24 February 2010

Irama Budaya Pindah ke THR




Setelah nobong di berbagai lokasi selama 23 tahun, Ludruk Irama Budaya akhirnya mendapat ‘kandang’ baru di Taman Hiburan Rakyat (THR). Mulai 4 Maret 2010, Ludruk Irama Budaya akan memulai fase barunya di THR.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Sejak tiga pekan terakhir Zakia stand by di kompleks THR Surabaya. Siang-malam waria bernama asli Sunaryo ini sibuk menata salah satu gedung pertunjukan di samping paseban, dekat Gedung Srimulat. Gedung lama ini memang mangkrak setelah ditinggal salah satu komunitas bela diri asal daratan Tiongkok.

“Saya dan teman-teman harus kerja keras bikin panggung, dekorasi, pasang tempat duduk, lighting, dan sebagainya. Capek sih capek, tapi saya bersyukur banget sama pemkot. Akhirnya, kami diberi kandang,” ujar Zakia yang saya temui di dalam gedung itu, Selasa (22/2/2010) siang.

Zakia Sunaryo, 55 tahun, begitu nama lengkap waria asli Ploso Gang III Surabaya, adalah seniman sejati yang juga pemimpin Ludruk Irama Budaya. Setelah mendapat izin dari Pemerintah Kota Surabaya untuk menempati gedung kosong itu, Zakia langsung bergerak cepat. Menjebol tabungan, cari pinjaman kiri-kanan, minta sumbangan... agar gedung baru ini bisa segera dimanfaatkan.

“Alhamdulillah, Ludruk Irama Budaya akhirnya dapat kandang. Wong ayam aja punya kandang, tempat berteduh setelah cari makan di mana-mana, mosok grup ludruk kayak Irama Budaya tidak punya kandang,” ujarnya. Zakia mengaku sudah habis Rp 15 juta untuk membenahi markas barunya ini.

Setelah selamatan pada 3 Maret 2010, disusul pentas perdana sehari kemudian, Zakia bertekad menggelar pertunjukan ludruk setiap malam di THR. Para pemain Irama Budaya yang 60 orang itu diboyong ke markas baru di belakang gedung. “Yang di Joyoboyo juga tetap main, cuma malam Minggu saja. Sebab, kami masih punya kontrak sampai akhir bulan Juli,” tuturnya.

Para penggemar ludruk yang sejak 1987 menikmati cerita dan banyolan khas Irama Budaya di Joyoboyo sudah lama dikondisikan bahwa grup kebanggaannya segera hijrah ke THR. Apalagi, gedung darurat untuk nobong di dekat Terminal Joyoboyo itu akan dikembalikan kepada si empunya.

“Jujur, selama ini saya pusing karena terlalu banyak masalah. Kontrak Rp 8 juta, listrik, air, makanan teman-teman, dan sebagainya,” tukas Zakia yang hanya jebolan kelas dua sekolah dasar ini.

Meski dipercaya mengelola gedung ludruk oleh UPDT THR, Zakia menegaskan, Irama Budaya tak akan memonopoli gedung itu. Pemain-pemain ludruk dari grup lain, bahkan kota-kota lain, dipersilakan berekspresi di sini. Bukan itu saja. Zakia yang merasa sudah sepuh punya beban moral untuk melakukan regenerasi peludruk. Mencetak pemain-pemain ludruk baru dari kalangan anak-anak muda.

“Saya namakan Ludruk Generasi. Mereka-mereka itu yang akan melestarikan ludruk. Insya Allah, ludruk tetap akan bertahan di Surabaya meskipun kondisinya tidak sebagus zaman dulu,” tegasnya.

Sekitar tiga tahun lalu, diam-diam, Zakia dan kawan-kawan menggelar lomba ludruk remaja se-Jawa Timur. Ada belasan grup ludruk yang dinilai layak diberi kesempatan untuk unjuk kebolehan di atas panggung. Mereka juga akan berkolaborasi dengan pemain-pemain senior atau bintang tamu tertentu.

“Nah, nanti setiap malam grup ludruk generasi ini main secara bergiliran. Woro-woronya ditulis di sini,” kata Zakia sambil memamerkan papan pengumuman yang baru dibuatnya di depan gedung.




Lain di THR, lain lagi di Joyoboyo. Suasana di markas tobong Irama Budaya terasa lesu darah. Gedung pertunjukan sekaligus tempat tinggal 60-an pemain ludruk terkenal itu pengap, gelap, jorok, dan acak-acakan.

