05 March 2010

Paulina Mayasari Melantjong Petjinan Soerabaia



Sebagai arek Suroboyo asli kelahiran Jalan Bibis 3, salah satu kampung pecinan di Kota Surabaya, Paulina Mayasari tak asing lagi dengan seluk beluk China Town. Permukiman yang tempo doeloe dirancang pemerintah Belanda sebagai tempat tinggal masyarakat Tionghoa itu punya kekhasan dan keunikan tersendiri.

Ada klenteng tertua, Hok An Kiong, di Jl Cokelat, rumah sembahyang keluarga Han, keluarga The, keluarga Tjoa, pusat niaga di Kembang Jepun, hingga atraksi kesenian wayang potehi. Belum lagi gedung-gedung tua berarsitektur khas kolonial yang masih berdiri megah di kawasan pecinan.

“Apalagi, menjelang dan selama tahun baru Imlek, wah kawasan pecinan itu sangat khas. Misalnya, di depan rumah-rumah dipasang batang tebu sampai Cap Go Meh,” tutur Maya, sapaan akrab Paulina Mayasari.

Nah, minat Maya terhadap gedung-gedung tua berikut kehidupan masyarakatnya makin besar ketika dia kuliah di Universitas Trisakti Jakarta. Sebagai mahasiswa desain, dia banyak mendalami gedung-gedung berarsitektur unik macam di pecinan. Lulus Usakti, Maya bergabung dengan UNESCO, organisasi PBB yang bergerak di bidang pendidikan kebudayaan.

Di Jakarta, minat masyarakat untuk berwisata ke kota tua, termasuk kawasan pecinan, mulai tumbuh. Ada sejumlah aktivis yang berperan sebagai event organizer atau semacam pemandu wisata. Maya pun berpikir, mengapa city tour serupa, khususnya ke pecinan, tidak diadakan di Surabaya? Bukankah Surabaya punya pecinan yang tak kalah eksotis dan bersejarah dengan Jakarta?

Sebagai peranakan Tionghoa, Maya mengaku geli karena banyak orang Tionghoa sendiri, khususnya generasi muda yang lahir pada era Orde Baru (1966-1998) dan pasca-Orde Baru, tidak paham seluk-beluk pecinan di kotanya. “Pecinan Surabaya? Ndik mana itu? Oalaah, paling-paling yo Kya-Kya Kembang Jepun, Kapasan tok... Yak koen separuh bener rek!” tukas Maya dengan logat Tionghoa-Surabaya yang medhok.

Menurut dia, orang Tionghoa sekalipun belum pernah melihat dari dekat Klenteng Hok An Kiong, Klenteng Hok Tek Hian, Klenteng Boen Bio, pergelaran wayang potehi, serta makanan-minuman khas Tionghoa. Karena itu, pada 27 Desember 2009, acara Melantjong Petjinan Soerabaia I dimulai.

Kebetulan saat itu warga Tionghoa, khususnya yang tradisional, tengah mengadakan sembahyang ronde dengan makanan khasnya: ronde. “Pelancongan dimulai ambek ngincipi wedang ronde, karo ndelok cara masak’e, ono cerita opo seh dibalik wedang ronde,” kenangnya.
Dari Jl Bibis, kediaman orang tua Maya, rombongan turis domestik ini mlaku-mlaku ke Jl Cokelat, Karet, Kembang Jepun, Waspada, Dukuh, dan makan siang di Pasar Atom. Berkat teknologi Facebook dan milis di internet, acara melancong perdana ini menuai respons positif.

“Saya membatasi peserta paling banyak 20 orang. Kalau terlalu banyak, nanti panitianya yang kewalahan,” ujar Maya lantas tertawa kecil.



Paulina Mayasari beruntung karena punya mama yang pandai memasak. Termasuk menyediakan aneka masakan khas Tionghoa. Karena itu, Liana Anggono (64), ibunda Paulina Mayasari, selalu kebagian tugas melakukan demo masak di depan peserta Melantjong Petjinan Soerabaia.


