01 March 2010

Ratna Indraswari Ibrahim



Bu Ratna Indraswari Ibrahim bersama saya (Lambertus Hurek) lagi bincang-bincang santai. Saya disuguhi teh kental manis... Selamat jalan Bu Ratna ke rumah nan abadi di surga. Semoga Anda berbahagia bersama Sang Pencipta!


Ratna Indraswari Ibrahim, 61 tahun, membuktikan bahwa kaum difabel alias penyandang cacat pun mampu berprestasi dan terus berkarya. Di jagat sastra Indonesia, Ratna Indraswari dikenal sebagai penulis cerpen dan novel yang sangat produktif. Dia sudah menghasilkan sedikitnya 400 cerpen yang tersebar di berbagai media massa dan sebagian di antaranya sudah dibukukan. Produktivitas Ratna Indraswari bahkan melebihi sastrawan-sastrawan lain yang 'normal' alias bukan difabel.


Oleh LAMBERTUS HUREK
Wartawan Radar Surabaya

Tak dinyana, perempuan yang selalu ceria dan ceplas-ceplos ini harus masuk rumah sakit pada awal Desember 2009. Selama hampir dua pekan Ratna menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang yang tak jauh dari rumahnya di Jalan Diponegoro Malang.

Hasil CT-scan menunjukkan pembuluh darah di atas otak pecah. Ratna divonis stroke ringan. Alhamdulillah, Ratna Indrawasari sudah sehat kembali dan berkarya seperti biasa.

Wartawan Radar Surabaya membesuk Ratna Indraswari Ibrahim di rumahnya yang asri di Malang dan melakukan wawancara khusus, Kamis (18/2/2010). Percakapan di depan toko buku miliknya itu berlangsung hangat dan akrab. Berikut petikannya:

Anda sebetulnya sakit apa sih?

Katanya sih stroke ringan. Saya kecapekan, kurang istirahat, sehingga tidak kuat. Anggap saja kejadian kemarin sebagai kesempatan bagi saya untuk istirahat sejenak. Hehehe....

Apa sebelumnya pernah sakit serius dan rawat inap di rumah sakit?

Tidak pernah. Saya nggak punya gula, nggak ada diabetes, kolesterol juga normal, nggak ada masalah. Sejak dulu saya hanya makan seadanya saja. Makan nasi itu hanya sekali sehari. Itu pun cuma lima sendok. Saya banyak makan sayur dan buah-buahan. Pagi paling cuma sarapan roti ditambah telur. Itu yang barangkali membuat kondisi kesehatan saya selama 60 tahun ini baik-baik saja. Makanya, saya kaget kok terserang stroke segala. Yah, mungkin karena kecapekan.

Sekarang sudah sehat kembali?

Alhamdulillah, seperti yang Anda lihat, saya sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Cuma dokter berpesan supaya saya jangan terlalu capek, mengurangi aktivitas. Tapi, kalau soal menulis, ya, jalan terus. Hehehe....

Kabarnya, seniman Jatim sudah mendapat asuransi atau jamkesmas untuk biaya kesehatan. Apakah biaya rumah sakit kemarin ditanggung pemerintah?

Nggak ada jamkesmas atau asuransi itu. Biaya perawatan saya mencapai Rp 42 juta. Dari mana saya punya uang sebanyak itu? Asuransi itu tidak pernah ada wujudnya sampai sekarang. Alhamdulillah, waktu saya opname, banyak teman-teman, kenalan, relasi, dan pejabat yang bantu.

Ada bantuan dari wakil bupati Malang, kemudian Ibu Peni, istri wali kota Malang, sumbangan teman-teman, sumbangan dari penerbit yang biasa menerbitkan buku saya.

Sekarang apa masih punya utang di rumah sakit?


Alhamdulillah, sudah tidak ada lagi. Saya juga berterima kasih karena selama dirawat di RSSA, saya banyak dikunjungi teman-teman sastrawan seperti D Zawawi Imron, Lan Fang, Ahmad Tohari, dan sebagainya. Mereka memberikan dorongan moral dan doa untuk saya agar cepat sembuh dan bisa berkarya kembali.

Selain sarapan pagi, saya lihat ada empat buku yang disiapkan asisten Anda.


Yah, buku-buku itu ibarat kue bagi saya. Saya selalu menikmati satu per satu, membaca, agar pemikiran saya tetap diasah. Ini memang sudah menjadi kebiasaan saya setiap hari. Tidak mungkin hidup tanpa buku.

