25 March 2010

GKJW Luwung Sidoarjo



Kamis, 25 Maret 2010. Akhirnya, saya mampir di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Luwung di Dusun Luwung, Desa Sumokembangsri, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Meski sudah lama tinggal di Sidoarjo, juga ber-KTP Sidoarjo, baru kali ini saya menginjakkan kaki di gereja pedesaan khas Jawa Timur ini. Lokasinya yang terpencil membuat banyak orang Sidoarjo, termasuk orang Kristen sendiri, tidak tahu kalau di kabupatennya ada gereja tua bernama GKJW Luwung.

Dari jalan raya Balonbendo menuju Krian, belok kiri, masuk ke hamparan sawah. Sepanjang dua kilometer kita menikmati padi menghijau, angin sepoi basah, udara segar. Tak banyak kendaraan bermotor yang lewat. Jalan mulus, lengang. Lantas, tibalah saya di GKJW Luwung. Gereja di tengah-tengah permukiman masyarakat desa di Sidoarjo memang langka. Karena itu, GKJW Luwung menjadi sebuah fenomena menarik.

Saya diterima Pendeta Dwi Cahyo, gembala sidang GKJW Luwung. Orangnya masih muda, lahir di Mojokerto 2 Maret 1981, lulusan Universitas Duta Wacana Jogjakarta. "Saya abru dua tahun tugas di sini. Kondisi di desa, ya, begini ini," kata Dwi Cahyo seraya tersenyum. Pak Pendeta kemudian menyuguhkan dua gelas air mineral. Mereknya saya lupa.

Basa-basi sejenak, saya kemudian bertanya tentang sejarah singkat GKJW Luwung. Soalnya, saya sempat membaca buku dan catatan di internet bahwa Dusun Luwung termasuk salah satu "kantung" jemaat Kristen Jawa di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo. Jemaat Luwung bukan kemarin sore, tapi sudah ada sejak zaman Hindia-Belanda. Termasuk salah satu dari sekian gereja-gereja desa di Pulau Jawa.

"Oke, saya print-kan sebentar," kata Dwi Cahyo, sang gembala. Kesempatan itu saya pakai untuk memfoto-foto gereja. Wow, untuk ukuran desa di Jawa Timur, GKJW Luwung ini terbilang besar dan asri. Ia berada di tengah-tengah permukiman penduduk yang bhinneka tunggal ika: jemaat Kristen Jawa di tengah mayoritas Islam.

Data yang dirilis tahun 2010 menyebutkan, GKJW Luwung ini terdiri atas 125 keluarga. Selain tinggal di Luwung, Desa SUmokembangsri, jemaat Kristen Jawa ini menetap di Krian, Balongbendo, Tarik, Wringinanom, Sunggatblijo, Ciro, dan Bureng. Jemaat di Luwung yang disebut Nazareth ada 36 keluarga, sementara yang di Sunggetblijo alias Galatia 30-an keluarga. Di tempat-tempat lain kurang dari ini dan terpencar-pencar.

Namanya juga gereja desa, khas GKJW, mayoritas jemaat GKJW Luwung bekerja sebagai petani dan pekerja pabrik. Ada juga yang profesional, pegawai negeri sipil, dan yang pindah ke kota-kota lain. Namun, hakikat GKJW Luwung sebagai gereja desa yang guyub, tenang, tidak grusa-grusu, rukun dengan warga yang non-Kristen... sangat terasa. Setiap tahun mereka mengadakan unduh-unduh, semacam perayaan syukur atas hasil panen, sebanyak dua kali.

Yang pertama, sekitar bulan Mei, lelang hasil bumi, sedangkan unduh-unduh kedua pakai sistem amplopan. Jadwal unduh-unduh tidak pasti, tergantung kesepakatan para pengurus gereja. Sedangkan ritual Perjamuan Kudus digelar empat kali setahun. Yakni, saat Paskah, pembukaan GKJW bulan Agustus, pekan Oikumene, serta menjelang Natal. Menurut Dwi Cahyo, setiap kali Perjamuan Kudus atau unduh-unduh gereja pasti penuh sesak, meluber sampai ke halaman.

