itu, saya tidak heran mengapa nilai unas Bahasa Indonesia jeblok di mana-mana. Karena itu, saya bisa mengerti mengapa para mahasiswa atau calon sarjana S-1 di Indonesia tidak bisa menulis karangan dalam bahasa Indonesia. Alih-alih bahasa Indonesia "yang baik dan benar", menulis dalam bahasa Indonesia yang santai dan komunikatif saja susah.

Beginilah akibatnya ketika orang Indonesia sendiri, termasuk pejabat-pejabat tinggi setingkat menteri atau kolumnis terkenal, menggampangkan bahasa nasionalnya! Orang Indonesia, yang sekarang makin berkiblat ke Amerika, menurut Remy Sylado, memang semakin digerogoti penyakit NGINGGRIS.

"NGINGGRIS adalah gejala suatu bangsa terjajah yang diliputi perasaan ragu, bimbang, dan tak punya konfidensi untuk berdiri sebagai bangsa berharkat dengan bahasa nasional, sehingga mereka merasa harus bercakap Indonesia dengan menyelang-nyelingkan kata-kata dan istilah, bahkan kalimat, bahasa Inggris, ke dalam bahasa Indonesia."

Nah!

27 April 2010

Belajar dari Gayus Tambunan



Sejak dulu Indonesia memang dikenal sebagai sarang korupsi. Pabrik koruptor ada di negara Pancasila yang, katanya, berketuhanan itu. Maka, ketika ada Gayus Tambunan yang punya uang Rp 28 miliar, padahal gaji resminya Rp 12 juta. Golongannya 3A, usia pun masih 30-an.

Gayus tidak sendiri. Ada jaringan mafia yang beraksi di sana, yang melibatkan aparat penegak hukum. Penegak hukum malah melanggar hukum. Gila!!! "Bawa saja ke pengadilan! Proses hukum saja! Hukuman mati saja koruptor!" begitu teriak banyak orang.

Bagaimana mau meluruskan hukum kalau penegak hukum saja tidak lurus?

Beberapa teman saya mengaku jenuh dengan berita soal Gayus Tambunan, makelar kasus, Susno Duadji, cicak-buaya, Bank Century, dan sebagainya. "Ngapain sih capek-capek bahas korupsi? Bukankah korupsi itu BUDAYA bangsa Indonesia? Kita harus bangga menjadi negara terkorup di Asia atau dunia. Bagaimana kalau korupsi itu diambil sisi positifnya?" kata Cak Kadir di Gedangan Sidoarjo.

"Positifnya gimana?"

"Semua orang kan ingin kaya, punya uang banyak, rumah mewah banyak, barang-barang mahal. Gayus sangat cerdik. Gajinya sedikit, tapi duitnya miliaran. Apa gak hebat itu? Mestinya orang Indonesia yang kebanyakan miskin itu mencontoh kecerdasan Gayus Tambunan, sehingga bisa kaya-raya begitu."

Cak Diri terus saja nerocos. "Lha, kalau semua orang Indonesia cerdik kayak Gayus, punya uang banyak, hidup orang Indonesia kan lebih enak. Gak usah antre BLT kayak wong sing kere-kere itu. Gayus itu, kata Cak Diri, aslinya ya orang biasa-biasa saja. Orang tuanya sederhana, rumah di kampung, bukan keturunan pengusaha kaya.

Kesimpulannya? "Gayus Tambunan itu harus jadi inspirasi," kata Cak Diri.

Kok gitu sih? "Korupsi itu prestasi kita, kebanggaan kita. Harus kita lestarikan dan ekspor ke luar negeri. Korupsi itu kan bisa bikin kaya orang. Tau!!!!"

24 April 2010

Kelly Clarkson, Indonesia, Cigarettes




By MARGIE MASON
Associated Press


Just a few miles after passing a towering Marlboro Man ad, a second billboard off the highway promotes cigarettes with a new American face: Kelly Clarkson.


The former American Idol winner invites fans to buy tickets to her upcoming concert in Jakarta, the nation's capital. The logo of her sponsor is splashed in huge type above her head — the popular Indonesian cigarette brand L.A. Lights. Similar ads also run on TV.

Such in-your-face tobacco advertising has been banned for years in the U.S. and many other countries. But in Indonesia, the world's fourth most populous nation, tobacco companies have virtual free rein to peddle their products, from movies to sports sponsorships and television shows. The country remains one of the last holdouts that has not signed the World Health Organization's tobacco treaty.

As smoking has declined in many Western countries, it has risen in Indonesia — about 63 percent of all men light up and one-third of the overall population smokes, an increase of 26 percent since 1995. Smoking-related illnesses kill at least 200,000 annually in a nation of 235 million.

"Indonesia is a big concern, a big epidemic, a big population, and very little control," said Dr. Prabhat Jha, a tobacco control expert at the University of Toronto's Center for Global Health Research. "They have a chaotic taxation and regulatory structure. They have made the mistake of letting the Marlboro Man into the country."

In recent months, anti-tobacco forces have rallied. A new health law has declared smoking addictive and urged the government to hammer out tobacco regulations. An anti-smoking coalition is pushing for tighter restrictions on smoking in public places, advertising bans and bigger health warnings on cigarette packages.

Public debate also exploded last month after Indonesia's second-largest Islamic organization, Muhammadiyah, issued a fatwa banning smoking. Though not legally binding, the religious ruling does put pressure on smokers in the world's most populous Muslim nation.

Anti-smoking advocates now hope Clarkson will drop the sponsorship of Indonesia's third-largest tobacco company, Djarum. A growing number of voices have started pleading with the Grammy-winning pop star on her Facebook page.

Two years ago, a tobacco affiliate of U.S.-based Philip Morris International, which dominates Indonesia's tobacco market, removed its logo from ads promoting an Alicia Keys concert in Jakarta after the singer publicly denounced the sponsorship and apologized to her fans.

"If Kelly Clarkson goes ahead with the concert, she is by choice being a spokesman for the tobacco industry and helping them to market to children," said Matt Myers, president of the U.S.-based Campaign for Tobacco-Free Kids, which has urged Clarkson to drop the sponsorship.

"She has the power now to turn this situation around and to send a clear message to Indonesian young people and, frankly, to the young people of the world."

The Associated Press left messages and e-mailed representatives at Clarkson's management company, Starstruck Entertainment in Nashville, as well as representatives at her record label, RCA Records in New York. Neither responded to repeated requests for comment.



About a quarter of Indonesian boys aged 13 to 15 are already hooked on cigarettes that sell for about $1 a pack or as little as a few cents apiece, according to WHO. A video on YouTube last month prompted outrage when a 4-year-old Indonesian boy was shown blowing smoke rings and flicking a cigarette. His parents say he's been smoking up to a pack a day since he was 2.

L.A. Lights company Djarum declined to comment on its sponsorship of the April 29 Clarkson concert, or on accusations that it markets cigarettes to young people. But the company's international brand manager, Roland Halim, said it abides by government restrictions on tobacco advertising.

Philip Morris affiliate HM Sampoerna said in a statement it has urged the government to adopt tougher regulations on cigarette sales and ads, including age limits on buying tobacco, billboard restrictions and the phasing out of television commercials.

"We recognize that our products, like all tobacco products, cause disease and are addictive," it said. "Our advertising is intended solely for adult smokers. We sponsor events in compliance with Indonesian law. We do not advertise to minors."

Smoking is embedded in Indonesia's culture. Wafts of a pungent mixture of tobacco and cloves, called kreteks, can be smelled in houses rich and poor across the vast archipelago.

According to a 2008 study on tobacco revenue in Indonesia, smokers spend more than 10 percent of their household income on cigarettes; that's three times more than they spend on education-related expenses such as school fees and books.


Indonesia remains one of the last places in the world where cigarette TV commercials still run, featuring rugged men and beautiful women smoking. Billboards plastered above four-lane highways encourage motorists stuck in Jakarta's notorious traffic jams to "Go Ahead" or "Become a Man" or let Marlboro Lights "Style Your Party."

Leggy women in short skirts and strappy heels promote cigarettes at events, sometimes even giving out discounted or free samples to "taste."

Indonesia's tobacco industry employs millions in the world's fifth-largest cigarette-producing market. About 6 percent of the government's revenue comes from cigarette taxes, and a powerful tobacco lobby has blocked past regulation attempts, including a move to ban TV ads.

Indonesian cigarettes are cheap by regional standards, with taxes less than 40 percent. Tobacco farmers have held massive street protests to denounce any push for higher taxes or tighter restrictions.

"Kretek cigarettes are Indonesia's heritage just like cigars in Cuba," " said Nurtantio Wisnu Brata, chair of the Central Java chapter of the Indonesian Tobacco Farmers Association.

Any move to limit tobacco promotion and use in the country will require strong political will. But critics point out that even Indonesia's smoke-happy neighbors China and Vietnam have signed the WHO's tobacco treaty and imposed stronger controls.

"The level of advertising in Indonesia is unmatched anywhere else in Asia," said Mary Assunta, senior policy adviser for the Southeast Asia Tobacco Control Alliance.

"The Marlboro Man has ridden into the sunset in many countries, but not in Indonesia."

23 April 2010

Wang Huagen Konjen Tiongkok



Di antara sekian banyak diplomat asing yang bertugas di Surabaya, Wang Huagen (56) terbilang paling luwes. Belum setahun menjabat konsul jenderal (konjen) Tiongkok, Mr Wang--sapaan populernya--sudah akrab dengan berbagai kalangan di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Dia pun selalu terlihat di acara-acara warga keturunan Tionghoa seperti tahun baru Imlek atau ulang tahun Masjid Cheng Hoo Surabaya.

Sebagai diplomat senior yang pernah bertugas di banyak negara, Wang Huagen sudah banyak mempelajari budaya, tradisi, maupun sejarah Kota Surabaya, dan Indonesia umumnya, sebelum menjabat sebagai konjen Tiongkok pada pertengahan tahun lalu. "Indonesia dan Tiongkok punya banyak kesamaan," kata Wang Huagen dalam wawancara khusus dengan Radar Surabaya di ruang kerjanya, Rabu (14/4/2010).

Oleh LAMBERTUS HUREK



Selama satu jam lebih, Mr Wang menjelaskan perjanjian China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok, rencana kedatangan Perdana Menteri Wen Jiabao, hingga kesenangannya pada baju batik dan soto ayam. Berikut petikannya:

Terkait 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok, mengapa Konjen RRT mengadakan perayaan istimewa?

Menurut tradisi Tionghoa, 60 tahun merupakan ulang tahun yang pantas dirayakan secara istimewa dan besar-besaran. Ini merupakan saat yang tepat untuk kembali menengok sejarah dan memandang ke muka. Pada 13 April 1950, Tiongkok dan Indonesia secara resmi menjalin hubungan diplomatik. Indonesia merupakan salah satu negara yang paling dini yang menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Juga negara pendiri ASEAN pertama yang mengakui negara Tiongkok. Syukurlah, selama 60 tahun ini hubungan antara kedua negara mendapat kemajuan yang menonjol.

Saat ini isu yang sedang ramai adalah CAFTA. Bagaimana sebenarnya pandangan pihak Tiongkok?

CAFTA ini memang sangat penting dan harus dipahami dengan benar oleh semua pihak. Awal tahun ini, Dai Bingguo datang ke Jakarta. Beliau itu anggota dewan negara, setingkat wakil perdana menteri. Beliau membicarakan secara luas kemitraan strategis antara Indonesia dan Tiongkok. Kerja sama dalam CAFTA itu sangat luas. Dan sebentar lagi Perdana Menteri Wen Jiabao juga akan berkunjung ke Indonesia. Selain memperingati 60 tahun hubungan Indonesia-Tiongkok, tentu akan dibahas kerja sama perdagangan kedua negara, termasuk CAFTA.

Saat ini ada sejumlah pihak yang meminta agar CAFTA ditunda atau direvisi.

