11 February 2010

Facebook Menelan Blog




Facebook benar-benar fenomenal. Sejak dua tahun terakhir teman-teman, kenalan baru, mahasiswa, pelajar, bahkan ibu-ibu rumah tangga bicara Facebook. Bukan hanya bicara, tapi juga jadi pengguna aktif. Manusia yang tak punya akun Facebook dianggap ketinggalan zaman. Gaptek, gagap teknologi.

"Hari gini gak punya Facebook," ujar Ira, kenalan saya suatu ketika.

Saya memang belum punya akun Facebook. Sempat mencoba, tapi karena banyak pertimbangan, apalagi setelah beberapa teman kapok dan menutup akunnya, saya akhirnya belum berani ber-Facebook ria.

Facebook memang luar biasa. Saking fenomenalnya, semua produsen telepon seluler (ponsel) selalu ngecap bahwa produknya bisa untuk Facebook. Mau ber-Facebook kapan saja, di mana saja, bisa. Teman-teman, kenalan lama, yang dulu aktif menulis di blog kini pindah ke Facebook.

Blog yang pernah hiruk-pikuk ternyata memang kalah telak sama Facebook. Rima, mahasiswa kampus di Rungkut, yang dulu sangat aktif menulis di blognya--saya sering baca resensi filmnya--sudah lama kabur ke Facebook. Blognya di blogspot sudah lama dibiarkan mangkrak. Berbulan-bulan tak ada naskah, foto, atau postingan baru.

Sebaliknya, di Facebook dia muncul hampir setiap hari. "Lebih asyik di Facebook. Malah sekarang aku aktif di Twitter. Ikut perkembangan zaman dong. Ngapain tuh blogspot? Gak asyik," katanya.

Karena tidak lagi bermain di blog, si Rima pun tentu saja tidak berminat lagi berkunjung ke blogger-blogger lama yang pernah jadi temannya di internet. Teman-teman baru di Facebook jumlahnya jauh lebih banyak dan, katanya, lebih asyik. Tulisan pendek-pendek di Facebook lebih interaktif. Cepat dikomentari, direspons, ketimbang di blog yang sepi komentar.

"Pokoke Facebook, Facebook, Facebook.... Selamat tinggal blogger," kata Santi, juga mahasiswi di Surabaya.

Blognya si Santi ini lebih parah lagi. Jumlah tulisannya selama tiga tahun, sejak dia buka blogger, tak sampai 10. Tapi di Facebook dia banyak memosting, sehari biasa empat lima kali. "Facebook itu asyik banget. Blog kurang cocok untuk anak-anak gaul," katanya.

Rahma, juga mahasiswa komunikasi yang banyak membahas jurnalisme dan tulis-menulis, membuka blog setahun lalu. Bukan karena suka, tapi memang tugas dari dosennya. Semua mahasiswa wajib buat blog, kemudian dinilai sebagai bagian dari kuliah di jurusan komunikasi. Saya cek blog si Rahma ini.

Hehehe.... naskahnya tak sampai lima biji. Ada tulisan bagus tentang Mbah Surip almarhum, penyanyi fenomenal. Sejak Mbah Surip meninggal sampai sekarang belum ada posting baru. Sibuk kuliah? Tak ada waktu untuk menuliskah?

"Aku lari ke Facebook. Blog itu apaan sih? Asyik di Facebook," katanya.

Kata-kata macam ini juga kerap diucapkan banyak lagi mahasiswa di Surabaya. Blog dianggap masa lalu. Sudah habis digulung jejaring sosial yang sangat dahsyat macam Facebook, Twitter, dan entah apa lagi setelah ini.

Celakanya, tak hanya remaja-remaja, blogger pemula, yang memutuskan nonaktif atau menutup blognya. Tak sedikit blogger senior yang sudah berbulan-bulan, ada yang tahunan, tak memperbarui naskahnya. Ada blog yang naskah terakhirnya ditulis awal 2008 dan sampai sekarang tak ada perkembangan.

Bahkan, blog beberapa kuli tinta senior yang dulu paling aktif di jagat blog pun telantar. Padahal, merekalah yang membuat saya tertarik berblog ria. Saya coba mampir ke blog para blogger perintis di Indonesia itu. Aha, jarang ada naskah baru.

