12 February 2010

Duh, Tabrak Lari Lagi



Waduh, mengerikan! Kira-kira 30 menit lalu ada kasus tabrak lari di Jalan Raya Gedangan, dekat markas Arhanudse TNI AD. Pelajar putri terkapar dengan sepeda motor di jalan raya. Syukurlah, cewek manis itu masih bisa meringis.

Syukur pula, banyak orang ramai-ramai datang menolong si cewek. Tapi, sayang, si penabrak yang juga pakai sepeda motor sudah kabur lebih dulu ke arah Surabaya. Tak ada yang ingat, apalagi mencatat plat nomor sepeda motor penabrak.

"Yang nabrak itu laki-laki, umur 30-an," kata seorang tukang becak.

Kasus serupa, tabrak lari, juga saya saksikan minggu lalu. Bahkan, sampai dua kali. Pertama, malam hari, pukul 23.00 lebih di Jalan Ahmad Yani Surabaya, depan Gedung Expo Jawa Timur. Seorang bapak penjual buah rambutan naik sepeda motor. Tiba-tiba... darrrr.... motornya terpental dan tubuh si bapak terbanting ke aspal. Rambutan semburat, sementara si bapak pingsan.

Syukurlah, beberapa pengendara motor turun membantu korban tabrak lari. Panggil taksi, dibawa ke rumah sakit terdekat. Si penabrak? Wah, sudah kabur entah ke mana. Penerangan di Jalan Ahmad Yani tidak bagus, sehingga sulit bagi siapa pun untuk mengenali wajah penabrak yang pakai helm. Nomor kendaraan pun tak ada yang tahu.

Kasus kedua di Jalan Aryo Bebangah, kawasan Aloha, tak jauh dari Bandara Juanda. Dekat pabrik PT Maspion I yang terkenal itu. Jalan masuk perkampungan macam Bangah, Wage, Sawotratap, Pepelegi, Kedungturi... wilayah Kabupaten Sidoarjo. Meskipun masuk kampung, jalan ini selalu ramai. Tak kalah dengan jalan-jalan raya atau protokol.

Kejadiannya juga sama, klasik. Tabrak lari. Ada sepeda motor berjalan santai, tiba-tiba dihantam sepeda motor lain dari belakang. Penabraknya tidak apa-apa, langsung kabur cepat-cepat, sementara korban terpelanting ke pinggir kiri. Motor Yamaha warna hitam ringsek. Syukurlah, korban tidak mati. Cuma badannya masuk lumpur dan beberapa bagian tubuhnya tergores.

Tabrak lari. Kasus ini semakin banyak saja di Surabaya, Sidoarjo, Gresik. Saking banyaknya, orang menganggapnya biasa. Ditulis dikoran pun dianggap tidak menarik lagi. Namun, di balik ini sebetulnya kita layak prihatin. Ke mana rasa kemanusiaan si penabrak? Mana tanggung jawabmu? Sikap ksatria mulai hilang.

Saya membayangkan si penabrak mau turun, mengangkat korban, menelepon taksi, mengantar ke rumah sakit. Syukur-syukur membantu biaya pengobatan. Syukur-syukur memperbaiki atau mengganti sepeda motor yang rusak. Syukur-syukur mau minta maaf karena perbuatannya telah mencelakakan orang lain. Ingat, korban yang ditabrak pun manusia, ciptaan Tuhan, yang punya nyawa. Korban punya keluarga di rumah.

Wahai penabrak lari, bayangkan, suatu ketika Anda yang jadi korban tabrak lari!

No comments:

Post a Comment