20 February 2010

Tjioe Giok Hong dan Kue Keranjang



Selama sebulan ini suasana di rumah Tjioe Giok Hong di Jalan Karangsem XV/61 Surabaya sibuk bukan main. Rumah itu untuk sementara ‘disulap’ menjadi pabrik nian gao, kue khas tahun baru Imlek, yang lebih dikenal dengan kue keranjang alias kue ranjang.


Oleh LAMBERTUS HUREK

Saat dikunjungi Radar Surabaya, Kamis (11/2/2010) siang, istri Tirto Soenjoyo ini tampak sibuk mengawasi para karyawannya yang sedang membuat adonan daun pandan untuk campuran nian gao alias kue keranjang alias kue ranjang. Di ruang tamu terdapat tumpukan kertas berwarna merah bertuliskan kue ranjang istimewa dan gong sie fat choi untuk kemasan kue ranjangnya.

Meski begitu, Tjioe Giok Hong bersedia melayani wawancara khusus dengan Radar Surabaya. Berikut petikannya:

Sejak kapan Anda memulai bisnis kue ranjang?

Sejak 1987 saya mulai coba-coba bikin kue ranjang. Kebetulan waktu itu belum banyak orang yang bikin kue ranjang dalam jumlah besar untuk dipasarkan ke mana-mana. Ternyata, usaha yang awalnya hanya sekadar coba-coba disukai teman-teman.

Saya memang hanya mengandalkan jaringan dengan teman-teman saja. Saya nggak pernah membuka toko khusus atau stan kue ranjang. Yah, hanya gethuk tular saja. Rupanya, teman saya menyebarkan informasi ini ke temannya dan seterusnya.

Anda memang sejak kecil sudah biasa bikin kue ranjang?


Nggak pernah. Kue ranjang ini memang kue tradisional untuk orang-orang Tionghoa yang akan merayakan tahun baru Imlek (Sin Cia). Tapi generasi muda Tionghoa jarang sekali yang bisa membuat meskipun caranya sangat mudah.

Hanya orang-orang Tionghoa yang sepuh-sepuh yang bisa bikin. Dan, biasanya, kue ranjang itu dibuat untuk dikonsumsi di lingkungan keluarga sendiri. Tidak untuk dijual ke mana-mana. Saya baru mulai menekuni kue ranjang setelah belajar pada mertua saya, namanya Go Loe Lak. Ibu mertua saya ini memang pintar bikin kue ranjang.

Bahan-bahan kue ranjang apa saja?


Sederhana banget. Bahan dasar itu hanya tepung ketan, gula pasir, dan air. Sejak zaman Tiongkok kuno, ya, kue ranjang itu pasti dari tepun ketan dan gula. Kemudian kita buat variasi dengan tambahan pandan, cokelat, karamel, jeruk, teh hijau. Karena sudah jadi tradisi, komposisi kue ranjang akan selalu sama dari waktu ke waktu.

Hanya saja, lain koki lain masakannya. Rasa kue ranjang berbeda-beda antara satu pembuat dengan pembuat lainnya. Ada yang terlalu manis, ada yang kayak dodol biasa. Kalau buatan saya, silakan dirasakan sendiri. Kata para pelanggan saya sih ciamik banget. Hehehe....


Ketika baru membuka usaha home industry kue ranjang tahun 1987, Anda menghabiskan berapa kilogram tepung ketan?


Hanya 70-an kilogram. Saya belum berani membuat terlalu banyak karena belum punya pengalaman sama sekali. Saya hanya bisa meraba-raba, main feeling saja. Syukurlah, semua kue ranjang yang saya bikin pertama kali itu tidak kembali. Laku semua.

Itu yang membuat Anda makin percaya diri?


Iya. Saya senang karena ternyata kue ranjang buatan saya disukai teman-teman dan kenalan saya. Tahun 1988 saya habiskan 100 kilogram tepung ketan. Kemudian naik lagi 125 kilogram, 150 kilogram....

