08 March 2010

Anshori Ketua KPU Sidoarjo



Tidak banyak orang tambak yang menempuh pendidikan tinggi dan sukses meniti karir di luar bidang ‘pertambakan’. Salah satu dari sedikit arek ambak yang sukses itu Ashory SH, 40 tahun. Pentolan LBH Surabaya itu kini menjabat ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sidoarjo.

Oleh LAMBERTUS HUREK



Anshori dilahirkan di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, pada 13 April 1969. Kepetingan--juga biasa disebut Ketingan--merupakan salah satu kampung terisolasi di Kabupaten Sidoarjo. Kampung-kampung terisolasi lain adalah Pucukan, Bromo, dan Pulau Dem.

Akses ke Kepetingan melalui jalan darat sangat sulit, apalagi pada musim hujan seperti sekarang. Yang ada hanya jalan setapak di pematang tambak. Maka, satu-satunya akses ke kampung nelayan ini melalui lalu lintas sungai. Itu pun tidak lancar karena harus mempertimbangkan pasang naik dan pasang surut.

Sebagian besar warga Sidoarjo, kecuali masyarakat nelayan, tidak tahu kalau ada kampung nelayan yang eksotik dan khas di Kabupaten Sidoarjo bernama Kepetingan. Karena sulit diakses, jarang dikunjungi orang, masyarakat Kepetingan punya karakter yang unik. Warga sangat guyub dan rukun. Semua orang saling mengenal satu sama lain, bahkan hingga beberapa generasi ke belakang.

“Orang Surabaya atau Sidoarjo biasanya bingung kalau ada banjir, kami di Kepetingan sudah akrab dengan air. Air masuk ke perkampungan itu biasa,” ujar Anshori lantas tertawa kecil.

Kampung Kepetingan alias Ketingan berlokasi di muara sungai, menjelang perairan Selat Madura. Jangan heran, ketika pasang besar, air laut pun masuk ke kampung. Kepetingan pun tenggelam. “Kehidupan kami memang sudah seperti itu,” katanya.

Karena terisolasi, anak-anak keluarga pekerja tambak di Kepetingan, Bromo, atau Pucukan kebanyakan kurang tertarik dengan sekolah. Sejak kecil mereka terbiasa membantu orang tuanya bekerja di tambak. Ada memang sekolah dasar (SD) pamong, tapi peminatnya sangat sedikit. Kalaupun sekolah, anak-anak tambak itu biasanya drop-out alias tak sampai tamat kelas enam.

Begitulah. Sejak dulu Kepetingan memang dikenal sebagai sentra tambak di muara sungai Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Semua penduduk menjadi pekerja tambak yang luasnya mencapai ratusan hektare itu. Di sela-sela mengurus tambak, mereka mencari kerang, kupang, kepiting, dan berbagai hasil laut.
“Di Kepetingan itu memang banyak tambak, tapi yang punya juragan-juragan dari kota. Warga kami hanya jadi pekerja tambak biasa,” papar Anshori.

Di masa kecilnya, ketika sekolah di Madrasah Ibtidaiah Kepetingan, sekolah rintisan alias sekolah pamong, Anshori sangat menikmati permainan khas anak-anak nelayan Sidoarjo. Mencari kepiting, kerang, memancing, mencari madu, berburu, dan sebagainya. Hasil tangkapan sebagian dibawa pulang dan sebagian lagi diolah dan dinikmati bersama teman-teman ciliknya.

“Sea food terbaik itu yang langsung diambil di laut dan diolah di situ. Kalau sudah dibawa ke restoran, biarpun dimasak oleh koki paling top, rasanya masih kalah dengan yang di Kepetingan,” kata Anshori sambil tersenyum lebar.

Hajatan yang selalu ditunggu-tunggu bocah Kepetingan adalah nyadran. Upacara syukuran khas masyarakat nelayan di Sidoarjo. Kepetingan selalu menjadi tujuan komunitas nelayan Bluru Kidul (Sidoarjo) dan Balongdowo (Candi) saat tasyakuran laut. Sebab, di Kepetingan ada Makam Dewi Sekardadu, ibunda Sunan Giri, yang sangat dihormati masyarakat nelayan. Nyadran tempo dulu, cerita Anshori, sangat meriah karena diikuti ratusan perahu pada malam hari.

“Hiburannya banyak,” kenang Anshori. Begitu rombongan nelayan tiba di Kepetingan, warga Kepetingan menyambut dengan hadrah, pencak silat, dan atraksi hiburan tradisional-religius lainnya. Upacara dilanjutkan dengan nyekar ke Makam Dewi Sekardadu dan pengajian akbar.

