06 February 2010

Bahasa Lamaholot Bikin Minder



Suatu ketika saya omong-omong dengan seorang pejabat asal Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), di Surabaya. Obrolan seru tentang budaya, ekonomi, politik. Teman saya yang asli Jawa Timur ikut mendengarkan.

Saat pulang dari kafe di hotel itu, si teman bertanya: "Kok kamu bicara pakai bahasa Indonesia? Katamu, di Flores ada banyak bahasa daerah. Apa kamu nggak bisa bahasa ibumu sendiri?"

"Dia kan pejabat, Mas!"

"Memangnya kenapa dengan pejabat?"

"Begini. Pejabat-pejabat yang berasal dari Flores Timur itu umumnya memang tidak mau lagi bicara bahasa daerah. Bahasa daerah itu dianggap bahasanya orang kampung, orang yang tidak mjau dan tidak berpendidikan.

"Pejabat tadi jelas bisa berbahasa Lamaholot, bahasa daerah kami di Flores Timur, tapi gengsinya akan jatuh kalau dia berbicara dalam bahasa Lamaholot. Bahasa Indonesia, meskipun tidak dalam versi 'baik dan benar', jauh lebih bergengsi," kata saya panjang lebar.

Teman saya yang sarjana itu heran. Saya tahu dia sulit menerima penjelasan saya meskipun sudah saya sederhanakan. Sebab, pejabat-pejabat di Jawa Timur terbiasa berbahasa Jawa, selain berbahasa Indonesia. Bupati Sidoarjo Win Hendrarso berbahasa Jawa ketika turne ke desa-desa.

Wali Kota Surabaya Bambang DH lebih suka berbahasa Jawa. Bambang DH bahkan tampil dalam gaya bahasa Suroboyoan di acara Cangkrukan JTV. Gubernur Jawa Timur Soekarwo sejak dulu lebih nyaman berbahasa Jawa.

Kok bisa pejabat-pejabat atau "orang-orang hebat" asal Flores Timur cenderung menghindari bahasa Lamaholot, bahasa yang dipakai sekitar 95 persen masyarakat Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata? Itulah bedanya orang Jawa dan Flores Timur, atau NTT umumnya. Di Flores Timur, termasuk Lembata, bahasa tak sekadar alat komunikasi, tapi juga menunjukkan pangkat, derajat, kedudukan, status sosial seseorang.

Situasinya kian rumit lagi mengingat bahasa Lamaholot sendiri tidak sehomogen bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Madura, atau bahasa Bali. Dialek atau logatnya terlalu banyak. Beberapa ahli bahasa macam Prof Dr Gorys Keraf atau Dr Inyo Fernandez membagi bahasa Lamaholot menjadi Lamaholot Timur, Lamaholot Tengah, Lamaholot Barat. Kategori ini sebenarnya terlalu simplistis. Tidak menggambarkan keragaman bahasa di 13 kecamatan (sebelum pemekaran) di Flores Timur dan Lembata.

Bahasa Lamaholot dialek Adonara, yang dianggap sebagai dialek standar dan 'tertinggi', misalnya, masih bisa dibedakan dalam Adonara Barat dan Adonara Timur. Adonara Timur sendiri ada perbedaan aksen dan bunyi yang tajam antara kawasan Boleng dengan Witihama atau Redontena, misalnya. Belum lagi Lamaholot dialek Lamahala, kampung yang 100 persen Islam yang juga berada di Adonara Timur.

Di Flores Timur daratan juga terdapat perbedaan mencolok antara dialek Wulanggitang, Tanjung Bunga, Waibalun, Lewolaga, Lewotala, dan sebagainya. Pulau Solor yang terdiri atas Solor Timur dan Solor Barat berbahasa Lamaholot dialek Solor yang hampir sama. Sulit membedakan bahasa Lamaholot versi Solor Barat dan Solor Timur.

Bagaimana dengan bahasa Lamaholot di Pulau Lembata? Lebih kompleks lagi karena perbedaannya terlalu jauh. Orang Ile Ape seperti saya umumnya sulit memahami bahasa Lamaholot versi orang Lebala, Kalikasa, Lamalera, Boto, Puor, Waiteba, Hadakewa, dan seterusnya. Padahal, bahasanya sama-sama disebut Lamaholot.

Kurangnya komunikasi karena akses jalan yang sulit membuat masyarakat Lembata sejak dulu jarang berhubungan satu sama lain. Akibatnya, bahasanya pun sangat bervariasi meskipun akarnya sama. Ada pula bahasa Kedang di Kecamatan Omesuri dan Buyasuri yang berbeda total dengan bahasa Lamaholot, sehingga dikategorikan sebagai bahasa sendiri.