"Saya sudah lama aktif di Facebook. Sampai-sampai blogku gak diurus nih," kata seorang wartawan senior.

Tak bisa dinafikan memang blog sedang memasuki masa senja. Popularitasnya turun luar biasa. Dan bukan tidak mungkin perusahaan-perusahaan penyedia jasa blog memutuskan untuk menutup blogspot, blogdrive, multiplay, wordpress, dan sebagainya. Buat apa mempertahankan mainan yang sudah tidak sukai orang, bukan?

Namun, yang menggembirakan, pengunjung blog ini masih tetap banyak, bahkan cenderung naik dari waktu ke waktu. Rata-rata 700 tamu sehari. Suatu ketika pernah 1.500 orang. Mereka jelas pengguna internet yang ingin mendapat referensi tertentu setelah diantar oleh Mr. Google. Mereka jelas bukan orang-orang kurang kerjaan yang hanya menulis komentar sekenanya di bawah naskah.

Saya juga senang karena Blog Orang Kampung ini dikunjungi sejumlah mahasiswa serius, peneliti, dan dosen universitas terkenal baik di dalam maupun di luar Indonesia. Karakter pembaca (pengunjung) blog ini sebelum dan sesudah muncul Facebook sangat berbeda. Ada semacam seleksi alam di jagat internet.

Karena itu, meskipun virus Facebook sedang merebak dengan hebatnya di tanah air, saya masih merawat blog sederhana ala wong kampung ini. Padahal, sejak tahun lalu saya sempat terpikir untuk menutupnya dan hijrah ke Facebook yang populer luar biasa itu.

5 comments:

  1. Waduh, jangan pindah ke Facebook, siapa bilang blog tidak asyik? Facebook atau tulisan kita di facebook itu cuma dilihat dan dibaca serta dikomentar oleh teman2 kita yang sebelumnya sudah saling add, trus singkatnya pesan di facebook memang bagus tapi tidak bagus untuk kita tuangkan apa yang kita pikirkan sepenuhnya. Bayangkan Blog (BP, WP, dll) Tulisan2 kita dibaca banyak orang selain teman2 kita karena pengunjung datang dari mesin pencari. Mana ada tulisan kita di FB dibaca visitor yang datang dari search google.co.id? Kesimpulannya, FB memang lagi ngetrend makanya semua BLOGGER lari kesana, tapi tempat yang pas untuk menuangkan ide-ide dan pikiran kita hanya 1 : Blog pribadi / website.


    Eh Opu jangan marah komentar goen pi panjang2.. Kepae le take moon goe : http://ancispengelana.blogspot.com/ ? Komentar goen pi pake alamat blog lain soalnya goe lagi ikut kontes SEO jadi biar ada backlink go komentar pake url kontes.

    Masih Di Sidoarjo ka Opu?

    ReplyDelete
  2. Sebenernya tinggal tergantung dari kuatnya niat mz..kalo niat nge blognya kuat dy pasti bs bertahan meskipun sambil nge facebook juga.
    Artikel yang bagus mz...sbuah observasi

    Follow n kunjungan balik ke blog saya ya mz..

    ReplyDelete
  3. Bung, tidak perlu pindah. Bung boleh buka Facebook. Tetap menulis blog, dan bila ada tulisan baru, link-nya di-share sebagai post baru di Facebook atau Twitter. Kebanyakan blogger begitu. Blog itu kan alat untuk menulis. Facebook dan Twitter itu jalur komunikasi dan penyebaran ide.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas artikelnya kawan, tulisan yang sangat bermanfaat, ini Kali pertama saya mengunjungi blog ini, izinkan saya tuk menjelajahi dan menelusuri setiap postingan yang ada dan menitipkan link sebagai penanda agar pemilik blog ini selalu mengingat bahwa Saya adalah pengunjung setia dan berharap bahwa suatu saat pemillik blog ini sudi mengunjungi balik ke blog Saya dan menaruh komentarnya. Berhubung Blog Saya berbahasa Ingris, diharap mengisikan komentar menggunakan B Inggris. thanks by Sinjay School

    ReplyDelete
  5. betul seklai mas...facebook memang tidak bisa dihindari, semua orang pindah kesana, as online business owner ya mesti ikutan juga ke FB, tapi blog tetep.. :)

    ReplyDelete