02 January 2010

Sama Linda Keliling Jakarta



Sudah dua tahun lebih saya tidak sempat main-main ke Jakarta. Padahal, berkali-kali kerabat dekat di ibukota meminta saya datang ke ibukota. Dan harus tinggal beberapa hari di ibukota.

Akhirnya, kesempatan itu datang. Saat cuti Natal, saya pun datang juga ke rumah Linda Hurek di kawasan Karet Belakang CC/6 Setiabudi Jakarta Selatan. Linda putri bungsu pasangan Bapak Chanis Kia Hurek (almarhum) dan Ibu Mulyati. Ama Kia, sapaan almarhum Chanis Kia, tak lain paman saya. Sesama orang kampung asal Flores Timur.

Orang Jakarta pasti tahu rumahnya Linda ini sangat strategis. Terletak di segitiga emas Jakarta. Dikelilingi jalan-jalan protokol utama: Jalan Sudirman, Jalan HR Rasuna Said, Jalan MH Thamrin, Kuningan. Gedung-gedung menjulang tinggi mengepung kampung asli orang Betawi di Karet ini.

Perbedaan sangat ekstrem: di jalan-jalan utama terpapar gedung-gedung paling mewah di Indonesia, sementara di kampung hiduplah orang Betawi asli, pendatang, hingga anak-anak kos. Bisnis kos-kosan memang sangat subur di sini. Paling murah Rp 450.000. Padahal, kos-kosan yang Rp 450.000 itu di Surabaya dan Sidoarjo tak akan sampai Rp 200.000.

Ah, betapa jauhnya Jakarta dan Surabaya. Apalagi, mau dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Apalagi dengan luar Jawa. Setiap kali masuk kampung Karbela, singkatan Karet Belakang di Setiabudi, pikiran saya terusik oleh ketimpangan pembangunan itu. Surabaya yang makin maju dalam lima tahun terakhir, ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan Jakarta. Jakarta melesat sendiri.

Surabaya yang dulu kota nomor 6 [bukan nomor 2] sekarang menjadi kota nomor 10 di Indonesia. Urutannya begini: 1. Jakarta Selatan. 2. Jakarta Pusat. 3. Jakarta Barat. 4. Jakarta Utara. 5. Jakarta Timur. 6. Tangerang. 7. Depok. 8. Bekasi. 9. Tangerang.

Adapun kota nomor 10 bernama SURABAYA. Beberapa ahli ekonomi menyebutkan bahwa 80 persen uang yang ada di Indonesia beredar di 9 kota di Jakarta dan sekitarnya. Dus, wajarlah kalau Jakarta menjadi makin maju dan maju, sementara kota-kota lain, apalagi di NTT, makin kedodoran saja.

Linda yang kerja di kawasan Kuningan ini sejak dulu memang dekat dengan saya. Gadis manis ini kerap menghubungi saya baik via SMS maupun telepon. Banyak informasi tentang Jakarta yang saya ketahui dari Linda. Karena ibunya Betawi asli, lahir dan tinggal di Karet belakang, Linda dan keluarganya saya anggap paling tahu tentang Jakarta. Lain dengan keluarga atau kenalan lain yang tinggal di kawasan pinggiran macam Jatinegara, Sunter, Cilincing, Tangerang, Depok, atau Bogor.

"Kak Bernie, enaknya kite ke mane? Terserah Kak Bernie aje deh. Linda kebetulan libur nih," kata Linda dengan logat Betawi aslinya.

"Terserah Linda aje deh," kata saya.

Akhirnya, saya putuskan pertama-tama nyekar di makam almarhum Bapak Kia Hurek di Tempat Pemakaman Umum Karet. Almarhum meninggal pada 19 Maret 2009. Dan saya tak sempat menghadiri pemakaman atau berdoa di makamnya. Maka, saya bersama Linda pun nyekar di makam salah satu generasi pertama orang Flores yang merantau di Jakarta pada 1960-an itu.

Karena menikah dengan gadis Betawi, Bapak Kia pindah agama menjadi Islam. Keluarganya muslim taat. Sering puasa sunnah dan bikin pengajian di rumah. Toh, hubungan kami sangat baik meski berbeda agama. Linda berdoa secara Islam, sementara saya secara Katolik. Cukup lama.

"Linda baca doa sendiri aja. Di Karet ini banyak lho orang-orang yang kerjanya khusus membaca doa untuk orang meninggal," kata Linda. Okelah.

Dari TPU Karet, saya dan Linda kemudian berkelana keliling Jakarta. Saya meminta diantar ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur. Selain belum pernah ke TMII, saya punya kepentingan untuk "meliput" Taman Budaya Tionghoa dan klenteng baru Khonghucu. Saya juga ingin melihat langsung stan Provinsi NTT yang katanya kurang terurus itu.