Kerja sama perdagangan bebas, CAFTA, itu tidak muncul tiba-tiba, tapi sudah didiskusikan selama 10 tahun. Sejak 10 tahun lalu tarif bea cukai diturunkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya CAFTA mulai diberlakukan sejak awal tahun ini. Dan kami melihat dalam 10 tahun ini kedua belah pihak diuntungkan dengan kebijakan penurunan bea masuk itu. CAFTA itu merupakan kerja sama yang sangat luas isinya. Melibatkan 11 negara (Tiongkok dan 10 negara ASEAN) dengan 1,9 miliar penduduk. CAFTA ini akan menjadikan ASEAN dan Tiongkok sebagai daerah perdagangan bebas terbesar ketiga di dunia. Jadi, CAFTA ini justru kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan 11 negara itu.

Tapi ada kritikan dari kalangan pengusaha bahwa CAFTA ini bisa membuat produk Indonesia makin kalah bersaing dengan produk Tiongkok?

Saya memang mendengar komplain itu dari sebagian pengusaha di Indonesia. Tapi saya juga membaca di surat kabar, industri tekstil, tidak terpengaruh dengan ACFCA. Tekstil-tekstil Tiongkok yang masuk ke sini umumnya untuk kelas menengah ke bawah yang harganya murah. Sementara tekstil Indonesia yang dieskpor ke Tiongkok rata-rata untuk menengah ke atas dengan kualitas bagus. Jadi, menurut saya, industri di Indonesia justru mendapat keuntungan dari kerja sama CAFTA ini.

Mengapa?

Republik Rakyat Tiongkok itu negara yang sangat luas dengan penduduk yang sangat banyak. Penduduk Tiongkok itu terbanyak di dunia. Karena begitu luas, kebutuhan penduduk di setiap provinsi berbeda-beda. Pakaian batik, misalnya, tidak cocok di bagian utara, tapi sangat cocok di selatan. Nah, pengusaha-pengusaha Indonesia punya kesempatan untuk mengisi pasar yang sangat luas di Tiongkok itu. Masalahnya, selama ini kedua belah pihak kurang mengenal satu sama lain. Kita semua harus lebih banyak berkomunikasi dan saling mengenal.

Bagaimana Anda menilai peluang investasi di Indonesia?

Indonesia sangat stabil perkembangannya. Ekonomi makro bagus, situasi sosial politik kondusif untuk investasi. Juga sudah ada beberapa undang-undang yang sangat menunjang seperti UU Otonomi Daerah, UU pertambangan, batu bara, listrik. Yang penting, kita harus lebih saling mengenal dan berkomunikasi dengan lebih baik lagi. Dan itu juga sslah satunya tugas media massa. CCTV, televisi Tiongkok, sudah datang untuk membuat beberapa liputan di Jawa Timur. Ini sangat penting karena selama ini masyarakat lebih banyak mendapat informasi dari media-media Barat yang tidak selalu positif. Berita-berita negatif seperti gempa bumi atau bencana alam memang perlu diberitakan, tapi harus ada berita yang positif. Kalau media hanya memberitakan yang negatif, kesan yang muncul tidak baik. Dan itu sangat mengganggu industri pariwisata.

Minat wisatawan Tiongkok ke Indonesia bagaimana?

Sangat baik. Tahun lalu saja, lebih dari 200 ribu warga Tiongkok datang berlibur ke Pulau Bali. Jawa Timur sendiri masih kurang diminati wisatawan Tiongkok. Padahal, saya tahu di sini ada beberapa tempat wisata yang bagus seperti Bromo, peninggalan Dinasti Majapahit, atau Karapan Sapi di Pulau Madura.

Bagaimana kerja sama di bidang pendidikan?

Saat ini ada sekitar 8.000 mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Tiongkok. Ada yang studi bahasa Mandarin, ada juga yang kuliah di fakultas-fakultas lain. Tapi, harus diakui, faktor komunikasi atau bahasa (Mandarin) masih menjadi kendala, sehingga perkembangan jumlah mahasiswa tidak selancar yang kita harapkan. Di Tiongkok sendiri ada delapan perguruan tinggi yang punya jurusan bahasa Indonesia. Dan makin lama minat orang Tiongkok untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia semakin tinggi. Kami sendiri sedang mendorong kerja sama antara Universitas Airlangga dengan universitas di Beijing dalam bidang pengobatan tradisional. (*)



BIODATA SINGKAT

Nama : Wang Huagen
Lahir : Zhejiang, Tiongkok, Januari 1954
Pendidikan: Graduate Studies
Istri : Zhao Yuezhen
Jabatan : Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya.
Hobi : musik, wisata.

RIWAYAT KARIR

1974-1979 : Staf Protokol Kemenlu Tiongkok
1979-1982 : Staf Kedubes Tiongkok untuk Denmark
1982-1984 : Atase Kedubes Tiongkok di Malaysia
1984-1988 : Atase, Sekretaris III, Protokoler Kemenlu Tiongkok.
1988-1989 : Fletcher School of Law Diplomacy, USA
1989-1994 : Deputi Direktur, Sekretaris I, Departemen Protokol Kemenlu Tiongkok.
1994-1997 : Sekretaris I, Wakil Tiongkok dalam Sino-British di Hong Kong
1997-1998 : Sekretaris I, Direktur, Departemen Protokol, Kemenlu Tiongkok.
1998-2001 : Konselor, Direktur, Departemen Protokol, Kemenlu Tiongkok.
2001-2004 : Konselor di Kedubes Tiongkok untuk Afrika Selatan.
Juni 2009 - sekarang : Konjen Tiongkok di Surabaya.




SUKA SOTO AYAM

Namanya juga diplomat, Konsul Jenderal (Konjen) Tiongkok Wang Huagen selalu berusaha menyesuaikan diri dengan budaya dan kebiasaan penduduk setempat. Karena itu, jangan heran, di berbagai kesempatan Mr Wang selalu mengenakan kemeja batik lengan panjang.
Dia baru memakai setelan jas resmi ketika menghadiri acara-acara formal seperti konser musik klasik atau pertemuan dengan diplomat negara-negara lain.

"Saya senang pakai batik karena nyaman. Baju batik ini saya beli di Surabaya," kata Mr Wang saat ditemui Radar Surabaya di ruang kerjanya, Rabu (14/4/2010) pagi.

Bagaimana dengan makanan? Seperti konjen Tiongkok sebelumnya, Fu Shuigen, Mr Wang pun mencoba menikmati khas Jawa Timur. Jika Mr Fu doyan nasi goreng ikan asin, Mr Wang mengaku senang dengan soto ayam. "Saya suka soto ayam," ujar ayah satu anak ini. Ingat, di Tiongkok masih berlaku kebijakan 'satu keluarga satu anak' untuk membatasi jumlah penduduk.

Selain soto ayam, Mr Wang juga mencoba mencicipi aneka makanan khas Jawa Timur yang mudah dijumpai di Surabaya. Untung saja, sebagai sesama bangsa Asia, selera kuliner orang Tiongkok dengan Indonesia tak jauh berbeda. Bahkan, tak sedikit makanan Tionghoa yang sudah ratusan tahun diterima sebagai kekayaan kuliner tanah air. Karena itu, Mr Wang mengaku tidak kesulitan dalam beradaptasi ketika ditugaskan di Surabaya sejak pertengahan tahun lalu.

Kalau Anda sering menghadiri acara-acara kesenian seperti konser musik di Surabaya, kemungkinan besar Anda bertemu Mr Wang ditemani Xu Lian, konsul muda, sekaligus penerjemah. Maklum, Pak Konjen yang satu ini mengaku sangat antusias menikmati acara-acara seni budaya. "Saya suka musik, tapi lebih suka lagi tari-tarian Indonesia," kata Mr Wang.

Selain di Surabaya dan daerah-daerah lain di Jawa Timur, Mr Wang sering disuguhi tari-tarian ketika berkunjung ke tiga provinsi yang menjadi wilayah kerjanya, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa tenggara Timur. "Saya lihat tari-tarian daerah di Indonesia dan Tiongkok punya banyak kemiripan. Dan itu yang membuat saya senang," katanya. (rek)

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi Minggu 18 April 2010.

Jupri Abdullah dan Lukisan Mikro

Di antara sekian banyak pelukis di Jawa Timur, Jupri Abdullah tergolong pelukis paling 'heboh'. Akhir-akhir ini, wajahnya sering muncul di televisi nasional karena getol membuat lukisan mikro Presiden AS Barack Obama dan almarhum Gus Dur. Jupri yang asli Pandaan, Pasuruan, ini juga kerap bikin heboh dengan memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri).

Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Jupri Abdullah di sela-sela kesibukan mempersiapkan pameran mengenang Gus Dur di Jakarta, kemarin (10/4/2010).

Oleh LAMBERTUS HUREK




Apa kesibukan Anda saat ini?

Saya lagi melukis dua tokoh besar dunia, Husein Barack Obama dan Gus Dur. Presiden Amerika Serikat Obama menjadi tema pameran tunggal saya 1001 Obama. Sedangkan pameran lukisan untuk mengenang Gus Dur bertema Gus Dur di Mata Dunia. Dua tokoh besar ini tetap saya lukis dengan ukuran mini. Sebanyak 20 lukisan Gus Dur dan potret diri Gus Dur dengan ukuran 1 x 1 cm akan dipamerkan di Museum Istiqlal TMII Jakarta, tanggal 19 sampai 30 April 2010.

Bagaimana sosok Gus Dur di mata Jupri Abdullah?

Wah, almarhum Gus Dur ini menarik untuk diperbincangkan daripada bicara masalah Century. Gus Dur adalah sosok pemikir yang belum ada tandingannya di negeri ini. Ungkapannya sedikit, namun penuh arti. Gus Dur bukan saja bisa membangun Indonesia dalam segi fisik, tapi dia mampu membangun mental setiap manusia. Tidak membedakan suku dan golongan. Gus Dur laik mendapat penghargaan Nobel sebagai tokoh yang mempelopori pluralisme dan perdamaian. Gus Dur itu seorang ulama dan pemikir Islam yang moderat. Bicaranya jeplas ceplos, rileks.

Kalau tak salah, Anda juga bikin lukisan mikro Presiden Obama. Ideanya dari siapa?

Ide melukis Obama terkecil dari saya sendiri. Memang sudah saya rencanakan sejak lukisan saya yang pertama berjudul Obama, antara Gedung Putih dan Istana Negara yang diterima Konsulat Jenderal AS di Surabaya pada 100 hari pemerintahan Obama.

Kabarnya, lukisan tersebut telah diterima Gedung Putih. Potret diri Obama menarik untuk saya lukis dengan ukuran mini. Paling tidak dunia akan melihat bagaimana sepak terjang pelukis Indonesia yang melukis Obama mini di atas batu cincin. Ini perlu sebab bagaimana saya sebagai pelukis Indonesia bisa dilihat oleh kacamata dunia (seni rupa). Dan dampak dari kerja keras saya pada akhirnya lukisan saya menjadi liputan menarik televisi dan media cetak.

Tapi kan ada juga pihak tertentu yang menolak kedatangan Obama?

Sebagai manusia, kita ini tak boleh suudlon, berburuk sangka. Kita ini hidup dalam keterbukaan. Apakah kita ini sudah merasa baik dan suci? Janganlah jadi manusia-manusia yang munafik. Bagi saya, tamu merupakan orang yang perlu kita hargai dan hormati.

Kabarnya, lukisan Obama itu hilang. Bagaimana ceritanya?

Ya, lukisan itu memang hilang saat saya naik taksi di Jakarta. Lukisan berjudul SBY Menatap Obama saya buat saat saya diundang live oleh tvOne, 19 Februari 2010 di Wisma Nusantara Jakarta. Namun, sertifikat lukisan tersebut tetap saya simpan. Dari peristiwa itu, akhirnya muncul ide melukis Obama di atas batu cincin berukuran 1 x 1 cm. Dan lukisan tersebut telah dipesan untuk kado Obama. Alhamdulillah.

Sejak kapan Anda menggeluti lukisan mikro? Idenya dari siapa?

Saya melukis mikro sejak tahun 2002 di Jakarta. Ide datang dari ritual pribadi. Nggak ada pelukis yang saya jadikan rujukan.

Lukisan mikro itu kan sulit dinikmati orang banyak. Ada kolektor yang berminat?

Yah, lambat laun kolektor mulai melirik. Alhamdulillah, salah satu museum di Jakarta sudah mengoleksi lukisan saya kaligrafi terkecil di atas batu giok.

Setahu saya, selain lukisan mikro, Anda juga membuat lukisan biasa, bahkan jumbo.

Lukisan saya ada yang berukuran besar berjudul 1001 Obama ukuran 4 x 2,4 meter. Sedang lukisan mikro saya buat ukuran 4 x 4 milimeter. Lukisan kecil memang saya awali lewat pemecahan rekor (Muri), dan tidak banyak pelukis yang suka. Namun, saya optimistis suatu saat lukisan kecil akan menjadi primadona. Karena itu, saya berencana membangun museum lukisan mini. Baik dari lukisan-lukisan maupun bentuk museumnya, sehingga orang ingin melihat lukisan di museum dengan jalan jongkok. Ini merupakan obsesi saya yang saya persembahkan untuk bangsa. Saya juga merencanakan melukis para pemimpin dunia dengan ukuran supermini. Dan saya rencana mengadakan pameran keliling dunia.

Ada sejumlah pengamat, bahkan sesama pelukis, yang menilai Anda suka mencari sensasi. Apa tanggapan Anda?

Bagi saya, melukis merupakan kepuasan tersendiri. Sebagai pelukis di era sekarang, kita harus cerdik dan nekat. Sensasi atau apa istilahnya, yang jelas, seniman harus punya manajemen yang baik dan mampu melakukan public relations (PR). Pelukis sekelas Pablo Picassa saja pernah membawa karyanya ke sidang PBB. Apa ini tidak lebih gila? Pelukis harus optimis dan punya mimpi yang menjulang.

Apa lukisan Anda yang paling berkesan?

Judulnya Istriku Marah, berukuran 15 x 25 cm, cat minyak di atas kanvas. Ini merupakan lukisan yang sangat bersejarah dalam hidup saya. Lukisan itu lahir saat istriku klimaks marahnya hingga ingin pisah. Malamnya lukisan itu saya buat. Dan semenjak lukisan itu ada, istriku tak pernah marah dan bikin ribut-ribut lagi. Dulu kalau gak ada uang marah, sekarang kalau gak ada uang ya cari pinjaman. Hehehe.... (*)



PELUKIS JATIM BELUM DIREKEN


TAK banyak yang tahu kalau Muhammad Jupri alias Jupri Abdullah belajar melukis secara otodidak. Di usia 15 tahun, dia melihat buku seni lukis di Toko Buku Sari Agung, Jalan Tunjungan Surabaya. Dari buku itulah, Jupri mulai belajar menggambar dan akhirnya merasa mantap memilih menekuni seni rupa.

"Tapi baru tahun 1990 saya merasa siap menjadi pelukis profesional. Saat itu saya hidup dan berjuang di Jakarta. Masuk di Pasar Seni Ancol dari 1993 sampai 1994," kata Jupri Abdullah.

Sejak 1990-an itulah, Jupri aktif membangun jaringan dengan sesama pelukis, kolektor, kurator, maupun wartawan di berbagai kota di tanah air. Dia juga aktif ikut pameran, baik pameran bersama maupun pameran tunggal, di Surabaya, Jogjakarta, Malang, Sidoarjo, Pasuruan, Banyuwangi, Bali, Jakarta, dan Malaysia.

Lantas, bagaimana perkembangan seni rupa di Jawa Timur, khususnya Surabaya? Jupri menegaskan, sampai sekarang Jatim belum diperhitungkan di kancah seni rupa nasional. Referensi seni rupa di Jatim sangat minim. Kritik seni rupa nyaris tidak ada. "Surabaya juga belum punya tempat pameran yang prestisius. Museum seni rupa di Jatim nggak ada," kata suami Rahmawati ini.

Ajang pameran dua tahunan alias Biennale Jatim yang sudah tiga kali digelar, menurut Jupri, justru makin menurun kualitasnya. Gemanya tak menasional. "Kenapa? Karena tidak melibatkan orang-orang yang kapabel. Padahal, waktu satu tahun sudah cukup untuk mempersiapkan biennale."

Dia mengaku prihatin karena saat ini masih banyak seniman yang hanya membanggakan diri dengan gelar 'seniman', padahal karyanya belum matang. Tidak ada gregetnya. Bahkan, banyak pelukis yang suka mengeluh karena lukisannya tidak laku-laku jual. "Ini preseden buruk bagi pelukis. Bagaimana lukisan bisa terjual, sementara karya yang dihasilkan tidak matang? Baik dari sisi penggarapan, artistik, dan ideanya," tukasnya. (rek)


BIODATA

Nama Asli : Muhamad Jupri
Nama Artis : Jupri Abdullah
Lahir : Pasuruan, 23 Pebruari 1963
Nama Istri : Rahmawati
Anak : Eko Adi Kurniawan (20), Putri Daarmiawati (14), Anggie Laraswati (7)
Alamat Rumah : Wunut, Pandaan, Pasuruan
Pelukis Idola: Affandi dan Pablo Picasso
Hobi: dengar musik, film, dan melancong


Pendidikan :
SDN Gempol I Gempol Pasuruan
SMP Ma'arif Gempol Pasuruan
SMPP Negeri Pandaan Pasuruan
D-3 Sinematografi jurusan Editor dan Sutradara

Moto: Hidup adalah sebuah perjuangan dan kelak dipertanggungjawabkan.
Karyaku adalah napasku, kuasku adalah tasbihku, goresanku adalah doaku.

Penghargaan :

2003 : Pelukis Kaligrafi Terkecil Rekor Muri
2004 : Pemrakarsa dan Penyelenggara Konvoi Lukisan Terpanjang 100 Km Rekor Muri
2005 : Pelukis Sari buah (Nanas) di Atas Kertas Foto Warna Rekor Muri
2006 : Lukisan Termahal Pameran Lukisan Hikmah Musibah Lapindo - JTV, BPLS
2008 : Pelukis Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 2008, di Istana Negara Rekor Muri (belum diserahkan)
2009 : Pemrakarsa dan Penyelenggara Pembuatan Katalog Terbesar Rekor Muri


MURI DISAYANG, MURI DIGUGAT


NAMA Jupri Abdullah mulai akrab dengan Museum Rekor Indonesia (Muri) sejak 2003. Saat itu Jupri ditabalkan sebagai sebagai pelukis kaligrafi terkecil di Indonesia. Lukisan kaligrafinya berukuran 0,5 x 0,5 sentimeter.

Setahun kemudian, dia kembali beroleh penghargaan Muri sebagai pemrakarsa dan penyelenggara konvoi lukisan terpanjang 100 kilometer. Pria 47 tahun ini tak puas sampai di situ. Pada 2005, dia melukis menggunakan sari buah nanas di atas kertas foto. Tahun 2008, Jupri nekat datang ke Istana Negara untuk melukis peringatan detik-detik Proklamasi.

"Terakhir, tahun lalu, saya dapat Muri lagi sebagai pemrakarsa dan penyelenggara pembuatan katalog terbesar," tuturnya kepada Radar Surabaya, Kamis (8/4/2010).

Untuk apa membuat begitu banyak karya hanya agar dicatat di Muri? "Motivasi saya sederhana saja. Saya ingin tercatat dalam sejarah, sehingga kelak anak cuku saya mengetahui bahwa pernah terlahir di dunia ini seorang yang mukanya jelek, pelukis otodidak, yang mampu membuat karya mini, bernama Jupri Abdullah. Hehehe," ujarnya.

Ihwal berbagai kritik yang dialamatkan kepadanya, seperti suka mencari sensasi dan popularitas, Jupri tetap menanggapi dengan enteng. "Terserah orang mau bilang apa. Bagi saya, prestasilah yang dapat mendongkrak populatitas seseorang yang bergelut dengan karya seni rupa. Jangan banyak bicara, tong kosong nyaring bunyinya."

Meski namanya terdongkrak berkat rekor Muri, belum lama ini Jupri menggugat museum rekor milik Jaya Suprana yang berpusat di Semarang itu. Gara-garanya, buku Rekor-Rekor Muri 1990-2008 yang diterbitkan Aylawati Sarwono menggunakan salah satu lukisannya untuk cover buku tanpa izin. Yakni, lukisan kaligrafi Basmallah di atas batu Lapindo yang dibuat tahun 2007?

"Kenapa foto itu yang ditampilkan? Wong, lukisan itu nggak dapat Muri. Kemudian pihak Muri juga tidak izin saya," protes pelukis berambut gondrong itu.

Saat ini, menurut dia, perkara ini tengah ditangani tim pengacara dari Jakarta. Beberapa waktu lalu Juri juga telah dipanggil Direktur Kesenian Kementerian Budaya dan Pariwisata untuk membahas persoalan yang sempat mencuat di media massa itu.

"Saya disarankan untuk melakukan musyawarah. Namun, jika tidak ditemukan jalan damai, ya, saya akan tempuh jalur hukum," tegasnya. (rek)

19 April 2010

Melantjong Petjinan Soerabaia 3




Oleh PAULINA MAYASARI


Waktu : Minggu, 25 April 2010
Jam : 07.00-14.45 wib (makan siang disediakan)
Lokasi : Jalan Bibis-Blauran-Dinoyo-Kembang Kuning-Simo Kwagean- Demak-Bibis

Biaya : Rp 55.000,00 (bakpau, bihun bungkus, snack enteng, air mineral, nametag, jas ujan plastik, pin, ongkos bemo)

Biaya melantjong + kaos = Rp 100.000 saja (kaos terbatas)
Biaya melantjong + tas = Rp 125.000 saja (tas juga terbatas)
Kaos saja = Rp 70.000
Tas saja = Rp 100.000

Kontak : Maya (08123047311 atau 08888660357)



Rek ayo rek, mlaku-mlaku keliling Suroboyo bareng grup Jejak Petjinan…!!!

Saiki koen bakal diajak kenalan karo Ceng Beng. Wih sopo iku rek? Bolone beng beng tah? Hus, ngawur kok terus. Sek sek talah, lhek gak salah Ceng Beng iku lak acara nyekar ning kuburan. Heh? Lha laopo rek… melantjong kok nang kuburan, mbok nang mal suejuk tur adem sriwing-sriwing.

Sek talah, sakjane koen iki temenan wes ngerti tah Ceng Beng kuwi opo? Lantes opo crita-critane, opo penganane khusus? Ambek wes tau tah awakmu nyambangi krematorium Kembang Kuning? Persemayaman Adi Jasa? Eh tapi sampeyan iki sakjane ngerti ga bongpay iku opo seh ? Opo koen yo weruh opo’o akeh bekas kuburan teng klecek nang gang-gang sakSuroboyo?

Lha lek koen tertarik karo pengen weruh luwih akeh ngono-ngenene Ceng Beng iki, yok rentang-renteng melu acara ’Melantjong Petjinan Soerabaia’. Temon pelantjongan nglumpuk ning Bibis. Teko Bibis langsung bablas nang Bunguran, maringono nang Dinoyo. Lantes nglumpuk ning krematorium Kembang Kuning, ngerteni yok opo seh jasad iku dadi abu. mangan awan ning tengah kuburan Simo Kwagean, mampir ndek Demak, trus bali ning Bibis. Seru tenan toh???

Wes talah, yok rame-rame melu acara ’Melantjong Petjinan Soerabaia’. Jo' kuwatir pelanjtongan dipandu guide sing paham Petjinan Soerabaia lho…!!! Ayo rentang-renteng cepetan daftar rame-rame, sakdurunge ditutup yo…!!! Pendaftaran bakale ditutup, lek peserta wes nyampek 50 wong. Nek arep gabung jo' lali tulisen biodata singkat yo karo nomor HP sing iso dikontak rek, iso kirim mail po pesan via Fesbuk.

Kerpekan acara :

Pukul 7.00 – 7.45
Berkumpul di jalan Bibis no 3


Pendaftaran
Pembukaan & Peraturan
bagi snack

*Peserta dibagi menjadi 2 kelompok dengan lokasi tujuan yang berbeda.

Pukul 8.00 - 8.30
Pembuat BongPay: Nisan Praloyo, Bunguran (kelompok A switch lokasi dengan Ario)*
Peserta akan mendengar cerita mengenai bongpay, macam bahannya, cara pembuatan dan makna beberapa ornamen

Pukul 9.00 - 9.45
Pembuat petimati: Ario, Dinoyo (kelompok B switch lokasi dengan Bongpay)*
Di sini kita akan melihat berbagai macam peti mati, mendapat gambaran cara pembuatannya. lalu diceritakan mengenai ceng beng di Indonesia dan membandingkan dengan ceng beng di Taiwan.

Pukul 10.15 - 11.00
Kuburan Kembang Kuning, krematorium Eka Praya
Di sini peserta diajak melihat sebuah makam kuno yang sudah dijadikan beranda rumah, karena keluarganya sudah tidak ada yang mengunjungi (pindah ke luar negeri). Kita juga akan melihat beberapa makam yang kuno maupun yang modern baik yang terawat maupun yang tidak terawat.

Pukul 11.15 - 13.00
Kuburan Simo Kwagean
Kita akan menikmati makan siang di pendopo yang ada di tengah pekuburan.
Sambil mendengarkan crita tentang makanan sembahyangan waktu CengBeng.

Pukul 13.30 - 14.15
Tempat persemayaman dan rumah abu Adi Jasa, Demak
Di sini peserta diajak melihat tempat penyimpanan abu, dan ruang persemayaman, kemudian dijelaskan mengenai tatacara orang melayat/memberi penghormatan terakhir kepada almarhum.

Pukul 14.15 - 14.45
Kembali ke Bibis no 3


Ketentuan dan Cara daftar:

1. Minta nomer pendaftaran dengan cara email: pitics@gmail.com atau sms/telp ke 08123047311.

2. Setelah Anda dapat nomer urut, yang disertai dengan info no. rek, diminta untuk transfer sesuai dengan intruksi yang diterima. Misalnya dapat nomer urut 12, maka diminta untuk transfer sebesar 55.012. Ini supaya kami tahu peserta dengan nomer urut berapa yang sudah bayar.

3. Pendaftaran ditutup hari Rabu, tanggal 21 April 2010, peserta yang sudah dapat nomer urut namun sampai penutupan belum transfer dianggap batal.

4. Uang pendaftaran yang sudah ditransfer tidak dapat dikembalikan, namun bisa digantikan orang lain.

5. Peserta acara ini tidak diasuransikan.

Foto: Andre Jr.

17 April 2010

60 Tahun Indonesia - Tiongkok



Meriah dan bersahabat. Itulah suasana perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok yang digelar Konjen Tiongkok di Hotel Shangri-La, Kamis (15/4) malam. Di pintu masuk ballroom berkapasitas seribu orang itu, para undangan disambut atraksi barongsai dan reog ponorogo dari Yayasan Senopati.

Para undangan yang datang bersama istri hampir semuanya mengenakan setelan batik. Sebagian besar pengusaha dan tokoh terkemuka di Surabaya hadir. Suasana ballroom sendiri ditata secara informal, layaknya perjamuan kawin. Tuan pestanya tak lain Konjen Tiongkok Wang Huagen bersama istri, Zhao Yuezhen.

Semua undangan disambut hangat Mr Wang dan istri. Usai bersalaman, foto bersama dan bincang-bincang santai. Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf alias Gus Ipul terlihat sangat akrab dengan Pak Konjen. Tak lupa, Gus Ipul menggojlok beberapa pengusaha yang sudah dikenalnya.

"Suasana perayaan malam ini enak sekali. Kita seperti berada di rumah sendiri," kata Liem Oe Yen, pengusaha besi lonjoran, yang juga pengurus Paguyuban Masyarakat Tionghoa Indonesia. Liem terlihat akrab dengan Pak Konjen dan nyonya serta Xu Lian serta sejumlah staf Konjen RRT.

"Biasanya, acara Konjen RRT selalu diadakan tepat waktu. Tapi malam ini terlambat sedikit karena tamu-tamu sangat banyak," kata Xu Lian, konsul muda RRT, yang selama ini menjadi penerjemah resmi di Konjen RRT, kepada Radar Surabaya.

Malam itu Xu Lian berdandan elegan aktris Mandarin. "Kalau sudah dandan seperti ini, saya boleh difoto. Kalau kemarin itu jangan difoto," kata gadis yang ramah ini.

Setelah dihibur atraksi kesenian dari anak-anak Great Crystal school, Little Sun School, san Yayasan Senopati, Xu Lian naik ke atas panggung dengan latar belakang merah ala bendera Tiongkok. Aha, Xu Lian ternyata jadi pembawa acara (master of ceremony).

Nona manis ini bicara dalam dua bahasa: Mandarin dan Indonesia. Setelah kata pengantar, Xu Lian mengajak hadirin mengheningkan cipta untuk korban gempa bumi berkekuatan 7,1 skala Richter di Provinsi Qinghai, Tiongkok.

Kemudian lagu kebangsaan Tiongkok, Zhongguo Guoge, disusul Indonesia Raya. Lagu kebangsaan kedua negara ini sama-sama berirama mars yang energik. Pidato tuan rumah, Konjen Tiongkok Wang Huagen, disampaikan dalam bahasa Mandarin dan diterjemahkan oleh Xu Lian.

Berkali-kali terdengar tepuk tangan hadirin yang paham Mandarin karena retorika Mr Wang memang memukai. Pidatonya tidak datar-datar saja macam sebagian besar pejabat kita, tapi penuh dinamika. Nada suaranya naik turun, kadang cepat, kadang lambat.

Pada 13 April 1950, Tiongkok dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik. Indonesia, menurut Mr Wang, termasuk negara yang paling dini menjalin hubungan resmi dengan Tiongkok. Indonesia juga merupakan negara ASEAN pertama yang mengakui Republik Rakyat Tiongkok.

"Selama 60 tahun ini hubungan kedua negara mengalami kemajuan menonjol, terutama sejak ditandatanganinya kesepakatan kemitraan strategis antara Presiden Hu Jintao dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," katanya.

Konjen Tiongkok di Surabaya telah mempererat kerja sama dengan kota-kota di empat provinsi (Jatim, Bali, NTB, NTT) dengan kota-kota seperti Zhejiang, Shandong, Hainan, Guangzhou, Xiamen, Shanghai, Tianjin. Menurut Mr Wang, Konjen Tiongkok akan terus mendorong pertukaran dan kerja sama antara empat provinsi ini dengan provinsi-provinsi di Tiongkok.

"Semoga Tiongkok dan Indonesia berkembang dengan makmur dan sejahtera," tegas Mr Wang disambut aplaus meriah.

Giliran Gus Ipul, wagub Jatim berpidato. Sang Gus yang tahun lalu sempat jadi bintang film Laksamana Cheng Hoo itu menggunakan referensi sejarah ekspedisi utusan Tiongkok itu sebagai bahan pidatonya.

"Hubungan Tiongkok-Indonesia itu resminya 60 tahun. Tapi tidak resminya sudah lebih dari 600 tahun. Sejak zaman Kublai Khan kita sudah berhubungan. Bahkan, Tiongkok itu menjalin hubungan khusus dengan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur ini," tegas Gus Ipul.

Karena sudah sedemikian panjang, menurut Gus Ipul, tak ada yang bisa memisahkan Indonesia dan Tiongkok. "Tak akan lekang oleh panas, tak akan lapuk oleh hujan," kata Gus Ipul mengutip pepatah lama.

Gus Ipul juga menyinggung kontribusi Tiongkok dalam pembangunan Jembatan Suramadu. Tanpa partisipasi Tiongkok, kata wagub Jatim ini, jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura sepanjang 5,4 kilometer itu belum bisa diresmikan.

"Kenapa? Tiongkok itu yang mengerjakan bagian tengahnya sepanjang 1,7 kilometer. Lha, kalau yang di tengah itu nggak ada, masak kita harus melompat sejauh 1,7 kilometer?" tukas Gus Ipul disambut tawa hadirin.

Selanjutnya, Gus Ipul mulai "menggarap" Mr Wang Huagen. Setelah mengapresiasi kerja keras Mr Wang di Jatim, meski belum setahun bertugas di Surabaya, diplomat kawakan ini dinilai sudah melakukan banyak hal untuk menjalin kerja sama Jatim dengan Tiongkok.

"Kami merasa seperti saudara sendiri. Siapa tahu beliau nanti punya menantu orang Surabaya," kata Gus Ipul, bekas wartawan dan ketua Gerakan Pemuda Anshor, ini dengan banyolan khasnya. " Tapi kami tidak berdoa supaya beliau punya istri lagi di Surabaya. Kalau sampai terjadi, ya, tanggung jawab sendiri."

Hehehehe..... Bisa-bisa aja Gus Ipul ini. Diplomat seniorpun dikerjain di forum resmi!

Hadirin ketawa-ketawa, sementara Mr Wang sendiri hanya tersenyum simpul karena tidak mengerti bahasa Indonesia. "Kalau kalimat yang itu, saya tidak mau terjemahkan. Hahaha...," kata Xu Lian lantas tertawa.

Setelah pemotongan nasi tumpeng dan bersulang, demi kemakmuran kedua negara, para undangan dipersilakan menikmati sajian makanan yang sudah disiapkan. Makan sampai kenyang!

Pamarta Kula Agesang



Asyik banget mengetik sambil menikmati kidung rohani berbahasa Jawa dan sesekali menyeruput kopi pahit. Suara Noerhayati alias Bu Nur, mirip Waldjinah. Ekspresinya bagus, artikulasi bahasa krama inggil hebat tenan. Kita seakan berada di alam pegunungan, dengan hamparan padang yang luas dan hijau.

Saya tidak menyangka kalau Bu Nur yang selama ini saya kenal "hanya" sebagai penjual es jus, kopi, teh, mi rebs, dan camilan di Pondok Mutiara, Sidoarjo, itu baru saja bikin album. Berjudul KIDUNG ROHANI, cakram digital (CD) ini berisi 11 tembang rohani Kristen berbahasa Jawa. Musiknya digarap Noegroho, pemusik yang sudah berpengalaman dalam menangani rekaman langgam dan keroncong di Jawa Timur.

Bu Nur berduet dengan Iman Pracoyo di sejumlah lagu. "Mas Iman itu suaranya bangus banget lho. Kalau gak percaya, silakan didengarkan sendiri di rumah," ujar Bu Nur dengan gayanya yang ramah dan sedikit kenes.

Saya pun langsung membeli CD rekaman suara Bu Nur yang diproduksi sendiri. Istilah kerennya: indie label. Di Surabaya dan Sidoarjo sudah banyak studio rekaman dengan peralatan canggih, sehingga proses rekaman bisa dibuat kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Persoalannya cuma ini: laku dijual atau tidak?

Ada 11 lagu di album rohani Noerhayati-Iman Pracoyo:

1. PAMARTA KULA AGESANG
2. ASMANING GUSTI KULA
3. AYEM NDEREK GUSTI
4. AYEM ING GUSTI
5. SANGSARANI GUSTI

6. PITADOS
7. DUWEO SWIWI
8. MORO WONG DESA
9. TIYANG GEGRIYA
10. YEN NUNGGILAN GUSTI
11. TANSAH BINGAH

Tembang-tembang ini tak asing lagi di kalangan umat Kristen asli Jawa. Tembang-tembang himne Kristen Protestan yang syairnya diterjemahkan dalam bahasa Jawa krama inggil (halus) untuk kebaktian jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Jawa Timur. Jemaat gereja-gereja pedesaan sangat familiar dengan lagu ini.

Orang Kristen pribumi Jawa yang mulai eksis sejak tahun 1880-an di Jawa Timur sejak dulu menggunakan bahasa Jawa dalam kebaktian maupun tembang-tembang rohaninya. Bahasa Indonesia sebetulnya baru mulai dipakai sejak akhir 1980-an ketika jemaat gereja semakin heterogen dan mulai "gagap" berbahasa Jawa halus.

"Kidung-kidung bahasa Jawa itu membuat hati ini adem, tenang. Makanya, saya mau diajak rekaman," kata Bu Nur yang ternyata pernah menjuarai beberapa festival musik keroncong di Surabaya dan Sidoarjo.