Kemudian pada zamannya Gus Dur (almarhum) menjadi presiden, melejit sampai 2.000 kilogram atau dua ton. Pesanan waktu itu datang bertubi-tubi sehingga saya harus menambah karyawan. Tapi saya senang karena semua kue buatan saya tidak kembali. Semuanya terserap di pasar.

Sekarang juga bikin sampai dua ton?


Oh, nggak. Cuma sekali itu yang sampai dua ton. Sebab, setelah Gus Dur mengizinkan perayaan Imlek sebagai hari libur nasional, semakin banyak orang yang membuka usaha kue ranjang. Orang-orang lama yang sempat tidak aktif pun terjun lagi dalam bisnis musiman ini.

Bahkan, di pasar-pasar tradisional kita bisa dengan mudah menemukan kue ranjang dengan harga yang sangat murah. Kue ranjang bahkan dijual bersama-sama kue-kue atau jajanan pasar yang lain. Jadi, sangat sulit membuat kue ranjang sampai dua ton seperti era Gus Dur.

Berapa macam nian gao yang Anda buat untuk tahun baru Imlek 2561 ini?


Lima macam. Khusus tahun ini saya perkenalkan kue ranjang green tea. Kue ranjang biasa dimodifikasi dengan teh hijau yang sangat berkhasiat itu. Teh hijaunya cukup didatangkan dari Sidoarjo. Jadi, produk saya ini 100 komponen lokal, made in Indonesia.

Sebelumnya, setiap tahun saya bikin empat macam. Yakni, kue ranjang karamel (warna merah kecokelatan), kue ranjang cokelat (pakai bubuk cokelat, warna cokelat kehitaman), kue ranjang pandan (warna hijau), dan kue ranjang rasa jeruk (warna kuning atau oranye).

Mana yang paling disukai?


Jelas yang karamel. Itu kue ranjang klasik, yang sudah dikenal orang Tionghoa dari generasi ke generasi. Zaman dulu, ya, orang hanya mengenal yang karamel itu. Tapi belakangan dibuat modifikasi agar kue ranjang lebih menarik dan disukai orang banyak.

Harga gula dan tepung ketan kayaknya naik. Apakah kue ranjang juga ikut naik?


Betul. Tahun ini harga kue ranjang buatan saya naik rata-rata Rp 10.000. Kalau tahun lalu saya jual Rp 40.000 sampai Rp 50.000, sekarang jadi Rp 50.000 sampai Rp 60.000. Kenaikan harga gula pasir memang terlalu tinggi. Demikian juga dengan tepung ketan yang naik terus. Kita sih tergantung harga bahan baku. Kalau bahan bakunya murah, ya, harga kue ranjang bisa ditekan.

Bisnis kue ranjang ini musiman, hanya setahun sekali?


Iya. Dan hanya dibuat untuk memeriahkan Sin Cia. Setelah itu, ya, selesai. Tidak ada produksi lagi. Tahun ini saya mulai bikin sejak satu bulan lalu sampai hari ini (11/2). Order-order harus harus segera dipenuhi karena malam Minggu kan sudah masuk tahun baru Imlek. Tahun depan, satu bulan menjelang Sin Cia, ya, saya produksi lagi.

Tidak memproduksi kue khas Tionghoa lain seperti kue bulan (tiong chiu pia)?


Oh, tidak. Sebab, cara membuat kue bulan sangat berbeda dengan kue ranjang. Kue bulan itu pakai oven. Dan tidak semua orang bisa membuat kue bulan dengan baik. Setiap orang punya spesialisasi sendiri-sendiri. Kalau dipaksakan membuat kue jenis lain, hasilnya pasti tidak bagus. (*)


BIODATA

Nama : Tjioe Giok Hong
Tempat Lahir : Surabaya
Suami : Tirto Soenjoyo
Anak : 5 orang, semua perempuan
Profesi : Pembuat kue keranjang
Hobi : Dengar musik
Alamat : Karangasem XV/61 Surabaya

Pendidikan :
SDK Gabriel Surabaya
SMPK Santa Agnes
SMAK Santa Agnes








Selalu Berdoa sebelum Kerja


Kue ranjang alias kue keranjang (nian gao) sejatinya jajanan yang sangat sederhana. Bahannya cukup tepung beras ketan dan gula pasir. Rasanya sangat manis dan legit.