“Kebetulan modinnya bapak saya, almarhum Subhan. Beliau yang selalu memimpin pengajian saat nyadran,” ungkap putra keenam dari sembilan bersaudara itu.
Anshori sangat yakin sukses yang diraih sekarang, termasuk saudara-saudaranya yang lain, berkat doa yang istikamah dari almarhum ayahnya, Subhan, modin terkenal di Kepetingan. Kapten TNI Suwarno, kakak Anshori, saat ini terkenal sebagai instruktur meriam (cannon) di Pusdik Bandung. Di Indonesia, keahlian seperti Suwarno terbilang sangat langka.

“Makanya, Kapten Suwarno ini jadi kebanggaan orang-orang di Kepetingan,” kata Anshori lantas tertawa.

Kini, meski sudah jadi ‘orang kota’ dan sibuk di KPU Sidoarjo, Anshori tak melupakan asal-usulnya sebagai arek tambak di kampung paling terpencil di Sidoarjo. Sesekali dia masih menyempatkan diri berkunjung ke kampung halamannya. Anshori telah menjadi inspirasi bagi bocah-bocah tambak meraih mimpi dan masa depan yang lebih baik. (rek)

Tangani Kasus Marsinah dan Nipah

Sejak masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, bakat aktivis Anshori sudah sangat menonjol. Saat itu rezim Soeharto yang kian menua nyaris tidak memberi ruang sedikit pun pada suara oposisi. Aparat tak segan-segan menangkap aktivis, termasuk mahasiswa, yang dinilai membahayakan stabilitas nasional.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, waktu itu, menerapkan apa yang disebut Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) untuk membatasi ruang gerak mahasiswa. Namun, Anshori justru tidak gentar. Selain kuliah seperti mahasiswa-mahasiswa biasa, dia malah bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya.

“Saya gabung sama LBH tahun 1989,” tutur Anshori kepada Radar Surabaya. Saat itu LBH Surabaya diperkuat tokoh-tokoh prodemokrasi macam Muhammad Zaidun, Indra Sugianto, Munir Said Thalib (almarhum), Eko Sasmito, Poengky Indarti, Dadang Tri Sasongko.

Hampir setiap hari LBH yang berkantor di Jalan Kidal Surabaya menerima rakyat kecil yang menjadi korban kesewenang-wenangan aparat Orde Baru. Puluhan buruh yang di-PHK, petani yang tanahnya digusur tanpa kompensasi, aktivis mahasiswa yang direpresi di kampusnya, dan sebagainya. LBH menjadi tumpuan harapan karena wakil rakyat di DPR/DPRD belum bisa diandalkan. Pers bebas pun belum dikenal di Indonesia.

“Saya bersama kawan-kawan, termasuk Cak Munir, setiap hari mengadvokasi masyarakat yang punya masalah di bidang hak asasi manusia, PHK, dan sebagainya,” ujar pria yang masih suka memancing ini.

Di usia yang masih sangat muda itu, Anshori bersyukur bisa terlibat langsung dalam penanganan kasus-kasus HAM berskala besar seperti kasus pembunuhan Marsinah, aktivis buruh PT Catur Putra Surya, di Porong, Sidoarjo, serta kasus Nipah di Sampang, Madura. Dua kasus ini--Marsinah dan Nipah--sangat menantang, tapi juga ‘mengerikan’ karena melibatkan aparat negara baik langsung maupun tak langsung.

Ancaman atau teror mental mulai yang kecil, sedang, hingga kelas berat menjadi makanan sehari-hari Anshori dan kawan-kawan. Tapi, bermodalkan idealisme yang menggebu-gebu, para aktivis LBH Surabaya tetap memperjuangkan hak-hak wong cilik yang digerogoti rezim militeristik itu. Anshori pun ditempat menjadi pembela wong cilik.

Karena sejak mahasiswa sudah aktif di LBH Surabaya, Anshori tak perlu pusing-pusing mencari pekerjaan selepas lulus Fakultas Hukum Unair. Otomatis di bekerja di LBH. Maka, tak heran, Anshori sampai sekarang tetap dianggap sebagai ‘orang LBH’ meskipun sejak lima tahun lalu sibuk di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sidoarjo. “Yah, saya memang tidak bisa lepas dari LBH,” katanya.

Ketika LBH Surabaya sempat oleng beberapa tahun lalu, Dr Adnan Buyung Nasution meminta bantuan Anshori untuk turun tangan. Bang Buyung, pendekar hukum yang juga ‘sesepuh LBH’, menilai Anshori sebagai orang paling tepat karena terlibat di LBH Surabaya dalam masa yang cukup panjang.

“Alhamdulillah, akhirnya LBH Surabaya normal kembali,” katanya. (*)



Integritas Tak Bisa Digadaikan


Pemilihan bupati (pilbub) Sidoarjo akan digelar pada 25 Juli 2010, Ahad Wage. Saat ini sejumlah tokoh berlomba-lomba melakukan ‘sosialisasi’ dengan memasang baliho, poster, serta iklan di media massa. Bagaimana persiapan KPU Sidoarjo menyambut pemilukada ini? Berikut wawancara khusus Radar Surabaya dengan Ketua KPU Sidoarjo Anshori SH di ruang kerjanya, Sabtu (6/3/2010).