(Saat itu ada beberapa buku di atas meja, antara lain Menuju Kamar Durhaka karya Utuy Tatang Sontani, Lasmi karya Nasya Kuswanti, Zen Buddhisme, serta draf cerpen karya Ratna Indrawasari Ibrahim berjudul Saya Bawang Merah. Setelah membantu sarapan Ratna, asistennya pergi dan Ratna mulai asyik membaca atau menerima para tamu.)

Anda sudah kembali menulis?

Sekarang saya sedang menyelesaikan novel berjudul 1998. Kisah tentang gerakan mahasiswa yang menumbangkan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Saya ini kan bukan ahli sejarah, tapi pemulung sejarah. Saya tidak bisa menulis buku sejarah. Maka, peristiwa 1998 itu saya tuangkan dalam sebuah novel dengan warna-warninya di sana-sini. Proses penulisan masih terus berlangsung.

Kapan akan diterbitkan?

Nggak ada target. Semuanya tergantung kondisi kesehatan saya. Bisa cepat, bisa lambat, karena proses penulisan karya sastra itu sulit diprediksi. Semua mengalir begitu saja.

Selain sibuk menulis, Anda aktif di berbagai forum dan concern pada perubahan sosial di masyarakat. Termasuk pemakaian jejaring sosial Facebook yang makin meluas dan menimbulkan ekses negatif.

Saya prihatin karena budaya autis sudah melanda masyarakat kita, baik anak-anak muda maupun para orang tua. Autis itu orang yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri, tidak peduli pada orang lain. Dan kapitalisme telah merusak sendi-sendi budaya guyub seduluran, silaturahmi, yang sejak dulu menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.

Coba, sekarang apa masih ada orang yang membiasakan silaturahmi dengan tetangga, dua tiga rumah di sebelahnya? Jangan-jangan kita tidak kenal sama tetangga sendiri. Dulu, budaya guyub seduluran itu terasa sekali. Orang saling kenal dan membutuhkan. Tapi sekarang orang hanya sibuk dengan urusannya sendiri.

Facebook ada kaitan dengan budaya autis itu?

Saya juga punya akun Facebook. Tapi saya hanya berkomunikasi dengan sanak keluarga, teman-teman, dan orang-orang yang saya kenal. Nah, orang yang kecanduan Facebook itu sebenarnya autis. Sibuk dengan kesepiannya sendiri. Ngapain tidak berkomunikasi saja dengan teman-teman atau orang di sekitar? Kok larinya ke kenalan baru di Facebook yang sering kali identitasnya nggak jelas itu.

Lantas, siapa yang bisa mengendalikan orang-orang muda?

Kembali ke orang tua. Ibu-bapak harus berperan mendampingi anak-anaknya meskipun mereka juga sibuk bekerja mencari nafkah. Tapi sesibuk apa pun orang tua, mereka tidak bisa membiarkan anak-anaknya sendirian. Akhirnya, dia lari ke Facebook yang bisa memfasilitasi budaya autis. Ajaran agama selalu menekankan silaturahmi.

Dan itu harus dilakukan secara normal, langsung. Tidak bisa dengan Facebook. Facebook itu sebenarnya hanya buang-buang waktu saja. Orang seperti berada di dalam peti matinya masing-masing.

Aku paling nggak senang dengar ada orang bertanya, kamu ranking berapa? Seakan-akan yang ditekankan hanya kecerdasan intelektual saja. Christiano Ronaldo itu apa pintar? Tapi dia pemain sepak bola yang luar biasa. Masing-masing orang itu punya bakat dan kemampuan sendiri. Dan itu harus dikembangkan secara optimal. Pemusik-pemusik The Beatles itu apa pintar matematika atau fisika?

Bu Ratna sendiri tidak pintar jalan, tapi pintar menulis.
Hehehehe....



Cetak Pembantu sebagai Penulis

Karena keterbatasan fisik, setiap hari Ratna Indraswari Ibrahim selalu ditemani asisten-asistennya yang setia. Mereka membantu menyiapkan makanan, mandi, mengambil buku-buku, pakaian, hingga menulis atau mengetikkan naskah. Yang menarik, para asisten ini bukanlah pembantu biasa, tapi secara tidak langsung dipersiapkan menjadi penulis.


Ratna selalu mendorong para asistennya untuk menulis apa saja. "Kalau hari ini menulis empat alinea, masak besok cuma empat alinea lagi," kata Ratna Indraswari Ibrahim lantas tertawa kecil.

Sistem 'magang alamiah' bersama Ratna ini terbukti efektif. Lihat saja Rini Widyawati, mantan tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia dan Hongkong. Perempuan yang paling lama mendampingi Ratna ini sudah bisa menerbitkan buku tentang pengalaman hidupnya bekerja sebagai TKW. Tulisan-tulisan Rini enak dibaca. Tak kalah dengan penulis kawakan.