Hitung-hitung hemat biaya ketimbang harus menyewa koki atau chef terkenal dari hotel berbintang. "Mama saya yang pinter masak. Saya sendiri sih nggak pinter," aku lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti Jakarta itu.

Meski pandai memasak, Liana Anggono bukanlah tipe chef yang pandai bicara seperti pengasuh acara kuliner di televisi. Maka, Maya--sapaan akrab Paulina Mayasari--yang bertugas 'cuap-cuap' menjelaskan cara memasak wedhang ronde atau misua.

"Saudara-saudara, memasak misua itu sebenarnya gampang kok. Bahan-bahannya apa saja?" ujar Maya sembari mengarahkan corong mikrofon ke mulut Liana Anggono di sampingnya.

Si maya kemudian menirukan kata-kata mamanya. Misua itu, ya, dibuat pakai misua yang dibuat di pabrik, kemudian dicampur antara lain kacang tanah, telur, jamur, sawi, kucai. Peserta tur yang juga rata-rata tidak pandai memasak senyam-senyum menyaksikan adegan demo masak di rumah maya, Jalan Bibis 3 Surabaya.

Kalau soal masak-memasak ala Tionghoa, Maya mengandalkan jasa mamanya, di bidang adat-istiadat dan tradisi Tionghoa dia menggandeng teman dekatnya. Salah satunya Bai Shuzhen alias Dian. Ketika berada di dalam rumah sembahyang keluarga The di Jalan Karet 50 Surabaya, Ahad (21/2/2010), Maya berperan semacam presenter atau pewawancara. Setelah itu Dian yang diminta bicara panjang lebar tentang tradisi orang Tionghoa merayakan Imlek. Mulai dari buah-buahan yang harus disiapkan di atas meja, peralatan sembahyang, pantangan, hingga melekan untuk menyambut Sin Cia.

"Tiap malam tahun baru Imlek saya tidak bisa tidur karena harus mendampingi nenek saya. Malam itu dipercaya membawa rezeki. Makanya, jangan dilewatkan begitu saja," jelas Bai Shuzhen yang pernah tinggal di sebuah keluarga sederhana di Beijing, Tiongkok.

"Kalau saya lain. Malam tahun baru saya justru cepat-cepat tidur biar paginya bisa minta angpao sebanyak-banyaknya," tukas Maya disambut tawa peserta Melantjong Petjinan Soerabaia II.

Pembawaannya yang riang, humoris, dengan aksen Tionghoa-Surabaya yang sangat kental menjadikan Maya ibadat pemandu wisata profesional. Apalagi, Maya juga memperkaya wawasannya dengan membaca banyak buku tentang Tionghoa serta rajin berselancar di internet.

"Saya juga selalu minta para peserta untuk sharing pengalaman mereka. Sebab, meskipun sama-sama orang Tionghoa, tradisi di masing-masing rumah itu ada perbedaan," katanya.

Sukses menyelenggaran wisata kota bertajuk Melantjong Petjinan Soerabaia I dan Melantjong Petjinan Soerabaia II, yang dibuktikan dengan membeludaknya peserta, membuat Maya senang dan bangga. Kerja keras dan semangat 'nekatnya' serasa tidak sia-sia. Namun, dia mengaku tak enak hati dengan sejumlah peserta yang protes halus gara-gara agenda sering molor.

"Saya mohon maaf atas kemoloran acara sampai dua jam lebih. Ini karena kesalahan perhitungan waktu dan di luar rencana," ujar Maya.

Okelah, kita tunggu Melantjong Petjinan Soerabaia III, IV, dan seterusnya. (lambertus hurek)

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi 4 dan 5 Maret 2010

4 comments:

  1. Bisa dihubungi lewat email nggak cik Paulina Mayasari?

    ReplyDelete
  2. paulina mayasari

    pitics@gmail.com

    ReplyDelete
  3. salut sama mbak paulina. maju terus!!!!

    freddy

    ReplyDelete
  4. boleh tau info tentang lomba gambar cengbeng Melantjong Petjinan Soerabaia gak?
    aku liat posternya di kampus ku, tapi sempet catet, ada link nya gak?
    thanx

    ReplyDelete