04 January 2010

Puisi Bingky untuk Gus Dur



Hingga kemarin (3/1/2009) Bingky Irawan, rohaniwan Khonghucu, masih terpukul atas kepergian Gus Dur ke alam baka. Almarhum KH Abdurrahman Wahid, sapaan akrab mantan presiden dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu, memang sangat dekat dengan Bingky Irawan.

“Hubungan saya dengan Gus Dur itu sudah seperti saudara kandung, bahkan lebih. Kami seperti sulit dipisahkan,” ujar Bingky Irawan yang saya hubungi via telepon. Saat itu pengusaha asal Sepanjang, Sidoarjo, ini berada di Jakarta.

Kedekatan Gus Dur dengan jemaat Khonghucu, khususnya Bingky Irawan, tak lepas dari diskriminasi yang diterapkan rezim Orde Baru terhadap agama Khonghucu. Meski diakui sebagai agama resmi keenam pada era Bung Karno, rezim Orba tiba-tiba menerbitkan berbagai peraturan untuk melarang segala bentuk budaya, bahasa, hingga kepercayaan Tionghoa di Indonesia.

Klenteng-klenteng Khonghucu mengalami kesulitan selama 30 tahun lebih. Bahkan, jemaat Khonghucu yang menikah sesuai dengan ajaran agamanya di klenteng pun tidak diakui. Maka, sejak 1980-an Bingky Irawan dan kawan-kawan berjuang untuk mengembalikan hak-hak sipilnya.

Sejak itulah mereka mendapat dukungan penuh dari Gus Dur yang waktu itu ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). “Anda kan tahu saya berkali-kali ditangkap aparat karena perjuangan ini. Syukurlah, ada saudara saya bernama Gus Dur yang selalu bantu,” tutur Bingky.

Setelah gerakan reformasi sukses menggulingkan rezim Orde Baru, Gus Dur yang tadinya oposisi kini berganti posisi menjadi presiden menggantikan BJ Habibie. Pada 17 Januari 2000 Presiden Abdurrahman Wahid menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang pencabutan Instruksi Presiden (Soeharto) Nomor 14 Tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat-istiadat Tionghoa.

Gus Dur juga membolehkan perayaan tahun baru Imlek. Hak-hak sipil warga Tionghoa pun perlahan-lahan dipulihkan. “Kalau bukan karena Gus Dur, nggak mungkin warga Tionghoa, khususnya umat Khonghucu, mendapatkan kembali hak-hak sipilnya seperti sekarang. Jadi, kami benar-benar berutang budi kepada beliau,” ujar Bingky Irawan.

Seminggu sebelum kematian Gus Dur, Bingky mengaku masih sempat berbicara dengan tokoh idolanya itu di kantor PBNU Jakarta. Namanya juga sahabat akrab, mereka ngobrol ngalor-ngidul tentang situasi politik nasional yang lagi hangat dengan kasus Bank Century. “Gus Dur guyon, tapi juga serius seperti biasanyalah,” kenang Bingky.

Ternyata, ini menjadi pertemuan terakhir Bingky dengan sang guru bangsa dan sahabat terbaiknya itu. Maka, ketika menerima kabar kematian Gus Dur pada 30 Desember 2009, Bingky langsung syok. Lidahnya kelu, tak mampu bicara apa-apa. “Saya hanya bisa menangis, menangis... dan berdoa saja. Semoga beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Setelah upacara pemakaman di Jombang, yang dihadiri puluhan ribu orang, Bingky Irawan bersama jemaat Khonghucu di seluruh Indonesia menggelar doa bersama untuk Gus Dur. Bukan itu saja. Bingky juga mengusulkan kepada Dewan Rohaniwan Khonghucu agar memasukkan tanggal 30 Desember dalam kalender umat Khonghucu di Indonesia sebagai hari wafatnya Gus Dur.

“Saya ingin agar setiap tanggal 30 Desember umat Khonghucu bersama-sama mendoakan Gus Dur. Sebab, beliau mendapat tempat yang sangat khusus di dalam hati kami,” kata Bingky dengan suara bergetar.

Kepada Radar Surabaya, Bingky Irawan secara spontan menyusun sebuah puisi untuk almarhum Gus Dur:


UNTUK GUS DUR SAUDARAKU

Oleh Bingky Irawan



Alam sunyi purnama redup
Purnama hilang langit jadi gelap
Hujan pun turun rintik-rintik membasahi pertiwi
Bersamaan dengan tetesan tangis Indonesia
Putra terbaik bangsa yang belum ada penggantinya
Telah pergi jauh meninggalkan jutaan kenangan
Pertanda apakah ini?

Derita bangsa ini masih belum habis
Mengapa telah Engkau jemput saudaraku,
Bapak bangsaku, guru bangsaku, juru penyelamat bangsa?
Kami masih membutuhkan beliau

Kami pun menyadari batas-batas rahasia alam
Yang tidak dapat kami ketahui
Kami yakin Allah mempunyai kehendak lain
Semoga segera terlahir pengganti beliau
Meneruskan juang untuk bangsaku

Gus Dur sahabatku, saudaraku
Selamat jalan sahabatku, saudaraku
Tubuh jasad boleh hancur ditelan bumi
Namun semangatmu tak akan habis dimakan zaman

No comments:

Post a Comment