15 February 2010

Sin Cia di Klenteng Cokro



Hilir-mudik pengunjung terlihat di Klenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya. Makin malam makin ramai. Sekitar pukul 23.00, Sabtu (13/2/2010), jemaat tumplek-blek di klenteng yang dihiasi warna merah menyala itu. Para Pemain barongsai pun tampak bersiap-siap di pelataran.

“Kita selalu melepas tahun lama dan menyambut tahun baru dengan doa bersama. Dan selalu dilakukan tepat pukul 00.00,” ujar Juliani Pudjiastuti, pemimpin Klenteng Hong San Ko Tee, kepada saya.

Meski duduk di kursi roda, Juliani terlihat ceria. Dia menyambut hangat para jemaat yang hendak ber-Sin Cia di Klenteng Hong San Ko Tee. "Jemaat yang sembahyangan di sini memang banyak. Mereka umumnya kenal saya, tapi saya sering gak kenal mereka," katanya.

"Bu Juli kan pimpinan, bos, ya, pasti dikenal orang. Apalagi sering diliput media massa. Hehehe...," timpal saya.

"Wah, sebetulnya saya kurang suka diekspos karena bisa menimbulkan persepsi macam-macam. Tapi, karena wartawan sudah datang ke sini, ya, saya bicara supaya beritanya nggak melenceng. Lagi pula, saya ini kan ingin selalu dekat dengan siapa saja. Nggak pandang Tionghoa, Jawa, Madura, Flores, Bali, dan sebagainya," kata bekas guru yang lulusan SPG Katolik Santa Maria Surabaya itu.

Juliani kemudian mengutip hukum CINTA KASIH yang sering dibicarakan orang Kristen. Kutipan ini jelas berasal dari Perjanjian Baru, salah satunya Injil Matius 22:36. Juliani sangat hafal ayat ini karena sebelum mengelola Klenteng Hong San Ko Tee, dia beragama Katolik. Sering ke gereja, dulu, dan berteman dengan banyak pastor. Salah satunya Romo Thoby Muda Kraeng SVD, pastor asal Lembata, Flores Timur.

"Orang hidup itu kuncinya CINTA KASIH. Hukum CINTA KASIH itu mengatakan: Cintailah sesamamu MANUSIA seperti dirimu sendiri. Citailah SESAMA MANUSIA. Bukan cintailah hanya sesama Tionghoa, sesama orang Flores, sesama orang klenteng, sesama orang Kristen. Ingat itu!" papar Juliani.

Wah, wah.... Saya seakan mendengar khotbah pastor atau bruder justru di kompleks klenteng. Bukan main ibu yang satu ini! Ah, seandainya semua pemuka agama di Indonesia macam Bu Juliani ini!

Mendekati pukul 00.00, Juliani mengambil posisi di depan altar utama. Ratusan jemaat lain pun berdiri sambil memegang hio. Tak lama kemudian lonceng dibunyikan. Malam pergantian tahun pun tiba. Dipimpin salah satu rohaniwan, umat melakukan doa bersama sambil mengangkat hionya masing-masing.

Ritual ini berlangsung sekitar 30 menit. Setelah itu mereka berkeliling tujuh kali di dalam kompleks klenteng. Mendatangi altar dewa-dewi yang ada. “Semua dewa didatangi. Ya, dewa bumi, dewa rezeki, dewi welas asih... pokoknya semua. Malam Sin Cia memang merupakan malam terbaik untuk berdoa. Makanya, jangan sampai dilewatkan,” kata Juliani.

Bangunan tempat ibadah Tridharma yang baru saja merayakan hari jadi ke-90 itu pun tampak ramai dengan umat yang hilir-mudik membawa hio. Asap hio dengan aromanya yang khas menyambut kedatangan Tahun Macan Logam. “Tahun Macan memang akan ada banyak tantangan. Tapi semuanya kita serahkan kepada Tuhan,” kata Juliani.

Acara doa bersama pun selesai. Sekarang giliran pemain-pemain barongsai memperlihatkan aksinya di hadapan jemaat. Tetabuhan yang rancak mengiringi atraksi barongsai. Meski barusan gagal di kejuaraan barongsai se-Jatim, penampilan Grup Barongsai Hong San Ko Tee ini cukup menawan.

Mereka mampu mengisi ruang yang tak seberapa luas itu untuk menghibur penonton sembari menanti rezeki angpao. Lumayan, malam Sin Cia macam ini orang lebih murah hati. “Hiburannya cukup barongsai saja. Nggak pakai mercon dan kembang api,” kata Juliani.

Sebagian jemaat kemudian pamit pulang. Namun, sebagian lagi masih menikmati hidangan yang disediakan pengurus klenteng di sisi timur. Mereka saling bersalaman, berbagi kebahagiaan, sambil mengucapkan Gong Xi Fa Cai. Saya pun pamit pulang setelah lebih dulu menikmati sate ayam plus lontong. Hehehe....

Xin Nian Kuai Le!

Selamat tahun baru!

1 comment: