01 March 2010

Bu Nanik Penggerak Jemaat



Senin siang, 1 Maret 2010, saya mampir ke rumah Nanik Indrawati di Desa Sidorono, Krian, Sidoarjo. Beberapa waktu lalu wajah Nanik sering masuk koran dan televisi gara-gara putrinya, Herlina, di Malaysia. Herlina divonis hukuman mati karena didakwa membunuh majikan perempuannya.

Setelah ditinjau kembali, ternyata Herlina melakukan itu karena membela diri. Justru si Herlina yang disiksa lebih dulu. Singkat kata, Herlina akhirnya dikeluarkan dari penjara. Kembali ke rumah orang tuanya di Krian. Nanik beberapa kali ke Malaysia untuk mengurus kasus Herlina.

Nanik sangat percaya bahwa bebasnya Herlina dari hukuman gantung semata-mata karena anugerah Tuhan. Jemaat sebuah gereja beraliran karismatik ini bahkan mengaku sudah "diberi tahu Tuhan" lebih dulu bahwa Herlina akan pulang.

"Karena saya tidak henti-hentinya berdoa. Ingat, doa itu besar kuasanya lho," ujar Bu Nanik kepada saya, persis kata-kata pendeta. "Kita sering terlalu sibuk kerja, cari uang, cari hiburan, lupa berdoa. Lupa sama Tuhan. Bahaya lho karena Tuhan selalu memperhatikan kita."

Saya diam saja menyimak kata-kata Bu Nanik. Apa yang dikatakannya memang benar adanya. Apalagi, dia telah membuktikan bahwa berkat doanya, permintaan yang tanpa henti kepada Tuhan, membuahkan hasil luar biasa. Herlina Trisnawati, yang tinggal menunggu hari eksekusi, akhirnya selamat dari tiang gantungan.

Bu Nanik Indrawati termasuk penganut Kristen "kemarin sore". Dibaptis tahun 2004. Dia juga baru belajar membaca Alkitab, menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan ala gereja karismatik. Namun, semangatnya menggebu-gebu dalam bersaksi tentang kuasa Allah. Ketika saya menyanyi lagu pop lawas di rumahnya, Bu Nanik kontan menegur.

"Itu nyanyiannya orang dunia. Lagu itu tidak akan menolong kita lebih dekat dengan Tuhan. Saya sudah lama nggak dengar lagu-lagu kayak gitu," tegurnya. Saya tertawa kecil.

"Bagaimana kalau lagunya Meriam Bellina?"

"Meriam Bellina masih mendingan. Dia ada bikin album rohani," jawab Bu Nanik sembari menyenandungkan lagu Indah Rencana-MU yang memang terkenal di kalangan jemaat Kristen. "Tapi lagu-lagu cinta, ya, jangan dong. Kita harus cari sangu, bekal, untuk menuju ke surga."

Wah, wah, wah....

Bukan main ibu yang sederhana ini. Setelah beroleh mukjizat dalam kasus Herlina -- dia selalu menyebut kata "mukjizat" -- semangat beribadahnya meningkat drastis. Persekutuan doa rutin digelar di rumahnya. Padahal, anak-anaknya, termasuk Herlina, beragama Islam. Tiap minggu ikut pelayanan rohani di Keputih, Surabaya. Ikut sekolah melayani. Jadi koordinator jemaat. Jadi penyalur bantuan sosial. Dan banyak lagi.

"Sekarang kegiatan saya selalu untuk Kerajaan Allah. Tuhan sudah begitu baik kepada saya dan keluarga," katanya, lagi-lagi dalam gaya evangelis.

"Bagaimana dengan nafkah sehari-hari? Kita kan tidak bisa hidup hanya dari berdoa, berdoa, dan pelayanan rohani?" pancing saya.

"Suami saya kan kerja. Saya juga masih bisa cari uanglah. Berkat Tuhan itu ada saja," katanya. Ohhh....

Apa kegiatan terbaru Bu Nanik?

Dia mengaku lagi menggerakkan orang-orang Kristen di Krian dan sekitarnya yang malas. Mereka bukanlah jemaat "kemarin sore" macam Nanik. Bahkan, sudah turun-temurun jadi Kristen. Tapi jarang sekali mereka mau menyisihkan waktu untuk ke gereja setiap hari Minggu. Nanik kemudian mengusahakan kendaraan antarjemput bagi mereka.

"Itu masih banyak yang lesu. Saya sampai heran, orang Kristen kok gak punya semangat doa ya? Kok gak bersyukur sudah dikasih berkat oleh Tuhan, diberi perlindungan, dan sebagainya. Pusing aku!" tegasnya.

"Sing sabar Bu!" kata saya. "Siapa tahu mereka punya ganjalan dengan gereja atau pendeta, atau dengan sampean sendiri? Orang-orang sini kan sensitif."

Bu Nanik terdiam sejenak. Sementara cucunya sibuk bermain kapal-kapalan di atas meja. "Yah, memang ada masalah. Mudah-mudahan ganjalan-ganjalan kayak gini segera diselesaikan. Mudah-mudahan Tuhan akan memberikan jalan keluar."

Saya kemudian minta diri setelah menghabiskan segelas air putih dan beberapa buah manggis. Di perjalanan, kata-kata Bu Nanik selalu terngiang. Saya juga kagum dengan iman dan semangat pelayanan Bu Nanik yang luar biasa.

Gereja sering kali mengabaikan orang-orang kecil, lugu, sederhana, polos, apa adanya macam Bu Nanik. "Saya motret sampean dulu ya?" tanya saya.

"Nggak usah! Nanti masuk koran lagi. Aku gak mau masuk koran kayak kemarin. Nanti ramai lagi!" tegasnya.

Yo wis... Kalo gitu masuk blog ajalah. Haleluya! Hehehe...

No comments:

Post a Comment