06 February 2010

Pasar Seni Sidoarjo yang Mangkrak



Di sebuah gerai sederhana di kawasan Terminal Larangan, Sidoarjo, Henry Harianto Yatmoko berdiskusi serius dengan Lusi, Kamis (28/1/200) siang. Membahas bisnis parfum, kosmetik, serta rencana pengembangan bisnis MLM. Suara Henry sesekali meninggi, sementara Lusi ikut menimpali.

“Kesenian di Sidoarjo sedang lesu darah. Lha, apa yang mau kita bahas kalau situasi seperti ini?” ujar Henry Harianto kepada saya. “Saya punya daftar 150 pelukis di seluruh Kabupaten Sidoarjo. Tapi saya nggak tahu apakah sampai sekarang mereka masih konsisten menciptakan karya seni untuk masyarakat.”

Terlepas dari perannya yang kerap dianggap kontroversial, nama Henry Harianto tak asing lagi di kalangan seniman Sidoarjo, khususnya pelukis. Dia membentuk Forum Komunikasi Pelukis Sidoarjo (FKPS) yang sekarang vakum kegiatan. Bikin beberapa galeri lukis, kemudian tutup, kemudian buka lagi di tempat lain, kemudian tutup lagi, dan seterusnya.

Tapi Henry Harianto tak pernah kapok. Membawa bendera FKPS, pria kelahiran Solo ini menghadap pengembang Perumahan Pondok Mutiara Sidoarjo pada 2005. Dia minta agar 48 stan kios kerajinan yang mangkrak dijadikan ajang kreasi para seniman lukis. “Pelukis Sidoarjo lho, bukan dari luar seperti Surabaya, Pasuruan, Gresik, Banyuwangi, Malang,” tegasnya.

Negosiasi yang alot itu akhirnya berbuah. Henry--yang bukan seniman, bukan pelukis--berhasil mengajak puluhan pelukis untuk hajatan Gelar Seribu Lukisan di Pondok Mutiara selama satu bulan. Rupanya, sebagian pelukis tertarik dengan 48 kompleks yang luas dan cukup strategis, tak jauh dari Gelora Delta dan jalan tol.

Sejak itulah stan-stan yang semula mangkrak berubah menjadi Pasar Seni Sidoarjo. Ada yang menyebut Pasar Seni Mutiara. Ada lagi yang bilang Kampung Seni Sidoarjo. “Bahkan, awal-awalnya sempat diresmikan pejabat lho. Dan suasananya cukup kondusif,” kenang Henry Harianto.

Sayang, seperti proyek-proyek kesenian Henry sebelumnya, Pasar Seni ini pun pelan-pelan lesu darah. Namanya saja Pasar Seni, tapi geliat keseniannya sangat minim. Kita jarang melihat kesibukan seniman memproses karya-karya seni seperti lukisan, musik, atau tarian. Yang muncul justru macam macam gosip: uang muka, tanda jadi, kredit bank, akses jalan, listrik, air bersih, hingga atap yang bocor kalau hujan.

Muncul sikap saling curiga dan saling tak percaya di kalangan penghuni Pasar Seni. Kata-kata Henry dianggap angin lalu. “Yah, mau apa lagi? Itulah dunia kesenian dan dunia seniman yang kita hadapi di Sidoarjo. Sejak dulu sudah begitu itu,” kata Henry sambil tersenyum.

***

DARI Terminal Larangan, saya bergeser ke Pondok Mutiara, lokasi yang disebut-sebut sebagai Pasar Seni itu. Sebagian stan tampak tak terurus. Stan paling pojok, yang dulu menjadi kantor Henry Harianto, mangkrak penuh debu. Begitu juga stan yang dulu ditempati penghuni lain.

Karya seni instalasi yang dulu selalu menghiasai pelataran Pasar Seni tak ada lagi. Dua gazebo hancur, tak bisa dipakai untuk lesehan, ngopi, sambil ngobrol ngalor-ngidul. Papan nama “Pasar Seni” yang kemudian diganti menjadi “Kampung Seni” pun tak ada lagi. Stan-stan kerajinan Pondok Mutiara itu pun kembali ke wajah aslinya.

“Sudahlah, nggak usah bahas Pasar Seni. Bikin pusing. Sekarang ini Anda tolong bantu aku agar lukisan-lukisan saya laku. Jujur, aku sama sekali nggak punya uang,” ujar seorang pelukis, ketus.

Stan yang ditempati Nurhayati, penyanyi keroncong dan campursari, sekarang menjadi warung lesehan. Pengunjung bisa menikmati makanan dan minuman sambil menyaksikan VCD lagu-lagu keroncong atawa langgam. Bu Nur, sapaan akrab Nurhayati, pun selalu siap memamerkan suara merdunya dengan cengkok ala Waldjinah.

“Aku baru ketemuan sama Bu Waldjinah lho. Beliau sangat senang dengan suara saya,” tukas Bu Nur dengan gayanya yang khas. Komunitas keroncong dengan vokalis Bu Nur di Pasar seni sudah lama bubar jalan.

Stan yang dulu dihuni Totok Widiarto, ketua Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa (PLKJ), pun kosong. Korban lumpur Lapindo asal Siring, Porong, ini kabarnya sudah hengkang ke Mojokerto. Padahal, tadinya dua stan yang digawangi Totok Widiarto ini selalu diramaikan komunitas kejawen setiap malam.

Begitulah. Pasar Seni Mutiara yang dulu digembor-gemborkan Henry dan sejumlah seniman Sidoarjo itu kini tinggal kenangan. Geliatnya tak ada. Sulit menemukan roh kesenian di sini.

“Sejak awal konsepnya memang tidak jelas. Ambisi sih boleh-boleh saja. Tapi, kalau tidak didukung konsep, modal, dan manajemen, ya, sulit berhasil,” tegas Herman Handoko.

Pelukis senior asal Waru ini menilai banyak orang, termasuk kalangan seniman sendiri, kurang paham konsep pasar seni, kampung seni, dan kampung seniman. Ketiga hal ini rupanya masih rancu. Maka, yang terjadi bukan pasar seni seperti Pasar Seni Ancol, Jakarta melainkan kos-kosan atau kontrakan seniman, khususnya pelukis.

No comments:

Post a Comment