13 March 2010

Balada Dokter PTT di Flores




TAHAN BANTING: Menkes Endang Rahayu, eks dokter PTT di Flores.

Di dalam bus patas Surabaya-Malang, tak sengaja, saya duduk bersebelahan dengan Sinta. Nona manis, ramah, meskipun sedikit overweight. Sejak enam tahun lalu saya memang agak sensitif dengan obesitas karena saya sendiri kesulitan menurunkan berat badan. Saya banyak membaca metode diet, bahaya LDL, trigliserida, kolesterol, dan seterusnya. Hehehe....

Aha, ternyata Sinta ini mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya semester atas.

Saya langsung bertanya tentang program dokter PTT (pegawai tidak tetap). Biasanya, dokter muda harus ikut PTT sebelum berhak mendapat predikat terhormat: DOKTER (TIDAK MUDA).

Biasanya, PTT dilakukan di pelosok-pelosok Indonesia, khususnya Indonesia Timur. NTT alias Nusa Tenggara Timur alias Nasib Tidak Tentu, khususnya Pulau Flores dan sekitarnya, sejak dulu selalu jadi sasaran dokter-dokter PTT.

Dokter muda yang sukses PTT di Flores, kata orang, biasanya tahan banting. Bayangkan, si dokter yang cakep-cakep dan ganteng-ganteng ini--rata-rata anak orang kaya di Jawa atau kota besar--harus hidup di pelosok terpencil di Flores.

Tak ada listrik PLN. Air bersih susah. Siaran televisi tidak bagus. Plasa, mal, tempat hiburan... tak ada. Masyarakat sangat sederhana. Sebagian besar warga tak mampu berbahasa Indonesia dengan lancar. Belum lagi adat kebiasaan Flores pelosok yang berbeda sama sekali dengan dokter-dokter yang orang kota itu.

"Sinta, bagaimana kalau kamu PTT di Flores? Yah, setidaknya di NTT-lah?" pancing saya pada si nona manis itu.

"Flores? NTT? Amit-amit deh, kalau bisa jangan deh. Tempat lain aja deh."

Saya lalu menceritakan kisah nyata bagaimana aktivitas dokter-dokter PTT di Flores Timur, khususnya Pulau Lembata. Bagaimana dokter-dokter PTT yang Jawa itu dianggap sebagai orang hebat, punya ilmu tinggi, dan sangat disegani.

Profesi dokter, tak peduli dokter muda atau mahasiswa FK, dipandang sangat terhormat. Bak makhluk dari planet lain saja. Bagaimana masyarakat punya harapan yang besar pada si dokter PTT yang biasa bertugas di Puskesmas.

"Banyak dokter eks PTT di Flores yang sukses lho," pancing saya.

Sinta, yang orang tuanya kaya dan berpendidikan tinggi, rupanya tetap bergeming. Tak ada minat sama sekali ber-PTT di NTT atau Flores.

"Kamu tahu menteri kesehatan sekarang? Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih? Dia itu tahun 1979 PTT di Kabupaten Sikka, Flores," kata saya.

"Oh, ya?" Sinta agak terkejut.

Hehehe.... Rupanya, mahasiswa FK Unair yang satu ini, meskipun cantik dan cerdas, tidak pernah baca koran, berita-berita di internet, atau menyimak informasi di televisi. Hari-harinya habis untuk kuliah, baca buku teks, praktikum, ke laboratorium... dan pacaran. Karena itu, Sinta tidak tahu kalau Menkes Endang bersama suaminya Reanny Mamahit pernah bertugas di Puskesmas Waipare 27 tahun silam.

Listrik tak ada di kampung itu pada 1970-an, bahkan hingga 1990-an. PLN di Flores memang proyek rugi karena belum ada energi alternatif, selain harus membakar solar. PLTD yang mesin-mesin gensetnya dipasok cukong-cukong gendut di Surabaya. Dan itu berpotensi membuat bangkrut PLN.

Ketika itu, menurut Endang, masyarakat Flores tak punya uang kontan. (Bahkan sampai sekarang pun uang susah dicari.) Masyarakat membayar dokter Puskesmas dengan ikan, ayam, telur, atau hasil bumi lainnya.

Sinta mendengar "dongeng" dokter PTT di Flores dengan penuh minat. Apalagi saya sengaja menonjolkan kisah sukses dr. Endang yang sekarang jadi menteri kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014). Dalam beradu argumentasi, kita memang sekali-sekali membuat contoh yang kontras dan ekstrem.

"Yah, siapa tahu setelah PTT di Flores, kamu lebih sukses. Contohnya, ya, Bu Menkes itu. Hehehe...," goda saya.

Sinta hanya tersenyum. Rupanya, dia sudah punya persepsi dan pendapat sendiri tentang Flores. Mengacu pada teori Walter Lipmann, salah satu dewa jurnalisme di Amerika Serikat: "Sinta have had a very bad pictures about Flores in her head!" Itulah yang disebut stereotipe. Dan itu sulit diubah.

