29 January 2010

Tionghoa dan Sepak Bola



Sejak dulu orang Tionghoa di Surabaya aktab dengan sepak bola. Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka, orang Tionghoa sudah mendirikan perkumpulan olahraga bernama Gymnastiek en Sportvereeniging Tionghoa Surabaya pada 1908.

"Perkumpulan olahraga itu kemudian berubah nama menjadi Naga Kuning dan sekarang Suryanaga," ujar RN Bayu Aji kepada Radar Surabaya kemarin (25/1/2010).

Alumnus Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga ini akan segera meluncurkan bukunya bertajuk Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola.

Ide untuk menulis ini sangat sederhana. Saat harus menyelesaikan skripsi, rancangan skripsi tentang Adu Doro di Surabaya tidak disetujui dosen. Karena kecewa, Bayu Aji kemudian bermain sepak bola dan futsal setiap pagi dan sore. Akhirnya, muncul ide menulis kajian sepak bola, terutama kalangan Tionghoa.

"Sebab, dulu banyak pemain sepak bola kita dari kalangan Tionghoa. Bahkan, tim nasional kita pemain utamanya orang Tionghoa. Nah, naskah skripsi saya ini yang kemudian diterbitkan menjadi buku," paparnya.

Menurut Bayu, keterlibatan warga Tionghoa dalam olahraga, khususnya sepak bola sejak era Hindia Belanda, tak lepas dari kedudukan orang-orang Tionghoa yang lebih mapan daripada bumiputra.

Sekolah-sekolah Tionghoa pun lebih maju dan kuat, baik finansial dan manajemen dibanding sekolah-sekolah bumiputra. Bahkan, bisa bersaing dengan sekolah Belanda.

Karena itu, "Orang Tionghoa lebih siap menerima sepak bola melalui ranah pendidikan," ujar Bayu yang sudah menerbitkan buku Enam Tahun MK Mengawal Konstitusi dan Demokrasi dan Mengawal Demokrasi Menegakkan Keadilan Substantif.

Lantas, mengapa saat ini orang Tionghoa di Indonesia, tak hanya Surabaya, hengkang dari sepak bola?

Menurut Bayu, fenomena ini mulai terlihat sejak awal Orde Baru karena ada rasialisme yang muncul di masyarakat. Pemain sepak bola Tionghoa sering diteriaki 'Cino' oleh suporter. Hal itu membuat orang Tionghoa merasa tidak nyaman ketika berada di stadion.

"Perbedaan antara pribumi dan non pribumi juga masih dirasakan dalam kehidupan. Akibatnya, ketika terjadi kerusuhan dalam sepak bola, bisa bergeser pada sentimen ras. Orang Tionghoa yang pragmatis kemudian melihat sepak bola tidak bisa dijadikan sandaran hidup. Mereka lebih suka berdagang," tegasnya.


Pada era Hindia Belanda, komunitas Tionghoa di Surabaya sudah punya manajemen klub dan kompetisi yang rapi. Tidak heran, klub Tionghoa Surabaya dikenal sebagai tim elit bersama UMS Batavia, Union Semarang, dan YMC Bandung.


KLUB Tionghoa Surabaya sering menjadi juara steden wedstrijden dan kompetisi lokal. Di antaranya, Piala Hoo Bie (1921-1922), Piala Tjoa Toan Hoen (1925), Juara CKTH 1927-1929, Juara HNVB (1930-1932).

Masa keemasan terjadi pada 1939 ketika meraih juara kompetisi SVB (Soerabajasche Voetbal Bond) serta juara pertama Java Club Champion.

Sepak bola di era prakemerdekaan itu sarat dengan nuansa politik, baik kalangan Tionghoa, Belanda, maupun Bumiputera. Penggalangan dana dan pertandingan amal merupakan salah satu contoh bahwa sepak bola dekat dengan politik.

"Pertandingan amal bisa dikatakan sebagai bentuk semangat nasionalisme meskipun bersifat simbolik dan sesaat," kata alumnus Universitas Airlangga ini.

Pada 1938, Indonesia yang waktu itu masih bernama Hindia Belanda mengikuti Piala Dunia di Prancis. Ini merupakan fakta menarik mengingat setelah kemerdekaan, 17 Agustus 1945, kesebelasan Indonesia tak pernah sekali pun mencicipi rasanya tampil di ajang sepak bola paling bergengsi di dunia itu. Jangankan ikut Piala Dunia, di tingkat Asia Tenggara tim Indonesia sangat sulit bersaing.

Menurut Bayu, saat akan mengikuti Piala Dunia di Prancis sempat terjadi ketegangan antara NIVB (Persatuan Sepakbola Hindia Belanda) dan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) terkait nama tim nasional. PSSI meminta agar nama timnas yang ikut Piala Dunia adalah Indonesia. Sedangkan NIVB meminta nama Nederlandsch-Indie alias Hindia Belanda alias Dutch East Indies.

FIFA kemudian mengakui nama Nederlansch-Indie dan PSSI menarik diri dari timnas. Nah, peran inilah yang kemudian diisi oleh komunitas Tionghoa untuk ikut pertama kali memperkuat timnas. Pemain Tionghoa Surabaya yang ikut Piala Dunia adalah Tan Mo Heng alias Bing (kiper) dan Tan Hong Djien (striker). Satu pemain lagi dari Surabaya adalah Tan See Han.

Belajar dari sejarah, di mana orang-orang Tionghoa berprestasi hebat di sepak bola pada 1930-an, Bayu mengajak semua pihak untuk 'mengembalikan' kejayaan sepak bola Indonesia dengan cara merangkul semua warga negara dari etnis apa saja, termasuk Tionghoa. Momentum itu mulai datang ketika Presiden Abdurrahmah Wahid (Gus Dur) mengembalikan kembali hak-hak Tionghoa sebagai WNI.

"Dan bukan tidak mungkin orang Tionghoa berkiprah lagi dalam sepak bola dan bisa menunjukkan prestasi yang lebih. Bahkan, bisa membawa kejayaan sepak bola Indonesia lagi dan ikut Piala Dunia seperti tahun 1938," tegasnya.

3 comments:

  1. kok badminton enggak ya, apa kurang populer?

    ReplyDelete
  2. Dulu semua olahraga digeluti: bola, basket, tinju, tenis, badminton.... Tapi pasca-1965 sepak bola dijauhi karena risikonya sangat tinggi. Main di stadion disaksikan ribuan orang yang cenderung kurang bersahabat sama kaum Tionghoa.

    Maka, larilah ke olahraga individual macam badminton atau tenis. Basket juga ditekuni karena main di dalam ruangan. Sangat beda dengan sepak bola.

    ReplyDelete