11 March 2010

Nyadran di Bluru Kidul

Upacara tasyakuran laut alias nyadran digelar masyarakat nelayan Desa Bluru Kidul, Kecamatan Kota, Sidoarjo, pada Ahad Wage, 7 Maret 2010. Upacara ini sudah berlangsung turun-temurun di kampung nelayan Sidoarjo itu pada bulan Maulid. Sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Masyarakat Bluru Kidul, yang sebagian besar nelayan kerang, bersyukur atas hasil laut selama setahun terakhir. Mereka juga berdoa, memohon berkah dari Yang Mahakuasa agar selalu mendapat hasil yang baik di tahun berikutnya. Ritual diawali prosesi dengan perahu dari Bluru Kidul ke Makam Dewi Sekadradu di Pantai Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran. Kampung di muara sungai, dekat Selat Madura, sekitar 10 kilometer dari Kota Sidoarjo.

MAKAM DEWI SEKARDADU: Dewi Sekardadu tak lain ibunda Sunan Giri, salah satu wali penyebar Islam di Pulau Jawa. Pesraean alias makamnya selalu menjadi rujukan para peziarah, khususnya para nelayan, di Kabupaten Sidoarjo. Di belakang kompleks makam, yang direnovasi Bupati Win Hendrarso, ada kali kecil. Sebagian peziarah turun di situ. Sebagian besar peziarah mendarat di dermaga, kemudian jalan kaki sekitar 500 meter. Kampung ini penuh tambak dan vegetasi khas pesisir, khususnya hutan bakau.



RITUAL DIMULAI: Jumat (5/3/2010) tengah malam, Irsyad, Suhardi, dan Anam, tiga tokoh nelayan sekaligus kiai kampung, memimpin doa di belakang Makam Sekardadu. Sebelumnya, sesajen sudah dilarung di belokan sungai. Doa secara Islam ini memohon agar Tuhan melindungi warga Bluru Kidul, memberi rezeki bagi masyarakat nelayan. Juga agar jalannya arak-arakan perahu pada Ahad Wage berlangsung aman.




PENGAJIAN: Setelah mengaso dan wudu, rombongan perintis yang berjumlah 20 orang mengadakan pengajian di dalam kompleks Makam Sekardadu. Sebelumnya, Pak Samadi, juru kunci makam, harus dibangunkan karena rupanya sedang tidur pulas. Maklum, sudah lewat pukul 01.00. Pengajian cukup lama dalam suasana sangat tenang. Suara jangkrik dan binatang-binatang malam terdengar jelas.




BANCAKAN: Menikmati tumpeng yang dibawa dari Bluru Kidul. Hidangan khas wong kampung: nasi, ayam panggang, lalapan, peyek, krupuk... Makan bareng-bareng lambang kebersamaan. Asyik juga makan bersama di kampung paling terpencil di Kabupaten Sidoarjo itu.




SIAP BERANGKAT: Ahad pagi, rombongan dilepas Wakil Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Pak Saiful ini juga dikenal sebagai salah satu 'raja tambak' di Sidoarjo. Ada 50-an perahu rame-rame berlayar ke Kepetingan. Keluarga nelayan, mulai anak-anak, remaja, ibu-ibu, ikut serta. "Tahun ini kalah banyak sama tahun kemarin. Jumlah perahu hanya separonya karena ekonomi lagi sulit," kata Haji Waras, koordinator nelayan Bluru Kidul. Kita bisa menikmati pemandangan sungai yang indah meski kurang bersih. Di mana-mana sungai jadi tempat orang membuang sampah.




TIBA DI KEPETINGAN: Setelah berlayar hampir satu jam, maklum kecepatan rendah, rombongan nyadran turun di dermaga Kepetingan. Dermaga sangat sederhana. Lantas, jalan kaki ke Makam Sekardadu. Warga Kepetingan menyambut ramah.




TUMPENGAN: Masing-masing keluarga nelayan membawa tumpengan untuk didoakan bersama di pesarean.




PENGAJIAN: Puncak nyadran Bluru Kidul adalah pengajian di kompleks Makam Dewi Sekardadu. Peserta juga secara bergantian nyekar dan menyentuh makam ibunda Sunan Giri alias Raden Paku alias Syeh Maulana Iskak alias Joko Samudra itu. Pengajian cukup lama. Yang tidak ikut pengajian bisa ngopi di warung sederhana di samping makam. "Saya pesan Sprite. Pakai es batu," pinta saya. Lumayan, siang itu si pemilik warung panen raya. Sayang, nyadran hanya setahun sekali. Coba kalau nyadran tiap minggu? Hehehe....

Upacara selesai. Rombongan kembali ke perahu masing-masing. Lantas, berlayar setengah jam lagi ke laut Selat Madura, larung tumpeng utama, dan kembali ke Bluru Kidul. Besoknya ada lomba dayung perahu, orkes dangdut, dan pengajian umum.


1 comment:

  1. ya, kemaren februari 2011 saya juga baru ikut pesta nelayan ini, menyenangkan dan berpotensi membakar kulit saking panasnya...hahaha

    ReplyDelete