24 February 2010

Priyo Aljabar Raja Cangkrukan




Oleh LAMBERTUS HUREK

Cangkrukan di THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya itu asyik. Makanan minumannya murah, harga kelas ekonomi, suasananya enak. Kita juga bisa bertemu banyak seniman tradisional, khususnya pelawak-pelawak Srimulat, yang suka bicara ceplas-ceplos. Dulu, tahun 1970-an, 1980-an, bahkan 1990-an, pelawak-pelawak ini selalu nongol di TVRI. Terkenal bukan main.


Tapi, mengutip kata-kata Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo, roda dunia terus berputar. Sekarang pelawak-pelawak senior, anggota Srimulat, ini kembali lagi jadi orang biasa. Banyak yang sambat (mengeluh) kurang tanggapan, tak punya uang, tak bisa lagi menikmati 'kemewahan' seperti 20-an tahun lalu. Penampilan bintang-bintang radio dan televisi masa lalu ini sekarang tak jauh berbeda dengan orang biasa.

Bahkan, saya dengar banyak artis tempo doeloe, termasuk pelawak-pelawak top, yang harus mengurus kartu gakin, keluarga miskin. Hidup terlunta-lunta di masa tua. Tak mampu lagi membiayai istri kedua atau ketiga. Hehehe....

Ingat, Gesang bilang roda dunia terus berputar, Bung!

Senin, 21 Februari 2010.

Saya cangkrukan di warung kopi milik Agus Minto. Dia pemimpin Srimulat, grup lawak, pabrik tawa khas Surabaya, yang dulu terkenal luar biasa. Ada pelawak Eko Londo alias Eko Tralala yang bicara panjang lebar tentang nasib seniman-seniman lawas. Job sepi, tidak pernah main, lantas dapat uang dari mana?

Eko Londo punya potongan kayak orang Eropa, khususnya Belanda. Rambut jagung, hidung mancung, bulunya banyak, bodi atletis. Di usia yang tak lagi muda, ayah enam anak ini tak punya masalah obesitas. Orang Surabaya sangat kenal si Londo ini karena dia punya program di JTV, televisi lokal milik Grup Jawa Pos. Eko dikasih job oleh JTV untuk memperkenalkan gedung-gedung tua di Surabaya dengan cara pelawak. Orang pasti ketawa-ketawa melihat gaya Eko yang urakan. Huahuahua.....

Nah, sambil cangkrukan mendengar wejangan Eko Londo, tiba-tiba datang Lutfi Galajapo. Kemudian muncul PRIYO ALJABAR. Cak Lutfi dan Cak Priyo pelawak terkenal anggota Grup Galajapo. Lutfi tak banyak bicara, tapi bahasa tubuhnya saja bikin orang tertawa sampai teler. Lutfi ikon Galajapo.

Lain lagi si Priyo Aljabar. Bicaranya banyak, kayak pakar tata kota atau sosial politik di seminar-seminar, piawai menata kalimat, blak-blakan bicara Suroboyoan. Kata-kata bahasa Jawa ngaka, yang dianggap kasar di kawasan Mataraman atau Jawa Tengah atau Jogjakarta, jadi makanan sehari-hari si Priyo. Sebut saja: cangkem, rai.... juancuk, guoblok, wuelek polll....

Dibandingkan Eko Londo atau Lutfi, Cak Priyo Aljabar sekarang jauh lebih terkenal di Surabaya dan Jawa Timur. Bagaimana tidak. Dia jadi host CANGKRUKAN, program talkshow atawa bintang-bincang gaya wong kampung yang menjadi unggulan JTV. Berkat CANGKRUKAN, televisi lokal macam JTV mampu bersaing dengan televisi-televisi nasional yang cenderung hanya menyebarkan virus sinetron, gosip artis, hedonisme, serta hegemoni bahasa Melayu-Betawi (Jakarta).

Cak Priyo dengan CANGKRUKAN-nya sedikit banyak mampu meredam hegemoni Jakarta ini meskipun tetap saja tidak mudah. Kalau Andy Flores Noya terkenal dengan KICK ANDY di Metro TV, yang memang bagus dan dahsyat, alhamdulillah, di Jawa Timur kita layak bangga punya Priyo Aljabar. Andy Noya dan Priyo Aljabar punya keunikan. Keduanya berani tampil beda, apa adanya. Dan itulah yang membuat program mereka di televisi bertahan begitu lama.

Ada perbedaan mendasar KICK ANDY dan CANGKRUKAN.

Suasana elegan, kayak ballroom hotel bintang lima, terasa di KICK ANDY. Kemasannya untuk kelas menengah atas. Banyak memang narasumber wong cilik seperti pembuat kaki palsu, guru fisika dari Malang, tukang sampah, Mama Putih (suster Jerman yang kerja di Flores).... Tapi orang-orang kecil tampak gamang ketika berada di "ruang interogasi" Andy Noya.

