28 March 2010

Minggu Palem di Sidoarjo




Pekan Suci datang lagi. Tadi (28/3/2010), saya ikut misa Minggu Palem alias Minggu Palma di Gereja Santo Paulus, Jalan Raya Juanda Sidoarjo. Misa dipimpin Romo Yosef Due SVD, pastor asal Flores. Suaranya keras, logat Bajawa-nya, sulit disembunyikan. Cuaca cerah, tapi agak gerah.

Minggu Daun-Daun--begitu orang Flores menyebut Minggu Palma--selalu meriah. Di kampung saya, pelosok Lembata, Flores Timur, prosesi jalan kaki sejauh hampir tiga kilometer. Masyarakat, yang memang hampir semuanya Katolik, berjalan membawa daun-daun palma, berdoa, dan menyanyi HOSANNA PUTRA DAUN serta ANAK-ANAK IBRANI, MEMBENTANG RANTING-RANTING ZAITUN.

Pengalaman masa kecil di kampung paling tertinggal di NTT itu tak pernah saya lupakan. Saya hafal lagu-lagu gregorian Minggu Palma versi SYUKUR KEPADA BAPA, buku nyanyian yang dipakai di kampung, sampai sekarang. Di Jawa, lagu-lagunya sama meskipun syairnya agak berbeda. Hafalan lama di Flores tidak laku di gereja-gereja Katolik di Jawa.

Di Jawa Timur, lagu Minggu Palem yang paling terkenal adalah YERUSALEM LIHATLAH RAJAMU. Bagus banget memang lagu ini. Kalau paduan suaranya bagus, organisnya ciamik, wuih... dahsyat. Sayang, pada misa kali ini kornya belum bagus. Ritme, tekanan kata, tempo, dinamika, ekspresi lagu YERUSALEM ini tidak muncul.

Biasa, kor-kor di Surabaya dan Sidoarjo memang kurang latihan. Umat di perkotaan terlalu sibuk cari uang dari pagi sampai malam hari. Maka, saya salut sama kawan-kawan profesional di gereja, yang usianya di bawah 40 tahun, yang masih sempat-sempatnya berlatih paduan suara dengan kualitas bagus.

Tahun lalu, saya kehabisan daun palem. Stok yang disediakan panitia di gereja memang terbatas. Karena itu, agar tak terulang kejadian pahit ini, sebelum ke gereja, saya membeli dua tangkai daun palem di pedagang buah Jalan Raya Bandara Juanda. Saya kasih uang Rp 2.500, dan rupanya dia sangat senang.

"Untuk apa, Mas, daun palem itu?" tanya si penjual kembang.

"Hari ini kan Minggu Palem. Mau dipakai di gereja," jawab saya.

Mas itu bingung. Ke gereja kok bawa daun-daun palem? Maklum, tradisi gerejawi macam ini sangat asing di kalangan masyarakat Sidoarjo yang 97 persen penduduknya beragama Islam. Jumlah penduduk Kabupaten Sidoarjo sekarang hampir 2 juta jiwa. Ah, pedagang bunga di dekat Gereja Santo Paulus pun tidak tahu ada acara Minggu Palem di kalangan umat Katolik.

Ada baiknya pengurus dewan paroki mengundang para pedagang dan masyarakat sekitar untuk makan-makan, nonton wayang kulit, atau sekadar silaturahmi. Kalau tak ada sosialisasi, sharing informasi, mungkin 100 tahun lagi pun orang-orang Jawa tak paham Minggu Palem, Kamis Putih, Tuguran, Jalan Salib, Malam Paskah, dan sebagainya.

Misa berjalan lancar dan nyaman. Meskipun berlangsung hampir dua jam, saya bisa mengikuti dengan baik. Saya juga masih menenang prosesi jalan kaki saat Minggu Palem di kampung tempo doeloe.

Saya membayangkan, suatu ketika umat Paroki Juanda pun melakukan prosesi sederhana, tak usah jauh-jauh macam di Flores, dari kompleks terminal Bandara Juanda yang lama sampai ke gereja.

No comments:

Post a Comment