Orang Tionghoa biasa menikmati kue ranjang ini bersama keluarga untuk memeriahkan tahun baru Imlek (Sin Cia). Karena hanya dibuat setahun sekali, kue tradisional ini sedapat mungkin tersedia di rumah-rumah keluarga Tionghoa. “Namanya juga sudah tradisi,” kata Tjioe Giok Hong kepada Radar Surabaya.

Namun, karena sudah menjadi tradisi dari generasi ke generasi selama ribuan tahun, menurut Giok Hong, tidak semua orang bisa membuat kue ranjang dengan baik. Kalau dipaksakan sih bisa saja, tapi hasilnya tak akan optimal.

Bahkan, Giok Hong yang sudah menekuni bisnis kue ranjang selama 23 tahun pun beberapa kali mengalami kegagalan. Adonanan sudah betul, prosedurnya oke, eh ternyata kuenya tidak jadi. “Beberapa hari lalu kuenya nggak jadi karena tiba-tiba ada adonan yang tertukar,” katanya.

Adonan macam ini tentu saja tak mungkin menghasilkan nian gao yang diinginkan. Apalagi harus dititipkan di toko-toko atau pusat belanja tertentu. “Kita nggak sadar, tiba-tiba saja ada kendala dalam proses produksi,” kata lulusan SMA Santa Agnes Surabaya ini.

Karena itu, Giok Hong selalu menjadikan pekerjaan membuat kue ranjang sebagai bagian dari ibadah kepada Sang Pencipta. Bukankah Sin Cia dalam tradisi dan kepercayaan Tionghoa merupakan momentum yang sangat istimewa? Tak heran, Giok Hong selalu berdoa di rumahnya sebelum memulai proses membuat kue ranjang.

“Saya juga usahakan agar hati ini tetap bersih, tidak ada beban di hati. Pekerjaan apa pun kalau dilakukan dengan hati yang bersih, ditambah doa kepada Sang Pencipta, pasti berhasil,” kata ibu rumah tangga yang ramah ini.

Giok Hong juga selalu menciptakan kondisi yang nyaman bagi sembilan pekerjanya untuk bekerja dengan gembira dan penuh semangat. Kondisi macam itulah yang membuat usaha kue ranjang di kawasan Karangasem ini bisa bertahan hingga lebih dari dua dasawarsa. (rek)

Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu 14 Februari 2010.

8 comments:

  1. Laporan Pak Lambertus Hurek selalu menarik, supaya kita bisa menikmati dgn senang. Terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Thank You Pak Lambertus buat postingnya..

    ReplyDelete
  3. salam kenal... moga2 kue yg manis itu bikin hidup bertambah manis...

    ReplyDelete
  4. tradisi membuat kue ranjang memang agak berkurang krn org pada membeli langsung di toko2 kua yg sudah jadi, ketimbang bikin sendiri di rumah. shg tidak semua keluarga tionghoa punya kesibukan bikin niangao jelang imlek. biasanya pesan di toko2 langganan atau kenalan... ini juga bagus krn memberikan peluang bisnis utk home industry...

    ReplyDelete
  5. Lezat sekali nih kue ranjang ini.

    ReplyDelete
  6. hehehe... kue keranjang itu gak lezat karena terlalu manissss. rasanya kayak makan gula pasir aja. anehnya, orang tionghoa, khususnya asli tiongkok, sangat anti gula kalau bikin teh. tidak ada teh china yang pakai gula. tapi nian gao alias kue keranjangnya malah full gula.

    ReplyDelete
  7. Boleh mintak contact personnya nggak, karena ada yang mau order

    ReplyDelete
  8. Boleh mintak Contact Personnya nggak? karena ada yang mau ngorder

    ReplyDelete