26 February 2010

Sholeh PRD, Apa Lagi?



Apa yang sedang dicari Muhammad Sholeh?
Jabatan, kuasa, popularitas, uang?


Sejak beberapa bulan terakhir poster arek Krian, Sidoarjo, ini terlihat di mana-mana. Bahkan, poster Sholeh PRD, nama bekennya, sudah dipasang sejak pemilihan umum legislatif tahun lalu.

Sholeh memang gagal jadi wakil rakyat karena dicoret Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Tapi pada saat yang sama nama Sholeh melambung. Bekas pejabat Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang sempat dipenjara di Kalisosok oleh Orde Baru ini, berhasil membuat sejarah. Gugatannya diterima Mahkamah Konstitusi (MK).

MK akhirnya membatalkan ketentuan bahwa anggota parlemen terpilih ditentukan berdasar nomor urut. Peraih suara terbanyaklah yang harus jadi. Sistem nomor topi dan nomor sepatu harus dikubur. Sholeh sukses, tapi dia tak bisa menikmati itu karena namanya keburu dicoret. Sholeh punya kontribusi besar pada proses demokrasi di Indonesia.

Setelah menang di MK, rupanya Sholeh yang pengacara ini merasa sudah pantas jadi pemimpin rakyat. Entah itu wali kota atau bupati. Tapi lewat partai apa? PDIP? Sholeh memang aktif di partai banteng gemuk, tapi orang muda ini, usianya baru 30-an, terlalu hijau untuk jadi wali kota Surabaya. Toh, Sholeh tetap Sholeh yang tak kenal kata menyerah.

Karena sudah punya uang banyak, setelah jadi pengacara, Sholeh rela keluar uang untuk beli poster, bikin baliho besar, promosi diri di jalan-jalan protokol. Dia berjuang lewat jalur independen atawa nonpartai. Sholeh optimistis bisa mengumpulkan sekitar 90.000 dukungan rakyat Surabaya yang dibuktikan dengan KTP. Tapi, bisa diterka, Sholeh gagal.

"Jalur independen terlalu berat bagi saya. Saya akui tidak bisa mengumpulkan KTP sekian banyak," kata Sholeh. Dia putus kuliah di Universitas Airlangga, tapi sukses jadi sarjana hukum setelah kuliah lagi, setelah keluar penjara, di Universitas Wijaya Kusuma.

Gagal di Surabaya, Sholeh kembali ke kampung halamannya: Sidoarjo. "Aku iki arek Krian asli. Yo, pantes dadi bupati Sidoarjo," katanya.

Maka, baliho-baliho besar pun dipasang di sejumlah ruas jalan protokol, tempat-tempat strategis, di Kabupaten Sidoarjo. "M. SHOLEH CALON BUPATI SIDOARJO. Arek Krian PASTI BISA!" Di atasnya ditulis "Pemenang Gugatan Suara Terbanyak di MK". Sholeh berpose macam kiai kampung: baju takwa, kopiah putih.

"Ojo lali, aku iki santre," akunya. Padahal, dulu rezim Orde Baru menuduhnya komunis karena jadi pengurus PRD, partainya anak-anak muda progresif beraliran kiri. Rezim Orde Baru memang senang sekali menuduh lawan-lawan politiknya dengan cap "komunis", "PKI", "organisasi terlarang", "ekstrem kiri", "ekstrem kanan", "organisasi tanpa bentuk".....

Hehehe....

Bisa-bisa saja kawan lama yang satu ini. DNA politiknya selalu menggebu-gebu. Penjara sama sekali tak membuatnya keder dalam berpolitik. Sholeh justru makin aktif melakukan gerakan politik "demi memperbaiki kehidupan bangsa dan negara".

Akankah Muhammad Sholeh sukses menjadi calon bupati Sidoarjo? Namanya diloloskan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sidoarjo yang diketuai Anshory, bekas pengurus LBH Surabaya, yang dulu ikut membela Sholeh dan anak-anak PRD itu?

Hehehe.... Saya hanya ketawa-ketawa sendiri. Jangan terlalu serius menyikapi fenomena Sholeh, tapi juga jangan terlalu santai. Gerakan Sholeh selalu menggelitik, berani melawan arus, keluar dari kotak, sering dipandang remeh. Siapa yang pernah membayangkan Sholeh dimenangkan oleh MK?

Tadinya, sebagian besar komentator politik, yang biasa disebut "pengamat" itu, mencibir manuver politik Sholeh. Tapi kini semuanya salut sama Sholeh. Berapa banyak anggota DPR/DPRD sekarang yang jadi karena perolehan suaranya terbanyak? Ojo lali, itu antara lain karena jasanya si arek Krian, Sholeh.

Sebagai warga Sidoarjo, pemegang KTP Kecamatan Gedangan, saya tentu saja ikut gembira dengan munculnya Sholeh memeriahkan pemilukada Sidoarjo. Masa jabatan Pak Win Hendrarso habis pada Oktober mendatang. Harus ada wajah baru, segar, punya idealisme untuk mengelola kabupaten kita, Sidoarjo.

Dengan penduduk sekitar dua juta jiwa, berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, masyarakat yang kritis dan terus berkembang, Sidoarjo membutuhkan pemimpin yang cerdas, berani, punya visi jauh ke depan. Terlalu riskan Sidoarjo dikelola orang-orang yang tak punya akar di Sidoarjo dan hanya mengandalkan uang dan kekayaan belaka.

Sayang, Sholeh ini terlambat start dan terlalu asyik "bermain" di Surabaya. Kalkulasi politiknya ternyata masih melenceng juga. Setelah terpental di Kota Pahlawan, baru dia balik kucing, mengumumkan kepada masyarakat Sidoarjo bahwa dirinya "arek Krian".

Biasalah, orang kalau sudah kepepet, menemui jalan buntu, dia akan kembali ke kampung halamannya. Kawan Sholeh, selamat berjuang!

No comments:

Post a Comment