Saya sepakat dengan Bu Nur. Bahwa gereja-gereja seharusnya lebih "membumi" dengan tradisi, budaya, termasuk bahasa jemaat gereja lokal. Apa yang dilakukan para perintis GKJW di Jawa Timur seperti Singotruno, Tosari, Kunto, dan Ditrotruno pada 12 September 1844, yang jelas-jelas "menjawakan" ajaran kristiani patut dilestarikan. Mereka berhasil menepis imej bahwa Kristen itu agamane wong Londo, agamanya orang Belanda (Eropa).

Anehnya, sejak 20 tahun terakhir, saya melihat gereja-gereja baru di Jawa Timur seakan berlomba-lomba menjadi "Gereja Londo" atau lebih tepatnya gereja berwajah Amerika (Serikat). Pola kebaktian yang hiruk-pikuk, musik rock, sound system menggelegar, kesaksian selebriti, tempik sorak jemaat, pendeta-pendeta yang lebih mirip pedagang MLM atau motivator, gaya bahasa pop Amerika....

Mendengar album Bu Nur, KIDUNG ROHANI, saya selalu teringat Paulus Tosari dan kawan-kawan, perintis Gereja Kristen Jawi Wetan di Mojowarno, Kabupaten Jombang.

Atau, Barnabas Sarikromo, petani desa, yang pertama kali berhasil meng-Katolik-kan orang Jawa di Sendangsono, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta, pada 14 Desember 1904.

Matur nuwun, Bu Nur!
Nderek GUSTI salawase!



YEN NUNGGIL LAN GUSTI, RINTEN DALU
MANAH LANGKUNG TENTREM ARAHAYU
KULA ANGANTOS GUSTI SIYANG KLAYAN RATRI
NYUWUN BERKAH DUH GUSTI, GUSTI MAMI

YEN NUNGGIL LAN GUSTI, JRO GINODA
KULA SAGED UNGGUL, MARING DOSA
KULA ANGANTOS GUSTI SIYANG KLAYAN RATRI
NYUWUN BERKAH DUH GUSTI, GUSTI MAMI

YEN NUNGGIL LAN GUSTI, SIYANG RATRI
BIRAT NAJIS KULA, TEMAH SUCI
KULA ANGANTOS GUSTI SIYANG KLAYAN RATRI
NYUWUN BERKAH DUH GUSTI, GUSTI MAMI

YEN NUNGGUIL LAN GUSTI, KASUSAHAN
MANTUN, KAGENTOSAN KABINGAHAN
KULA ANGANTOS GUSTI SIYANG KLAYAN RATRI
NYUWUN BERKAH DUH GUSTI, GUSTI MAMI

14 April 2010

Maria Eva Ikut Pemilukada Sidoarjo?



Masih ingat Maria Eva? Artis asal Sidoarjo ini pernah bikin geger gara-gara video mesranya dengan Yahya Zaini, mantan politisi Partai Golkar, beredar luas di masyarakat pada November 2006. Kini, Maria disebut-sebut bakal maju dalam pemilukada Sidoarjo.

Lama tak terdengar kabarnya, Maria Eva, yang lebih akrab disapa ME, ternyata sibuk menempuh pascasarjana di Universitas Krisna Dwipayana Jakarta. Dan belum lama ini artis kelahiran Sidoarjo, 21 Februari 1979, itu akhirnya lulus dengan cum laude. Indeks prestasinya 3,7.

"Alhamdulillah, aku sekarang sudah selesai S-2. Aku butuh waktu 2,5 tahun untuk lulus S-2, padahal target saya dua tahun. Aku molor enam bulan karena kesibukan," ujar istri Raymond, pengusaha minyak asal Sumatera Utara, itu kepada Radar Surabaya tadi malam (13/4/2010)

Selepas wisuda S-2 di kampus kesayangannya, karena ME juga menyelesaikan S-1 di Universitas Krisna Dwipayana, banyak orang mulai mengait-ngaitkan namanya dengan pemilihan bupati Sidoarjo. Apalagi, sebelumnya ada artis seksi lain, Julia Perez alias Jupe, disebut-sebut maju sebagai calon bupati Pacitan. Kabar majunya ME sempat menjadi bahan gunjingan kalangan politisi dan aktivis LSM di Sidoarjo sejak pekan lalu.

Benarkah Anda akan maju di pemilukada Sidoarjo?

ME menjawab diplomatis. "Saya tidak pernah mengajukan diri sebagai bakal calon bupati Sidoarjo. Yang benar, saya ini dilamar oleh beberapa kandidat. Tolong tulis besar-besar: ME tidak mencalonkan diri, tetapi dilamar," tegas pelantun lagu Pelangi Senja dan Ayam Berkokok itu.

Sayang, ME enggan menyebut nama-nama kandidat maupun partai politik yang 'melamarnya'. Putri pasangan suami-istri Amir Faisol dan Sri Sundari hanya menyebut, sejauh ini ada dua kandidat yang sempat melamarnya via telepon. Namun, belum ada pembicaraan panjang lebar tentang rencana terjun ke gelanggang pemilukada Sidoarjo.

"Politik itu kan kayak matematika. Harus ada hitung-hitungannya yang jelas. Kita nggak bisa maju tanpa perhitungan," tukasnya. ME mengaku heran karena saat ini berita tentang dirinya, yang dikait-kaitkan dengan pemilukada Sidoarjo, sudah beredar luas di media massa, khususnya lewat internet. "Saya heran ada apa sih kok rame-rame begini?"

Apakah keinginan maju dalam pemilukada ini terinspirasi oleh artis Julia Perez?

Dengan nada tinggi, ME langsung membantah keras. Dia mengaku punya banyak perbedaan dengan si Jupe, artis seksi yang kini berpacaran dengan pesepak bola Gaston Kastanya itu. ME kemudian merinci beberapa perbedaan penting antara dirinya dan Jupe atau artis-artis lain yang ikut pemilukada.

Pertama, Jupe bukan putra daerah Pacitan, sedangkan ME asli Sidoarjo. Sejak lahir, masuk taman kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA, diselesaikan di Sidoarjo. "Lulus SMA Muhammadiyah Sidoarjo, saya baru kuliah di Jakarta. Kakek-nenek saya juga asli Sidoarjo," tegasnya.

Kedua, ME merasa sudah lama berkecimpung di organisasi sosial politik. Sejak SMP, kemudian SMA, dia aktif di organisasi kepemudaan Muhammadiyah di Sidoarjo. Di Jakarta, sembari menekuni karir di dunia hiburan, ME aktif sebagai pengurus Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), organisasi yang punya hubungan dengan Golkar.

"Jadi, aku ini bukan orang kemarin sore di bidang sosial politik. Aku orang organisasi, bukan artis thok," tegas ME.

Ketiga, dari segi pendidikan, ME merasa punya bekal yang memadai. Kelima, sebagai putra asli Sidoarjo, rumahnya di Jalan Kombes M Duryat, ME mengaku sangat paham karakter masyarakat Sidoarjo. "Aku pasti gak asing dengan Porong, Tanggulangin, Candi, Krian, Balongbendo, Taman, dan sebagainya. Beda kalau orang luar yang ujug-ujug mencalonkan diri di Sidoarjo," tegasnya lagi.

Lantas, kapan pulang kampung untuk 'sosialisasi' dan membicarakan 'matematika' pemilukada?

"Insya Allah, secepatnya. Aku perlu mengetahui aspirasi yang berkembang di Sidoarjo. Kalau memang dikehendaki rakyat, aku tidak akan menolak karena itu amanah."

12 April 2010

Romo Sakya Putra Suyono




Uji materi Undang-Undang PNPS Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama saat ini tengah berlangsung di Mahkamah Konstitusi. Pro-kontra pun merebak di mana-mana. Lantas, bagaimana sebenarnya konteks keluarnya PNPS 1/1965 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno itu?

Romo Sakya Putra Suyono (68), rohaniwan Buddha di Vihara Buddhayana Surabaya, merupakan salah satu agamawan yang diundang Bung Karno ke Istana Negara menjelang keluarnya PNPS itu. Berikut petikan wawancara khusus Radar Surabaya dengan Romo Sakya Putra Suyono di Vihara Buddhaya, Jl Putat Gede 1 Surabaya, Jumat (19/3/2010).


Oleh LAMBERTUS HUREK


PNPS 1/1965 diributkan lagi setelah berlaku selama 30 tahun lebih. Bisa di-flash back kondisi masyarakat Indonesia pada 1960-an yang mendorong lahirnya PNPS itu?

Situasinya sangat mencekam karena ada keresahan di kalangan umat beragama, khususnya tokoh-tokoh agama. Tak hanya satu dua agama, semua agama di tanah air mengalaminya. Begitu banyak aliran kepercayaan atau kebatinan yang berkembang di masyarakat. Semaunya ingin eksis, semua ingin diakui oleh negara. Bahkan, kondisinya sudah sampai ke konflik fisik antarpenganut kepercayaan atau agama yang berbeda. Orang yang pernah hidup pada tahun 1960-an, saya kira, mengalami sendiri keresahan yang luas di masyarakat.

Penyebab keresahan itu apa?

Nah, aliran-aliran yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan itu, ternyata mirip-mirip dengan agama-agama yang ada di Indonesia. Ada aliran yang bernuansa Buddhis, tapi bukan Buddha. Ada yang mirip Kristen, tapi bukan Kristen. Mirip Islam, tapi ternyata berbeda signifikan dengan ajaran-ajaran Islam. Istilah sekarang, banyak sempalan yang muncul di berbagai agama. Dan itu tak bisa dilepaskan dengan kondisi masyarakat Indonesia waktu itu yang memang sedang kacau-balau karena konflik politik yang luar biasa. Orang mencari pelarian ke aliran-aliran itu.

Karena itu, pemerintah, dalam hal ini Presiden Soekarno, langsung turun tangan. Beliau mengundang semua pemuka agama ke Istana untuk membahas fenomena ini secara khusus. Bung Karno mengingatkan bahwa Indonesia saat ini sedang dalam revolusi. Jangan sampai kita menguras energi hanya karena konflik antarpemeluk agama atau aliran-aliran itu. Diskusinya berjalan panjang lebar dan sangat serius.

Lantas?

Bung Karno ingin agar aliran-aliran yang sedemikian banyak itu 'dikembalikan' ke agama induknya. Yang mirip Islam kembali ke Islam. Yang mirip Kristen kembali ke Kristen. Yang mirip Buddha kembali ke Buddha dan seterusnya.

Nah, untuk itu, Bung Karno yang mendapat masukan dari penasihat-penasihatnya, khususnya Kementerian Agama, menetapkan lima kriteria agama. Yakni, harus mengakui adanya Tuhan, Sang Pencipta; punya kitab suci, punya nabi, punya tujuan setelah kehidupan di dunia, dan punya kiblat. Para agamawan dari masing-masing agama diminta memberikan penjelasan bahwa agamanya memenuhi lima kriteria itu.

Anda ikut dalam tim agamawan Buddha?

Iya. Dari semua peserta yang diundang ke Istana Negara, saya yang paling muda. Bante Ashin Jinaratkhita yang menjadi juru bicara umat Buddha. Saya yang duduk di sebelahnya--maklum, saya memang muridnya Bante Ashin--beberapa kali membisikkan beliau untuk menyampaikan pandangan Buddhis.

Saya merupakan satu-satunya peserta pertemuan dari kalangan Buddha yang masih hidup. Yang lain sudah meninggal semua, termasuk Bante Ashin. Jadi, boleh dikata saya menjadi saksi hidup pertemuan bersejarah itu.

Nah, lima kriteria itu akhirnya bisa diterima pemerintah. Bung Karno secara tegas mengatakan, bila lima kriteria itu tidak terpenuhi, maka sebuah aliran atau ajaran mana pun tidak bisa disebut agama. Kami sendiri awalnya khawatir mengingat Sang Buddha itu disebut guru agung, tidak pernah disebut nabi. Tapi setelah mengutip beberapa referensi, akhirnya bisa diterima dengan baik di forum itu.

Sejak itulah dikenal enam agama resmi di Indonesia, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dan perlahan-lahan berbagai aliran dalam masyarakat itu tersaring dengan sendirinya oleh lima kriteria tadi. Awalnya memang tidak mudah, karena ini menyangkut kepercayaan seseorang. Tapi, setelah Orde Baru, gejolak berbau SARA ini bisa dikendalikan oleh pemerintah dan aparat keamanan. Aliran-aliran kepercayaan memang masih ada, tapi tidak sebanyak tahun 1960-an.