"Kalau hari-hari biasa sih partisipasi jemaat GKJW Luwung kira-kira 80 persen," kata Dwi Cahyo yang didampingi Suwondo, bendahara dan pengurus majelis jemaat GKJW Luwung.



Pada 10 Mei 2009, jemaat GKJW Luwung ramai-ramai merayakan ulang tahun emas atawa 50 tahun gerejanya. Ini karena pada 10 Mei 1959 Pepanthan Luwung diresmikan menjadi GKJW Jemaat Luwung. Bapak Wiyoso, guru Injil asal Pasamuan Jember, tercatat sebagai pendeta baku pertama di sini. Pak Wiyoso ini masih hidup, usianya 86 tahun, dan sekarang tinggal di Mojokerto.

"Kalau ada waktu, Anda bisa menemui beliau. Tapi beliau sudah sangat sepuh," kata Pendeta Dwi dengan logat Jawa kental.

Meski resminya baru berdiri pada 1959, cikal bakal jemaat Kristen di Luwung sejatinya sudah ada sejak 1928. Waktu itu ada dua guru zending yang mengabarkan Injil di wilayah Wonoasri (sekarang Luwung). Mereka adalah Suproyo Asriman dan Kasnowo. Berkat pekabaran Injil kedua tokoh ini, dua warga setempat, Saleh dan Sumo, bersedia dipermandikan.

Pada 1933 tercatat enam keluarga yang dibaptis. Setahun kemudian, 1934, tujuh keluarga pribumi Jawa lain juga dibaptis. Pada 1942-1949, zaman Jepang dan awal kemerdekaan, jemaat perdana Luwung mengalami masa sulit. Pelayanan tidak ada. Iman Kristen yang masih muda itu pun goyah.

Baru pada 1950 muncul Darmono, warga Wonoasri, dan Suprapto, anggota majelis jemaat, yang bekerja keras membangkitkan iman yang beku dan layu tadi. Pendeta-pendeta kembali turun ke desa. Para pendeta itu Asriban (Mojokerto), Tirto Dihardjo (Mojoagung), Untung (Ngoro), Mangku Dihardjo (Bongsorejo), dan Suwignyo Muso (Jombang).

Pada 14 Mei 1951, iman jemaat di Luwung dianggap sudah cukup teguh. Maka, pada tanggal tersebut wilayah Luwung dikukuhkan sebagai PEPATHAN yang masuk wilayah pembinaan Sukorame Majelis Daerah Surabaya. Ada tiga keluarga yang dibaptis. Saat itu jumlah jemaat tercatat 75 jiwa atau 15 keluarga. Pada 1955 dikirim Wiyoso, guru Injil dari Jember, untuk membina secara tetap umat Kristen di Pepathan Luwung.

"Status sebagai jemaat pada tanggal 10 Mei 1959. Tahun lalu, 2009, kami baru saja merayakan ulang tahun gereja ke-50," kata Pendeta Dwi Cahyo yang betah menggembala jemaat di desa ketimbang kota itu.

Senada dengan pembangunan jemaat, pembangunan fisik gereja pun dilakukan secara bertahap alias diincrit-incrit. Jemaat perintis membeli tanah seluas 700 meter persegi pada 1929. Tahun 1957 membeli gedung 8 x 5 meter secara swadaya. Tahun 1973 gereja lama diperluas menjadi 9 x 5 meter. Jemaat juga membeli tanah pekarangan 525 meter persegi untuk pemakaman. Selanjutnya, melengkapi gereja denbgan pastori, konstitori, dan gedung tempat sepeda.

Renovasi gedung gereja dilakukan secara signifikan pada 1 Desember 1995. Saat itu gembala sidang dijabat Pendeta Pinardi Eko Sudarmo.

GKJW LUWUNG
Dusun Luwung, Desa Sumokembangsri, Balongbendo
Kabupaten Sidoarjo
Telepon 031 897 4612, 031 7096 7612

No comments:

Post a Comment