25 March 2010

Tony Harsono Pembina Potehi



Geliat wayang potehi makin terasa dalam 10 tahun terakhir. Namun, Tony Harsono mengaku belum puas karena wayang khas Tionghoa ini sampai sekarang masih belum diapresiasi masyarakat luas.

"Benar kalau wayang potehi sudah mulai eksis, tapi belum dikenal secara luas. Bahkan, warga Tionghoa sendiri pun banyak yang tidak tahu wayang potehi," jelas Tony Harsono, pembina Huk Hoo An, grup potehi Klenteng Gudo, Jombang, kepada saya.

Karena itu, Tony yang juga pengusaha di Kediri terus melakukan sosialisasi dengan mengirim para pemainnya ke even-even penting di Surabaya, Jakarta, Malang, dan kota-kota besar lain di tanah air. Dia pun selalu berusaha memenuhi undangan pergelaran singkat di komunitas tertentu.

Bulan lalu, misalnya, Grup Huk Hoo An tampil di depan peserta Melantjong Petjinan Soerabaia di Rumah Sembahyang Keluarga The, Jalan Karet Surabaya. Saat itu Tony memamerkan panggung wayang potehi milik engkongnya yang telah berusia 100 tahun lebih. Beberapa boneka potehi pun telah berusia di atas satu abad.

Peserta wisata kota yang sebagian besar keturunan Tionghoa pun terkagum-kagum menyaksikan atraksi wayang potehi yang sangat menarik. Mereka tak menyangka kalau kesenian tradisional Tionghoa yang sempat dilarang dimainkan di tempat umum selama 30 tahun lebih itu masih bisa bertahan.

"Dari sini saja, kita jangan dulu puas karena wayang potehi sudah bisa dimainkan di mana-mana. Wong orang Tionghoa sendiri saja banyak yang tidak tahu," kata Tony lantas tertawa kecil.

Seperti juga grup-grup potehi lain, para pemain yang dibina Tony Harsono ini pun semuanya bukan Tionghoa. Mereka juga bukan jemaat klenteng. Umumnya orang Jawa yang sederhana dan belajar memainkan wayang potehi secara otodidak pada engkongnya yang juga dalang potehi.

"Saya sendiri nggak masalah yang main wayang potehi justru orang Jawa dan bukan Tionghoa. Ini menunjukkan bahwa kesenian itu selalu bersifat universal. Bisa dimainkan dan dinikmati oleh siapa saja, tak peduli suku, ras, agama, atau kebangsaan," katanya.

Saat ini, selain gencar mempromosikan wayang potehi, Tony juga melakukan regenerasi pemain. Orang-orang muda yang dinilai berbakat diberi fasilitas dan kesempatan untuk menekuni wayang potehi. Salah satu kader Tony yang paling sukses adalah Ki Subur dari Sidoarjo.

"Subur itu sudah punya nama di tingkat nasional," katanya.

No comments:

Post a Comment