17 March 2010

Melasti di Jolotundo



Menjelang Hari Nyepi Tahun Saka 1932, sekitar 300 umat Hindu dari berbagai kota di Jawa Timur menggelar ritual melasti di kompleks petirtaan dan Candi Jolotundo, Trawas, Mojokerto.

Sabtu (13/3/2010) petang, umat Hindu yang mengikuti melasti di Jolotundo berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Jombang, dan beberapa daerah lain. Sejak dulu Candi Jolotundo menjadi tempat favorit karena letaknya yang strategis di kaki Gunung Penanggungan, punya puluhan sumber air, dengan hawa yang sejuk di ketinggian 525 meter di atas permukaan laut.

Suasana pegunungan yang lengang, jauh dari pemukiman penduduk, juga dianggap ideal untuk meditasi dan puja bakti kepada Sang Hyang Widhi. “Tiap tahun saya mesti datang ke Jolotundo meskipun melasti juga banyak diadakan di pantai,” kata Puspo, umat Hindu asal Krembung, Sidoarjo.

Nah, sebelum berkumpul di Jolotundo, Puspo dan jemaat Hindu asal Sidoarjo menggelar ritual bersama di Pura Krembung. Sebagian lagi mengadakan ritual di Pura Jala Sidhi Amerta Juanda. Begitu juga umat Hindu di kota-kota lain bikin ritual sendiri-sendiri di daerahnya.
“Kalau yang nggak ada pura, ya, bisa dilakukan di rumah masing-masing,” tutur Puspo.

Kira-kira pukul 13.00 jemaat Hindu mulai berdatangan ke Jolotundo. Laki-laki berpakaian khas Bali, kebanyakan warna putih, dengan udeng dan sarung. Adapun jemaat perempuan memakai kebaya. Anak-anak kecil pun berpakaian layaknya orang dewasa. Candi Jolotundo, yang biasanya ramai dengan para wisatawan, pun berubah total bak kompleks pura di kaki gunung.

Sejam kemudian, rombongan besar dari Sidoarjo yang ditunggu-tunggu pun tiba. Maklum, rombongan Sidoarjo inilah yang membawa peralatan sembahyang dari Pura Jagat Nata Margo Wening alias Pura Krembung untuk ritual melasti. Diiringi tetabuhan musik, prosesi berjalan dari luar Candi Jolotundo menuju petirtaan suci. Altar utama pun ditempatkan di tengah-tengah candi.

Belasan rohaniwan, termasuk para pemangku adat, kemudian bergantian memandu ritual melasti yang diawali puja bakti kepada Sang Pencipta. Cukup lama, hampir dua jam, jemaat Hindu larut dalam ritual panjang menyongsong catur brata penyepian.

“Inti upacara ini adalah menyucikan jagat raya dan menyucikan diri manusia sebelum memasuki Hari Nyepi. Semoga segala sifat buruk dihancurkan,” kata Karyo, rohaniwan Hindu dari Pura Sidoarjo.

Melasti ditandai pula oleh pelepasan ayam, bebek, itik, serta hasil bumi ke dalam kolam petirtaan Jolotundo. Ungas-unggas kecil itu rupanya takut air dan akhirnya menjadi rebutan anak-anak kecil. Menurut Karyo, pelepasan binatang itu bisa diartikan sebagai melepas sifat kebinatangan dalam diri manusia.

Upacara melasti baru berakhir menjelang magrib. Para jemaat kembali ke rumah masing-masing sambil membawa oleh-oleh air sumber Jolotundo yang sangat jernih dan dipercaya punya banyak khasiat. “Buat minum di rumah,” kata Ni Wayan, perempuan 40-an tahun asal Pandaan, Pasuruan.

Selamat Hari Nyepi untuk semua pemeluk agama Hindu di Indonesia! (rek)



5 comments:

  1. Mau nanya, bung, apakah umat Hindu di Jawa Timur ini keturunan orang Bali? Kalau dilihat dari namanya mereka sudah menjawa?

    ReplyDelete
  2. Campuran WNI keturunan Jawa dan WNI keturunan Bali. Mungkin juga etnis lain. Sebelum 1980-an orang Jatim yang beragama Hindu sudah punya pura sendiri, ukuran kecil, dengan ritual yang khas macam di Tengger sekarang.

    Setelah 1980-an terjadi percampuran antara orang Hindu keturunan Bali dan Hindu lokal. Ditambahkan kuatnya organisasi PHDI yang memang mayoritas orang Bali, sehingga seolah-olah orang Jawa yang Hindu ini tenggelam.

    Jadi, bukan "sudah menjawa", tapi memang benar-benar asli Jawa. Dan bukankah WNI Jawa dan Bali itu sejatinya punya asal-muasal yang sama? Sama-sama keturunan Majapahit? Susahnya di Indonesia ini ada pendapat menahun bahwa pemeluk Hindu itu pasti orang dari Pulau Bali.

    ReplyDelete
  3. Ya...benar, kalau lihat sejarah kan orang Hindu Bali itu asalnya dari Jawa ya. Mereka menyeberang ke Bali ketika Majapahit mulai terdesak oleh kerajaan apa ya? Demak? yang Islam? Lupa saya...hehe

    Begitulah...

    Di sini tidak terdengar gema hari Raya Nyepi. Sepertinya masyarakat Hindu di sini juga tidakmengenal/ merayakan hari Nyepi. Tapi saya tidak pasti...mungkin saya salah. Harus melakukan pengecekan dulu ya? Nanti saya beritahu hasilnya :-)

    ReplyDelete
  4. Yah, di Mojokerto jg orang yg ngrayain Nyepi nggak seramai dulu.

    ReplyDelete
  5. tapi kalo dilihat dari sejarah kerajaan agama hindu pertama diindonesia adalah kerajaan kutai

    ReplyDelete