07 February 2010

Siti Rijati Pelukis Senior Surabaya



Pekan lalu, Hj Siti Rijati genap berusia 76 tahun. Namun, pelukis senior ini masih tetap aktif berkarya. Bahkan, Siti ikut pameran bersama 14 pelukis perempuan se-Jawa Timur di Hotel Grand Mirama, Jalan Raya Darmo Surabaya.

Di sela-sela kesibukannya, Siti Rijati menerima Radar Surabaya untuk wawancara khusus di rumahnya di kawasan Ngagel Jaya Selatan Surabaya, Sabtu (30/1/2010). Berikut petikannya:

Oleh LAMBERTUS HUREK

Selamat ulang tahun, Bu! Kalau tidak salah, Anda baru berulang tahun minggu lalu.

Matur nuwun. Sekarang usia saya sudah 76 tahun, sebentar lagi mau masuk 80 tahun. Nggak terasa perjalanan hidup saya sudah sedemikian jauh. Makanya, jangan marah kalau saya sering pangling, lupa sama orang, meskipun sudah kenal baik. Maklum, sudah sepuh.

Apa resepnya bisa berumur panjang, produktif, aktif di berbagai kegiatan?

Nggak pakai resep-resepan. Ini semua anugerah dari Allah SWT sehingga saya masih dikasih umur. Saya malah pernah jadi korban kecelakaan lalu lintas, akhir 2008. Waktu itu saya pergi ke pasar bersama cucu di sebelah rumah. Tahu-tahu, setelah sadar, saya sudah berada di UGD rumah sakit.

Alhamdulillah, setelah di-scan, kondisi badan saya nggak apa-apa. Hanya telinga kiri yang dijahit. Makanya, saya selalu percaya bahwa mati hidup, umur manusia, itu hanya di tangan Allah SWT. Saya bersyukur banget masih dikasih kesempatan untuk hidup dan bisa bertahan seperti sekarang.

Gara-gara kecelakaan itu, saya sempat berhenti melukis karena nggak kuat. Saya paksakan juga nggak bisa. Akhir-akhir ini saja saya mulai melukis lagi. Tapi tidak bisa produktif lagi seperti dulu. Saya juga masih bisa ke mana-mana asalkan dijemput. Dulu, sebelum kecelakaan itu, kalau ada undangan, saya selalu usahakan datang. Sekarang yang undang itu yang harus jemput saya. Hehehe....

Bagaimana hasil pameran bersama di Mirama kemarin?

Alhamdulillah, ada sebuah lukisan saya yang dikoleksi orang. (Masing-masing pelukis menampilkan tiga lukisan dalam pameran bersama ini.) Yang laku itu lukisan saya tentang pasar tradisional. Katanya panitia, dari semua lukisan yang dipamerkan, hanya punya saya yang laku. Artinya, karya saya ternyata masih diminati orang.

(Siti Rijati kemudian mengajak Radar Surabaya menikmati puluhan lukisannya yang dipajang di rumah sekaligus galeri. Sayang, kurang terawat karena tidak ada asisten atau pekerja khusus yang membersihkan debu dan sebagainya. Ratusan lukisan lain disimpan di lemari karena ruangan di rumahnya tidak cukup.)

Wah, lukisan Anda banyak sekali, bahkan sampai dipajang di garasi, teras, sampai kamar belakang!

Alhamdulillah, lukisan-lukisan ini saya anggap sebagai harta karun saya. Saya melukis sejak 1974 dan hasilnya, ya, bisa dilihat sekarang. Sudah banyak yang dikoleksi orang. Saya sendiri tidak tahu sudah berapa banyak lukisan yang saya buat. Enaknya sih kalau dikoleksi, pelukisnya dapat uang, bisa hidup. Tapi saya sering kasihan, eman, kalau lukisan saya dikoleksi orang lain.

Mengapa begitu?

