12 February 2010

Kue keranjang Tok Swie Giok di Sidoarjo




Tadi pagi (12/2/2010) saya mampir ke kediaman merangkap toko milik Tok Swie Giok di Jalan Raden Patah 19. Kawasan pecinan di Kota Sidoarjo. Mumpung mau Sin Cia, tahun baru Imlek, siapa tahu Tante Giok sedang bikin nian gao alias kue keranjang.

Sebelumnya, tante berusia 69 tahun ini saya kenal saat jalan sehat HUT Sidoarjo, Minggu 31 Januari 2010. Tante Giok sudah sepuh, tapi selalu semangat. Senyumnya manis, ramah, gampang akrab dengan orang baru macam saya. Dia terlibat aktif dalam paguyuban lansia sekaligus main liang-liong, kesenian tradisional Tionghoa.

Benar saja. Ketika saya tiba di rumah, Tante Tok Swie Giok sedang asyik di belakang. Sibuk menyiapkan kue ranjang alias nian gao tadi. Kue khas Imlek ini bahannya sangat sederhana: tepung ketan dan gula putih. Dibuat adonan, kemudian dikukus hingga empat jam lebih. "Ini semua baru diangkat," kata Tante Giok sambil tersenyum.

Ditemani dua tante yang lain, Tok Swie Lan dan Tan Sie Ing, semuanya orang Sidoarjo, Tante Giok asyik memindahkan nian gao dari oven ke dalam kemasan kertas berwarna merah. Kue-kue ini mirip dodol di Jawa. Manis, legit, ditanggung halal.

"Tahun ini saya tidak bikin kue keranjang dalam jumlah besar. Hanya sekadarnya untuk dinikmati sendiri setelah sembahyangan Sin Cia," kata Tok Swie Giok yang lahir pada 10 Oktober 1940 itu.

Sudah 20 tahun ini Tante Tok menekuni usaha kue ranjang. Namun, karena kondisi kesehatan kurang baik, menjelang Tahun Macan ini Tante Giok tidak produksi seperti biasanya. Belum lagi ada pertimbangan khusus menurut hitung-hitungan tradisional Tionghoa. "Kurang tepat kalau sekarang saya harus bikin banyak-banyak," katanya.

Namun, rupanya, diam-diam Njoo Tiong Hoo, rohaniwan dan pemimpin Vihara Dharma Bhakti "membocorkan" kepiawaian Tante Giok kepada wartawan. Maka, Tok Swie Giok pun ditulis besar-besar di koran Jawa Pos edisi 11 Februari 2010. Setelah masuk koran, banyak orang datang untuk memesan nian gao.

"Saya sampai kewalahan. Makanya, tolong saya jangan dimasukin koran lagi. Susah aku!" pinta Tante Giok.

Saya hanya ketawa-ketawa saja. "Masuk koran kan bagus, Tante! Orang jadi lebih mengenal tradisi dan budaya Tionghoa, termasuk kue ranjang. Ibu ikut berjasa melestarikan budaya Tionghoa," ujar saya mirip juru penerang era Orde Baru. Selanjutnya, obrolan kami pun mengalir lancar. Mas Tik alias Tan Tek Swee menjamu saya dengan teh botol manis.

Sebagai orang Tionghoa, apalagi tinggal di pecinan, Tante Giok tak asing lagi dengan kue ranjang. Apalagi, sang ayah, Tok Ie Siek (almarhum), dulu dikenal sebagai jagoan pembuat kue ranjang. Orang-orang Tionghoa di Sidoarjo dan sekitarnya, termasuk Surabaya, banyak yang pesan nian gao padanya. Bakat itu kemudian menurun pada Tante Giok, yang dulu sekolah di Sin Hwa High School Surabaya.

Dilihat sepintas, cara membuat kue ranjang ini sangat gampang dan sederhana. Namun, berdasar pengalaman Tante Giok selama 20 tahun terakhir, faktanya tidak sesederhana itu. Karena kue ranjang ini dipakai untuk persembahan saat Sin Cia, maka bisa disebut kue suci. Si Pembuatnya pun harus bikin dalam keadaan suci. Hati bersih.

"Kalau tidak, kuenya nggak akan jadi," kata Tante Giok. "Saya berkali-kali mengalami hal itu. Sudah menunggu beberapa jam, eh, kuenya nggak jadi."

Selain melayani pesanan orang, Tante Giok setiap tahun sengaja menyediakan nian gao untuk warga tidak mampu. Jangan lupa, tidak semua orang Tionghoa itu kaya-raya, punya uang berjibun. Tak sedikit keluarga Tionghoa yang miskin alias prasejahtera. Mereka-mereka ini umumnya lebih rajin sembahyang saat Sin Cia untuk meminta berkat dan rezeki dari Sang Pencipta Alam Raya. Namun, karena tak punya uang, mereka kesulitan memiliki kue ranjang.

"Jadi, saya selalu sisihkan kue ranjang untuk orang yang tidak mampu. Saya sudah tahu siapa-siapa saja yang membutuhkan karena tiap tahun selalu begitu," kata Tante Giok.

