01 February 2010

Pulau Dem di Muara Sidoarjo



Sidoarjo punya pulau? Ya. Namanya Pulau Dem. Kita harus menyusur pinggir Kali Porong dari Jembatan Gempol menuju kawasan Tambak Telocor, Desa Kedungpandan, sekitar 20 kilometer, lalu menyeberang dengan perahu.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK



MUHAMMAD Muslimin (14), remaja berseragam Madrasah Tsanawiyah Darul Huda, Jemirahan, Jabon, duduk santai di dalam gubuk reot dekat muara Kali Porong. Sinar matahari yang teriak siang itu membuat wajahnya lesu. Perutnya pun keroncongan sepulang sekolah. Di sampingnya, ada dua pria dewasa dan seorang ibu pedagang keliling yang menjajakan sayur-mayur dan bahan-bahan pokok.

Sekitar 10 meter dari situ tertambat sebuah perahu motor tempel. "Tunggu siapa lagi nih?" tanya saya.

"Tunggu penumpang lah. Kalau ada satu dua orang lagi, kita berangkat," jawab Hendro, sang pengemudi sekaligus pemilik perahu.

"Ayo, kita berangkat sama-sama sekarang," pinta saya.

Maka, Hendro mempersilakan kami naik ke atas perahunya. Mesin dihidupkan, dan sekitar tujuh menit kemudian kami sudah sampai di tanah seberang. Sebuah daratan yang hanya terpaut 300-an meter dari Dusun Pandansari, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon. Meskipun jaraknya sangat dekat, dan sama-sama terdiri diisi hamparan tambak, daratan itu sudah terpisah dari Pulau Jawa. Yah, itulah Pulau Dem. satu-satunya pulau yang berada di wilayah Kabupaten Sidoarjo yang dihuni penduduk.

***

TURUN dari perahu, kami, para penumpang, lebih dahulu mampir di gubuk milik Isparmini (70) untuk minum kopi dan menikmati camilan ringan. Hendro kembali ke Jawa untuk mengangkut penumpang lain yang sudah menunggu. Adapun si Muslimin yang masih duduk di kelas dua MTs Darul Huda cepat-cepat berjalan ke arah rumah orangtuanya, sekitar 100 meter dari warung Bu Is, sapaan akrab Isparmini yang asli Garum, Blitar.

Pulau Dem ini, meski dipisahkan sungai dan laut, masih berada di wilayah Dusun Pandansari, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon. "Penduduknya hanya delapan kepala keluarga. Sekitar 30 jiwa. Dulu sembilan keluarga, tapi satunya pindah. Mereka semua bekerja sebagai penjaga tambak selama bertahun-tahun," jelas Kepala Dusun Pandansari Wariono. Delapan kepala keluarga itu masing-masing Subandi, Saliyem, Supeno, Slimin,
Sri Hariati, Misnatun, Munia, dan Priyatin.

Praktis, pulau seluas 500-600 hektare ini merupakan areal tambak udang dan bandeng. Tanaman-tanamannya pun khas vegetasi tambak. Tidak terlihat pohon-pohon besar, kecuali sejumlah tanaman baru hasil penghijauan. Tak ada jalan raya. Yang ada hanya jalan-jalan setapak di sela pematang-pematang tambak. Namun, ada beberapa sepeda motor dimanfaatkan penjaga tambak untuk membawa hasil tambak (bandeng dan udang) ke daratan sebelah.

"Di sini ayem, tenang, nggak ada mobil," kata Bu Is yang menetap di Pulau Dem bersama Supeno, suaminya, sejak 12 Desember 1989. "Saya masih sering ke Blitar, tapi sudah kerasan di sini. Pikiran lebih tenang. Apalagi, delapan anak saya sudah besar-besar semua."

Dibandingkan 20 tahun lalu, menurut Bu Is, keadaan pulau hasil endapan Kali Porong ini sudah jauh lebih ramai. Selain delapan gubuk yang kemudian menjadi rumah delapan kepala keluarga, ada lagi tujuh gubuk kosong yang dipakai pekerja tambak. Sebagian buruh tambak memang pergi-pulang Jabon-Pulau Dem setiap hari.

