17 February 2010

Penyanyi Tua Kehilangan Panggung



Andaikan seorang kan datang
menghibur hati sedang sunyi
ku kan mengabdi padamu seorang
kekal abadi insani


Duh, akhirnya saya lihat lagi wajah Bapak Harry Noerdi di TVRI, Selasa (16/2/2010) tengah malam. Bekas hakim di Pengadilan Negeri Surabaya ini menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, ANDAIKAN. Setelah pindah ke luar Jawa, terakhir pensiun sebagai hakim tinggi di Bali, Pak Harry tak pernah lagi nongol di Surabaya.

Saya pernah beberapa kali menelepon ke alamat lamanya di Surabaya. "Pak Harry Noerdi sudah lama pindah," kata seorang penerima telepon. Ya, opo maneh!

Gaya menyanyi Pak Harry masih tetap sama. Penuh penghayatan, buka mulut oke, artikulasi enak, meskipun pernapasan sudah tidak sehebat era 1970-an. Toh, kita terhibur menyaksikan bintang lawas, bekas hakim terkenal ini, bergaya di panggung.

"Saya mulai main band sejak 1958. Hanya terpaut dua tahun saja dengan Bob Tutupoly," kata Harry Noerdi menjawab Sys NS, pembawa acara Temu Kangen Artis 60-70-80.

Malam itu Bob pun tampil. Mereka sama-sama meniti karier di Surabaya, main band dari kafe ke kafe, hingga melejit di Jakarta, jadi artis hebat pada masanya. Artis-artis lawas ini umumnya tidak lupa sekolah. Maka, tak heran Pak Harry Noerdi sukses sebagai hakim, hidup makmur sampai usia senja.

Banyak sekali artis lama yang mengisi temu kangen ini. Syukur, TVRI mau menyiarkan meski tidak utuh, sehingga kita yang di luar Jakarta bisa ikut mencicipi sisa-sisa keemasan mereka. Ada Harry Noerdi, Bob Tutupoly, Vivi Sumanti, Diah Iskandar, Titiek Puspa, Aida Mustapha, Eddy Silitonga, Panbers, The Pro's, Trio Visca, Dian Piesesha, Tetty Kadi, Grace Simon, Arie Koesmiran, Koes Hendratmo, Vina Panduwinata....

Usia mereka sudah sepuh, lansia. Tubuh sudah tak seprima dulu. Banyak menyimpan lemak di perut atau bokong. Tapi saya melihat mereka punya semangat yang tinggi. Banyak yang suaranya sudah kacau-balau, maklum puluhan tahun tak menyanyi, tapi ada juga yang tetap bertenaga.

Contohnya: Eddy Silitonga. Begitu memulai lagu FATWA PUJANGGA, penonton bertepuk riuh. Mungkin takjub mendengarkan vokal Eddy Silitonga yang melengking tinggi, stabil, dan tetap asyik. Juga ketika membawakan lagu BIARLAH SENDIRI ciptaan Rinto Harahap. Suara si Eddy tetap kencang. Jauh dibandingkan suara vokalis band-band sekarang yang umumnya medioker.

Harus diakui, artis-artis lawas macam Titiek Puspa, Grace Simon, Eddy Silitonga, Bob Tutupoly... ini sudah lama kehilangan panggung. Televisi-televisi yang berjibun di Indonesia itu tidak kasih tempat. Televisi-televisi utama macam RCTI, SCTV, Indosiar, Trans, Trans7, Anteve, hanya menjadi ajang promosi band-band dan vokalis-vokalis remaja.

Artis berusia 30 tahun ke atas, apalagi 40, 50, 60, dibuang begitu saja dari industri musik dan televisi. Paling-paling hanya sekadar jadi komentator lomba menyanyi di televisi. Saya bisa membayangkan perasaan orang-orang panggung yang kehilangan panggung. Mirip pejabat-pejabat yang terkena post power syndrome setelah menjadi orang biasa. Banyak penyanyi kita yang stres, hidup terlunta-lunta, di hari tuanya.

Kapan ya Indonesia bisa menghargai jasa para seniman? Di Amerika, BB King atau Frank Sinatra tetap menjadi bintang, orang panggung, sukses di industri musik, sampai ajal menjemput. Bahkan, setelah meninggal pun karya-karya mereka tetap diburu orang. Dan ahli waris mereka beroleh royalti yang luar biasa.

2 comments:

  1. Pengen nyaksikan penyanyi lawas tampil dgn lagu-lagunya yang evergreen,atau sekedar ingin tahu keberadaan dan aktivitasnya kini.Mereka memang gak punya panggung lagi,padahal mereka prestasinya masa lalu, tak seperti artis sekarang yang hanya bermodalkan tampilan fisik saja.Di negri jiran ada stasiun radio pemerintah /Klasik Nasional Fm yang khusus memutar lagu-lagu lama sbg penghormatan kpd penyanyi-penyanyi lama.KLASIK fm MENGGAMIT MEMORY

    ReplyDelete
  2. keadaannya sama sahaja di malaysia..penyanyi lama yang enak suara dan tinggi bakatnya sudah tidak punya tempat di media cetak mahupun elektronik. Apa yang saya lihat artis sekarang hanya sekadar boleh menyanyi tetapi tidak punya jiwa dalam nyanyian mereka.
    Mungkin penggemar muzik di nusantara masih tidak matang dan tidak tahu menilai seni..berbeza dengan di Barat. Semakin berusia semakin tinggi nilai seseorang artis. Memang di malaysia, masih ada ruang untuk pencinta muzik mendengar lagu-lagu yang saya anggap baik yang dinyanyikan oleh penyanyi yang bagus di radio...seperti klasikFM, Sinar Fm.
    saya juga sehingga kini masih cukup kagum dengan alunan suara penyanyi Indonesia yang hebat seperti Victor Hutabarat, Tiar Ramon, Bob Tutopoli, Eddy Silatongga termasuk juga Titik Puspa, Grace Simon, Vina, Andy Mariam..Harvey Malaiholo Utha Likamahua dan banyak lagi...

    ReplyDelete