Jangankan beda kecamatan, di Kecamatan Ile Ape yang punya 15 desa [sebelum pemekaran] punya logat yang berbeda-beda. Ada logat Mawa, Atawatung, Bungamuda, Lewotolok, Ebak, Tokojaeng, Waipukang [Noketea], dan Tanjung Bahagia alias Lewulun. Jadi, masyarakat di 15 desa itu punya delapan logat, aksen, atau dialek.

Desa saya, Mawa, yang berbatasan langsung dengan Atawatung dan Bungamuda berbeda logat. Apalagi, yang jauh-jauh seperti Tokojaeng, Baopukang, Kimakamak, atau Dulitukan. Saya bisa menebak asal desa seseorang hanya dengan mendengar beberapa kata yang diucapkan. Sama mudahnya dengan bahasa Madura di Jawa Timur yang aksennya sangat jelas. Logat seseorang tak mungkin bisa ditutup-tutupi.

Banyaknya logat Lamaholot di Flores Timur tanpa disadari telah melahirkan "kasta bahasa". Ada logat yang dianggap tertinggi, bagus, hebat; sebaliknya ada logat yang dianggap buruk, lucu, jadi bahan tertawaan. Logat Lamaholot Adonara Timur dianggap sebagai kasta tertinggi. Ditambah latar belakang Adonara Timur sebagai pusat budaya Lamaholot, dengan Kerajaan Paji dan Demong, bahasa Lamaholot versi Adonara punya tempat terhormat.

Saya pernah tinggal di Asrama Pankratio, asrama pelajar SMPK San Pankratio, yang sangat terkenal di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Masyarakat Larantuka tidak berbahasa Lamaholot, melainkan bahasa Nagi atau Melayu Larantuka. Asrama Pankratio ini menampung semua pelajar dari hampir semua daerah di Flores Timur. Mulai pelosok Lembata, Adonara, Solor, Flotim Daratan, luar Flotim, Kupang, bahkan ada beberapa pelajar asal Jawa.

Di sini saya makin tahu dan mengalami sendiri "kasta-kasta" bahasa Lamaholot itu. Teman-teman asal Adonara Timur, misalnya Witihama atau Redontena, selalu bicara keras-keras dalam nada tinggi. Orang Solor yang bahasanya dianggap lucu dan aneh tak berani menimpali. Begitu juga orang Ile Ape seperti saya. Ketika saya ikut nimbrung dalam bahasa Lamaholot logat Ile Ape, semua teman tertawa terbahak-bahak. Logat saya ditiru dan jadi bahan lawakan (atau ejekan?).

Teman-teman dari Solor pun bernasib sama: inferior ketika berhadapan dengan teman-teman Adonara Timur yang memang sangat dominan. Maka, terjadilah pengelompokan teman-teman berdasarkan asal-usul. Orang Tanjung Bunga dengan Tanjung Bunga. Wulanggitang dengan Wulanggitang. Solor dengan Solor. Orang Lembata sulit bersatu karena bahasanya memang berbeda-beda.

Akhirnya, saya dipaksa oleh keadaan untuk belajar berbahasa Indonesia standar dan belajar bahasa Nagi. Saya ikut semacam 'kursus intensif' langsung pada orang-orang asli Larantuka alias Nagi. Saya juga makin rajin membaca buku, majalah, surat kabar, yang memang disediakan asrama. Kemajuan saya cukup pesat. Maka, sejak itu saya selalu berbahasa Indonesia dengan teman-teman seasrama. Saya minder kalau harus bicara Lamaholot versi Ile Ape, kampung halaman saya.

Di dalam kelas, saya lagi-lagi dibuat minder karena beberapa guru asal Adonara dan Larantuka kerap menceritakan lelucon tentang orang-orang Ile Ape yang konyol dan tolol. Orang Ile Ape itu sejak dulu terkenal suka merantau ke Malaysia dan sering tertipu oleh makelar alias calo TKI. Suatu ketika, cerita Pak Martinus Lamuri, guru senior kami, puluhan orang Ile Ape dibawa naik perahu layar tujuan Malaysia. Setelah beberapa malam, perahu itu lego jangkar di sebuah pantai.

"Bapak-bapak sekalian, kita sudah sampai di Malaysia," kata si nakhoda.

Orang-orang kampung di dalam perahu itu terkaget-kaget melihat suasana 'Malaysia' yang mirip dengan kampung halamannya. Ibu-ibu berjalan sambil memikul periuk berisi air sambil berbicara dalam bahasa Ile Ape.

