07 February 2010

Doktor Soetomo atau Dokter Soetomo?



Di Surabaya ada rumah sakit umum terkenal di kawasan Karangmenjangan. Orang-orang dulu menyebut Rumah Sakit Karangmenjangan. Konon, rumah sakit milik pemerintah provinsi Jawa Timur ini terbesar di Indonesia Timur. Selalu jadi rujukan rumah-rumah sakit [bukan rumah sakit-rumah sakit] di Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Rumah Sakit Karangmenjangan ini nama resminya Rumah Sakit Dokter Soetomo Surabaya. Karena profesi atawa gelar "dokter" itu biasanya disingkat, cara penulisannya di koran-koran sering rancu. Koran A menulis Rumah Sakit dr. Soetomo. Koran B menulis Rumah Sakit Dr. Soetomo. Koran C menulis Rumah Sakit DR. Soetomo.

[Tanda baca titik dalam penulisan gelar lazimnya dihilangkan di koran-koran karena pertimbangan efisiensi dan keterbacaan. Terlalu banyak titik juga makan karakter manakala gelar yang ditulis terlalu banyak. Contoh: Prof. Dr. J.E. Sahetapy, S.H., M.A., S.Th.]

"Mana yang benar: Doktor Soetomo atau Dokter Soetomo?" tanya teman saya, penyunting naskah.

Mau tak mau, kita harus kembali membuka buku sejarah untuk mengetahui siapa gerangan Soetomo itu. Dan kebetulan di Surabaya catatan tentang riwayat hidup Soetomo, pejuang kemerdekaan ini, cukup banyak. Pak Tom, sapaan Soetomo, tempo dulu buka praktik di Jalan Simpang Dukuh (sekarang). Itu lho yang dekat Gedung Grahadi, belokan Jalan Gubernur Soerjo.

Pak Tom dimakamkan di Makam Kembang Kuning, Surabaya. Beberapa tahun lalu, saya sempat diminta untuk "menemukan" makam Pak Tom di Kembang Kuning. Kondisinya sudah tidak karuan.

Singkatnya, Pak Tom itu dokter lulusan STOVIA, School tot Opleiding van Indische Artsen, sekolah kedokteran zaman Hindia Belanda. Semacam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Selepas STOVIA, Pak Tom getol membantu rakyat yang terserang bermacam-macam penyakit. Mengabdi sebagai dokter dan ikut perjuangan politik bersama tokoh-tokoh nasional lain.

Soetomo bukan "doktor" alias lulusan Strata Tiga (S-3), program pendidikan setelah pascasarjana alias doktoral. Sangat penting bagi orang Indonesia untuk membedakan DOKTER dan DOKTOR. Banyak DOKTER yang DOKTOR, tapi hanya segelintir kecil DOKTOR yang DOKTER.

Menurut guru bahasa Indonesia di sekolah dasar, yang mengutip pedoman penulisan ejaan yang disempurnakan (EYD), DOKTER selalu ditulis dengan 'd' kecil, sedangkan DOKTOR yang S-3 dengan 'D' besar.

Karena itu, Rumah Sakit Karangmenjangan di Surabaya harus ditulis: Rumah Sakit dr. Soetomo, bukan Rumah Sakit Dr. Soetomo. Sebab, almarhum Pak Tom alias Soetomo yang diabadikan sebagai nama rumah sakit adalah dokter sejati, bukan doktor.

Ketika Wardiman Djojonegoro menjabat menteri pendidikan dan kebudayaan, diadakan penertiban gelar akademik di Indonesia. Gelar-gelar lama macam doktorandus (Drs.) tidak dipakai lagi. Dokter (dr.) pun tidak lagi menjadi gelar akademik, tapi sebutan untuk profesi. Dus, dokter itu samalah dengan profesi-profesi lain akuntan, guru, dosen, kiai, pastor, pendeta, apoteker, perawat, penyiar, dan sebagainya.

Karena itu, menurut saya, dokter-dokter itu tidak perlu mendapat perlakuan istimewa dalam bahasa Indonesia. Semua profesi itu mulia, bukan? Kita tidak perlu lagi berpenat-penat menulis sebutan profesi di depan nama orang. Tidak perlu menulis dr. Ahmad, cukup Ahmad saja. Tidak usah dr. Soetomo, cukup Soetomo saja.

Anda bebas mencantumkan gelar akademik si dokter yang biasanya berpanjang-panjang dan mbulet itu. Maka, seharusnya Rumah Sakit dr. Soetomo cukup ditulis Rumah Sakit Soetomo. Singkat, padat, jelas, tidak bikin bingung para redaktur media cetak.

Rumah Sakit dr. Karyadi (Semarang) cukup ditulis Rumah Sakit Karyadi. Rumah Sakit dr. Subandi di Jember cukup ditulis Rumah Sakit Subandi.

Kita yang di Jawa Timur perlu belajar dari orang Jakarta yang lebih efisien dalam menyebut nama rumah sakit. Mereka selalu menyebut RSCM: Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, bukan Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo. Padahal, semua orang tahu almarhum Cipto Mangunkusumo juga dokter lulusan STOVIA seperti almarhum Soetomo.

Saya juga mengusulkan agar nama Universitas Dokter Soetomo di daerah Semolowaru, Surabaya, itu dihemat. Cukup Universitas Soetomo. Toh, akronimnya tetap Unitomo.

No comments:

Post a Comment