20 March 2010

Wirai, Perintis Pura di Sidoarjo


Umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo layak berterima kasih kepada Mangku Wirai, 63 tahun. Pria asli Desa Balonggarut, Krembung, inilah yang merintis berdirinya Pura Margo Wening, pura pertama di Kabupaten Sidoarjo.

Sepuluh tahun lalu akses menuju Pura Krembung -- nama populer Pura Penataran Agung Margo Wening -- di Desa Balonggarut, Krembung, hanya jalan setapak di tengah kebun tebu yang luas. Tak ada aspal. Warga ketakutan karena sering terjadi perampasan sepeda motor di kawasan lengang itu. Maklum, jarak antara jalan raya dengan permukiman penduduk hampir dua kilometer.

Itu kisah masa lalu. Sekarang jalanan sudah mulus, lengkap dengan plang petunjuk arah Pura Krembung. Bahkan, sejak dari Pasar Porong, dekat pos polisi, ada papan petunjuk menuju ke pura.

"Yah, sekarang sudah enak, tinggal dirawat saja," ujar Mangku Wirai yang ditemui Radar Surabaya di rumahnya, sekitar 100 meter dari Pura Krembung, Sabtu (20/3/2010).

Kondisi kesehatan mangku yang satu ini sedang merosot. Sejak tiga tahun silam Wirai lumpuh dan kejang-kejang. Namun, memorinya masih sangat tajam untuk mengenang masa-masa perjuangan pada awal 1970-an hingga 1990-an. Ketika dia berusaha membangun pura dengan biaya pas-pasan. Pada 1971, kenang Mangku Wirai, umat Hindu asli Jawa yang jumlahnya 200-an orang bahu-membahu mencari bahan bangunan.

"Kami bikin batu merah sendiri. Setelah dapat 2.000 batu merah, barulah kami bangun pura di atas tanah yang dihibahkan Pak Untung (almarhum), salah satu umat," tuturnya.

Proses pembangunan penuh kendala baik internal maupun eksternal. Ketika pembangunan sedang berlangsung, sejumlah tentara datang untuk menghentikannya. Mangku Wirai sendiri beberapa kali dipanggil aparat pemerintah. Ayah delapan anak ini meyakinkan bahwa mereka memang asli Krembung dan sekitarnya yang kebetulan beragama Hindu.

"Kami perlu tempat ibadah karena tidak mungkin kami beribadah dari rumah ke rumah. Wong umat kami sudah ratusan orang, apalagi kalau pas hari besar," ceritanya.

Berkat pendekatan yang terus-menerus, pura sederhana itu akhirnya mulai terwujud pada 1990. Sayang, Wirai dan kawan-kawan kehabisan dana untuk finishing. Dia kemudian melobi beberapa pejabat di Surabaya dan Sidoarjo yang berasal dari Bali dan beragama Hindu. Mereka kaget mengetahui kalau ada umat Hindu asli Sidoarjo yang sedang bikin pura.

Kendala dana pun teratasi. Akhirnya, pada 1 Januari 1992 pura rintisan ini diresmikan Bupati Sidoarjo Edhi Sanyoto. Namanya Pura Jagat Nata Margo Wening. Mangku Wirai pun lega karena kerja kerasnya membina komunitas Hindu di Sidoarjo sejak 1957 itu mulai berbuah.

Peresmian pura oleh bupati juga dihadiri sejumlah pejabat pemkab dan pengurus Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Sidoarjo dan PHDI Jawa Timur.




Sejak itulah nama Pura Krembung tersebar luas di kalangan umat Hindu asal Bali yang tinggal di Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Mojokerto, dan sekitarnya. Komunitas Hindu Jawa di Krembung yang tadinya kurang dikenal orang mulai mencuat. Bahkan, banyak yang kaget, kok ada umat Hindu asli Krembung ya?

Maka, ketika ada hari-hari besar Hindu seperti Galungan, Kuningan, atau Melasti (jelang Nyepi), orang-orang Bali ikut bergabung ke Krembung. Kalau sebelumnya semua ritual dipimpin mangku-mangku lokal, kini dikombinasikan dengan rohaniwan yang disiapkan PHDI Sidoarjo. Dan terjadilah integrasi antara komunitas Hindu asli Sidoarjo dan Bali.

"Kalau ada upacara, wah, ramai sekali. Padahal, pura yang lama itu kan tidak seberapa luas," kata Mangku Wirai. Luas Pura Jagat Nata itu kira-kira dua kali lapangan voli, termasuk halaman depan beberapa rumah umat Hindu.

Dari sinilah mulai muncul gagasan untuk memperluas Pura Krembung itu. Gayung pun bersambut, karena Bupati Win Hendrarso memberikan izin resmi. Tanah seluas satu lapangan bola, sekitar 50 meter dari pura lama di Desa Balonggarut, pun dibebaskan. Prosesnya relatif mudah mengingat sebagian lahan itu memang milik umat Hindu asli Krembung.

Maka, proses relokasi pura berjalan mulus dan lancar. Tak ada tentara, polisi, atau aparat desa yang menghalangi seperti dulu. Ini tentu sangat berbeda dengan upaya Mangku Wirai merintis Pura Jagat Nata pada 1971 hingga 1992.

"Bayangkan, bikin pura yang kecil itu saja makan waktu 21 tahun," ujar Mangku Wirai didampingi istrinya, Suyatmi.

Pada 21 Agustus 2004, Bupati Win Hendrarso akhirnya meresmikan Pura Penataran Agung Margo Wening. Ribuan umat Hindu dari Sidoarjo dan sejumlah kota di Jawa Timur, juga dari Bali, datang menghadiri momen bersejarah itu. Mangku Wirai, pria sederhana asal Krembung yang kini membuka usaha bengkel itu, rupanya tenggelam dalam lautan umat yang sedang berbahagia.

Mangku Wirai tetap rendah hati meskipun kehadiran Pura Krembung yang megah tak lepas dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun. "Saya ini orang biasa, bukan orang pandai, bukan pejabat. Semua ini karena kuasa Tuhan sendiri," katanya.

RADAR SURABAYA edisi 21-22 Maret 2010.

7 comments:

  1. Orang seperti Pak Mangku Wirai ini lebih pantas dikagumi daripada pejabat tinggi atau pengusaha kaya yang suksesnya lewat korupsi. Terima kasih atas ceritanya yang inspirasional.

    ReplyDelete
  2. Tolong kasikan nomor rekening bank atas nama Pak Mangku Wirai, serta nama lengkap dan alamat lengkap Pak Mangku Wirai. Agar dikirimkan ke alamat email ini: mwidana@hotmail.com

    ReplyDelete
  3. saya warga sidoarjo, saya sudah mengunjungi pura ini ketika saya KKN di daerah Krembung, bagus, asri..
    http://www.facebook.com/batarasingajalma

    ReplyDelete
  4. PHDI KABUPATEN SIDOARJO

    Alamat : Pura Jala Siddhi Amertha,
    Jln. Raya Juanda, Kompleks Marinir TNI-AL, Sidoarjo. No.Flexi : 031-70950202. No.Hp : 08123015299, 08123221376.
    http://parisada-sidoarjo.blogspot.com
    Email : parisada.sda@gmail.com

    ReplyDelete
  5. Om Swastyastu semeton,
    Bapak Mangku Wirai saat ini dalam kondisi sakit karena serangan stroke. Bagi para semeton yang hendak mendermakan punia untuk beliau dapat mengirimkan ke rekening putra beliau Teguh Ayu Widhiarto di BCA no 6150159847. No hp di 085230628500. Kemarin saya sempat kirimkan sekedarnya sejumlah 300 ribu untuk beliau.
    Suksma, Dharsana Matratanaya

    ReplyDelete
  6. Hebat perjuangannya. Tidak menyangka ada umat Hindu asli di Sidoarjo setelah beratus-ratus tahun. Kirain udah pindah ke Bali semua.

    ReplyDelete