04 January 2010

Syafi’i Prawirosedono Pelukis Wayang



Sejak tanggal 1 Suro (18/12/2009) Syafi’i Prawirosedono, 66 tahun, sibuk melayani konsultasi seputar budaya Jawa serta menjamas pusaka. Untuk sementara, aktivitas rutinnya sebagai pelukis wayang di rumahnya di Semolowaru Indah Surabaya I Blok H-15 Surabaya dikesampingkan dulu.

“Beginilah aktivitas saya setiap bulan Suro. Nguri-uri kabudayaan Jawi biar gak hilang ditelan arus globalisasi. Jangan lupa, kita sekarang sedang dilanda gelombang globalisasi yang sangat dahsyat,” ujar Syafi’i Prawirosedono kepada Radar Surabaya pekan lalu.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Sejak kapan Anda aktif membersihkan (menjamas) keris setiap bulan Suro?


Sudah lama sekali. Sebagai orang Jawa yang besar di kawasan Mataraman (Syafi’i lahir di Blitar, Red), tradisi penjamasan pusaka ini memang sangat akrab di masyarakat. Di Surabaya atau Sidoarjo yang kelihatannya kurang kelihatan karena budayanya budaya arek. Orang arek itu, meski sama-sama orang Jawa, agak berbeda dengan budaya Mataraman. Apalagi, dengan masyarakat di Solo atau Jogja.

Sebenarnya, yang dijamas itu bukan hanya keris, tapi semua benda pusaka. Benda-benda itu disimpan dengan baik di rumah, dirawat, dijamas... karena dianggap punya tuah. Menyimpan benda-benda pusaka itu berbeda dengan mengoleksi lukisan atau menyimpan benda-benda biasa. Sebab, ini menyangkut tradisi dan budaya Jawa.

Tapi mengapa ada kesan keris yang paling banyak dijamas?


Memang. Bagi orang Jawa, keris itu dianggap sebagai benda yang adiluhung, sehingga menjadi barang pusaka. Tapi tidak semua keris masuk benda pusaka. Sejak zaman Kerajaan Singosari, kita mengetahui bahwa keris itu merupakan karya seni yang luar biasa dari empu-empu saat itu. Siapa sih yang tidak pernah dengar nama Empu Gandring?

Nah, empu-empu zaman dulu tidak sembarang dalam membuat keris. Mereka memilih besi-besi kualitas terbaik. Sebelum membuat keris, mereka juga melakukan ritual-ritual tertentu. Kapan hari yang baik untuk membuat. Karena itu, dalam sebulan mungkin hanya dihasilkan satu dua keris saja. Beda dengan industri kerajinan yang tiap hari bisa menghasilkan puluhan atau ratusan keris. Hehehe.....

Itu yang membuat keris punya nilai yang sangat tinggi, kecuali keris hasil kerajinan tangan zaman sekarang. Zaman dulu, kalau kita mendengar cerita dari orang-orang tua, keris-keris ini punya kekuatan gaib, supranatural. Sulit dipahami dengan logika biasa, tapi kenyataannya memang begitu.

Keris itu ada berapa macam?

Secara umum ada tiga. Pertama, keris tayuh, yang biasa dipakai untuk melindungi diri. Keris jenis ini diyakini punya tuah dan punya dampak bagi kolektornya. Kedua, keris ageman atau aksesoris. Biasa dipakai dalam upacara-upacara tertentu. Untuk menghadiri pemakaman orang yang meninggal ada jenisnya sendiri. Untuk pernikahan ada sendiri. Ketiga, keris sebagai senjata atau untuk berperang.

Selain penjamasan pusaka, apa lagi tradisi yang biasa dilakukan setiap Suro?

Ruwatan. Sebuah ritual tradisional untuk menolak bala. Anak-anak diruwat, sekaligus didoakan, agar mendapat lindungan dari Allah SWT, tidak terkena malapetaka. Yang perawan tua diruwat supaya dapat jodoh. Perusahaan yang kurang maju juga bisa diruwat dan seterusnya. Tentu saja, orangtua atau peserta ruwatan harus berdoa kepada Allah agar mendapat perlindungan dari-Nya.

Tradisi lain adalah sedekah bumi. Ini biasa dilakukan masyarakat di pedesaan. Bulan Suro dianggap sebagai bulan terbaik untuk melakukan sedekah bumi. Jangan lupa, orang-orang desa itu semuanya petani. Masyarakat agraris. Bumilah yang menyediakan kehidupan untuk mereka. Dengan melakukan sedekah bumi, mereka berharap mendapat hasil panen yang melimpah. Dijauhkan dari hama dan penyakit.