Lha, saya kalau melukis itu kalau ada semacam getaran di hati. Ada rasa. Harus konsentrasi penuh. Kalau hati ini kurang pas, ya, tidak melukis. Makanya, lukisan-lukisan itu sebenarnya hasil dari getaran di dalam hati. Dia bukan sekadar barang atau benda biasa.

Lukisan-lukisan Anda ini banyak bertema pemandangan alam.

Memang saya dari dulu senang pemandangan yang indah-indah, khususnya yang ada airnya. Pantai Kenjeran, Air Terjun Kakekbodo, Pantai Ngliyep, Pantai Tuban, Gunung Bromo, pasar tradisional, bunga, dan sebagainya. Saya kalau melihat pemandangan yang bagus-bagus biasanya langsung tergerak untuk melukis.

Artinya, Anda selalu langsung ke lokasi?

Iyalah. Seniman lukis yang benar itu, ya, harus datang ke lokasi untuk menangkap roh dari objek lukisannya. Kalau hanya melukis dari foto, ya, bisa saja jadi lukisan. Tapi pasti pelukisnya tidak puas karena tidak ada getarannya. Ini yang membuat saya seperti ‘terikat’ dengan semua lukisan saya. Sebab, saya tahu persis bagaimana proses saya menghasilkan lukisan-lukisan tersebut.

Saya lihat ada lukisan Anda yang kaligrafi. Sejak kapan Anda menekuni jenis itu?

Sejak pulang dari naik haji. Saya merasa bersyukur kepada Allah karena doa-doa saya selama ini terkabul. Anda tahu seniman, khususnya pelukis, itu penghasilannya tidak tentu. Kita tidak tahu kapan sebuah lukisan dikoleksi orang. Kalaupun dikoleksi atau laku, nilainya pun tidak ada patokan.

Makanya, jarang ada pelukis yang bisa naik haji, menunaikan rukun Islam kelima, agar kehidupannya lebih tenang. Alhamdulillah, saya dikasih rezeki oleh Allah sehingga bisa berhaji tahun 2001. Waktu itu umur saya 67 tahun. Sejak itu saya mulai melukis Ayat Kursi yang sangat penting bagi umat Islam.

Saya sudah merasakan manfaatnya membaca Ayat Kursi secara teratur. Contoh nyata, ya, saya selamat dari kecelakaan lalu lintas meskipun semua orang khawatir ketika saya koma cukup lama di UGD.

Sampai kapan Anda melukis mengingat usia Anda sudah mendekati 80?

Saya nggak tahu. Pokoknya sampai saya tidak mampu melukis lagi. Saya hanya pasrah sama Allah SWT karena saya masih diberi kesempatan untuk hidup dan berbuat sesuatu untuk orang lain. Berbuat sesuatu itu, bagi pelukis, ya, membuat lukisan. Perkara laku atau tidak, itu soal lain. Saya sendiri nggak mikir lukisanku laku atau tidak. Hidup itu mengalir saja seperti air. (*)



Sempat Disindir Masuk Neraka

Belum semua orang mau menghargai profesi pelukis. Melukis bahkan sering dianggap hanya sebagai hobi atau kesenangan belaka. Bukan profesi layaknya pegawai kantoran atau pengusaha.

Itu yang dirasakan Siti Rijati. “Banyak orang yang tidak suka melihat saya jadi pelukis. Perempuan kok jadi pelukis? Nanti makan apa?” ujar pelukis senior ini menirukan sindiran sejumlah kerabat dan kenalannya.

Sindiran itu bahkan terbawa ke ranah agama. Suatu ketika Siti ikut pengajian bersama ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya. Sang penceramah kemudian membahas profesi pelukis. “Penceramah itu bilang kalau semua pelukis itu yang nomor satu masuk neraka,” Siti Rijati mengenang.

Kalimat ini selalu terngiang di telinga Siti selama bertahun. Dia mengaku tak habis pikir dengan ‘vonis neraka’ untuk orang yang kebetulan menjadikan seni rupa sebagai pilihan hidupnya. 


“Saya pikir, kok bisa-bisanya dia memvonis seperti itu? Surga dan neraka itu kan urusan Allah? Masak, ada manusia berani bilang seperti itu?”