"Lho, kok Malaysia mirip Ile Ape?" ujar Pak Martinus dalam logat Ile Ape yang dibuat selucu mungkin. Tentu saja, teman-teman seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Guyonan lawas ini pun kemudian sering ditirukan teman-teman jika pak guru kebetulan tidak masuk. Yah, teman-teman memang terhibur, tapi kami yang kebetulan berasal dari Ile Ape panas kuping dengan wajah memerah.

Lantaran sering dibuat bahan tertawaan, siswa asal Ile Ape biasanya tidak berani bicara secara bebas dengan teman-temannya sesama Ile Ape dalam bahasa ibu. Harus berbahasa Indonesia atau berbahasa Nagi. Berbahasa Lamaholot dialek Ile Ape hanya dilakukan di lingkungan sendiri. Kalau bicara dengan orang Adonara, ya, kami bisa menyesuaikan diri dengan menggunakan logat Adonara yang memang tidak begitu sulit.

Sehebat-hebatnya bahasa daerah, termasuk bahasa Lamaholot versi Adonara Timur, ia masih kalah kelas dengan bahasa Nagi (Melayu Larantuka). Sebab, bagaimanapun juga bahasa Lamahaolot itu bahasanya orang kampung, orang "belakang gunung". Orang kampung itu kalah segala-galanya dari orang kota seperti Larantuka.

Itu sebabnya, bisa "dimengerti" pejabat-pejabat yang berasal dari kampung, etnis Lamaholot, enggan berbahasa Lamaholot. Dia ingin kelihatan beda. Ingin menunjukkan kelasnya sebagai orang yang sudah sangat maju, punya peradaban kota, yang kontras dengan orang-orang di belakang gunung sana.

Sehebat-hebatnya bahasa Nagi, ia masih kalah kelas dengan bahasa Kupang [Melayu Kupang]. Kupang ibukota Provinsi NTT, kota paling maju di NTT. Karena itu, orang-orang kampung yang sekolah, kuliah, kerja, atau tinggal di Kupang selalu merasa punya "kasta" yang lebih tinggi ketimbang masyarakat NTT di kampung-kampung. Jangan heran, orang-orang asal Ile Ape yang bekerja di Kupang "lupa" bahasa daerah ketika berlibur di kampung halaman.

"Beta sonde bisa bicara bahasa daerah, na," begitu kira-kira ujaran orang kampung yang sudah di-Kupang-kan.

Yang menarik, penyakit rendah diri alias minder bahasa ini tidak dialami orang-orang Eropa atau Amerika, khususnya para misionaris Barat yang bekerja di Flores. Pastor-pastor Societas Verbi Divini (SVD) itulah yang justru mengembangkan liturgi inkulturasi dalam adat-istiadat Flores, termasuk Lamaholot.

Saya masih ingat dulu, tahun 1980-an dan 1990-an, Pater Petrus Maria Geurtz SVD yang bekerja di Paroki Ile Ape sering menyampaikan khotbah dalam bahasa Lamaholot, bahasa yang digunakan orang kampung sehari-hari. Pater Geurtz yang asli Negeri Belanda ini memang poliglot, menguasai banyak bahasa. Umat senang mendengar khotbahnya, sementara Pater Geurtz pun betah melayani umat dengan jalan kaki atau naik sepeda dari kampung ke kampung hingga akhir hayatnya.

Kontras betul Pater Geurtz SVD, Pater Willem van de Leur SVD, Pater Lorentz Hambach SVD, atau Pater Trummer SVD dengan pejabat-pejabat asli Lamaholot, Flores Timur. Kalau misonaris-misionaris Barat yang sudah almarhum semua itu berusaha berbahasa Lamaholot, agar makin dekat dengan masyarakat, pejabat-pejabat yang asli Lamaholot malah tidak mau berbahasa Lamaholot agar terkesan maju dan hebat.

6 comments:

  1. terima kasih tata lamber atas tulisannya.
    kalau menurut saya juga seperti itu, sebab dari yang saya amati selama ini, pejabat maupun orang-orang flores timur yang ada di luar flores, jarang atau bahkan tidak menggunakan bahasa lamaholot ketika berkomunikasi dengan orang lamaholot sendiri. saya mau bertanya, kenapa mereka malu mengunakan bahasa lamaholot? padahal bahasa itu adalah bahasa yang membesarkan mereka.
    kalau saya, saya lebih senang menggunakan bahasa lamaholot dengan teman teman saya yang juga dari lamaholot. kebetulan saya sekarang tinggal di surabaya. saya rasa saya lebih bangga menggunakan bahasa lamaholot.
    sekian dari saya terima kasih...