Suasana di CANGKRUKAN terbalik. Narasumber dikondisikan sedang cangkrukan di warung-warung sederhana kayak di THR atau di kampung-kampung Jawa Timur. Ngopi, makan pisang goreng, jajanan sederhana, sambil ngobrol santai dengan bahasa wong kampung, bahasa rakyat jelata. Maka, kata-kata pisuan khas wong cilik di Surabaya macam JUANCUK, JUANGKREK, MATAMU, CANGKEMMU... menjadi wajar dan biasa.

Dan penonton televisi di rumah ikut senang, tertawa-tawa sendiri. "Juancuk, iso ae Cak Priyo iku! Hehehe," kata beberapa kenalan di kawasan Aloha, Gedangan, Sidoarjo. Melihat CANGKRUKAN-nya Cak Priyo, kita-kita yang tinggal di perkampungan, bukan priyayi, atau yang sok priyayi, ibarat melihat potret diri. Kita seakan menertawakan diri sendiri.

Dan itulah humor yang benar: menertawakan diri sendiri, bukan menertawakan orang atau kelompok lain!

Andy Noya berlatar belakang wartawan majalah TEMPO. Setelah TEMPO dibredel, dia "dipekerjakan" di Media Indonesia, khususnya edisi Minggu. Surya Paloh, bos Media Indonesia, menginginkan agar koran Media Indonesia edisi hari Minggu digarap dengan gaya TEMPO: enak dibaca, renyah, menarik, tak bikin kening berkerut.

Andy Noya, selain kerja di TEMPO, juga mengasuh program talkshow di Radio Trijaya FM yang juga direlai Radio SCFM Surabaya. Jadi, Andy Noya yang keriting, tak tidak mau di-rebonding itu, seorang pewawancara ulung. Wartawan sejati. Dia punya bakat humor kering. Dan humor macam ini hanya bisa dirasakan orang-orang yang punya cukup kecerdasan.

Humoris kering, kata beberapa pakar humor, mampu membuat orang ketawa, meski tidak ngakak, sementara si pelempar joke sendiri tidak ikut ketawa. Contoh paling gampang: Mister Bean! Atau joke-joke di film Hollywood.

Lawan humor kering adalah lawakan-lawakan slapstick ala Warkop DKI, Srimulat, pelawak-pelawak tradisional, pemain ludruk, atau ketoprak. Mereka suka main kasar, misal, melempar kue tar di wajah teman main, menempeleng, menjatuhkan majikan dari kursi, memecat juragan, dan seterusnya.

Nah, si Priyo Aljabar ini, menurut saya, mampu bermain di dua kaki. Kadang Srimulatan, kasar, misuh-misuh, urakan... ala ludruk. Tapi dengan cepat dia juga menyodorkan sentilan-sentilan halus yang bikin kalangan well informed tertawa dalam hati. Guyonan keringnya masuk. Politisi-politisi yang ambisius, pejabat-pejabat yang bilangnya peduli rakyat, dibuat geleng-geleng kepala.

Wuedan tenan Cak Priyo!




Cak Priyo bersama teman-teman pelawaknya: Lutfi Galajapo, Eko Londo, Agus Minto.


Andy F. Noya beruntung mendapat narasumber, objek wawancara, yang rata-rata sangat menarik. KICK ANDY punya tim khusus untuk mensurvei siapa-siapa yang layak masuk KICK ANDY. Pertimbangan jurnalisme, prinsip-prinsip nilai berita, diperhatikan betul. Maka, sumber yang sudah bagus ini, tinggal dipandu Andy menjadi talkshow yang ditunggu banyak pemirsa Metro TV.

Orang pasti penasaran dengan Susno Duadji, BJ Habibie, Prabowo, Megawati, atau Iwan Fals. Sehebat-hebatnya Andy Noya, dia toh tetaplah pewawancara, pemandu acara. Bintangnya tetap si narasumber yang memenuhi lima atau tujuh elemen nilai berita itu.

Andai kata narasumber KICK ANDY tidak kuat, tidak menarik, maka habislah KICK ANDY! Di sinilah tantangan bagi manajemen KICK ANDY untuk "menemukan" orang-orang yang menarik yang tersebar di seluruh Indonesia.

CANGKRUKAN di JTV setiap Minggu malam kontras dengan KICK ANDY. Para pembicara alias narasumber -- biasanya tiga sampai lima -- bukanlah orang yang masuk kategori sangat menarik. Bukan NAME MAKES NEWS. Banyak narasumber memang dari kalangan pejabat seperti bupati, wali kota, DPRD, kepala dinas, pengusaha, ketua organisasi, politisi, calon bupati/wali kota (dan wakilnya), akademisi, pengamat lokal.

