17 March 2010

James Chu - Surabaya Club Hongkong





Tiga puluh tahun lebih JAMES CHU tinggal di Tiongkok dan Hongkong. Namun, pemusik sekaligus pebisnis kelahiran Banyuwangi, 61 tahun silam, ini merasa tetap sebagai wong Jowo ketimbang Hongkong.


Oleh LAMBERTUS HUREK


James Chu baru saja merilis dua album tembang Jawa bertajuk Javanova dengan lagu-lagu hit seperti Gambang Suling, Jangkrik Genggong, Rek Ayo Rek, Walang Kekek, Ande-Ande Lumut, Dondong Opo Salak, Rujak Uleg, Ayo Ngguyu. Di Hongkong, James bersama teman-temannya sesama perantau asal Indonesia juga kerap memperkenalkan seni budaya Indonesia kepada masyarakat setempat.

Berikut wawancara khusus Radar Surabaya, Jumat (12/3/2010) dengan James Chu yang khusus datang ke Surabaya untuk mempersiapkan konser musik lintas budaya pada September mendatang.

Kapan terakhir kali Anda konser di Hongkong?

Belum lama. Saya tampil bersama Didi Kempot serta beberapa TKW (tenaga kerja wanita) di Hongkong. Responsnya luar biasa karena yang nonton sekitar 3.000 orang. Para TKW rupanya haus hiburan karena konser seperti ini jarang diadakan di Hongkong.

Anda menampilkan tembang-tembang Jawa?

Jelas. Saya memang sejak merantau tahun 1966 sampai sekarang tidak bisa lepas dari akar budaya Jawa. Tembang-tembang Jawa, campursari, kalau disajikan dengan baik pasti menyentuh perasaan orang-orang Jawa yang ada di rantau. TKW-TKW itu kan kebanyakan berasal dari Jawa, punya kerinduan pada kampung halamannya. Mereka itu kelihatan modern, canggih, tapi ya tetap wae wong Jowo dengan segala kekhasannya.

Anda memainkan gitar hawaii (steel guitar) seperti di rekaman-rekaman Anda itu?

Benar. Saya memang sengaja melestarikan steel guitar yang dulu pernah sangat terkenal di Indonesia. Saya juga membawakan lagu daerah dan menyanyi beberapa lagu seperti Sewu Kutho. Lagu yang menceritakan usaha seorang laki-laki untuk menemukan mantan pacarnya yang sudah tidak jelas rimbanya. Hehehe....

Sejak kapan Anda mulai meninggalkan Indonesia?

Saya merantau sejak 1966, selepas sekolah di SMA Sin Chung Surabaya. Saya pergi sendiri untuk belajar di Wuhan. Waktu itu kondisi RRT sangat susah, rakyatnya miskin sekali, terjadi anarki di mana-mana karena ada revolusi kebudayaan. Ingin memperbaiki kehidupan, eh, ternyata kondisinya malah bertambah susah di RRT.

Saya akhirnya kerja sebagai tukang bubut di sebuah pabrik di Wuhan. Jadi buruh. Malam-malam kumpul sama teman, gitaran, nyanyi-nyanyi, di pabrik. Atasan saya rupanya tertarik karena saya bisa main gitar dan menyanyi. Lalu, saya diminta kerja di bagian propaganda yang ada operanya. Saat itu opera-opera sangat populer di Tongkok untuk hiburan rakyat dan propaganda pemerintah.

Anda main gitar di kelompok opera itu?

Saya belajar berbagai alat musik Tiongkok karena opera ini menggunakan musik tradisional. Mulai instrumen tiup, petik, gesek, pukul... saya pelajari. Nah, karena sudah punya dasar musik di Surabaya, ya, nggak kesulitan.

Kapan pindah ke Hongkong?

Tahun 1974, setelah delapan tahun hidup di Wuhan. Hongkong lebih menarik dan maju. Maka, saya pindah ke sana untuk cari makan. Kerja di pabrik lagi. Awalnya saya kesulitan di Hongkong karena gak bisa bahasa Kanton. Ternyata, cari makan di Hongkong pun gak gampang. Baru tahun 1980-an saya agak berkembang setelah bisnis alat-alat elektronik dan peralatan medis.

Tapi masih sempat main musik juga?

Harus disempat-sempatkan karena musik sudah menjadi bagian hidup saya. Wong sejak SD di Banyuwangi saya sudah main band. Hehehe....

Nah, ketika bertemu dengan sesama perantau, TKI, semangat bermusik itu makin menggebu-gebu. Ada keinginan untuk membawakan lagu-lagu Indonesia karena makin lama TKI ini makin banyak. Sekalian melepas kerinduan dengan tanah air Indonesia yang letaknya sangat jauh. Memang ada CD/VCD, tapi lain kalau dimainkan oleh secara langsung.