"Saya takut kalau PTT di Flores. Kayaknya orang Flores itu sangar-sangar," tukasnya.

"Termasuk saya?" Hehehe....

Belum tahu dia kalau orang Flores yang tampangnya sangar itu sebetulnya berhati lembut ala Rinto Harahap. Mereka sangat gandrung lagu-lagu melankolis ala Dian Piesesha, Obbie Messakh, Pance Pondaag, Rinto Harahap, Ria Angelina, Christine Panjaitan, atau Lydia Natalia. Musik pop daerah NTT, bahkan lagu-lagu rohani asal NTT, umumnya melodius dan mendayu-dayu. Musik rock yang teriak-teriak tak laku di NTT.

Memang, harus diakui, sampai sekarang imej orang Jawa, Sunda, Betawi, Madura, Batak, Melayu... terhadap Flores tak jauh berbeda dengan Sinta. Meski sudah sangat banyak dokter PTT di Flores yang sukses, termasuk Bu Menkes itu tadi, Flores masih dianggap sebagai tempat pembuangan atau ladang penderitaan. Dokter-dokter PTT itu enggan ditempatkan di Flores kecuali karena terpaksa.

"Aku lebih suka PTT di Kalimantan deh," kata Sinta dengan nada meyakinkan.

"Baiklah, semoga kamu sukses melaksanakan PTT di Kalimantan atau di mana saja."

Surabaya masih jauh. Bus patas yang kami tumpangi macet di sekitar lokasi semburan lumpur Lapindo, tepatnya Gempol, Pasuruan. Sayang kalau obrolan dengan nona manis ini harus putus begitu saja. Jarang lho ketemu calon dokter yang sama-sama Katolik di Pulau Jawa.

Sinta mengaku kenal banyak pastor SVD (Societas Verbi Divini) asal Flores. Yah, mayoritas pastor SVD di Indonesia memang orang Flores. Di Surabaya bagian selatan, hampir semua paroki atau Gereja Katolik digembalakan pastor-pastor SVD asal Flores. Sebut saja Paroki Yohanes Pemandi Wonokromo, Paroki Gembala Yang Baik Jemur Handayani, Paroki Roh Kudus Rungkut, kemudian Paroki Salib Suci Tropodo (Sidoarjo) atau Paroki Santo Paulus Juanda.

Saya ceritakan kelebihan lain dokter-dokter PTT di Flores. Siapa tahu Sinta mau berubah pikiran. Saya bongkar sedikit rahasia dapur dokter-dokter PTT di kampung:

"Sinta, dokter-dokter PTT di Flores itu biasanya dapat jodoh sesama dokter juga lho. Kalau nggak sesama dokter, biasanya anak pejabat."

"Wualah, aku sudah punya pacar kok. Kenapa harus cari jodoh di NTT?" balasnya.

Asem tenan! Yo wis, sakarepmu, Ning, aku wis nyerah. Gak kepengin bahas PTT maneh. Koen gak gelem nang Flores ya gak popo. Gak patheken!

Kali ini aku kehabisan jurus untuk meyakinkan si nona manis untuk mau PTT di Flores. Tapi, saya percaya, masih ada dokter-dokter muda lain yang mau belajar melayani wong cilik di pelosok Flores.

16 comments:

  1. salit utk bu endang. moga2 jadi inspirasi buat dokter2 muda di seluruh indonesia.

    ReplyDelete
  2. hahahahaa....

    Bang Hurek...saya jadi tersenyum membaca bagian terakhir artikel abang ini. Jadi...tidak berhasil meyakinkan mba Sinta untuk PTT di Flores ya? Sayang sekali :-P

    Dokter2 muda dan mahasiswa kedokteran di universitas lokal sini banyak yang dikirm ke Kamboja, Vietnam...untuk mengasah keahlian mereka sebelum terjun melayani masyarakat sebagai dokter penuh. Lha...apa di Spura tidak ada orang sakit lagi?

    Sebenarnya orang sakit sih ada saja...banyak juga, tapi jelas dengan segala fasilitas modern yang tersedia berikut perangkat manusianya yg bermutu juga, semua sepertinya bisa diatasi dengan mudah.

    Pergi ke tempat yang masih minim fasilitas kesehatannya, dengan masyarakat yang relatif sederhana dan buta kesehatan, untuk memberi pelayanan kesehatan yang tepat adalah satu fase penting yang harus dijalani seorang calon dokter. Bukan hanya untuk mengasah keahliannya supaya menjadi dokter yang handal nanti, tapi juga mengasah rasa kemanusiaannya. Setuju gak bang?

    Salut untuk semua dokter yang mau bekerja keras berbakti di daerah2 terpencil di negeri kita! :-)

    ReplyDelete
  3. moga2 jadi inspirasi bagi dokter2 muda yg masih py idealisme....

    ReplyDelete
  4. asyik juga membaca sharing ini. tapi aq kira kondisi NTT thn 2010 sudah beda jauh dg jaman bu endang dulu.

    ReplyDelete
  5. wah,
    saya tertarik ke daerah berklasifikasi sangat amat terpendil kalo suatu saat sudah tiba saya PTT...

