21 February 2010

Melantjong Petjinan Soerabaia Tjiamik



Bai Shuzhen alias Dian menjelaskan tradisi tahun baru Imlek di Rumah Sembahyang Keluarga The. Paulina Mayasari (tengah) serius menyimak.



Rek ayo rek, cangkrukan bareng marine kionghi-kionghian karo grup Jejak Petjinan! Wisata kota bertajuk Melantjong Petjinan Soerabaia berlangsung meriah dan sukses.


Oleh LAMBERTUS HUREK
Dimuat di RADAR SURABAYA, Senin 22 Februari 2010

Sekitar 60 peserta lintas etnis, ras, dan agama Minggu (21/2/2010) jalan-jalan bersama menikmati sejumlah objek di kawasan pecinan Kota Surabaya. Tur dimulai di rumah Paulina Mayasari, Jalan Bibis 3, salah satu perkampungan lama Tionghoa Surabaya. Peserta mendapat penjelasan cara memasak misua, salah satu masakan khas tahun baru Imlek.

“Imlek itu selain terkenal dengan kue ranjang, juga misua. Kalau nggak makan misua, rasanya nggak lengkap,” jelas Liana Anggono. Perempuan 64 tahun ini cukup dikenal warga Bibis dan sekitarnya karena masakan misuanya yang ciamik dan unik.

Tak hanya mendengar, peserta tur kemudian sarapan misua. Makanan khas Tionghoa yang terbuat dari tepung terigu, mirip mi biasa, dikombinasi dengan kacang tanah, telur, jamur, sawi, kucai. Dari rumah tua ini, peserta diajak ke pabrik pengolahan tepung menjadi misua di Pesapen. Naik bemo rame-rame.

“Sejak kecil saya tinggal di Surabaya, tapi baru kali ini lihat langsung pabrik misua,” ujar seorang ibu berusia 60-an tahun. Pabrik misua di Pesapen ini disebut-sebut tertua di Surabaya. “Mulai eksis sejak 1948,” tutur Sugianto, juragan pabrik misua, kepada saya.

Peserta kemudian menuju Rumah Sembahyang The Goang Tjing di Jalan Karet 50. Nuansa Imlek ala Soerabaia tempo doeloe sangat terasa di gedung tua yang menjadi cagar budaya Kota Surabaya ini. Musik khas Tionghoa menyambut peserta Melantjong Petjinan Soerabaia.

Di sini Bai Shuzhen menjelaskan secara detail berbagai tradisi selama tahun baru Imlek dan maknanya. Di atas meja sembahyang, misalnya, harus ada buah-buahan (apel, jeruk, pisang), nasi tiga mangkok, ikan, ayam, babi, arak putih. Kemudian kue kukus, kue ranjang, kue tok.

“Orang Tionghoa zaman dulu sangat senang dengan homofon atau kesamaan bunyi kata-kata dalam bahasa Mandarin. Intinya, semacam doa agar kita diberi rezeki dan kesehatan di tahun yang baru,” terang Shuzhen.

Meskipun terkesan ribet, menurut dia, warga Tionghoa, khususnya generasi lama, sangat memperhatikan berbagai detil untuk menyambut Xin Nian. Ada juga pantangan pada tanggal 1 bulan 1 Imlek seperti larangan membersihkan rumah dan berbagai perabotan.

“Makanya, pembantu di rumah saya jadi raja sehari saat Imlek. Kerjanya hanya duduk-duduk dan nonton televisi,” kata Shuzhen disambut tawa hadirin.

Selepas menyaksikan interior rumah sembahyang keluarga The, peserta menikmati atraksi wayang potehi di ruang depan. Grup Huk Hoo An yang biasa tampil di Klenteng Gudo, Jombang, menampilkan wayang-wayang khas Fujian, Tiongkok Selatan, yang sempat mati suri pada era Orde Baru itu.

“Beberapa wayang yang kami pamerkan di sini usianya sudah lebih dari 100 tahun. Itu peninggalan kakek saya yang kebetulan dalang potehi,” tutur Tony Harsono, pembina Huk Hoo An. Ada pula wayang model baru yang diimpor dari Tiongkok.