"Saya selalu bilang menulis itu butuh proses, tidak bisa instan," papar Ratna yang pernah kuliah di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang ini. Nah, proses panjang itulah yang dilakoni Rini Widyawati sebelum mampu menerbitkan buku karya sendiri.

Kini, Rini Widyawati sedang mengandung anak keduanya. Usia kehamilannya sudah mendekati tahap akhir. Karena itu, posisi Rini digantikan Umi, gadis 18 tahun asal Malang. Akankah kelak Umi pun menjadi penulis macam Rini?

"Wah, itu kita belum tahu. Semua itu melalui proses," tegas Ratna.

Selain Rini dan Umi, ada lagi Santi yang menemani Ratna Indraswari. Santi ini gadis diafabel yang ingin nyantrik langsung pada sang guru, Ratna Indraswari. "Santi sejak awal memang bercita-cita jadi penulis. Makanya, dia semangat sekali membantu saya," kata Ratna. (rek)



Hasilkan 400 Cerpen tanpa Menulis


MESKI kondisi fisiknya tidak normal, Ratna Indraswari Ibrahim dikenal sebagai penulis cerita pendek dan novel yang produktif. Produktivitasnya memang luar biasa. Padahal, untuk sekadar memegang pena atau keyborad atau bergerak saja sulit.

Ke mana-mana Ratna menggunakan kursi roda, dibantu asisten setianya. Lalu, bagaimana dia menghasilkan begitu banyak karya sastra? "Saya cukup mendiktekan saja. Rini Widyawati yang menulis. Dia asisten saya yang setia," ujar Ratna Indraswari Ibrahim.

Ratna mengaku mengalami cacat fisik sejak usia 10 tahun. Namun, wanita kelahiran 24 April 1949 ini mengaku sudah mulai menulis sejak usia delapan tahun. "Saya bersyukur dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kondusif untuk menulis. Jadi, semuanya mengalir begitu saja. Tidak ada yang luar biasa," kata Ratna merendah.

Hampir setiap hari, khususnya siang, Ratna selalu dikunjungi tamu dari berbagai latar belakang. Semuanya disambut dengan ramah, meskipun dia harus menghentikan sementara proses penulisan cerpen atau novelnya. Ratna menyebut kunjungan tamu-tamu ini sebagai 'gangguan yang indah".
Nah, dari dialog dengan para tamu, anak-anak muda, pasangan suami-istri, membaca koran, majalah, buku... lahirlah ide-ide untuk menulis cerpen. Ide, kata dia, bisa diperoleh dari mana saja, tapi tetap harus ada usaha untuk menemukannya.

Nah, setelah gagasan itu matang, mulailah Ratna menulis. Lebih tepat: mendiktekan kalimat demi kalimat kepada Rini Widyawati, mantan pekerja domestik di Hongkong dan Malaysia. Tidak butuh waktu lama untuk melahirkan sebuah cerpen.

"Jam-jam kreatif saya, ya, malam hari. Sebetulnya siang juga bisa, tapi banyak tamu. Kalau malam lebih mengalir," ujar aktivis beberapa LSM di Malang itu.

Berapa jumlah cerpen yang sudah dibuat Ratna Indraswari Ibrahim? Angka persisnya sulit diketahui. Sebab, cerpen-cerpen di masa anak-anak dan remajanya tercecer ke mana-mana. Belum terdokumentasi secara baik. Namun, untuk cerpen sastra, Ratna memperkirakan 400-an buah.

"Sekitar 200 sampai 300 cerpen saya sudah dipublikasikan di media," ujarnya. (rek)




Nama : Ratna Indaswari Ibrahim
Lahir : Malang, 24 April 1949, anak keenam dari 11 bersaudara.
Orang tua : Saleh Ibrahim dan Siti Bidahsari Arifin
Pekerjaan : Penulis, aktivis sosial budaya
Alamat : Jl Diponegoro 3 Malang

Pendidikan : FIA Universitas Brawijaya Malang


Organisasi :
Yayasan Bhakti Nurani
LSM Entropic Malang
Yayasan Kebudayaan Pajoeng Malang
Forum Pelangi Malang

Pengalaman Internasional:

Seminar Disable People Internasional di Sydney, Australia, 1993
Kongres International Women di Beijing, RRT, 1995
Leadership Training MIUSA di Eugene Oregon, AS, 1997
Konferensi Wanita Sedunia di Washington DC, 1997

Prestasi :

