01 January 2010

Selamat Tahun Baru




Malam pergantian tahun di Surabaya ditandai hujan deras. Maka, saya yang sempat nongkrong di Jalan Raya Bandara Juanda pun cepat-cepat ngacir. Balik kucing. Nyetel televisi, ikuti program mengenang almarhum Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sangat menarik memang bekas presiden ini.

Gus Dur itu serbabisa. Ulama, intelektual, budayawan, pengamat sepak bola, pengurus dewan kesenian, penikmat musik klasik, khususnya Beethoven, dan macam-macam lagi. Kita, bangsa Indonesia, sangat kehilangan Gus Dur. Kaum minoritas seperti Tionghoa, Kristen, Ahmadiyah, penganut aliran kepercayan [dan agama-agama yang tidak diakui negara] selalu mengadu pada Gus Dur.

Romo Franz Magnis-Suseno SJ, profesor filsafat dan pastor Katolik dari ordo Yesuit yang dikutip kantor berita AP mengatakan:

"Gus Dur was a very open person. ... All minorities, underdogs or those suffering always felt secure with him. That was very extraordinary. He was a humanist. ... For people like me, he emitted a friendly Islam that made us feel safe."

Usai program Gus Dur di Metro TV, saya membaca beberapa koran edisi 31 Desember 2009 yang menulis panjang lebar sosok Gus Dur. Setelah itu saya mematikan lampu dan... tidur. Bangun tidur sudah pukul 06.00 yang berarti sudah 1 Januari 2009. Saya melewatkan begitu saja malam penuh terompet, hiburan musik, pesta kembang api, dan sebagainya.

Sami mawon. Yah, ternyata tahun lama sama saja dengan tahun baru. Kalendernya saja yang baru. Matahari terbit seperti biasa, orang sibuk bersing agar bisa makan minum, cari uang, dan sebagainya. "Semalam saya juga gak ke mana-mana. Di rumah saja. Ngapain keluar rumah untuk bermacet-macet di jalanan," kata seorang seniman tua kenalan saya yang ternyata satu paham dengan saya.

Yah, kalau mau jujur, tahun baru itu sebetulnya bukan milik rakyat biasa macam saya. Ia milik artis. Pengusaha hiburan. Event organizer. Pedagang trompet. Pengusaha hotel. Pemilik restoran. Pembuat kembang api. Pengusaha sound system.

"Malam tahun baru Kris Dayanti dibayar Rp 1 miliar," tulis sebuah koran di Surabaya.

Wuih, wuih, wuih....

No comments:

Post a Comment