24 January 2010

Pance Mencipta dengan Hati



FOTO: Pance ketika berusia 27 tahun merilis album pertama.


Pance Frans Pondaag. Nama ini begitu kondang di era 1980-an dan 1990-an. Jika Anda rajin mengikuti acara Selekta Pop atau Aneka Ria Safari di TVRI -- satu-satunya televisi masa itu -- [hampir] pasti ada lagu-lagu romantis, melankolis, ciptaan Pance Pondaag. Orang Flores, dan Nusatenggara Timur umumnya, rata-rata sangat gila lagu-lagu Pance. Sampai sekarang.

Setiap kali saya mampir ke rumah orang-orang NTT di Jawa Timur, amboi, lagu-lagu Pance pun terdengar. Berkali sudah, kupendam kecewaku. Sering kau tinggalkan diriku sendiri.... Lagu-lagu Om Pance sangat familier, mudah, dan nyanthol lama:

Walau Hati Menangis. Begitu Indah. Kerinduan. Simfoni Rindu. Mengapa Tak Pernah Jujur. Tak Ingin Sendiri. Untuk sebuah Nama. Rindu Bilanglah Rindu. Mutiaraku. Di Saat Kau Harus Memilih. Demi Kau dan Si Buah Hati. Yang Pertama Kali. Kucari Jalan Terbaik.

Yang pertama di dalam hidup ini
Rindu dan sayang menyiksa diri
Yang pertama di dalam hidup ini
Kasih dan sayang menerpa diri

Terkadang tak sadar bibirku ini
Menyebut dan memanggil namamu, Sayang
Pertama kali di dalam hidupku ini
Menyayang dirimu...


Ah, romantis banget, khas remaja tempo doeloe. Gaya rayuan ketika belum ada ponsel, HP, e-mail, Facebook, blog, bahkan telepon rumah pun belum ada. Pance Pondaag menawarkan kelembutan syair, bahkan (terlalu) banyak menceritakan penderitaan orang yang patah hati, dikhianati pasangan.

Kucoba bertahan mendampingi dirimu
Walau kadang kala tak seiring jalan
Kucari dan selalu kucari... jalan terbaik
Agar tiada penyesalan dan air mata."


Malam Minggu, 23 Januari 2010, saya menyaksikan program musik MALAM MINGGU-ONE di TVOne yang dipandu Ricky Jo. Beberapa artis top masa lalu macam Harvey Malaiholo, Rita Effendi, Rida, Yana Julio, Agus Wisman tampil. Sekali-sekali ditampilkan klip video masa lalu. Wow, saya terkejut melihat rekaman singkat kondisi Pance Pondaag sekarang.

Dibandingkan beberapa tahun lalu, saat ini Pance sudah tidak lumpuh total gara-gara stroke. [Terlalu banyak makan enak, kurang olahraga, Bung?] Pance juga sudah bisaa bicara, tapi sangat tidak jelas. Ibarat anak kecil yang baru belajar berkata-kata. Organ-organ bicara Bung Pance ini terlihat sulit memproduksi kata-kata meskipun alur pikirannya sudah bagus.

Saya kasihan melihat komposer kelahiran Makassar 18 Februari 1951 yang dulu sangat populer di NTT -- mungkin juga di tempat lain di Indonesia -- itu. Tapi, syukurlah, Pance sudah bisa bicara, meskipun sangat sedikit, tentang musik atau lagu-lagu ciptaannya. Sudah terlalu banyak kritikus yang mengecam karya Pance.

"Musik tiga jurus lah. Musik comberan lah. Musik sangat tidak bermutu lah. Musik cengeng lah. Musik pengantar bunuh diri lah. Musik orang pesimis lah. Musik yang tidak mendukung pembangunan lah....."

Pance tidak mau ambil pusing. Yang penting, dia berkarya terus, menyusun begitu banyak lagu pop yang pernah disukai pada eranya. Kini, setelah 20-an tahun kemudian, terbukti lagu-lagu Pance masih diputar orang. Bandingkan dengan lagu-lagu pop "berkualitas", dari band-band "papan atas", yang ternyata tak mampu bertahan dua tahun.

Sang waktu sudah kasih jawaban, bukan?

Mengutip referensi dari sebuah universitas di Amerika Serikat, Pance mengatakan bahwa yang penting dalam menciptakan lagu adalah soal HATI, bukan OTAK. Bikin lagu pakai HATI, bukan OTAK.

"Saya selalu menulis lagu dengan HATI, dengan PERASAAN. Saya tidak begitu peduli dengan tuntutan akademis yang muluk-muluk," ujar Pance dengan intonasi yang sulit dicerna.

Pihak TV-One sampai-sampai harus membuat teks untuk membantu "menerjemahkan" kalimat-kalimat Pance.

Sebagai orang yang sudah makan asam garam di dunia musik, menurut Pance, industri musik itu senantiasa berputar dari waktu ke waktu. Ibarat roda, musik selalu berputar-putar. Kalau dulu orang suka musik pop ala Rinto Harahap atau Pance, kemudian berganti, dan terus berganti. Kalau dulu Pance terkenal karena lagu-lagunya banyak dinyanyikan, kini Pance harus bergulat dengan penyakitnya.

"Tapi saya tetap Pance. Saya ini old fashioned people. Saya tidak bisa ikut gaya musik anak muda sekarang. Silakan orang lain berganti-ganti fashion, bikin musik yang berganti-ganti agar disukai orang. Saya hanya bisa menciptakan lagu dari HATI dan PERASAAN saya," tegasnya.

Dan rekaman yang hitam-putih itu pun selesai.

No comments:

Post a Comment