"Sekarang sudah banyak orang luar yang datang ke sini," kata Bu Is yang ramah ini.

***

SEKITAR 100 meter dari warung Bu Is, saya mampir ke rumah Saliyem (60). Dia penghuni paling lama Pulau Dem sejak 1970. "Waktu saya dan suami--sekarang nggak ada--ke sini belum ada tambak. Baru belakangan saja ada banyak tambak," ujar Saliyem. Keenam anaknya bahkan lahir di pulau ini.

Suasana di rumah Saliyem tampak sangat meriah karena hari itu sebagian besar wanita penduduk Pulau Dem berkumpul di rumahnya. Usai menyiapkan makanan untuk suami yang sibuk kerja di tambak, mereka bergurau dan bercerita ngalor-ngidul. Kehadiran saya secara mendadak tentu saja mengagetkan penduduk. Semua ingin mendengar langsung tujuan si wartawan dari Surabaya. "Titip pesan supaya kami dibantu air bersih dan puskesmas. Kalau sakit, kami sangat susah karena harus nyeberang jauh. Itu pun puskesmasnya masih bangunan thok," sela seorang wanita dengan gaya ceplas-ceplos.

Air bersih memang masalah serius di Pulau Dem. Sumur tidak ada karena airnya pasti sangat asin. Kadar garam sangat tinggi karena dikelilingi laut. Air yang di tambak membuat kulit gatal-gatal. Karena itu, Saliyem dan para penghuni lain harus membeli air bersih (jerikenan) di Jabon setiap dua hari. Air harus sangat dihemat, sehingga mereka pun terpaksa harus 'menghemat' mandi.

Jangan tanya soal hiburan karena hanya satu rumah yang dialiri listrik PLN sejak 2001. Yakni, rumah Sukari. Pria asal Kencong, Jember, yang datang pada 1973 dianggap paling mampu di Pulau Dem. Warga lain pun sebenarnya ditawari listrik. Namun, sebagai buruh tambak, mereka merasa tak mampu membayar abonemen Rp 110 ribu per bulan. "Uangnya dari mana? Untuk makan, minum, beli air saja susah," kata Saliyem.

Karena itu, setiap malam warga terpaksa menggunakan lampu minyak tanah. Dengan penerangan yang sekadarnya, anak-anak sekolah macam Muslimin, Bayu Hartanto, Nurhayati, Nurhalimah, dan Alfah belajar setiap hari. "Nggak masalah karena sudah biasa. Saya dan teman-teman bisa mengikuti pelajaran dengan baik," aku Muslimin.

Toh, Saliyem bisa menghibur sebagian warga Dem dengan televisi yang menggunakan aki (accu). Para tetangga datang untuk menonton televisi bersama-sama layaknya acara nonton bareng di kota. Tapi, karena daya aki sangat terbatas, mereka lagi-lagi harus sangat menghemat power aki itu. "Kita hanya lihat acara-acara yang bagus malam hari. Kalau siang-siang kayak sekarang, ya, jangan lihat televisi dulu," kata Saliyem.

Ketika ditanya apakah tidak ingin pindah ke Jabon atau daerah lain di Kabupaten Sidoarjo, atau ke kampung asal, Saliyem bersama 10 warga Dem yang 'menemani' saya kontan menolak. "Buat apa? Walaupun susah air, susah cari puskesmas, nggak ada listrik, hidup di Pulau Dem lebih tenang. Tinggal di kota itu terlalu banyak pikiran. Wong orang Jabon saja mau tinggal di sini," tandas Saliyem menunjuk menantunya yang berasal dari luar Pulau Dem.

“Lha, Mas Wartawan aja mau datang dan kayaknya kerasan juga. Hehehe...,” sela seorang wanita.

Saliyem dan kawan-kawan pun tertawa renyah mendengar saya digojlok penduduk Pulau Dem. Duh, guyubnya! (*)

Dimuat Radar Surabaya edisi 31 Januari 2009





Digerus Abrasi dan Virus Windu


MESKI tinggal di daratan yang dipenuhi ratusan hektare tambak, delapan keluarga di Pulau Dem, Kecamatan Jabon, ini tergolong prasejahtera alias gakin. Keluarga miskin. Rumah-rumah sangat sederhana, berdinding gedhek, beralaskan tanah.