Kabarnya, Anda pernah diundang ke Singapura untuk menjamas keris?

Ya. Itu pengalaman yang sulit dilupakan dalam hidup saya karena saya diminta untuk nguri-uri kabudayaan Jawi di luar negeri. Itu juga bukti bahwa tradisi dan kebudayaan Jawa ternyata diminati di mancanegara. Masak, kita yang orang Jawa tidak mau melestarikan kebudayaan kita sendiri?

Nah, Bapak Haji Raja Sadam itu orang Singapura yang hobinya adalah berburu keris ke berbagai tempat di Indonesia. Koleksi kerisnya lebih dari 2.000. Nilainya mungkin lebih dari Rp 1 miliar.

Suatu ketika Pak Raja Sadam ini bertemu saya di sebuah pameran keris di Malang. Kami saling tukar kartu nama. Beberapa saat kemudian, beliau menelepon minta saya datang ke rumahnya di Singapura. Ongkos transportasi, penginapan, makan dia yang tanggung.

Apa saja yang Anda lakukan di Singapura?

Saya diminta mendata semua keris yang dikoleksi Pak Raja Sadam. Sebab, beliau ini orang Melayu-Singapura yang tidak sepenuhnya paham jenis-jenis keris, tahun pembuatan, fungsi, dan sebagainya. Selama dua bulan saya harus mengidentifikasi 2.000 keris itu, mulai tahun pembuatan, pamor, dan sebagainya. Saya terkesan karena Pak Raja Sadam ini menyimpan keris-keris itu sebagai harta pusakanya.

Lantas, mengapa tradisi Jawa justru makin luntur di sebagian masyarakat Jawa sendiri?

Itu banyak sebabnya. Salah satunya karena perkembangan zaman yang sangat pesat. Begitu banyak budaya luar, khususnya Barat, masuk dan dipromosikan dengan gencar, sehingga budaya kita sendiri mulai terdesak ke pinggiran. Orang kemudian menganggap budaya Jawa seperti penjamasan pusaka atau ruwatan sebagai budaya kuno, tidak modern. Orang-orang kita ini kan sering kali ‘terlalu modern’ sehingga lupa akar kebudayaannya sendiri.

Faktor lain, pendidikan bahasa dan budaya Jawa di sekolah-sekolah kurang mendapat tempat. Dulu bahasa Jawa diajarkan di SD sampai SMA. Sekarang pelajaran bahasa Jawa tidak ada lagi di sekolah-sekolah. Kalaupun diajarkan, jamnya sangat sedikit dan tidak menjadi pelajaran yang menentukan. Sekarang ini kita sulit menemukan anak-anak muda yang bisa macapat, nembang, dan sebagainya.

Pemerintahnya sendiri bagaimana?

Jelas sangat berpengaruh. Kebijakan pendidikan di suatu daerah kan ditentukan pemerintah daerah setempat. Kalau pejabatnya tidak suka kebudayaan daerah, bahkan antibudaya Jawa, ya, jelas tidak akan ada ruwatan atau penjamasan pusaka di daerahnya. Latar belakang si bupati atau wali kota sangat menetukan apakah kebudayaan Jawa bisa hidup di daerah itu.

Dulu, setiap Suro ada gelar pusaka di pendapa-pendapa kabupaten karena masing-masing kabupaten itu menyimpan benda-benda pusaka yang sangat bernilai budaya dan sejarah. Tapi, karena kebetulan si pejabat atau DPRD-nya tidak mau nguri-uri kabudayaan, ya, akhirnya tradisi itu hilang. Bahkan, bisa jadi, benda-benda pusaka itu hilang atau tidak jelas keberadaannya.

Saya dengar banyak benda-benda bersejarah kita yang disimpan di Negeri Belanda. Maka, suatu ketika kita harus berangkat ke Belanda atau negara lain untuk mempelajari kebudayaan atau kesenian kita sendiri. Lha, wong kita sendiri kurang menghargai. (*)




Prihatin dengan Dalang-Dalang Instan


SEBAGAI orang Jawa yang lahir dan besar di Blitar, kawasan Mataraman, Syafi'i Prawirosedono (66) mengaku menekuni hampir semua kesenian tradisional Jawa yang berkembang di masyarakat saat itu. Seni pedalangan, katawitan, macapat, wayang orang, hingga aneka benda pusaka.


"Lama-kelamaan saya jadi tahu apa filosofi di balik semua kesenian Jawa itu. Semuanya saya pelajari secara otodidak. Langsung bertemu dengan seniman-seniman di lapangan," ujar Syafi'i Prawirosedono kepada Radar Surabaya pekan lalu.