Tahapan pemilukada di Sidoarjo sudah sampai di mana?

Kami baru saja membentuk Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) di tingkat desa. Bulan Maret ini fokus kami di pemutakhiran daftar pemilih. Kami berusaha agar semua warga Sidoarjo yang punya hak memilih masuk daftar. Jangan sampai ada yang kelewatan.

Bahannya dari data pilpres kemarin?

Kami komparasikan data yang di pilpres dengan DP4. Proses ini akan berlangsung sampai 10 Juni. Masih cukup lama. Kami juga menyebarluaskan informasi ini lewat spanduk, poster, baliho... agar masyarakat proaktif. Silakan hubungi RT/RW setempat kalau ada warga yang merasa namanya tidak masuk daftar pemilih. Prinsipnya, KpU Sidoarjo tidak ingin ada satu pun warga yang tercecer.

Kira-kira berapa pasangan calon yang akan berlaga pada pemilukada Sidoarjo, 25 Juli?

Secara matematis bisa lima pasang. Tapi, kalau ada koalisi, bisa lebih sedikit. Itu calon yang diajukan oleh partai politik. Kalau calon perseorangan, kita masih harus lihat dulu hasil verifikasi nanti. Sebab, calon perseorangan itu harus didukung sekitar 60 ribu orang. Dan itu dibuktikan dengan KTP. Cocok nggak dengan orang di lapangan? Khusus calon independen atau perseorangan penyerahan dukungan diagendakan pada 1-6 April.

Pendaftaran bakal calon ke KPU kapan?

Awal Mei 2010. KPU Sidoarjo sebagai penyelenggara pemilukada tentu siap memproses baik bakal calon yang diajukan parpol atau gabungan parpol maupun calon perseorangan. Mudah-mudahan semua tahapan ini berjalan dengan aman dan lancar.

Berapa biaya pemilukada Sidoarjo?

Pembiayaan pemilukada satu putaran Rp 18,8 miliar. Dan itu baru didok akhir Januari 2010, kemudian disampaikan ke gubernur untuk diperdakan. Jadi, butuh waktu untuk cair. Karena itu, kami terpaksa pontang-panting agar bisa melaksanakan tahapan pemilukada yang harus sudah berjalan sebelum keluar anggaran. Kami harus hati-hati karena tidak boleh ada bailout atau dana talangan.

Kalau ada putaran kedua, perlu tambahan berapa lagi?

Separonya, Rp 9,4 miliar.

Biaya pemilukada cukup besar ya?

Sangat besar. Saya selalu bilang jangan beri kami anggaran yang berlebihan, tapi yang cukup. Sebab, di balik anggaran yang besar itu ada akuntabilitas dan amanah. Uang rakyat itu harus dipakai secara amanah dan bertanggung jawab.

Anda bisa menjamin independensi KPU dari godaan-godaan menggiurkan dari para kandidat, parpol, cukong, atau tim sukses?

Insya Allah. Salah satu kunci sukses pemilukada adalah independensi penyelenggara, yakni KPU dan jajarannya. Ini menjadi harga mati. Komitmen dan integritas KPU tidak dapat digadaikan dengan apa pun. (rek)




BIODATA SINGKAT

Nama : Anshori
Tempat/Tanggal Lahir : Sidoarjo, 13 April 1969
Jabatan : Ketua KPU Sidoarjo
Hobi : Memancing, olahraga

PENDIDIKAN
MI Kepetingan
SDN Bluru Kidul I
SMPN I Sidoarjo
SMAN I Sidoarjo
Fakultas Hukum Universitas Airlangga (S-1 & S-2)


ORGANISASI/LEMBAGA
LBH Surabaya
Yayasan Pengembangan Sumber Daya Indonesia
Walhi Jatim
KPU Sidoarjo

Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu 7 Maret 2010

3 comments:

  1. Selamat untuk Anshori atas amanah baru yang diemban sebagai Ketua KPU Sidoarjo ya! Aku sebagai konco dewe melok bangga, Rek! Salam hangat dari Jakarta, Poengky Indarti (Kawan di FH Unair dan LBH Surabaya)

    ReplyDelete
  2. netralitas KPU sda sangat diharapkan krn pada pilkada lima thn lalu KPU cenderung mendukung incumbent, Win-Saiful. aku gak tahu perkembangan pilkada yg sekarang kr sudah tinggal di luar sda. dan sebaiknya anggota KPU tidak menjabat terlalu lama, cepat dirolling, agar tidak terjadi KKN dengan pejabat di aderah atau calon2 yg ada.

    cak wahid

    ReplyDelete
  3. Ya Allah,,semoga ada pak anshori-pak anshori baru di Kepetingan dan gebang yang dapat memajukan dan memperdayakan Kepetingan dan gebang ke arah yang lebih baik lagi,,^^
    aaaaaaaaammmiiin,,

    ReplyDelete