Para pelancong umumnya mengaku puas bisa menikmati suasana pecinan selama empat jam lebih. Mereka ingin agar acara macam ini dijadikan agenda tetap. “Gedung-gedung tua di pecinan itu punya nilai sejarah yang tinggi. Dan ini harus terus disosialisasikan kepada generasi muda,” kata Benny Sitinjak, peserta asal Pematangsiantar, Sumatera Utara.



Ibu Liana Anggono demo memasak misua. Paulina Mayasari, putrinya sekaligus tour leader, ikut belajar masak. Soale Ning Maya iki gak pinter masak misua. Hehehe....

Informasi “Melantjong Petjinan Soerabaia”

Paulina Mayasari (Maya): 081 23047311, 088 8866 0357
Jalan Bibis 3 Surabaya

8 comments:

  1. Ahh bang...kalau saja saya ada di Surabaya, sudah pasti saya akan ikut tur ini. Pasti menarik. Makanan khas misua spertinya mirip hokkien mee di sini, tp biasanya diberi tambahan udang dan potongan cumi. Enak juga :-)

    Di sinipun pantangan membersihkan, menyapu rumah dan membuang sampa jg berlaku. Katanya bisa buang rejeki itu. Adakah kebiasaan ber 'Lo hei' di Surabaya? Di sini sudah wajib hukumnya terutama bagi perusahaan2 spy bisnis jg lancar.

    Ohya...di sini masih banyak warga yang 'nanggap' lion dance datang ke rumah mereka. Tujuannya spy rejwki makin banyak dan lancar mengalir k rumah. Menarik ya. Jadi hingga sekarang, apalagi akhir pekan seperti ini, sebentar2 saya akan dengar suara tambur dan kendang ditalu dari rumah tetangga...ya itu nerarti sang singa sedang beraksi :-)

    ReplyDelete
  2. salut sama mbak maya yg sudah ngadain tur ke pecinan surabaya. maju terussss!!!!!

    ReplyDelete
  3. wahh.. seru yo. aku bien melok sing melantjong part I, sayang yg ini ga isa ikutan.
    Ning Maya emang ciamik, ditunggu acara melantjong2 selanjutnya :)

    ReplyDelete
  4. aih.. ci Maya, aku yo mlaku2 nang pecinan di petak 9 (foto2 ku di FB)..

    kalo di sby aku pengen melu sakjane.. hehe..

    eh buat yg punya blog mas Hurek, slam kenal yaa :D

    ReplyDelete
  5. salam kenal bang....kita kemaren barengan ikut melancong lho :)

    ReplyDelete
  6. Waaah, sudah posting duluaan...!!
    NICE POST..!!

    ReplyDelete
  7. Teman-teman sekalian,
    Terima kasih atas partisipasinya dalam acara Melantjong Petjinan Soerabaia kemarin.
    Mohon maaf atas kemoloran acara sampai 2 jam lebih,
    ini karena kesalahan perhitungan waktu dan di luar rencana, semua narasumber yang saya undang,
    berusaha memberikan yang terbaik untuk acara kali ini.

    Acara Melantjong Petjinan Soerabaia sebelumnya pernah dimuat di Kompas tgl 2 Jan 2010.
    Dan kali ini dimuat Jawa Pos dan Radar Surabaya hari ini, 22 Feb.
    Ada beberapa kesalahan penulisan di Jawa Pos yang sudah saya usahakan untuk ralat malam sebelum tayang, tapi gak kburu.
    Mudah-mudahan tidak ada pihak-pihak yang dirugikan, kalau ada saya ucapkan mohon maaf sebesar-besarnya.

    Foto2 acara ada yang sudah dimuat di facebook, silakan dilihat-lihat.
    Link-link akan saya coba letakkan semua di http://www.facebook.com/indriakresna#!/event.php?eid=304289193521
    Kisah-kisah dari acara ini mengenai misua, imlek dan potehi akan saya tayangkan bertahap pelan-pelan.
    Sekarang saya takbubuk dulu sambil nyembuhin budi saya (budek dikit).

    Sekali lagi terima kasih, tanpa Anda semua, acara ini juga ga ada apa-apanya.

    Foto2-nya bagi liat yaaa..

    Sampai ketemu lagi
    Maya

    ReplyDelete
  8. acara city tour kayak gini perlu diperbanyak. salam kenal.

    indra

    ReplyDelete