Tak terasa, sudah hampir satu jam saya cangkrukan di rumah Tante Tok, markas pembuatan nian gao di Sidoarjo. Saya pun minta diri. Tante Giok kemudian menyerahkan dua keping kue ranjang sebagai oleh-oleh.

"Silakan dinikmati," kata tante yang murah hati ini.

Kamsia! Xiexie!

Gong xi fa cai! Xin Nian Kuai Le!

8 comments:

  1. Bang Bernie,

    Pas benar baca artikel ini. Saya lagi menikmati nian gao juga lho! hehe
    Keluarga saya juga penggemar kue ini...memang nikmat sekali.

    Dulu...tetangga orang tua saya selalu taklupa kirim kami kue ini ketika Imlek. Sekarang tinggal di sini saya tidak pernah kekurangan si legit ini. Dekat2 Imlek begini...wah makin melimpah kue ini di mana2. Senangnya...:-)

    Gong Xi Fa Cai! Xin Nian Kuai Le!

    dy

    ReplyDelete
  2. selamat siang pak
    Lambertus L. Hurek

    saya seorang mahasiswa jurusan desain komunikasi visual di surabaya.Dan saya sekarang sedang dalam proses tugas akhir..saya mau bertanya dan saran bapak sebagai sebagai senior dalam bidang jurnalisme. Seandainya saya mau mengangkat bapak Slamet Abdul Sjukur dengan membuat buku otobiografi beliau dengan lebih kepada pendekatan fotografi.

    apakah cukup memungkinkan saya dapat memperoleh data2 dari pak Slamet secara langsung mengingat bapak Lambertus sudah pernah mewawancarainya secara langsung. dan karena saya di bidang desain sekaligus nantinya buku ini juga mengandung unsur fotografi, apakah ada kendala2 atau hal-hal yang dirasa susah?

    saya bukan orang yang mengerti musik secara dalam juga,namun saya merasa tertarik mengaangkat tokoh2 surabaya ini. Pada awalnya saya tertarik untuk mengangkat bapak Solomon Tong, namun karya tersebut sudah pernah ada sebelumnya dan lalu saya membaca blog bapak dan menemukan bapak Slamet Abdul Sjukur :)

    Seandainya boleh tahu, apakah Bapak Slamet Abdul masih sering mengadakan konser (karena nantinya saya tentu juga akan membutuhkan dokumentasi foto-foto terbaru untuk keperluan perancangan buku ini)


    terima kasih sebanyak-banyaknya:)

    ReplyDelete
  3. Hai Lambertus,
    Salam Kenal dari jauh…saya dapat nama kamu waktu saya google Gereja Palasari.

    Gereja Palasari di rekomen oleh salah satu Romo yang sedang belajar di USA kepada saya. Nama saya, Maria Khoe, dan saya berdomisili di Los Angeles, USA.

    Setiap tahun, komuniti Katolik Indonesia di LA (IC-ADLA = Indonesian Catholic Community of Archdiocese of Los Angeles), mengikuti acara-acara yang diadakan di REC (Religious Education Congress).

    REC ini pertamanya dibuat khusus untuk para guru agama, tetapi akhir-akhir ini semakin meluas, menjadi kancah pertemuan seluruh warga Katolik di USA. Event ini cukup besar, dan di dalam event ini biasanya ditawarkan kelas-kelas yang memberikan pengajaran singkat mengenai iman Katolik, perubahan-perubahan yang terjadi, liturgi, dlsbnya.

    Selain itu, setiap komuniti Katolik dari berbagai negara diberi kesempatan untuk membuat booth dan memamerkan mengenai agama Katolik di negara masing-masing.

    Tahun ini saya ditunjuk sebagai koordinator pelaksanaan booth ini, dan saya memilih tema “Gereja-gereja Katolik di Indonesia”.

    Salah satu gereja yang saya pilih, adalah Gereja Palasari ini.

    Untuk pameran ini, saya memerlukan foto-foto gereja ini, apakah bisa saya minta tolong anda untuk mengirimkan kepada saya, by email saja.

    Foto-foto ini akan saya pajang dan akan saya sertai juga history Gereja Palasari ini, yang sudah bisa saya dapatkan dari Google.



    Terima kasih, dan semoga anda bisa membantu saya.


    amdg


    Maria M. Khoe
    Vacation Planner
    18854 Sutter Creek Dr., Walnut, CA 91789
    626-854-1585

    ReplyDelete
  4. Terima kasih Mbah Dyah di negara singa, selamat kerja keras di tahun baru. Salam untuk kawan2 kita asal Indonesia di Singapura. Semoga makin sukses dan selamat.

    ReplyDelete
  5. Buat Maria USA dan mahasiswa UK Petra, jawaban saya via e-mail. Good luck!

    ReplyDelete
  6. ah,owe juga mo konyan nih supaya ceng li pake kwee nian gao biar itu dewa makan enak terus kasi laporan bagus sama raja dewa.sebab oweh takut sama giam lo ong.bisa oweh jadi hong yam.
    ban ban kamsia buat infonya.

    ReplyDelete
  7. Ini jualnya d seblh mana ya? Apanya rumah sakit siti hajar sidoarjo?

    ReplyDelete