Namun, di balik isi ceramah yang tajam itu ada hikmahnya buat Siti Rijati. Perempuan yang antara lain berguru pada Krisna Mustajab (alm), maestro lukis Surabaya, ini justru semakin memperbanyak ibadahnya kepada Allah SWT. Puasa Senin-Kamis, salat malam, dan menunaikan ibadah-ibadah sunah lainnya.

“Karena saya bertekad segera naik haji. Saya ingin segera ke Tanah Suci, menjalankan rukun Islam kelima. Saya ingin buktikan kalau pelukis itu juga abdi Allah,” tutur Siti Rijati yang mulai melukis sejak 1974.

Selain banyak beribadah, Siti justru makin termotivasi untuk melukis sebanyak-banyaknya. Tiada hari tanpa melukis. Fokusnya jelas: ingin segera naik haji! “Alhamdulillah, 18 bulan kemudian niat saya terkabul. Saya akhirnya bisa naik haji,” ucapnya.

Sepulang dari Tanah Suci, dan resmi menyandang gelar hajah, Siti Rijati mengaku makin tenang dan nyaman menjalani kehidupan. Tak ada lagi suara-suara sumbang yang menyindir profesi pelukis seperti dulu.




Ngajar Syahadat untuk Mualaf

DIBANDINGKAN pelukis-pelukis umumnya, Hj Siti Rijati terbilang mapan. Rumahnya di Ngagel Jaya Selatan I/16 Surabaya tergolong megah dengan pekarangan yang luas. Kompleks ini memang dihuni kalangan menengah ke atas.

“Banyak penghuni lama yang sudah menjual rumahnya ke pengusaha. Mereka ingin dapat uang banyak. Tapi saya nggak mau jual rumah ini,” ujar Siti Rijati kepada Radar Surabaya.

Karena rumahnya besar dan luas, sementara dua anaknya sudah berkeluarga dan mapan di Jakarta, beberapa kamar dikoskan. Ada mahasiswa dan karyawan yang kos di situ. Siti pun kerap menggelar pengajian di rumahnya. “Jadi, saya nggak kesepian,” katanya.

Bukan itu saja. Jika ada seniman atau aktivis kesenian dari luar negeri yang membutuhkan tumpangan dalam waktu lama, Siti Rijati selalu jadi rujukan. Itulah yang terjadi dengan Christine Rod, aktivis kesenian asal Jenewa, Swiss. Ketika melakukan riset dan dialog dengan seniman-seniman di Surabaya, Sidoarjo, Solo, Jogjakarta, Christine menginap di rumah Siti.

“Bu Siti itu sudah seperti ibu kandung saya. Orangnya baik dan sabar,” ujar Christine Rod kepada Radar Surabaya suatu ketika.

Siti bahkan mengajarkan agama Islam kepada Christine ketika hendak menikah dengan Nasrullah, pelukis asal Sidoarjo. Setiap hari Siti mengaku mengajari perempuan Eropa itu lafal dua kalimat syahadat. 

“Waduh, susahnya setengah mati. Bolak-balik diulang, nggak hafal-hafal. Saya sampai bingung,” tutur Rijati lantas tertawa kecil.

Karena itu, setiap kali berlibur ke Indonesia, Christine tak lupa mampir dan menginap di rumah Rijati.



Nama : Hj Siti Rijati
Lahir : Mojokerto 24 Januari 1934
Pendidikan : Pusat Pendidikan Seni Jatim, Painting Circle Surabaya
Pameran tunggal :
- Taman Budaya Jatim
- Galeri Surabaya
- Hotel Radisson Surabaya
- Yayasan Persahabatan Indonesia-AS

Pameran bersama:
Berkali-kali di Surabaya, Jakarta, Jogjakarta
Alamat : Ngagel Jaya Selatan I/16 Surabaya


Dimuat RADAR SURABAYA edisi 31 Januari 2010

No comments:

Post a Comment