09 March 2010

Konser Cinta Negeri PSAUI



Untung masih ada TVRI yang menyiarkan konser Paduan Suara Alumni Universitas Indonesia (PSAUI) pada 4 Maret 2010. Konsernya sendiri digelar di Jakarta pada 24 Februari 2010. Tapi, sayang alias tidak untungnya, program ini disiarkan di atas pukul 00.00.

Yah, mungkin pengelola TVRI berpikir konser paduan suara atau acara-acara budaya hanya sekadar sambil lalu. Sekadar pengisi waktu kosong. Masih lumayan ketimbang televisi swasta yang lebih doyan sinetron, gosip artis, lawakan slapstick ala Tukul, berburu hantu, reality show aneh-aneh, atau ludruk politik di Senayan.

Untung juga, saya malam itu susah tidur. Saya coba-coba menyetel televisi dan... eh, kok ada paduan suara. Sebagai bekas aktivis paduan suara mahasiswa, saya kenal betul lagu-lagu itu. Bahkan, saya langsung memastikan bahwa penyusun aransemen alias komposernya tak lain Lilik Sugiarto, almarhum.

Lilik Sugiarto adalah salah satu maestro paduan suara di Indonesia, khususnya paduan suara mahasiswa. [Baca tulisan saya: Lilik Sugiarto dan Virus Paduan Suara.]

Konser Cinta Negeri, demikian tema konser PSAUI di Jakarta. Para alumni paduan suara mahasiswa UI, yang saya lihat sudah dimakan usia, kayaknya di atas 40, kangen menyanyi bersama. Mengenang masa-masa menyenangkan sebagai anggota Paragita, paduan suara mahasiswa UI.

Memang, harus diakui, barangsiapa yang pernah ikut paduan suara mahasiswa, apalagi yang dilatih bagus, apalagi yang sering menang lomba, sering konser, pasti ketagihan paduan suara. Asyik banget!

Maka, meskipun sudah kerja, sibuk dengan urusan cari uang, para bekas aktivis PSM ini selalu memperhatikan paduan suara. Kalau ada konser, pergelaran, bahkan latihan, ingin rasanya ikut melihat. Senang menonton anak-anak muda di bawah 24 tahun berkumpul, berlatih, bekerja sama, untuk membina komunitas paduan suara.

Semangat saja tidak cukup. Paduan suara yang baik harus didukung latihan rutin, sedikit bakat nyanyi, pelatih bagus, pemusik, dan sebagainya. Pita suara harus kencang dan segar.

Ini yang rupanya tidak dipunyai lagi oleh mas-mas dan mbak-mbak PSAUI yang bikin Konser Cinta Negeri. Teknik vokal dan pernapasan mereka tidak sebagus ketika kuliah di UI pada 1980-an, bahkan 1970-an. Yah, namanya aja konser nostalgia.

Konser malam itu menampilkan lagu-lagu daerah Nusantara. Aransemen digarap mendiang Lilik Sugiarto, bekas pelatih PSM Universitas Indonesia alias Paragita Choir. Pak Lilik, menurut saya, salah satu penyusun aransemen paduan suara terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Komposisi berjudul BUMIKU INDONESIA selalu menjadi lagu wajib atau pilihan dalam lomba atau festival paduan suara mahasiswa di tanah air.

Saya ingat lagu-lagu rakyat macam Bubuy Bulan, Sepasang Mata Bola, Di Tepinya Sungai Serayu, Tanduk Majeng, Cik Cik Priok, dan beberapa lagi. Semuanya digarap dengan gaya Lilik Sugiarto yang khas. Ada intro yang riang atau jenaka, masuk ke lagu utama alias cantus firmus, kemudian selingan dengan aransemen rancak, plus modulasi, variasi ke lagu utama lagi, kemudian penutup atau coda yang asyik.

Dedy Lesmana jadi solis tenor. Vokalnya bagus, tapi jelas kalah jauh dengan adik-adik PSM yang masih 20-an. Mas Dedy terkesan -- mudah-mudahan saya salah -- setengah mati mengatur napas, olah vokal, kemudian bikin gerak tari. Mbak dirigen pun kayaknya rada abot, meminjam istilah orang Surabaya, karena gizinya terlalu bagus. Hehehe....

Tidak apa-apa, Mbak. Yang penting, semangat dan tetap bernyanyi. Jarang lho ada alumni PSM yang bisa berkumpul kembali, latihan bersama, bikin konser, dan disiarkan televisi nasional pula. Berbahagialah para alumni PSM UI yang punya kesempatan itu.