PNPS 1/1965 yang sedang diujikan di MK itu terkait dengan pertemuan bersama Bung Karno itu?

Itu tindak lanjut pertemuan para tokoh agama dengan Bung Karno di Istana Negara. Intinya, ya, untuk melindungi agama-agama resmi dan agar masyarakat pemeluk agama tidak resah. Tingkat pendidikan masyarakat kita saat itu masih rendah. Masih banyak yang buta huruf. Jangan sampai masyarakat terombang-ambing dengan begitu banyak aliran yang saling mencari pengaruh di masyarakat. Kapan kita membangun kalau waktu kita habis untuk berpolemik?

Setelah berlalu 35 tahun, apakah PNPS itu masih relevan dengan kondisi sekarang?

Wah, ini isu yang sangat sensitif karena bangsa Indonesia itu sangat heterogen. Agamanya banyak dan pandangan orang pasti berbeda-beda. Karena sekarang sudah bergulir di MK, ya, kita semua menunggu putusan MK. Bagaimanapun juga konstitusi kita, UUD 1945, dengan tegas menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan menjalankan ibadat sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

Bagaimanapun juga isu ini kan terkait SARA sehingga semua pihak harus sangat bijaksana dan ekstrahati-hati. Kita tidak ingin ada gejolak di masyarakat.

Apa masukan Anda agar bangsa Indonesia yang majemuk ini bisa hidup rukun dan damai?

Inti semua agama itu kan damai dan cinta kasih. Kalau semua orang Indonesia yang mengaku beragama--apa pun agamanya--mau menghayati bahwa inti agama itu adalah damai dan cinta, saya kira, tak akan terjadi gejolak di masyarakat. Kita akan hidup dalam kedamaian. Karena saya rohaniwan Buddha, maka saya selalu mengajak umat saya untuk introspeksi, melakukan meditasi, berserah kepada Tuhan. (rek)




Senen-Kemis hingga Puasa Ngebleng


SEJAK remaja Sakya Putra Suyono sudah memperlihatkan minat dan bakat yang besar pada dunia spiritual. Ketika teman-teman seusianya masih senang main-main, bercanda, pelesir ke sana kemari, Suyono justru lebih suka berpuasa senen-kemis. Ritual ini dilakoninya secara rutin.


Bukan itu saja. Suyono juga menjalankan puasa mutih selama tujuh kali tujuh hari. Ada lagi puasa ngrowat, yakni hanya makan biji-bijian yang terpendam alias polo pendhem. Kemudian puasa ngalong: tidak tidur semalaman dan hanya makan buah-buahan yang bergelantungan seperti jambu, mangga, pepaya, dan sebagainya. Mirip kalong alias kelelawar.

"Saya mencontoh apa yang dilakukan orang dewasa di kampung saya," kenangnya.
Waktu itu Suyono mengaku belum menganut salah satu agama resmi yang diakui pemerintah. Kalau ditanya apa agamanya, Suyono dengan polos mengatakan tidak tahu. "Yang penting, saya melakukan olah rasa. Saya tidak mau rame-rame berdebat soal agama," paparnya.

Ternyata, laku puasa yang dijalani secara konsisten itu membawa banyak manfaat bagi Suyono. Dia merasa lebih tenang, sabar, hening, tidak gampang marah, bisa mengontrol emosi, tidak mudah takut. Dia juga merasa lebih dekat pada Sang Pencipta Alam Semesta. "Hidup jadi tidak ngoyo. Kita apa adanya saja."

Saking senangnya Suyono pada ritual puasa, dia pernah mencoba jenis puasa yang tergolong sangat berat untuk orang kebanyakan. Namanya puasa ngebleng alias pati geni. Yakni, masuk ke dalam kamar gelap dan tidak makan-minum tujuh kali tujuh hari. Ini, katanya, untuk mengasah sinar batin atau mendapat pencerahan rohani.

"Saya bersyukur sudah mendapat gemblengan batin sejak kecil," ujarnya sambil tersenyum.

Maka, ketika terpanggil menjadi cantrik Bante Ashin Jinaratkhita (almarhum), tokoh Buddhis terkenal di Indonesia, Suyono mengaku tak kesulitan mengikuti berbagai ritual Buddhis seperti meditasi.

Setelah melewati beberapa tahapan, akhirnya Suyono menyerahkan diri sebagai Buddhis (upasaka) pada 1966. "Kalau soal puasa itu, nggak bisa dipaksakan. Semuanya kembali ke individu masing-masing," tegasnya. (rek)



Enggan Tinggal di Vihara


RUMAH Romo Sakya Putra Suyono di kawasan Pradah Kalikendal Surabaya masuk jauh ke dalam gang. Sulit dipercaya rumah sederhana di gang sempit itu milik seorang rohaniwan sebuah vihara ternama di Surabaya. Setiap hari ada saja kendaraan roda empat milik jemaat yang melintas di depannya.


Mobil-mobil itu tidak bisa parkir karena dipastikan akan menutup sebagian besar gang. Romo Suyono sebenarnya bisa saja tinggal di kompleks Vihara Buddhayana, Jl Putat Gede 1, karena sejumlah fasilitas untuk rohaniwan sudah disediakan. Urusan makan-minum pun lebih terjamin. Tapi sejak dulu dia memilih berbaur di tengah masyarakat.

"Yah, begini inilah rumah saya. Saya memang lebih suka tinggal di kampung bersama masyarakat biasa. Jadi, saya bisa mengetahui keseharian masyarakat kita yang memang heterogen," ujar Romo Suyono, sapaan akrab Sakya Putra Suyono, yang ditemui Radar Surabaya di kediamannya.

Meski sangat sederhana, tak ada meja kursi di ruang tamu, suasana rumah selalu ceria dengan tawa renyah anak kecil. Belum lagi kaum Buddhis yang kerap mampir sekadar menyampaikan oleh-oleh berupa buah-buahan atau makanan kecil. Tapi, itu tadi, para tamu tak bisa berlama-lama di rumah karena tak ada lahan parkir.

"Jadi rohaniwan itu, ya, kayak begini. Tidak pernah kesepian, selalu saja ada kiriman dari umat. Kalau ada makanan dari umat, ya, silakan kita nikmati bersama-sama," ujar Romo Suyono sambil mempersilakan Radar Surabaya menikmati pisang pemberian umatnya.

Selain makanan, pria asal Semarang ini merasa bersyukur punya banyak jemaat yang senantiasa mendoakan dirinya. Saat jatuh sakit bulan lalu, misalnya, jemaat secara bergantian datang ke rumahnya. Telepon selulernya pun tak henti-hentinya berdering menerima ucapan simpati dan doa tulus dari jemaat. "Berkat doa-doa itu, saya sekarang sudah sembuh dan lebih fit. Saya membutuhkan umat dan umat juga membutuhkan rohaniwan," katanya.

Jumat siang (19/3/2010), Romo Suyono buru-buru meninggalkan rumah karena sudah ditunggu jemaat di vihara. Setelah itu, dia harus memberikan pelayanan rohani di rumah seorang jemaat. Dia mengaku selalu berusaha meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah umatnya.

"Sekalian silaturahmilah," katanya.


BIODATA SINGKAT

Nama : SAKYA PUTRA SUYONO
Tempat/Tanggal Lahir : Semarang 20 Agustus 1942
Istri : Titin Martini Damayanti
Anak : tiga orang.
Jabatan : Rohaniwan Vihara Buddhayana sejak 2003
Hobi : Membaca, wisata rohani
Alamat : Vihara Buddhayana, Jl Putat Gede Surabaya

Pendidikan :
SR Ungaran
SMPN Ungaran
Sekolah Teologi di Vihara Bandung

Tahbisan: 1964 di Medan

10 April 2010

Melihat Artis Dangdut Bersolek


Artis dangdut lagi bersolek sebelum manggung di Sidoarjo

Saya sering berada di belakang panggung untuk memperhatikan artis-artis mempersiapkan diri sebelum naik panggung. Para penyanyi dangdut di Jawa Timur, khususnya yang di bawah 20 tahun, kebanyakan ditemani mama, tante, atau kerabatnya.

Si mama ini fungsinya banyak. Bisa jadi juru rias, pembawa bedak dan alat-alat kosmetik, teman bicara, pengawal pribadi, pembawa pakaian panggung, aksesoris, hingga tukang pijat dan manajer. Mereka juga yang mengurus makanan atau minuman untuk si biduanita.

Berada di belakang layar, khususnya di panggung dangdut sederhana, kita bisa melihat "wajah asli" si artis. Wajah yang polos, lugu, belum dibalut bedak tebal dan aneka kosmetik.

Kita bisa lihat tahi lalat, jerawat, rambut asli, dan sebagainya. Wajah artis di atas panggung atau di layar televisi sangat berbeda dengan aslinya. Setelah dirias, wajah si artis sangat kinclong. Ketika ada permainan lampu (lighting), amboi, si artis bagaikan primadona. Ditambah goyang dangdut gila-gilaan ala Inul Daratista, laki-laki normal biasanya menghela napas panjang. Ingin rasanya menggapai si biduanita.

Jangan heran kalau para laki-laki rela menghabiskan uang untuk nyawer di artis dangdut di pub atau kafe-kafe malam. Sebab, si artis malam itu ibarat perempuan tercantik di dunia. Belum tahu aslinya si artis. Hehehe....

"Mas, aku jangan dipotret ya? Ntar fotonya saya kasih. Aku punya banyak koleksi fotoku yang bagus-bagus," kata seorang penyanyi dangdut terkenal kepada saya beberapa waktu lalu. Cewek ini memang paling khawatir wajah aslinya dimuat di surat kabar. Bisa merusak pasaran, katanya.

Dan itu bisa dimengerti. Jujur saja, wajah asli vokalis dangdut ini biasa-biasa saja. Macam orang biasa di kampung-kampung di Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, atau Lamongan. Melihat wajah aslinya, bisa dipastikan tak banyak laki-laki yang tertarik. Tapi, ketika sudah diintervensi kosmetik kelas atas, suit-suit... kincong banget.

"Pokoknya, aku perlu waktu minimal satu jam kalau rias," katanya.

Biasanya, artis yang sudah populer, sering masuk televisi, butuh waktu lama untuk merias diri, mempermak wajah, dan sebagainya. Kecuali artis jazz yang lebih suka tampil apa adanya, pakai kaus oblong, celana jins, dan tetek-bengek yang artifisial. Beberapa teman pemusik jazz bahkan tidak sempat mandi sebelum manggung. Hehehe....

Dicky, teman saya yang lama menjadi event organizer (EO), selalu menasihatkan agar para laki-laki tidak silau dengan wajah dan pesona artis di televisi atau di atas panggung. Apalagi pada malam hari. Bahaya! Anda akan kecewa berat!

"Lebih baik Anda melihat wajah aslinya di rumah saat artis itu belum bersolek," katanya.

Kafir di Flores dan Jawa




Orang Indonesia harus punya agama. Kartu tanda penduduk (KTP) ada kolom agama. Dan harus diisi salah satu dari enam agama (dulu lima): Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Khonghucu.

Bagaimana jika orang Indonesia itu beragama Tao, Sikh, atau agama-agama "asli" yang sedemikian banyak itu? Bagaimana kalau orang Indonesia itu tidak punya agama? Sstt... pertanyaan sangat peka di Indonesia.

Di Flores Timur, pada tahun 1980-an dan 1990-an, orang-orang kampung yang tidak menganut agama Islam atau Katolik [kebetulan di sana hanya ada dua agama ini], maka ditulis: KAFIR. Istilah KAFIR biasa disebut anak-anak atau masyarakat luas tanpa ada yang merasa tersinggung.

Dan orang-orang KAFIR ini banyak sekali di kampung-kampung pelosok Flores Timur, khususnya Pulau Lembata, hingga akhir 1990-an. Anak-anak dan cucu-cucu mereka memang sudah Katolik, tapi para pemeluk "agama asli" ini tetap melaksanakan "tula gudung" alias pemujaan ala animisme-dinamisme.