Juara I Penciptaan Puisi Bali Post, 1980
Wanita Berprestasi dari pemerintah RI, 1994
Juara III Cerpen & Cerbung Femina, 1996-1999

Karya sastra (antara lain):

Kado Istimewa
Pelajaran Mengarang
Menjelang Pagi
Namanya Massa
Lakon di Kota Senja
Sumi dan Gambarnya
Lemah Tanjung
Pecinan di Kota Malang
Lipstik dalam Tas Doni



Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu, 28 Februari 2010

7 comments:

  1. Salam mas Hurek, ini buku pecinan di kota malangnya, fiksi apa non fiksi? kalo nonfiksi, saya mo beli dong..
    (omong2 foto profile saiki wuapik tenan.. Tob Markotop)

    ReplyDelete
  2. Pecinan Malang fiksi. Tapi Mbak Ratna menggunakan banyak data sejarah yang valid. Good luck.

    ReplyDelete
  3. selamat jalan bu ratna, semoga anda bahagia di sisi-Nya. kami banyak belajar tentang semangat yg pantang menyerah....

    ReplyDelete
  4. Novelis Ratna Indraswari Tutup Usia
    Selasa, 29 Maret 2011 00:06 WIB | 1043 Views


    Malang (ANTARA News) - Sastrawan, budayawan dan novelis nasional asal Kota Malang, Jawa Timur, Ratna Indraswari Ibrahim, Senin, sekitar pukul 10.00 WIB meninggal dunia pada usia 61 tahun karena sakit.

    Ruhadi Rarundra, anak angkat yang juga asisten novelis yang tergolong produktif itu mengatakan, ibu angkatnya meninggal ketika menjalani perawatan di Paviliun Bougenvile Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang.

    Setelah disemayamkan di rumah duka Jalan Diponegoro Nomor 3 Kecamatan Klojen, Kota Malang, jenazah almarhumah diberangkatkan dari rumah duka dan dimakamkan di pemakaman umum Samaan.

    Ia menjelaskan, sebelum meninggal almarhum mengalami anfal tiga kali dan anfal keempat (terakhir) terjadi sekitar pukul 04.00 WIB. Dan, terakhir tensi darah almarhumah terus menurun hingga mencapai batas 93/54.

    Almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim di rawat di RSSA Malang sejak Sabtu (26/3). Sebelumnya Ratna juga beberapa kali menjalani perawatan intensif di RSSA Malang karena menderita stroke ringan.

    Namun, hasil diagnosa terakhir, selain menderita stroke ringan, Ratna juga menderita jantung, diabetes serta paru-paru. Pada hari pertama perawatan, Ratna juga sempat tidak sadarkan diri.

    Hasil pemeriksaan terakhir, telah terjadi penyumbatan di bagian kepala dan sebagian pembuluh darah yang tersumbat sudah pecah. Ketika itu Ratna dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami pusing berkepanjangan dan tremor atau kejang di tangan kanan.

    Selama menjalani perawatan di RSSA Malang, Ratna dibantu oleh saudara, kerabat, sahabat dan beberapa donatur. Bahkan, para sahabatnya juga membuka rekening pribadi untuk almarhumah.

    Seorang sahabat almarhum yang juga sastrawan Arcana mengaku sedih. Almarhumah adalah sastrawan yang cukup produktif, sebagian besar karyanya memang berupa cerita pendek (cerpen) dan cerita bersambung.

    Putri pasangan Saleh Ibrahim dan Siti Bidahsari (sudah meninggal) itu juga telah menulis belasan novel. Di antaranya berjudul Lemah Tanjung, Menjelang Pagi, Lakon di Kota Senja serta Kado istimewa.

    Almarhumah dikenal sebagai sosok pribadi yang ramah dan perhatian terhadap sesama. Selain itu juga kukuh dalam memegang prinsip serta, sehingga cukup disegani sastrawan di Malang.

    Selama hidupnya, almarhumah mendedikasikan hidupnya untuk dunia sastra dan tetap melajang hingga akhir hayatnya. Meski 100 persen hidupnya tak pernah lepas dari kursi roda, almarhumah tak pernah mematikan kreativitasnya untuk berkarya.

    ReplyDelete
  5. pecinan malang yg kemudian diterbitkan ulang jdi pecinan (diva press) ya, mas?

    ReplyDelete
  6. Selamat pagi. Apakah Anda mengenal kerabat dekat ibu Ratna Indraswari Ibrahim? Jika iya, saya ingin meminta alamat emailnya untuk mengirimkan surat izin penerbitan karya ibu Ratna Indraswari Ibrahim. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak kenal mbak. Sampeyan takon langsung nang malang wae. Suwun

      Delete