Saya bikin band, namanya Surabaya Club. Saya pegang steel guitar. (James Chu kemudian menunjukkan rekaman konser Surabaya Club di Hongkong. Para pemain band rata-rata berusia di atas 50 tahun.)

Orang-orang Hongkong rupanya tertarik dengan Surabaya Club karena dinilai coraknya berbeda dengan band-band lain. Kami diundang pentas di plaza, mal, kafe, dan pusat perbelanjaan di Hongkong. Bahkan, kami juga diminta tampil dalam sebuah festival besar di pantai Hongkong. Sejak itu kami makin eksis dan mulai membuat rekaman.

Kalau tidak salah, Anda bersama teman-teman pernah tampil di TVRI dan Java Jazz ‘09?

Setelah merilis album, nama James Chu akhirnya mulai dikenal pencinta musik di Indonesia. Sebab, album-album kami memang diedarkan di Indonesia. Nah, saya diajak pentas di mana-mana, termasuk di Java Jazz. Yang di TVRI itu saya diajak Tantowi Yahya, pengasuh acara Country Road.

Lantas, kapan konser di Surabaya?

Rencananya, September 2010 saat Festival Bulan Purnama di Pantai Ria Kenjeran. Kebetulan saya teman kelas pengelola Sanggar Agung di Kenjeran itu. Saya diminta menghadirkan sebuah festival dengan konsep lintas budaya. Mudah-mudahan rencana ini bisa direalisasikan.

Ngomong-ngomong, Anda ini pengusaha atau pemusik?

Dua-duanya. Hehehe.... Bagi saya, musik itu sebetulnya cuma kesenangan pribadi saja. Saya tidak total di musik karena akan membuat saya tidak bahagia. Pemusik profesional itu kan dituntut macam-macam, dan itu membuat dia tertekan. Lagi pula, kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan hidup dari musik. (*)




Kirim Anak ke Banyuwangi

Meski sudah lama menjadi warga negara Hongkong, James Chu tetap merasa sebagai orang Indonesia, khususnya Jawa. Karena itu, dia selalu membiasakan diri berbahasa Jawa, menikmati makanan khas Jawa, hingga memainkan tembang-tembang Jawa baik yang klasik maupun kontemporer.


Pria 61 tahun ini juga tak ingin tiga anaknya--satu putra, dua putri--yang lahir dan besar di Hongkong asing dengan bahasa dan budaya orang tuanya. Maka, James Chu punya cara sendiri untuk menanamkan budaya dan bahasa Jawa kepada anak-anaknya. Caranya?

“Saya selalu mengirim anak saya ke Banyuwangi. Paling sedikit mereka harus tinggal di Jawa Timur selama dua bulan,” papar James Chu.

Dengan tinggal bersama keluarga besar di Jawa Timur, menurut dia, anak-anak itu bisa belajar secara langsung dari lingkungan. Mulai bahasa daerah, makanan, tradisi, hingga kebudayaan secara umum. Setelah masa liburan berakhir, anak-anak usia sekolah dasar (SD) itu juga ‘dibiarkan’ kembali ke Hongkong seorang diri.

“Yah, saya titip saja sama pramugari. Tolong awasi anak saya selama dalam perjalanan dari Indonesia ke Hongkong. Tentu saja si pramugari lebih memperhatikan anak-anak kecil, kayak anaknya sendiri,” kata James Chu lantas tertawa kecil.

Di Hongkong, karena James selalu berkumpul dengan komunitas Indonesia, khususnya yang berasal dari Jawa Timur, ketiga anaknya itu pun terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Bahasa Mandarin, bahasa Kanton, dan bahasa Inggris hanya digunakan ketika berbicara dengan orang Hongkong atau berkomunikasi di sekolah.

Tak heran, ketiga anak James Chu sejak kecil sudah menjadi poliglot alias menguasai banyak bahasa. “Saya senang karena mereka bisa bicara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Mereka bangga dilahirkan sebagai warga keturunan Indonesia di luar negeri,” ujar James.

Di bidang musik, James tidak menggembleng anaknya secara khusus. Namun, kenyataannya, ketiga anak buah pernikahan James Chu dan Yang Piek Noan rata-rata mampu memainkan musik klasik dengan baik. Tak ada yang mengikuti jejak ayahnya sebagai pemain steel guitar.

