23 January 2010

Pansus yang Miskin Etika



Kasus Bank Century harus diusut tuntas sampai ke akar-akarnya. Dan semua pihak yang bertanggung jawab harus mendapat hukuman setimpal. Karena itu, panitia khusus alias pansus Century di Dewan Perwakilan Rakyat harus didukung.

Sikap kritis anggota pansus, kecuali yang dari Partai Demokrat, layak dipuji. Mereka tak percaya begitu saja penjelasan-penjelasan panjang lebar dari Sri Mulyani Indrawati, Boediono, Raden Pardede, Marsilam Simanjuntak, Susno Duadji, Robert Tantular, dan sebagainya. Sikap skeptis dan kritis memang layak dipelihara oleh anggota dewan yang ingin tahu seluk-beluk bailout Bank Century senilai Rp 6,7 triliun.

Namun, saya perhatikan sebagian anggota pansus ini sudah kehilangan etika, kesopanan, dalam "menginterogasi" para saksi. Nyaris tak ada sikap hormat terhadap pejabat-pejabat tinggi macam Boediono yang wakil presiden atau Sri Mulyani sebagai menteri keuangan. Cara bertanya anggota pansus lebih sadis ketimbang penyidik kepolisian.

Boleh saja pansus sudah punya simpulan bahwa Raden Pardede, Sri Mulyani, Boediono... punya kesalahan fatal ini-ini-ini. Tapi mereka tidak boleh dipermalukan di depan umum mengingat sidang pansus ini disiarkan langsung di televisi. Sri Mulyani, Boediono, dan kawan-kawan bukanlah terdakwa di sidang pengadilan. Majelis hakim di pengadilan negeri sekalipun saya rasa tak membentak-bentak, apalagi mempermalukan saksi dan terdakwa macam itu.

Pansus bertanya, para saksi menjelaskan. Ini agar kisruh bailout Century ini jadi terang. Anehnya, beberapa anggota pansus malas atau enggan mendengarkan para tamunya. Boediono atau Sri Mulyani baru bicara sedikit langsung dipotong. Si anggota pansus komentar ngalor-ngidul, bikin simpulan sendiri, kemudian memberondong saksi dengan pertanyaan lain. Baru dijawab, dipotong lagi, dan seterusnya.

Terus terang, saya ngeri melihat sidang pansus yang mirip pengadilan inkuisisi. Boediono, Sri Mulyani, Raden Pardede diperlakukan lebih rendah daripada terdakwa kelas teri di pengadilan negeri. Tapi saya juga geli sendiri. Baru kali ini saya melihat Boediono atau Sri Mulyani yang sangat pintar itu dikuliahi oleh beberapa anggota pansus yang nota bene politisi kemarin sore macam si Ara atau si Andi. Pansus, kecuali yang dari Demokrat, ibarat harimau lapar yang sangat rakus menghabisi mangsanya.

Di dunia jurnalisme ada prinsip dasar wawancara yang harus dipegang. Pertanyaan harus sependek mungkin, bila perlu hanya pakai kata MENGAPA, tapi Anda harus bisa mendapat jawaban selengkap mungkin dari narasumber. Wartawan hanya mengatur fokus pembicaraan agar tidak melebar ke mana-mana. Melebar sedikit tak apa, asalkan pelan-pelan digiring kembali secara halus.

Narasumber wajib dihormati. Dia harus merasa nyaman diajak ngobrol wartawan. Ada hubungan batin meskipun pendapat atau penjelasan narasumber tidak disetujui si wartawan. Hargailah narasumber yang sudah menyisihkan waktu untuk wawancara.

Nah, prinsip-prinsip dasar menggali informasi ala wartawan ini dilanggar hampir secara total oleh Pansus Bank Century. Bayangkan, selama 9 jam, 10 jam, bahkan 11 jam, pejabat-pejabat macam Sri Mulyani, Boediono, Raden Pardede harus "diterkam" dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang tidak bersahabat. Plus celetukan-celetukan yang kerap melecehkan. Mana ada orang baik-baik yang senang mendengar umpatan kasar seperti "bangsat" atau "kodok"?

Alih-alih mengambil simpati rakyat, karena pansus berani kritis dan skeptis, publik malah jatuh kasihan pada para saksi seperti Boediono, Sri Mulyani, atau Raden Pardede. Maka, ketika Marsillam Simanjuntak berani melakukan perlawanan dengan gantian "menginterogasi" anggota pansus, sejumlah masyarakat yang saya temui malah senang dan tertawa-tawa.

"Rasain! Pansus kena batunya! Makanya, anggota pansus itu jangan arogan," kata Cak Tohir.

No comments:

Post a Comment