02 March 2010

Takut Menjadi Tua

Saya baru saja membaca Kompas, edisi Selasa 2 Maret 2010. Saya geli ketika seorang tokoh yang sangat terkenal di Indonesia, sangat fenomenal, mendiskon usianya. Diskonnya hampir 10 tahun. Orang yang pernah membaca riwayat hidupnya dan konteks cerita yang dia tulis pasti tertawa dalam hati.

Hehehe.... Diskon umur kok banyak banget? Takut tua ya, Bang?

Pekan lalu, juga di koran, ada seorang perempuan dosen, sering masuk koran di Surabaya, juga memotong usinya. Diskon besar-besaran. Mudah-mudahan si wartawan salah tulis. "Ning, umure sampean kok nom banget? Apa gak keliru tulis nang koran? Hehehe...," goda saya.

Benar saja. Orang pintar ini bilang wartawan salah kutip. Di Indonesia, orang paling mudah menyalahkan wartawan ketika ucapan atau datanya disanggah di media massa. Apalagi, si wartawan pun jarang merekam suara untuk sumber-sumber yang dianggap tidak berisiko. Lain dengan pernyataan kepala negara atau pejabat yang lazimnya direkam.

Yah, umur memang urusan sensitif, khususnya kaum perempuan, khususnya lagi yang belum menikah meski sudah matang. Akhir-akhir ini, ketika industri hiburan dan jejaring sosial, begitu marak kaum adam pun ikut peka umur. Maka, jangan sekali-kali engkau menanyakan umur, khususnya kepada perempuan, pada awal wawancara. Tunggulah setelah ngobrol panjang lebar dan mau pamit pulang. Itu pun tak ada jaminan si sumber mau kasih tahu usianya.

"Tahun lahir? Wah, gak usah ditulis. Malu ah, aku sudah tua," ujar seorang perempuan kepada saya belum lama ini. Tanggal dan bulan lahir boleh ditulis. Dalam dua bulan terakhir, ada empat sumber, tokoh cukup penting, yang mati-matian merahasiakan tahun kelahirannya.

Seorang pengarang yang baru meluncurkan buku di Surabaya pun tidak mau mencantumkan tahun lahirnya di biodata. Susah! "Pokoke, ojo nyebut-nyebut umur. Iku SARA," kata seorang kenalan yang kerap muncul di media massa. Wuih, umur kok disamakan dengan SARA: suku, agama, ras, antargolongan.

Rocker terkenal, mendiang Ucok AKA Harahap, pun semasa hidupnya kerap "memanipulasi" usianya. Tiap tahun usianya bukannya bertambah banyak, tapi justru makin muda. Setelah telisik lebih jauh, ternyata ini ada kaitan dengan kebiasaan Ucok yang suka kawin. Hehehe....

Ketemu perempuan cantik, si Ucok selalu bilang usianya baru sekian. Maka, ketika meninggal di RS Darmo Surabaya, 3 Desember 2009, usia almarhum Ucok AKA ada beberapa versi. Tergantung istri yang mana. Ucok AKA menikah (resmi) sembilan kali, belum yang tidak resmi. Istri paling muda tentu bilang Ucok masih muda, sementara istri yang tua punya versi usia Ucok yang jauh lebih tua.

Maya Rumatir, bekas penyanyi yang kini pengusaha dan pengelola lembaga pendidikan, termasuk salah satu dari "sedikit" selebriti yang jujur soal umur. Maya ini, karena sering mengisi kebaktian kebangunan rohani di kalangan umat Kristen Protestan atau Katolik, selalu mengutip Alkitab tentang pentingnya kita mensyukuri anugerah Tuhan. Sang Pencipta telah memberikan usia kepada kita, dan kita wajib bersyukur dan memuji Dia.

"Setiap detik dalam hidupku, setiap tarikan napasku, tak pernah lepas dari kuasa Tuhan. Saya bersyukur Tuhan telah memberikan usia yang dewasa kepada saya," kata Maya Rumantir dalam sebuah seminar di kampus Universitas Katolik Widya Mandala di Jalan Dinoyo Surabaya.

Waktu itu Maya ditanya mengapa di usia menjelang 40 kok belum punya suami. Apa tidak takut jadi, maaf, perawan tua? "Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan. Saya bukan tipe orang yang merahasiakan umur. Tolong dicatat baik-baik tanggal, bulan, dan tahun kelahiran saya," ujar Maya Rumantir.

Bagi Maya Rumantir, lagi-lagi mengutip kitab suci, usia lanjut merupakan berkat yang luar biasa dari Allah. Tidak semua orang dianugerahi usia panjang. Begitu banyak manusia-manusia di dunia yang meninggal justru di usia remaja, anak-anak, bahkan balita. Bahkan, meninggal sebelum sempat dilahirkan ke dunia ini.

Banyak pula artis, atau orang biasa, yang meninggal sebelum usia 30 karena kecanduan narkoba, penyakit, kecelakaan, bencana alam, dan sebagainya.

"Kita boleh bersyukur karena Tuhan masih memberikan usia kepada kita," begitu khotbah Maya Rumatir yang bukan pendeta itu. Kemudian penyanyi lawas ini melantunkan beberapa lagu pujian kepada Tuhan, Sang Pemberi Umur.

No comments:

Post a Comment