Asyik juga berekreasi di TMII. Terlalu banyak hal menarik tentang Indonesia yang bisa dipelajari di sini. Kita bisa mampir di stan 33 provinsi serta menikmati taman yang hijau dan asri. Kami juga menjajal kereta gantung TMII dengan tarif Rp 25.000 per orang. Keretanya mirip di Pulau Sentosa, Singapura.

Pulang dari TMII, Linda mengajak saya menikmati berbagai sudut Jakarta yang mewah, padat, dan sibuk. Semua orang tergesa-gesa, berani terabas, seakan dikejar-kejar setan. Kata dokter, jumlah orang stres dan gila di Jakarta makin banyak. Rumah Sakit Jiwa di Grogol, seperti saya baca di Kompas, makin banyak pasiennya. Kemarinnya, bahkan ada seorang perempuan stres yang membakar mobil milik petinggi Mabes Polri.

"Mal dan plaza sekarang bagus-bagus lho," kata Linda.

Tapi saya kurang tertarik. Bagi saya, pusat belanja apa pun namanya--mal, plaza, shopping center--di mana-mana sama saja. Merangsang orang untuk belanja, belanja, dan belanja terus. Budaya konsumsi digalakkan di mal-mal. Orang dipaksa jadi konsumen begitu barang-barang yang belum tentu kita butuhkan.

Hari berikutnya saya sengaja menjajal bus Transjakarta yang melaju di atas Busway. Cukup dengan Rp 3.000 kita bisa menikmati suasana jalan-jalan utama di Jakarta tanpa kemacetan. Naik di Blok M, kita dibawa hingga ke Kota. Ganti bus, balik lagi dan turun di Halte Setiabudi yang di depan jalan masuk ke rumahnya Linda di Karbela Setiabudi.

Apa pun kritik orang, salut buat Bang Jos dan Bang Foke yang berani bikin terobosan busway ini. Jakarta tidak bisa dibiarkan macet sampai macet-cet-cet-cet. Sistem transportasi massal harus mulai dikembangkan. Dan nafsu memiliki mobil-mobil pribadi harus diredam.

Lha, kalau tiap hari tambah mobil pribadi, sepeda motor, bagaimana Jakarta 10, 20, 30 tahun lagi? Maka, bus Transjakarta yang terawat baik itu pun bisa menjadi solusi awal. Bagi warga Surabaya macam saya, naik Transjakarta selain sejuk dan nyaman, kita juga berkesempatan bertemu dengan wanita-wanita cantik nan modis. Orang-orang Tionghoa yang kaya pun tak risi lagi naik angkutan umum.

Di Surabaya, mana ada orang kaya mau naik bus kota yang bobrok, panas, dan tidak tepat waktu itu?

2 comments:

  1. Waaah...ternyata liburannya pergi ke tanah kelahiran saya toh? hehe

    Suami saya juga berdarah setengah betawi, seperempat Cina, kalau sudah kumpul dengan keluarganya...waduuuh...saya bicara jadi ikut terbawa dialek betawi hehehe. Istilah2 baru seperti:

    - Nasi gede...nasi gede... (maksudnya nasi banyak) pada waktu makan,
    - Mata sampe panjaaaang....deh kagak dateng2 (maksudnya sudah menunggu lama...tapi belum datang juga).

    saya dapat dari bergaul dengan keluarga suami :D

    Jadi bang Bernie sudah naik Transjakarta juga ya? Sama dong kita ya? Menurut saya, Transjakarta adalah alat transportasi yang cepat ...walau belum bisa dikatakan nyaman.

    Indonesia negara besar...untuk penyebaran dan pemerataan pembangunan dan bisnis di seluruh negeri pasti memerlukan biaya besar. Transportasi dan distribusi barang ke seluruh pelosok negeri bisa menjadikan harga barang mahal setengah mati ya? Jaman kuliah dulu (sekitar 20 tahun yll) saya pernah studi sampai ke NTB. Waduuh...makanan kelas indomie kok malah mahal sekali di sana? Pikir2...pastilah karena jauh sekali membawa mie itu dari pulau Jawa ke NTB. Apakah sekarang masih begitu bang?

    Jadi bagaimana solusi supaya kemajuan ekonomi dan pembangunan bisa merata di seluruh tanah air?

    ReplyDelete
  2. sampe hati juga pe, saingo jakarta masa telpon kame hala, go kebetulan buka blog moen baru tau kalau waktu natalan mo mai jakarta.

    Pokoknya kalau sempat mai jakarta harus mampir lango, kalau bisa telepon supaya dijemput.

    Mungkin bulan Maret awal kai surabaya, nanti br go tlp.

    ReplyDelete