“Itu kan instrumen zaman dulu. Mana ada anak sekarang yang menekuni steel guitar?” tukasnya sambil tertawa kecil. (rek)





Pada tahun 1960-an musik lembut bernuansa Hawaii sangat populer di tanah air. Sejumlah penyanyi Indo-Belanda banyak merilis album lagu-lagu daerah Maluku dengan irama Lautan Teduh ala Hawaii. Hawaiian guitar alias steel guitar alias gitar hawaii sangat dominan dalam genre musik ini.

Ketika masih berusia belasan tahun, James Chu yang masih sekolah di kota kelahirannya, Banyuwangi, sudah gandrung main musik. Melihat bakat musiknya, Pak Turangan, gurunya di SMP, mengajak Chu Kwok Cung--yang sekarang lebih dikenal dengan James Chu--bermain band.

Selain sebagai band leader, Pak Turangan memainkan steel guitar. “Saya sendiri pegang ketipung atau gitar biasa,” cerita James Chu sambil tersenyum.

Tamat SMP di Banyuwangi, James pindah ke Surabaya untuk melanjutkan sekolah di SMA Sin Chung, salah satu sekolah Tionghoa terkemuka waktu itu. Lagi-lagi kesenangan bermain musiknya terbawa ke Kota Pahlawan. Di sini dia terkenang gurunya, Pak Turang, yang fasih memainkan gitar hawaii.

James pun belajar instrumen ini secara khusus pada Soe Gian, guru musik di Surabaya. “Ada kebanggaan tersendiri kalau main steel guitar. Sebab, waktu itu alat musik ini sangat digemari dan berperan penting dalam band yang memainkan lagu-lagu Hawaii,” katanya.

Sejak itulah James Chu, yang sebenarnya menguasai berbagai alat musik ini, dikenal sebagai pemain gitar hawaii. Ketika pindah ke Tiongkok, kemudian Hongkong, James sempat menekuni alat-alat musik tradisional Tionghoa. “Saya belajarnya cepat karena sudah punya dasar yang kuat di Indonesia. Mau main apa saja gampang,” akunya.

Tren musik berirama teduh ala Hawaii ternyata tak bertahan lama di tanah air. Ketika rezim Soekarno runtuh, digantikan Soeharto dengan Orde Barunya, musik pop Indonesia lebih condong ke Amerika dengan warna yang jauh lebih rancak seperti disco, rock, rock‘n roll, bahkan metal.

Maka, para pemain gitar hawaii yang bersenar tujuh itu pun kehilangan pekerjaan. “Teman-teman musisi pindah ke instrumen lain,” kenangnya. Namun, James Chu tetap menekuni gitar hawaii sampai sekarang.

Sebuah situs steel guitar di internet bahkan menyebut James Chu sebagai salah satu tokoh steel guitar di dunia. “James is perhaps the only steel guitar ambassador in his part of the world and his goal is to inspire young people to take up the instrument. Ideal for beach parties but also for easy listening events,” tulis pengelola situs tersebut.

Yah, bagi James Chu, steel guitar ibarat belahan jiwanya. Ke mana-mana dia selalu membawa alat musik yang konon dibeli di Amerika Serikat itu. “Saya memang sulit dipisahkan dengan instrumen itu,” tegasnya. (rek)



BIODATA

Nama populer : James Chu
Nama asli : Chu Kwok Cung
Lahir : Banyuwangi, 20 November 1948
Profesi : Artis, pengusaha
Istri : Yang Piek Noan
Anak : tiga orang
Pendidikan : SMA Sin Chung Surabaya
Pemusik favorit : Buby Chen

DISKOGRAFI

Romance Hawaiian Guitar
Unforgettable Melodies
Evergreen Mandarin
Wonderful Tonight
Teresa Teng Memories
Country Love
Javanova I
Javanova II



Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 14 Maret 2010.

7 comments:

  1. luar biasa pak james yg lama di HK tapi tetep njawani. mugi2 sukses terus pak!

    ReplyDelete
  2. Hello Lambertus:

    Congrats, on James Chu article. It's a great one, and I'm
    very very touched reading his story.
    He has lots of struggle when he was young, working hard,
    moving between countries, but still loves all different kinds of culture.

    I hope bigger magazines / newspapers / publications would put his
    life story / profile out there so people can learn to be tolerant
    and accept each other further.

    Thanks again, for writing that article!

    I always follow your article with pleasure, and I have learned lots from
    it!

    Aryo Wicaksono

    ReplyDelete
  3. Congrats!

    Mau tanya, dimana bisa beli cd james chu teresa teng memories

    ReplyDelete
  4. Dimana bs beli cd james chu teresa teng memories?

    ReplyDelete
  5. dimana bs beli cd james chu teresa teng memories?

    ReplyDelete