Dari sekian banyak kesenian tradisional itu, Syafi'i merasa jatuh cinta pada seni wayang. Setiap kali ada pergelaran wayang kulit, wayang orang, dan wayang apa saja, Syafi'i kecil berusaha untuk nonton. Dan dia bukan penonton yang sifatnya sambil lalu. Syafi'i memperhatikan semua karakter wayang secara saksama. Gaya bercerita ki dalang, teknik olah suara, gaya bahasa, perubahan karakter vokal, hingga tembang-tembang yang disuarakan para sinden.

"Ternyata, semua punya filosofi yang luar biasa. Apalagi, dalang-dalang kita pada era 50-an, 60-an, sampai 70-an sangat menekankan pakem. Mereka benar-benar mempertahankan wayang sebagai seni adiluhung," urai ayah lima anak ini.

Karena jatuh cinta pada wayang, Syafi'i akhirnya memutuskan menekuni seni rupa. Jadilah dia seorang pelukis wayang. Selain pelukis wayang sangat sedikit, dia memang punya komitmen untuk ikut nguri-uri kebudayaan Jawa. Sampai sekarang, menurut dia, belum banyak orang yang memilih menekuni seni rupa tradisional seperti lukisan wayang.

"Padahal, kita punya kekayaan yang luar biasa di bidang ini. Dan itu tidak hanya seni tradisi Jawa. Kesenian dari daerah-daerah lain di Indonesia pun, kalau ditekuni sungguh-sungguh, wah, luar biasa," kata Syafi'i dengan nada tinggi.

Karena itu, Syafi'i Prawirosedono mengaku getun ketika mengetahui bahwa banyak karya seni adiluhung kita, seperti patung atau keris, yang bernilai sejarah justru disimpan di Negeri Belanda. Para kurator, pengelola museum, bahkan masyarakat umum, di bekas negara penjajah Indonesia itulah yang justru mampu merawat barang-barang berharga itu dengan baik.

"Jadi, kalau Anda mau mempelajari keris Empu Gandring, misalnya, ya harus datang ke Belanda dulu. Di sini kita hanya bisa membaca buku sejarah atau mendengar cerita dari orang-orang tua," tukasnya.

Khusus mengenai seni wayang, khususnya lagi wayang kulit, Syafi'i Prawirosedono mengaku prihatin melihat kinerja para dalang yang ada. Wayang yang seharusnya menjadi "tontonan dan tuntunan", menurut Syafi'i, mulai kehilangan filosofi dan jatidiri. Sebab, para dalang terlalu menekankan sisi "tuntunan" dan lebih asyik mengedepankan "tontonan". Kata-kata kasar, jorok, umpatan, omongan yang tidak terkontrol ditumpahkan begitu saja oleh sejumlah dalang.

"Ini membuat saya prihatin. Sebab, jangan lupa, yang namanya wayang itu tetap kesenian adiluhung. Ada tata kramanya. Ada unggah-ungguhnya. Dalang yang suka disoraki, dikeploki, dia bukan seniman. Yah, pop art-lah," tegas Syafi'i.

Budaya instan pun, sambung dia, sudah merambah ke dunia pedalangan. Kalau tempo dulu seorang dalang harus nyantrik, berguru langsung, diproses bertahun-tahun, kini bisa dicetak lewat bangku kuliah. Dalang-dalang muda bergelar sarjana pun bermunculan.

"Tapi, karena prosesnya instan, dia tidak punya roh. Sulit menjadi dalang yang punya karakter kuat seperti almarhum Ki Narto Sabdo," ujar Syafi'i mengacu pada maestro wayang Indonesia yang juga seniman idolanya. (*)



BIOGRAFI

Nama : Syafi'i Prawirosedono
Lahir : Blitar, 18 Agustus 1943
Anak : 5 orang
Alamat : Semolowaru Indah I Blok H-15 Surabaya
Pendidikan : SMAN Blitar

Organisasi :
Paguyuban Sutrisna Pusaka Budaya Jawa
Dewan Kesenian Surabaya
Idola : Ki Narto Sabdo
Karya : Lukisan wayang, tembang macapat
Pameran : Surabaya, Jakarta

Penghargaan:
Pekan Wayang Indonesia, 1993

1 comment:

  1. yaah siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang harus nguri-uri kebudayaan jawa. wong mas hurek yang orang flores aja mau nulis tentang budaya jawa / wayang kok

    ReplyDelete