29 March 2010

Makam Tionghoa di Sidoarjo



Menjelang Ceng Beng, pekan depan, sejumlah warga Tionghoa mulai membersihkan makam keluarganya. Sayang, makam Tionghoa di kawasan Desa Jati, Sidoarjo, saat ini terkesan kurang terurus.

Rumput-rumput liar memenuhi kompleks makam tua itu. Beberapa tembok makam yang hancur dibiarkan begitu saja. Bahkan, ada sebagian cuwilan tembok makam yang jatuh ke sungai kecil.

“Kalau Ceng Beng memang banyak orang Tionghoa yang ke sini. Tapi ada sebagian makam yang tidak diurus oleh ahli warisnya,” kata Ahmad, seorang penjaga makam kepada saya, Ahad (28/3/2010).

Berbeda dengan makam Tionghoa di Surabaya, yang umumnya dipercayakan perawatannya kepada para penjaga makam, warga Tionghoa di Sidoarjo umumnya mengurusnya sendiri.
Namun, karena sibuk berbisnis, mereka jarang datang menengok makam keluarganya.

“Makam-makam di sebelah itu sudah bertahun-tahun dibiarkan begitu saja. Nggak ada yang mau mengurus,” kata Ahmad sembari menunjuk makam-makam tua di dekat kali.

Menurut dia, makam-makam yang keleleran umumnya karena para ahli waris sudah lama meninggalkan Sidoarjo selama puluhan tahun. Biasanya, makam dengan tahun kematian di bawah 1970-an. Sementara makam-makam di atas 1990-an umumnya masih dirawat dengan baik.

Njoo Tiong Hoo, tokoh masyarakat Tionghoa di Sidoarjo, mengaku prihatin melihat kondisi makam Tionghoa Sidoarjo. Meskipun terlihat kumuh, dipenuhi rumput liar, makam itu punya nilai sejarah yang tinggi.

“Jangan lupa, tokoh-tokoh Tionghoa di Sidoarjo itu sejak dulu umumnya dimakamkan di situ. Merekalah leluhur orang Tionghoa yang sekarang,” katanya.

Njoo menambahkan, sekitar 10 tahun lalu makam di Jati itu sudah penuh, sehingga warga Tionghoa terpaksa memakamkan keluarganya di lokasi lain seperti Surabaya atau Lawang. Karena itu, tak banyak orang Tionghoa yang memikirkan nasib makam itu. “Kecuali mereka yang keluarganya dimakamkan di situ."

3 comments:

  1. BAng Hurek,

    Di sini namanya Qing MIng...bersih2 makam leluhur. Sudah makin sedikit saja jumlah makam yg ada, kan semua sekarang dikremasi. Lahan untuk orang hidup saja kurang kok...apalagi untuk orang yang sudah pindah dunia. Hehe

    Biasanya...di sini juga ada pertunjukan opera / wayang Cina di lapangan2 terbuka. Bahasa yg dipakai sepertinya bukan mandarin, tapi hokkien atau teochew. Tapi...nantilah saya cek :-)
    Di sana ada yang seperti ini juga kah bang?

    ReplyDelete
  2. Ceng Beng itu Bahasa Hokkian yang kalau dalam Bahasa Mandarin dilafalkan Qing Ming (baca: C'hing Ming). Qing artinya bersih atau cerah. Ming artinya terang. Pada hari raya Ceng Beng ini, setiap bulan 4 tanggal 4 kalender matahari (berbeda dengan hari raya lain yang berdasarkan kalender bulan), orang Tionghoa pergi ke makam untuk mengenang leluhur, membersihkan makam, dan kumpul2 dengan keluarga satu turunan. Sama kan dengan orang Jawa yang setiap tahun nyekar?

    ReplyDelete
  3. Terima kasih banyak atas respons Dyah Laoshi di Singapura dan Cak Wens di USA. Saya tidak perlu menambahkan lagi karena sudah dijelaskan dengan baik dan pas oleh Cak Wens. Arek Surabaya yang sudah lama tinggal di USA, tapi tetap kental ke-Jawa-annya.

    Mbah Dyah, orang Tionghoa di Jawa Timur itu memang tidak berbahasa Mandarin, tapi dialek lokal. Karena sebagian besar leluhur mereka asal Provinsi Fujian (Hokkian), maka dialek Hokkian yang dominan. Bahasa Mandarin baru diperkenalkan sejak tahun 200-an.

    Xie-xie ni.

    ReplyDelete