Siapa sih yang kenal Adies Kadir? Direktur PDAM kabupaten tertentu? Pemimpin partai atau ketua dewan di kabupaten/kota tertentu? Aktivis serikat buruh? Yah, sesuai filosofinya, CANGKRUKAN menjadi ajang cangkrukan, ngerumpi, orang-orang biasa di warkop. Kalaupun dia pejabat, ya, harus menyesuaikan diri dengan wong cilik di kampung-kampung.

Lantas, apa yang membuat CANGKRUKAN mampu bertahan di JTV selama tujuh tahun?

Jawabnya jelas: karena Priyo Aljabar!

Bintang utama program talkshow itu tetap di Cak Priyo. Orangnya polos, sarungan, pakai kopiah ala wong ndeso, blak-blakan, tapi juga kritis dan bikin kaget narasumber dengan "serangan" halusnya. Siapa pun narasumber yang bicara CANGKRUKAN tetap saja menarik karena... Cak Priyo.

"Cak Priyo iku ngangeni. Bikin kangen orang. Dia ngerti betul ilmu komunikasi meskipun mungkin dia tidak pernah kuliah di jurusan komunikasi," kata seorang wartawan senior kepada saya.

Mas Sugeng, wartawan senior ini, tak pernah melewatkan malam Seninnya dengan memirsa acara CANGKRUKAN di JTV. Cak Priyo dinilai punya kemampuan mewawancarai narasumber yang luar biasa. Semua narasumber rasanya merasa nyaman berada di forum CANGKRUKAN. Tidak merasa diadili atau tersinggung ketika diwawancarai Cak Priyo.

Salah satu tip yang diberikan International Center for Journalists kepada wartawan di seluruh dunia:

DON'T RUSH YOUR SOURCE! It is important to establish a polite rapport and a level of comfort for the interviewee.

Cak Priyo mungkin belum membaca nasihat ICJ ini. Namun, selama tujuh tahun menggawangi CANGKRUKAN, dia mampu mempraktikkannya dengan baik. Nggak gampang lho membuat narasumber merasa nyaman diwawancarai, khususnya orang-orang yang sedang bermasalah. "Sekasar-kasarnya" gaya bahasa Cak Priyo, dia terlihat selalu respek dengan narasumbernya.

Catatan lain buat Cak Priyo adalah kemampuannya dalam menyederhanakan persoalan. Hal-hal yang jelimet, istilah ndakik-ndakik, sok intelekual, kata-kata sulit dengan bahasa sederhana. Bahasa yang dimengerti masyarakat umum. Bukan bahasa elitis, penuh jargon, yang kerap kali hanya menutup-nutupi kebohongan.

Pekan lalu, Hermawan Kartajaya menulis di Jawa Pos dan Radar Surabaya tentang pentingnya kesederhanaan. Kalau bisa dibuat gampang, kenapa harus dipersulit? Hermawan, pakar manajemen asli Surabaya ini, mengutip Kehnichi Ohmae yang menyebutkan:

Please simplify the complex thing, do not complicate the simple thing!

Sederhanakan hal yang ruwet! Jangan bikin ruwet hal yang sederhana!

Satu lagi keunggulan Cak Priyo sebagai pemandu talkshow dibandingkan host-host program televisi sejenis macam Andy Noya (Metro TV), Rosianna Silalahi (Global TV), Indy Rahmawati (TVOne), Karni Ilyas (TVOne), atau Slamet Rahardjo (TVRI) adalah profesi Cak Priyo sebagai komedian alias pelawak. Narasumber senyam-senyum saja meski mungkin celetukan Cak Priyo kena di hati. Ah, namanya aja pelawak!

"Dulur, ojo sampek pindah channel! Tetep nang CANGKRUKAN!"

Gak ono koen, gak rame!!!!

4 comments:

  1. hehehe..cak priyo memang khasn lucu...

    ReplyDelete
  2. Luph u phulll Cak Priyo.... :)

    ReplyDelete
  3. tuku nongko nek pasar larangan
    numpak bison dadak ketinggalan
    cak priyo pancen sing paling edan
    gawe guyon ndadekno kemajuan....,
    (ha...ha...ha..., sepurane cak parian paling ngawur, tinimbang internete nganggur.....)

    ReplyDelete
  4. I LOVEE YOUU Fulll <3 Aku nganteni sampek merongos cak :D Capu jowo e kok gk dikirim.heeeemmmmmm.............siippp.selen e yo'opo cak




    #Ach Zaztro Sak

    ReplyDelete