"Kami ingin agar lagu-lagu daerah yang bagus-bagus itu tetap lestari. Tetap dinyanyikan dari generasi ke generasi," kata Maudy Warouw, ketua PSAUI, dalam wawancara dengan TVRI.

Yah, salah satu cara paling efektif untuk memperkenalkan lagu-lagu daerah memang paduan suara. Lagu-lagu yang terkesan sederhana, dolanan, bahkan kampungan, ketika dinyanyikan dalam paduan suara, dengan aransemen bagus ala Lilik Sugiarto, wuih... luar biasa. Bikin ketagihan.

4 comments:

  1. Wah...bang, saya jadi ingat waktu baru jadi mahasiswa UI dulu. Nyanyi bareng di Balairung UI...merinding karena bangga dan terharu. Beribu mahasiswa baru menyanyi bersama.

    Dulu saya tidak ikut paragita...tapi kelompok orkestranya. Sadar...kualitas suara tidak begitu bagus ehehehe

    Apakabar Bang? Lama tidak berkunjung ke sini...maaf ya. Smoga bang Bernie baik2 saja.

    Salam dari negara pulau mungil

    ReplyDelete
  2. Terimakasih bung Hurek (maaf, saya tidak tahu sebutan panggilan anda) Senang bisa menemukan mantan anggota paduan suara mahasiswa UI dalam penelusuran saya pagi ini... memang keinginan kami Paduan Suara Alumni UI adalah menggelitik para penyanyi alumnus kampus Universitas Indonesia untuk melakukan kontribusi nyata kepada pelestarian lagu-lagu daerah dan nasional agar dikenal oleh anak-anak bangsa sehingga mereka mencintai Indonesia.

    Kita masing-masing bisa berkontribusi baik melalui program pelestariannya maupun dalam mendukung program pembagian CD gratis bagi sekolah dasar di seluruh Indonesia, atau bisa juga dengan ikut berlatih. Selamat bergabung, bila anda berlokasi di Jakarta.

    Hanya ada sekedar koreksi.. sebelum PSM Paragita UI lahir ditahun 1983(?), sebelumnya sudah ada Paduan Suara Universitas Indonesia, itulah cikal bakal paduan suara di kampus UI. Kan kita tidak boleh melupakan sejarah ya..

    Terimakasih ya.

    Salam cinta negeri

    ReplyDelete
  3. Karena alasan domisililah maka saya tidak bisa ikut menikmati konser ini dan tayangannya di TVRI.
    Terima kasih untuk ulasannya.

    Meskipun demikian, tulisan di atas bagian ini:
    "Semangat saja tidak cukup. Paduan suara yang baik harus didukung latihan rutin, sedikit bakat nyanyi, pelatih bagus, pemusik, dan sebagainya. Pita suara harus kencang dan segar. Ini yang rupanya tidak dipunyai lagi oleh mas-mas dan mbak-mbak PSAUI yang bikin Konser Cinta Negeri. Teknik vokal dan pernapasan mereka tidak sebagus ketika kuliah di UI pada 1980-an, bahkan 1970-an. Yah, namanya aja konser nostalgia.",
    dan ini,
    "Dedy Lesmana jadi solis tenor. Vokalnya bagus, tapi jelas kalah jauh dengan adik-adik PSM yang masih 20-an. Mas Dedy terkesan--mudah-mudahan saya salah--setengah mata mengatur napas, olah vokal, kemudian bikin gerak tari. Mbak dirigen pun kayaknya rada abot, meminjam istilah orang Surabaya, karena gizinya terlalu bagus. Hehehe...."
    menggelitik saya untuk menulis ini.

    Sependek pengetahuan saya, didukung pendapat beberapa pelatih vokal yang sudah senior, ketrampilan (baca: kematangan) para anggota memainkan pita suaranya dan ketrampilan/kemampuan (!) si pemimpin paduan suara memadukan sekian banyak suara menjadi satu produk/presentasi yang kompak dan harmonis TIDAK ditentukan oleh USIA si pemilik pita suara maupun si pemimpin sebagaimana diungkapkan di atas.

    Seandainya suara dan penampilan bapak ibu alumni ini dirasa kurang mantap, rasanya bisa lebih dipahami bila hal itu disebabkan oleh keterbatasan waktu/fokus untuk berlatih secara lebih intensif, misalnya seintensif kala masih muda dan belum menyandang tugas dan tanggung jawab sebesar/seberat seperti yang disandang sekarang ...

    ReplyDelete
  4. tetep semangat ya!!! maju terus!!!

    ReplyDelete