“Ini gubuk derita,” komentar seorang warga disambut tawa yang lain. Lantas, ke mana saja uang hasil tambak selama 30 sampai 40 tahun itu? “Yah, buat makan minum sehari-sehari. Kami di sini gak punya apa-apa,” ujar Saliyem, perintis kampung di Pulau Dem.

Ungkapan Bu Saliyem tak berlebihan. Sebab, sejatinya semua warga penghuni Pulau Dem ini memang buruh tambak, bukan juragan tambak. Adapun 20-an juragan alias pemilik tambak rata-rata berasal dari Sidoarjo. Salah satunya Eddy Santoso, warga Sekardangan, Sidoarjo Kota. Sejak tujuh tahun silam Eddy mengaku meneruskan usaha tambak yang sudah dirintis oleh ayah dan kakeknya.

“Sudah sekitar 70 tahun lalu kakek saya sudah buka tambak di sini. Jadi, usia Pulau Dem ini memang sudah sangat tua. Bukan pulau baru,” kata Eddy Santoso.

Layaknya pejabat, sesekali Eddy melakukan ‘sidak’ untuk melihat kondisi tambaknya. Ketika saya berada di Pulau Dem, Eddy memantau beberapa pekerja yang sedang mengeringkan tambaknya. Menurut dia, bisnis tambak di Pulau Dem dan sentra-sentra tambak yang lain di Sidoarjo sedang surut dalam 10 tahun terakhir ini. “Kalau bandeng sih masih jalan. Tapi (udang) windu benar-benar hancur,” ujar Eddy serius.

Sejak 10 tahun lalu udang windu di berbagai tempat diserang virus misterius. Mula-mula si windu bisa hidup dan berkembang dengan baik. Namun, beberapa bulan kemudian virus aneh itu menyebabkan si windu mati bak terpanggang. Para petambak udang maupun peneliti sudah berupaya dengan berbagai kiat, tapi belum efektif.

Akibatnya, menurut Eddy, banyak juragan tambak di Pulau Dem yang menelantarkan tambaknya begitu saja. Tambak-tambak jadi tak terurus. “Nggak imbang antara investasi dengan hasil. Jadi, Pulau Dem ini sebenarnya sudah tidak efisien untuk usaha tambak. Kalau dulu, sebelum ada virus itu, ya, memang bagus banget,” katanya.

Persoalan lain yang tak kalah serius adalah abrasi. Menurut Eddy, lahan di Pulau Dem semakin tergerus gara-gara terjangan air laut. Kalau dulu air laut masih tertahan oleh hutan bakau yang lebat, sekarang ketahanan itu sudah sangat lemah. Akibatnya, banyak tambak yang jebol dihantam air laut. Warga setempat menyebutnya sebagai ‘tsunami’.

Meski dinilai tidak prospektif, para juragan tambak tetap mempertahankan kepemilikan lahan di pulau eksotik ini. Sebab, mereka berharap suatu ketika virus udang itu bisa diatasi dan bisnis tambak kembali berkibar seperti era 1980-an dan pertengahan 1990-an.

Bukan itu saja. Mereka juga berharap akan ada pengusaha besar atau investor yang mau menyulap Pulau Dem menjadi lokasi pariwisata dan sejenisnya. Jika itu yang terjadi, niscaya ratusan hektare lahan di sana bakal membubung tinggi. (rek)

2 comments:

  1. kayaknya menarik juga pulau dem ini. ke sana naik apa ya?

    ReplyDelete
  2. ketemu lagi bang.............

    nih lagi cari2 potensi obyek wisata sidoarjo eh ketemu abang satu yang hebat ini.
    eh bang gimana kabarnya???? kapan bisa ngobrol2 ma minum kopi hangat???
    aku pengen ngomongin sidoarjo lagi bang kayak dulu.....
    aku rencana mau bikin project wisata sidoarjo....mungkin bisa share nih???
    Tak tunggu kabarnya bang....Thanks

    GUK IPOEL
    CDMA ( 031 - 60644411 )/ MOBILE 081 132 5448

    ReplyDelete