Begitulah. Bagi orang-orang Flores yang kurang makan sekolah, KAFIR artinya orang yang belum menganut salah satu dari enam agama resmi di Indonesia atau agama-agama besar di dunia. Orang Islam bukan kafir. Orang Protestan bukan kafir. Orang Hindu bukan kafir. Orang Buddha bukan kafir. Orang Khonghucu bukan kafir. Orang Yahudi bukan kafir. Orang Sikh bukan kafir. Orang Sinto bukan kafir. Dan seterusnya.

Setelah tinggal dan makan sekolah di Jawa Timur, bergaul luas dengan berbagai kalangan di Jawa Timur, akhirnya saya jadi tahu betapa besar perbedaan definisi KAFIR di Flores dengan KAFIR di Jawa. Istilah KAFIR sering diteriakkah para demonstran ketika melakukan unjuk rasa ke kantor diplomat negara-negara Barat, khususnya Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Jalan Soetomo Surabaya.

Amerika Serikat selalu dibilang KAFIR. Israel yang Yahudi KAFIR. Pokoknya, hampir semua lawan politik si demonstran dibilang KAFIR. Tapi, uniknya, warga negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau Rusia yang tidak beragama, ateis, tidak peduli Tuhan, hampir tak pernah diteriakin KAFIR.

Tahulah saya bahwa istilah KAFIR yang berlaku di Jawa tidak sama dengan di Flores Timur yang masih terbelakang itu. Gampangnya begini: Semua pihak yang berada di luar kaumku, golonganku, agamaku, aliranku, pahamku... Anda layak disebut KAFIR. Yang beriman dan disayangi Tuhan, ya, orang-orang dari kelompok atau golongannya sendiri.

Ihwal kata atau istilah KAFIR ini tentu sangat sensitif. Umat beragama (apa pun) yang rajin berdoa, ikut kegiatan sosial, peduli sesama, menjalankan ajaran agamanya... bisa tersinggung dicap KAFIR. Kecuali orang-orang kampung di Flores, kakek-kakek dan nenek kami, tempo dulu yang tenang-tenang saja meskipun kolom KTP atau identitas kependudukan lain ditulis besar-besar: KAFIR.

Yang menarik, orang-orang KAFIR di Flores Timur yang usianya rata-rata sudah di atas 70 atau 80 tahun itu tidak pernah korupsi. Tidak pernah mencuri. Selalu hidup selaras dengan alam. Yang doyan korupsi sejak 1980-an sampai hari ini adalah pejabat-pejabat eksekutif, legislatif, pegawai pajak, pegawai negeri sipil, pemborong bangunan yang sebagian besar beragama... KATOLIK.

Kata teman saya: "Pejabat-pejabat di Flores itu rajin ke gereja; kalau misa selalu duduk di depan; tapi juga rajin korupsi. Orang-orang kampung yang masih KAFIR tidak pernah korupsi. Mau korupsi apa? Mereka itu kan buta huruf, tidak bisa berbahasa Indonesia, dan hanya bisa hidup sederhana di kampung."

Iseng-iseng saya membuka Kamus Bahasa Indonesia karangan Sutan Mohammad Zain, terbitan PT Grafica Jakarta, 1952. Sutan yang orang Sumatera Barat ini, selain ahli bahasa Indonesia terkemuka pada 1950-an dan 1960-an seperti Sutan Takdir Alisjabana, juga pakar agama Islam. Di halaman 320 buku kamus lama ini, Sutan Mohammad Zain menjelaskan arti kata KAFIR, serapan dari bahasa Arab.

KAFIR : Tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Kafir itu ada tiga macam.

1. Kafir MAJUSI: Orang kafir yang menyembah api.

2. Kafir MUSYRIK: orang yang memberi serikat atau sekutu kepada Tuhan. Artinya, ada pula yang lain yang berkuasa bersama-sama dengan Tuhan.

3. Kafir AHLU'KITAB: Orang kafir yang mempunyai kitab, yaitu orang Yahudi dan Nasrani.


Definisi yang ditulis Sutan Mohammad Zain ini sudah jelas dan gamblang menyebutkan manusia-manusia macam apa saja yang disebut KAFIR itu. Orang Kristen alias Nasrani tergolong KAFIR jenis ketiga: Kafir Ahlu'kitab.

Jadi, kalau di pelosok Flores Timur, para pejabat desa atau pengurus RT/RW suka meng-KAFIR-kan orang-orang tua yang tidak menganut agama Islam atau Katolik, di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB, dan daerah-daerah lain di luar Flores, definisi KAFIR tidak lagi seluas yang biasa dipahami di Flores. Ingat, lain padang, lain belalang!

Karena itu, seharusnya orang-orang Flores tidak boleh lagi menggunakan istilah KAFIR untuk mencap siapa pun, dengan alasan apa pun, apalagi kepada leluhur atau nenek moyang kita sendiri. Jangan lagi menulis KAFIR di kolom agama di KTP!

08 April 2010

Bahaya Wanita Cantik



Di depan para pejabat Partai Komunis, Presiden Hu Jintao menyampaikan pidato menarik. Hu minta semua pejabat di Tiongkok untuk tidak tergiur cobaan wanita cantik. Seperti dikutip kantor berita Xinhua, 7 April 2010, Hu Jintao berkata:

"Leading cadres at all levels should always maintain a spirit of moral character and be aware of the temptations of power, money and beautiful women."

Begitu membaca judulnya saja di internet, saya langsung tertarik membaca berita ini. Bukan main! Seorang pemimpin tertinggi Tiongkok bicara secara terbuka tentang moralitas. Negara komunis, yang selama ini dianggap ateis, tak beragama, tak pernah menyebut-nyebut nama Tuhan, mungkin jarang berdoa... menekankan moralitas luhur.

Hati-hati sama wanita cantik!

Sebetulnya pidato Presiden Jintao ini tak asing bagi telinga orang Indonesia. Kita sering mendengar nasihat agar mewaspadai 3-TA: harta, tahta, wanita. Makhluk yang namanya wanita--entah cantik, sedangan, atau jelek--sejak dulu dianggap sebagai godaan besar bagi para pejabat yang memang dominan laki-laki. Wanita cantik (dan muda tentu saja) sering dijadikan pelumas atau umpan untuk memuluskan urusan.

Bahkan, di Indonesia kabarnya ini ada klub sepak bola yang sangat hebat, tapi tak berdaya kalau diumpan dengan... cewek cantik. Menjelang pertandingan, cerita teman saya, pihak lawan cukup menyediakan beberapa "ayam cantik" untuk servis para pemain kunci. Plus minuman keras kelas atas, sedikit hiburan, habislah dia.

Kita punya lembaga antikorupsi yang hebat bernama KPK: Komisi Pemberantasan Korupsi. Kinerjanya bagus. Petugas KPK berkali-kali sukses menangkap tangan koruptor kelas kakap. Tapi, seperti disitir Hu Jintao, pejabat-pejabat KPK yang laki-laki normal tak kebal dari godaan wanita cantik. Umpankan saja gadis cantik 20-an atau belasan tahun. Ehm... dan si pejabat KPK yang tangguh itu pun akhirnya bertekuk lutut di hadapan caddy cakep.

Wanita cantik memang sakti. Pekan lalu, saya bertemu seorang pria mapan di Surabaya. Selama ini saya menganggap dia alim, sayang istri-anak, sering bikin kegiatan sosial. Di meja makan sebuah restoran, bapak ini menggandeng gadis 20-an tahun. Sangat akrab, pangku-pangkuan segala. Wanita cantik berwajah oriental.

Siapa gerangan dia? "Hehehe.... Teman sharing, teman luar dalam. Anaknya sudah mulai kerasan di Surabaya," kata sang bos.

Saya tak berani bicara lebih panjang karena ini urusan privat dan sensitif. Bagaimana kalau istrinya tahu dia main serong? Sang bos harus keluar uang banyak untuk membayar biaya hidup, makanan, pakaian, hiburan, gaya hidup, si nona. Yah, demi nona manis itu, entah sudah berapa duit terkucur. Sampai kapan permainan ini berlangsung?

Wanita, entah jelek atau cantik, sebetulnya sama dengan laki-laki. Sama-sama manusia. Kita yang laki-laki sering menyalahkan wanita cantik sebagai iblis penggoda, tukang kuras uang, perusak rumah tangga. Padahal, akar persoalan ada di dalam diri kita sendiri.

Tapi bagaimanapun juga nasihat Hu Jintao, presiden Tiongkok, tetap layak disimak dan dipraktikkan:

HATI-HATI DENGAN WANITA CANTIK!

07 April 2010

Wisata Hutan Bakau Surabaya



Saya benar-benar penasaran dengan hutan bakau (mangrove) di Wonorejo, Surabaya. Apalagi, selama beberapa hari terakhir KOMPAS JATIM gencar menulis tentang kawasan wisata baru di pantai timur Surabaya alias Pamurbaya itu. Kayak apa sih hutan bakau Wonorejo? Apa mirip kawasan pesisir Sidoarjo yang juga punya hutan bakau?

Maka, Selasa siang (6/4/2010) saya akhirnya menjejakkan kaki di Wonorejo. Orang Surabaya, khususnya yang tinggal di daerah Rungkut, Panjangjiwo, kampus Stikom, Kedungbaruk... umumnya tak asing lagi dengan Wonorejo. Di kawasan ini ada boesem atawa lahan penangkapan air. Ini daerah pesisir Kota Surabaya.

Jalan raya ke Wonorejo relatif baik. Tapi secara umum kawasan ini kurang terurus. Maklum, lokasinya di pinggiran, dianggap kurang bernilai ekonomi. Rumah susun untuk keluarga miskin dibangun di Wonorejo. Di sepanjang jalan, kita bisa melihat sejumlah gubuk sederhana, tempat berlindung para penjaga tambak. Ada juga beberapa warung kopi sederhana.

Tiba di lokasi Ekowisata Pamurbaya hanya ada dua turis lokal, suami-istri asal Manado. Ibu Wati bersama suaminya, Pak Makin, membuka warung kopi di dekat dermaga bambu dan dermaga tembok yang dibuat Pemkot Surabaya. Di bawah bangunan beratap alang-alang itu Pak Makin, Pak Danu Sunarto, serta pasutri Manado berbincang santai. Cerita ringan seputar dunia nelayan, ikan-ikan yang makin berkurang, hingga potensi wisata pantai Surabaya.

"Tempat ini baru dibuka bulan Januari 2010. Jadi, maklum kalau belum jadi objek wisata yang ramai seperti di Kenjeran. Ramainya kalau hari libur atau tanggal merah. Biasanya, pengunjung yang datang rombongan," ujar Danu Sunarto, tokoh Kelurahan Wonorejo, yang lahir di Blitar 10 Agustus 1949.

Pemkot Surabaya memang berkepentingan dengan wisata pantai, sekaligus konservasi hutan bakau. Maka, para pejabat pemkot sering datang ke Wonorejo untuk kasih motivasi kepada Pak Danu dan kawan-kawan atau sekadar melakukan pemantauan kawasan seluas 2.000 hektare itu. Namun, belum ada upaya konkret untuk menyulap hutan bakau yang punya 15 spesies bakau menjadi objek rekreasi menarik.

Konon, menurut informasi di koran, hutan bakau Wonorejo ini punya 137 spesies burung, tujuh spesies mamalia, 10 spesies herpetofauna, 10 spesies ikan, dan 53 spesies serangga. Juga jadi tempat singgah burung-burung dari Selandia Baru dan Australia yang terbang menuju Siberia.

Kok waktu saya di Wonorejo tak terlihat spesies-spesies binatang yang sedemikian banyak itu? Yang ada cuma dua ekor monyet yang dirantai oleh Mas Limbad, pria asli Wonorejo, bukan Master Limbad yang di televisi itu. "Kita lagi merintis objek wisata. Jadi, masih banyak kekurangan," kata Pak Danu, pensiunan pegawai Bank Panin.

Untuk berwisata mengarungi muara sungai, sambil menyaksikan hutan bakau plus binatang-binatang tadi, kita harus menyewa perahu. Kapasitasnya 30-orang orang yang berat badannya normal. Tapi kalau rombongannya besar, Pak Danu siap mengerahkan perahu-perahu nelayan (kerang) yang mangkal di Wonorejo. "Minggu lalu sekitar 20 perahu dipakai untuk penghijauan bakau," katanya.

Sejak diramaikan koran-koran di Surabaya setahun silam, banyak pihak memang yang datang ke pantai timur Surabaya untuk melakukan penghijauan. Tanam bakau rame-rame! Lions Club, misalnya, punya pasasti yang mengabarkan telah sukses menanam sejuta pohon bakau. Pekan lalu, katanya, ada penanaman 10 ribu bibit bakau. Lalu, siapa yang merawat? Mengontrol agar bakau-bakau itu tidak mati sia-sia?

Asyik juga ngobrol bersama Pak Danu, Pak Makin, dan Pak Limbad di Wonorejo. Mereka ini orang-orang sederhana yang mau berbuat sesuatu demi kelestarian hutan bakau di Kota Surabaya. "Kalau pingin mancing, silakan datang lagi ke sini. Ikannya banyak dan besar-besar," kata Pak Danu.

Baiklah! Matur nuwun, Pak Danu!

DANU SUNARTO
031 7839 8090

Empati Pramoedya untuk Hoakiao



Selain menulis sekian banyak novel berlatar belakang sejarah, almarhum Pramoedya Ananta Tour sangat gigih membela hak-hak warga keturunan Tionghoa (hoakiao) di Indonesia. Buku berjudul HOAKIAO DI INDONESIA simpati Pram terhadap para hoakio pasca-PP 10.

Menurut Oei Hiem Hwie, kolektor buku yang juga teman dekat Pramoedya Ananta Tour semasa pembuangan di Pulau Buru, buku Hoakiao ditulis menyusul terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959. PP 10 itu intinya melarang warga Tionghoa alias hoakio berdagang di luar ibukota kabupaten/kota.

Tak sedikit hoakio yang terkena dampak langsung PP ini. Ribuan hoakiao akhirnya dipulangkan secara massal ke Tiongkok yang waktu itu masih belum maju. Padahal, orang-orang Tionghoa itu sudah bertahun-tahun, bahkan sudah beberapa generasi, tinggal dan berusaha di Indonesia.

"Sebagai wartawan dan orang yang sangat humanis, Pak Pram tidak bisa mendiamkan keadaan ini. Dia melakukan korespondensi dengan temannya di Tiongkok," jelas Oei Hiem Hwie dalam bedah buku Hoakiao di Indonesia di Perpustakaan Medayu Agung, Surabaya, pekan lalu (1/4/2010).

Surat-menyurat itu juga dimuat di surat kabar. Nah, kumpulan esai-esai pendek Pram, sapaan Pramoedya Ananta Tour, itu kemudian dibukukan seperti kita kenal sekarang. Menurut Pram, PP 10 itu tidak adil karena di sisi lain pemerintah membuka masuknya investasi dari negara-negara asing.

"Lha, kok modal para hoakiao yang sudah tinggal beberapa generasi di Indonesia malah dilarang," tegas Oei, yang juga mantan wartawan Trompet Masjakarat pada era 1960-an.

Gara-gara menulis serial Hoakiao ini, lanjut Oei, Pram ditangkap aparat berwajib, kemudian dipenjara selama satu tahun di Penjara Cipinang, Jakarta. Sejumlah tokoh Tionghoa waktu itu ikut prihatin dengan apa yang dialami Pram. Karena itu, Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) mengutus Oei Tjoe Tat menemui istri Pram, Maimunah, untuk menyampaikan simpati.

Situasi semakin sulit setelah Gerakan 30 September pada 1965. Pram bersama tokoh-tokoh lain dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik. Pada 1990-an, ketika Pram sudah dibebaskan, Oei Hiem Hwie mengaku datang menemui Pram di Jakarta. Dia mengajak Oei Tjoe Tat, mantan menteri kepercayaan Bung Karno, ke rumah Pram.

"Itulah pertama kali Pak Pram dan Pak Oei bertemu secara langsung. Sebelumnya, mereka tak pernah bertemu," kenang Oei Hiem Hwie seraya tersenyum.

Menurut dia, Pram sangat terharu mendengar cerita kalau Oei Tjoe Tat sempat menemui istri Pram, Maimunah, ketika dirinya ditahan aparat. Selama ini tak ada orang yang menceritakan kejadian itu, termasuk Maimunah. "Pak Pram bilang terima kasih banyak atas perhatian Baperki, khususnya Pak Tjoe Tat," tutur Oei.

Dari paparan sejarah singkat ini, menurut Oei Hiem Hwie, terlihat sekali betapa dekatnya hubungan antara Pram dengan kalangan Tionghoa. Bahkan, ketika berada di Pulau Buru, Oei Hiem Hwie menjadi orang kepercayaannya.

"Saya diminta membaca dan mengoreksi naskah-naskah yang ditulis Pak Pram," ungkap Oei.

05 April 2010

Jay Wijayanto - The Indonesia Choir




JAY WIJAYANTO, pentolan paduan suara, yang belakangan jadi Bang Zaitun di film Sang Pemimpi, muncul di Kick Andy - Metro TV. Gaya bicaranya masih seperti dulu: ceplas-ceplos, nyentil sana-sini, tak lupa guyonan pahit. Orang dibuat ketawa atau senyam-senyum, tapi juga prihatin.

"Tidak ada paduan suara yang buruk. Yang ada pelatih paduan suara yang buruk," ujar Jay Wijayanto alias Jegger membuat Andy F. Noya, host Kick Andy, tertawa lebar. Jay Wijayanto diwawancarai dalam kapasitas sebagai pendiri, pelatih, dan dirigen The Indonesia Choir. Paduan Suara Indonesia.

"Begitu juga tidak ada acara talkshow yang buruk. Yang ada host yang buruk. Dan... host Kick Andy ini bagus." Hehehe.... Andy Noya tertawa lagi.

Tahun 1990-an, saya pernah merasakan gemblengan Jay Wijayanto di Jember. Sejumlah mahasiswa di Jember, yang beragama Katolik dan suka paduan suara, ditatar khusus oleh si Jengger. Begitu mendengar kata-kata pengantarnya pada 10 menit pertama, saya sudah bisa meraba-raba gaya si Jegger. Nyentil sana, nyentil sini, kritik kiri-kanan. Jay tak lupa kasih contoh cara menyanyi yang kurang benar.

Orang Jogja ini juga bisa menirukan gaya menyanyi penyanyi-penyanyi mana pun. Ebiet G. Ade, Rhoma Irama, Eddy Silitonga, hingga Nikita, penyanyi rohani remaja, yang waktu itu kondang dengan hit Di Doa Ibuku Namaku Disebut. Jegger mengupas habis teknik vokal para penyanyi pop yang memang tak pernah ikut pakem seni suara klasik atawa paduan suara itu.

"Sekarang kita belajar resonansi," kata Jay Wijayanto, sang instruktur vokal. Dia bikin ilustrasi gambar kayak telur ayam. Ada kuning telur, dilapisi putih telur.

Lantas, selama satu jam lebih kami, peserta kursus paduan suara diminta membunyikan NG. Gampang-gampang susah. Posisi lidah, tekak, mulut... sangat menentukan kualitas suara yang keluar. Teman-teman keringat dingin, takut dijadikan bahan guyonan si Jegger. Humor pahit. Setelah lulus membunyikan NG, latihan dilanjutkan dengan NGO....

"Latihan lagunya kapan? Kok NG dan NGO terus?" bisik teman di sebelah.

Rupanya, Jay Wijayanto tahu persis apa sejatinya kelemahan para penyanyi, khususnya paduan suara, di Indonesia. Terlalu banyak menyanyi, latihan macam-macam lagu, tapi abai pada teknik produksi suara. Padahal, di situlah kunci utama teknik vokal yang harus sangat-sangat diperhatikan.

Setelah dilanda ketegangan cukup lama, pelan-pelan kami mulai merasa nyaman digembleng si Jegger. Latihan lagu pun menjadi jauh lebih enak. Saya masih ingat beberapa komposisi seperti REJOICE IN THE LORD dan I DON'T KNOW HOW TO LOVE HIM. Dua komposisi ini diulang-ulang karena tingkat kesulitannya relatif tinggi.

Dua hari kemudian, paduan suara yang baru saja digembleng Jay Wijayanto bikin konser di dalam Gereja Santo Yusuf, Jalan Kartini Jember. Sebelumnya, si Jegger ngetes apakah akustik gereja di tengah kota Jember itu oke atau tidak. "Wah, bagus. Gak usah sound system," katanya.

Maka, malam itu saya menjadi saksi konser tunggal vokalis seriosa bernama Ignatius Wijayanto alias Jay Wijayanto alias Jegger. Paduan suara kami, yang dadakan itu, kebagian membawakan beberapa komposisi. Saya akhirnya mahfum mengapa Jegger berani tampil di konser tunggal tanpa pengeras suara. Wong, suaranya sendiri sudah sangat keras. Power-nya luar biasa.

Semua penonton terpana mendengarkan lagu-lagu klasik dan semiklasik yang dibawakan Jegger. Dont't Cry for Me Argentina, Climb Every Mountains, Ave Maria, dan beberapa lagi. Programnya dibuat di kertas fotokopian. Lumayan, di kota kecil yang tak punya tradisi musik klasik bisa digelar konser vokal klasik nyaris tanpa biaya sama sekali.

Sekitar 10 tahun kemudian, Jegger muncul di majalah TEMPO. Cerita dua halaman tentang kiprah wong Jogja, alumni UGM ini, dalam menyebarluaskan musik paduan suara dengan komposisi-komposisi Nusantara. Lagu-lagu daerah, dolanan anak-anak, dibawakan dengan santai, riang, ringan, menghibur. Penulis di TEMPO memuji penampilan paduan suara yang dipimpin Jegger di Jakarta.

Saya makin salut sama Jegger. Gak nyangka, mantan jawa bintang radio jenis seriosa ini serius dan fokus pada hobi seni suaranya. Gayanya tak jauh-jauh dari Vocalista Sonora, paduan suara milik Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta, yang sejak awal 1970-an fokus pada pengembangan lagu-lagu daerah.

Ketika menyaksikan siaran ulang Kick Andi di Metro TV, Minggu 29 Maret 2010, karena tak sempat lihat versi Jumat, saya langsung teringat pengalaman digembleng paduan suara oleh Jay Wijayanto. Di Metro TV, Jegger mengenakan kain sarung khas Tapanuli alias ulos. Bicaranya pun masih ceplas-ceplos kayak dulu. Logat Jawanya masih kental, bahkan justru makin kental.

"Orang Indonesia itu nggak ada yang suaranya benar-benar fals," kata Jegger. Karena itu, dia kerap mengajak penonton bernyanyi bersama-sama paduan suaranya.

Seni pertunjukan kita memang seperti itu. Para seniman (penampil) dan penonton selalu berinteraksi. Tak ada batasan. Unggah-ungguh priyayi ala konser musik klasik Barat tidak dikenal. Menurut Jegger, justru aneh kalau penonton seni pertunjukan Indonesia duduk terpaku, tegang, tak memberi respons selama pergelaran berlangsung.

"Bayangkan, Anda nonton jathilan dan diam saja seperti patung," ujar Jegger usai menembangkan Jula-Juli ala Suroboyoan.

Jay Wijayanto bersama The Indonesia Choir bertekad mengeksplorasi tembang-tembang daerah di seluruh Indonesia. Mengutip catatan dari sebuah lembaga statistik, menurut Jegger, bahasa daerah di Indonesia saat ini berjumlah 350-an bahasa daerah. Masing-masing warga pengguna bahasa daerah ini tentu saja punya lagu daerah dengan musik tradisionalnya yang unik.

Andai saja, masing-masing suku ini punya 10 lagu daerah saja, kita sudah punya ribuan komposisi. Padahal, faktanya, di Jawa saja ada ratusan, bahkan ribuan tembang daerah mulai dari Banyuwangi di Jawa Timur, hingga Semarang, Banyumas, dan seterusnya.

"Kita sering mengabaikan kesenian daerah dan mengagung-agungkan kesenian asing," kritik Jegger.