Siang itu, beberapa peludruk bahkan belum sempat mandi pagi. “Malam ini nggak ada pertunjukan. Terakhir, kami main malam Minggu (20/2/2010) kemarin dengan judul Arwah Gentayangan. Pentas saban malam gak ada lagi,” ujar Cak Mondro (60) sambil merangkul kawannya yang waria. Seniman-seniman lain tertawa menyaksikan ulah Cak Mondro yang memang menggelikan.

Laki-laki kelahiran 12 April 1949 ini sudah makan asam garamnya ludruk dan teater tradisional umumnya. Sejak 1967 dia sudah ikut main ludruk, nobong ke sana kemari, mengalami jatuh-bangunnya ludruk. Dia menemukan jodoh, ya, berkat ludruk juga. “Saya menikah tiga kali. Sudah cukuplah,” akunya.

Sejak pamor ludruk merosot medio 1990-an, kemudian hancur pasca-2000, pemain-pemain ludruk macam Mondro ini kelimpungan. Mau kerja di tempat lain tidak mudah karena tak punya modal dan keterampilan. Pendidikan pun pas-pasan karena kebanyakan putus sekolah demi menyalurkan hobi berkesenian.

“Jadi, boleh dikatakan, saya dan teman-teman sekarang kelimpungan. Sekitar 90 persen menganggur,” katanya.

Apakah setelah boyongan ke THR bulan depan, kesenian khas Surabaya ini kembali diminati masyarakat? Cak Mondro terdiam lalu tersenyum kecut. “Mudah-mudahan saja sukses. Itu harapan kami semua di sini,” jawab Cak Mondro perlahan.

Kalau Cak Mondro terkesan ragu-ragu, sang juragan Irama Budaya, Zakia Sunaryo, justru sangat optimistis. Gedung baru (tapi lama) di THR, yang selalu disebutnya ‘kandang ludruk’, bakal membawa berkah bagi Irama Budaya maupun dunia ludruk umumnya. Alasannya sederhana saja: Irama Budaya sudah punya komunitas penggemar yang sangat fanatik.

"Buktinya, kami nobong di mana saja, mulai di Joyoboyo, Kremil, Moroseneng, Jarak, kembali lagi ke Joyoboyo, ya, tetap saja diikuti orang. Nanti pindah ke THR, insya Allah, penggemar kami akan datang juga," tandas Zakia.

Akankah optmisme Zakia menjadi kenyataan? Dan kompleks THR yang semakin sepi dari aktivitas kesenian bergairah kembali? Kita serahkan saja pada sang waktu.

6 comments:

  1. Sukses Mak.... Optimis Ludruk gak akan pernah mati...

    ReplyDelete
  2. tetap semangat selalu ludruk irama budaya..insya allah saya akan menonton awal mei ini

    ReplyDelete
  3. sukses deh poko'e. sudah lama tidak mendengar kabar baik dari THR, akhir nya THR bisa rame lagi oleh kesenian tradisional yg sempet menghilang...

    ReplyDelete
  4. teman2 semua, terutama mas lambertus hurek yang terhormat , saya tertarik dengan kisah irama budaya ..jika sekiranaya ada dari mas -mas ini yang tau no kontak irama budaya atau orang2 yang berkencimpung didalamnya (atau sekalian no hp mas zakia atau cak mondro, tolong beritahu saya di email saya di wirakosasih@yahoo.co.id atau prawiradisastra@yahoo.com...trimakasih

    ReplyDelete
  5. teman2 semua, terutama mas lambertus hurek yang terhormat , saya tertarik dengan kisah irama budaya ..jika sekiranaya ada dari mas -mas ini yang tau no kontak irama budaya atau orang2 yang berkencimpung didalamnya (atau sekalian no hp mas zakia atau cak mondro, tolong beritahu saya di email saya di wirakosasih@yahoo.co.id atau prawiradisastra@yahoo.com...trimakasih

    ReplyDelete
  6. mas bisakah saya meminta contact person kelompok ludruk irama budaya atau mas zakia karena saya mau meneliti tentang ludruk untuk Tugas akhir saya, kalau berkenan tolong di kirimkan ke alamat email saya black_remoted@yahoo.com atau dani.widyan@gmail.com. teroma kasih sebelumnya dan salam budaya

    ReplyDelete