    ReplyDelete
  2. Kayaknya, bahasa itu dipakai tergantung selera dan juga kemudahannya. Contohnya, bahasa latin dulunya adalah bahasa kaum terdidik dan terhormat, tetapi kini mulai digeser peranannya.
    Klow berbicara di lebih dari empat mata, rasanya memang kurang nyaman kalau orang lain tidak mengerti pembicaraan kita yang panjang lebar. Hal yang berbeda terjadi jika hanya untuk perintah-perintah pendek, kita nyaman saja menggunakan bahasa daerah karena tidak rumit. Tetapi kalau pembicaraan dengan pengertian yg mendalam seperti kepada pejabat, orang tua dll, barangkali bahasa daerah kurang cocok karena pengertiannya nanti jauh berbeda. Kami yg anak-anak muda pun kini tidak mahir lagi bahasa orang tua yang yang memang tidak langsung menukik ke topik. Istilahnya "berputar-putar gitu". Jadi, masalah bahasa memang sulit, pantas saja orang mesti jadi profesor untuk memudahkan kita mengerti.

    ReplyDelete
  3. Om,saya minta diulas bahasa daerah Lembata khususnya Bahasa Kedang.
    Saya orang Kedang yang besar di Sumba.kata teman2 Bahasa KEdang paling aneh dari semua bahasa yang ada di pulau Lembata..
    Makasih Om..

    ReplyDelete
  4. Bahasa di Lembata itu pada dasarnya Lamaholot, satu rumpun dengan bahasa2 di Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Hanya saja, bahasa Kedang paling berbeda dari dialek2 lain yang ada di Lembata. Itu yang mwmbuat bahasa Kedang yang dipakai di Kecamatan Omesuri dan Buyasuri alias tanah Kedang dianggap aneh.

    Yang bilang aneh itu ya para penutur bahasa Lamaholot karena kosa katanya sangat sedikit dipahami di luar orang Kedang. Beda dengan saya yang dari Ileape, orang lain seperti Adonara atau Solor mengerti, begitu pula sebaliknya.

    Karena itu, di kalangan ahli bahasa, bahasa Kedang dianggap sebagai bahasa sendiri di luar rumpun Lamaholot. Saya rasa orang2 keturunan Kedang yang ada di sekitar anda bisa menjelaskan dengan lebih baik. Intinya: di dunia ini tidak ada bahasa yang aneh atau bahasa yang buruk. Semua bahasa itu penting untuk komunikasi penuturnya.

    Sialnya, di NTT semangat menghargai bahasa daerah ini sangat kurang. Bahasa daerah dianggap bahasa orang kampung, bahasa yang kurang intelek. Salam damai.

    ReplyDelete
  5. Membaca artikel ini membuat saya semakin menyadari keragaman budaya kita, dalam hal ini bahasa sebagai media komunikasi. Saya sering mendengar bahwa bahasa daerah di beberapa tempat memang hanya dituturkan sekelompok masyarakat, termasuk di daerah saya di Sumatera Utara. Tapi ukuran kelompok masyarakat di Flores sebagai penutur satu bahasa ternyata sangat kecil, jauh berbeda dari daerah saya yang bisa terdiri dari beberapa kabupaten, tapi hanya berbeda dialek. Benar-benar artikel yang mencerahkan dan menambah wawasan.
    Perkara malu ataupun gengsi, menurut saya itu tergantung dari pribadi masing-masing. Saya terkadang karena senangnya bertemu orang sekampung langsung berkomunikasi dengan bahasa daerah walaupun tidak terlalu lancar. Ada kebanggaan dan kesenangan sendiri bisa mempraktekkan bahasa daerah di perantauan. Tetap bangga berbahasa daerah karena itu adalah ciri khas kita. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?
    Salam persatuan Bang..

    ReplyDelete
  6. Go Chok Tong, mantan perdana menteri Singapura pernah dimarahi oleh seniornya Lee Kuan Yew.
    Ketika pemilu, Go selalu berpidato dengan bahasa Inggris yang sangat fasih. Lee menegurnya, siapa yang mengerti apa yang lu bicarakan ! Dihadapan kommunitas Melayu, lu harus pakai bahasa Melayu ! Dihadapan kommunitas Khek, lu harus bicara pakai bahasa Khek, demikian pula dihadapan kommunitas Hokkien, lu harus pidato pakai bahasa Hokkien, .....dan seterusnya.
    Go bilang, gua tidak bisa bahasa daerah dan Mandarin, gua cuma bisa bahasa Inggris.
    Lee Kuan Yew menegurnya : mangkanya belajar bahasa daerah dan mandarin !!!!

    ReplyDelete