    ReplyDelete
  6. Saya sangat tertarik dengan cerita di atas, saya ingin dpt mengabdikan diri saya di daerah terpencil tp sayang saya msh blm bs mewujudkan keinginan saya karena tidak lolos PTT edisi april 2010. semoga PTT berikutnya saya dapat di terima. Amin..
    dr.ninik

    ReplyDelete
  7. saya bingung mau pilihh daerah mana untuk PTT. smoga tulisan ini menjadi inspirasi buay saya

    ReplyDelete
  8. Bang Hurek, nanti kalo saya PTT di Flores, saya main ke kampung halaman bang Hurek ya.... hehehe...

    ReplyDelete
  9. buat sebagian orang yg belum pernah ke flores pasti membayangkan flores itu seperti suatu desa yang sangat terpencil,(sama seperti teman2 sy di klampus) tp coba sesekali anda ke flores pasti akan jatuh hati..pemandangannya bagus,masyarakatnya ramah,jalanan tdk macet seperti di kota besar,,mmgnya sih tdk ada yg namanya mall,plaza,dll...hehehe... kalo lulus nanti sy ingin pulang dan mengabdi sbg dokter gigi di larantuka- flotim...amin... love flores

    ReplyDelete
  10. hehehe... itulah persepsi org2 di luar NTT tentang flores. dianggap sebuah pulau tempat manusia2 primitif hidup. itu bisa dimaklumi krn dulu belanda menjadikan flores sebagai pulau tempat pembuangan Bung Karno. dengan dibuang di Flores, Bung Karno putus komunikasi dengan dunia luar. kayaknya persepsi itu masih tertanam di dalam hati org Jawa kayak nona Unair itu.

    kecian deh lu.. org2 flores... hehehe

    ReplyDelete
  11. Semangat... tinggal beberapa waktu lagi pendidikan kedokteran saya selesai

    saya sudah tidak sabar ingin PTT untuk membantu dan mengenal lebih banyak kehidupan di luar sana yang jauh dari jangkauan :p

    kebetulan rencana PTT ingin di daerah flores.. semoga semua berjalan lancar.. Amin ^^

    ReplyDelete
  12. Lucu kisahnya, Shinta banyak kok dimana-mana, dan org kayak dia harus ke Flores sendiri untuk membuktikan sendiri. Saya minggu lalu barusan ke Flores (baru Manggarai sih, dan kebanyakan di Labuan Bajo) tapi tipikal tentang orang Flores yang sangar tapi seneng lagu mellow, saya setuju banget. Paling tidak dari Matt, si driver yg nganterin saya dari Ruteng ke LBJ, dia lebih suka Dont Cry GNR daripada metal yg penuh teriakan ---jadi malu, ternyata saya lebih brangasan dari bapak 'serem' itu.
    Nice story. Saya pengen ke Flores lagi akhir tahun ini. Mudah2an bisa keliling.

    ReplyDelete
  13. Saya wong ganteng yang pengen PTT di NTT bang...

    ReplyDelete
  14. kepada semua dokter ptt yang saya banggakan,
    cobasaja ptt ke maumere kabupaten sikka saya sangat yakin jika anda juga inin mengenal lingkunan dan pribadi orang maumere anda pasti jatu hati. buktinya suda saya sendiri....

    ReplyDelete
  15. Om broo.. Tawarkan pemandangan yg sangat indah.. Surganya ikan2.. Orang2 yg punya logat lucu.. Nyamuk yg banyak.. Penyakit yg banyak.. Dan ingatkan tujuan dia jadi dokter apa? Klo sdh Kaya ngapain jdi dokter susah2.. Kuliah susah, bayar mahal.. Apa cuma mau di panggil doc?? Flores adalah salah satu pulau yg paling indah yg dimiliki oleh indonesia..

    ReplyDelete
  16. Saya Erlangga, calon dokter internsip di RSUD Ibnu Sina Gresik, Jawa Timur. Jujur saya tertarik untuk menjadi dokter PTT di flores. Saya sudah mencari yang sekiranya ada masa bakti minimal <2 tahun, karena kebijakan PTT pusat saat ini minimal 2 tahun.

    Jujur sejak semester 5 di kedokteran saya sudah mempunyai cita-cita untuk berangkat PTT di flores. Namun adanya program internsip dari pemerintah membuat segalanya jadi terhambat. Sejak saya menyelesaikan koas desember yang lalu, saya masih harus menunggu hingga desember depan untuk bisa berangkat internsip. Ditambah internsip selama 1 tahun. Saya sudah kehilangan 2 tahun yang seharusnya bisa saya jalani untuk PTT.

    Karena alasan di atas, saya tetap mencari lowongan PTT di nusa tenggara timur, namun jika ada yang masa baktinya tidak sampai 2 tahun. Sekiranya anda memiliki info atau contact person yang bisa saya hubungi agar segera setelah selesai internsip saya bisa berangkat ke flores, tentunya saya akan sangat berterimakasih.

    ReplyDelete