24 January 2010

Menikmati Nasi Jagung



Anda pernah makan nasi jagung?

Orang Jawa Timur yang tinggal di kota mungkin belum pernah. Kecuali di Pulau Madura dan kawasan timur Jatim macam pelosok Bondowoso dan Situbondo, jagung merupakan makanan pokok selain beras. Tapi di Surabaya kita sangat sulit menemukan warung-warung yang berjualan nasi jagung.

Ada sebuah lapak kecil di samping Gelora Delta Sidoarjo yang rutin menjajakan nasi jagung plus lauk khasnya, ikan asin, lalapan. Saya lihat cukup ramai. "Saya ini aslinya dari desa. Dulu di kampung saya sering makan nasi jagung, apalagi kalau sedang membantu orang tua di sawah," kata Pak Gatot, karyawan yang tinggal di Sidoarjo, kepada saya.

Sama dengan Pak Gatot, saya sering mampir ke warung lesehan ini karena ada nuansa nostalgia. Orang NTT, khususnya Flores, memang terbiasa makan nasi jagung. Beras sangat mahal karena tidak bisa tumbuh subur di Flores, kecuali beberapa kawasan barat seperti Ngada atau Manggarai. Kawasan Flores Timur, Lembata, Solor, Adonara, jangan harap bisa tanam padi. Kecuali jenis gogo yang tahan kering dan tak butuh banyak air.

Sayang, si gogo ini pun tidak banyak. Maka, nasi jagung menjadi menu harian orang Flores Timur dan Lembata. Bahkan, dulu Gubernur ben Mboi pernah mengusulkan agar pegawai negeri sipil dan anggota TNI/Polri di NTT tidak dikasih jatah beras, tapi jagung. Usulan ini ditolak karena jagung dianggap makanan kelas tiga atau kelas lima. Di beberapa buku, jagung bahkan dianggap sebagai makanan ternak. Wuih!

Alah bisa karena biasa! Biarpun dianggap makanan ternak, kalau sudah terbiasa makan jagung, awalnya sulit menikmati nasi yang dari beras. Sama dengan orang Jawa yang sulit makan roti karena kulino makan nasi (dari beras). "Kalau tidak makan jagung, kita punya perut tidak bisa kenyang le," kata teman dari Flores yang belum lama tinggal di Surabaya.

Maka, demi mengenang kampung halaman yang makanan pokoknya nasi jagung, saya kerap mampir di warung lesehan samping Gelora Delta Sidoarjo. Jagungnya tidak 100 persen, tapi dicampur beras kira-kira 10 persen. Rasanya memang hebat, gurih, dan asyik. Layaknya kita sedang bancakan atawa makan rame-rame di ladang di pelosok NTT yang belum dijangkau kendaraan bermotor, listrik, dan berbagai fasilitas modern.

Suasananya pun khas desa. Para pengunjung bertegur sapa, bertukar cerita, tentang macam-macam hal. Soal politisi yang doyan cewek, musik keroncong, pilkada Sidoarjo, gosip artis, hingga pengalaman masa kecil. Hal-hal kecil macam ini tentu sulit diperoleh jika makan di McDonald's Taman Pinang yang jaraknya tidak sampai 100 meter dari warung lesehan nasi jagung ini.

Kalau kangen nasi jagung, saya juga kerap main-main ke Trawas, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya di Desa Seloliman, dekat Candi Jolotundo dan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup. Di situ ada lima pondok alias gubuk sederhana: berdinding gedhek, atap alang-alang, tak ada lisrik. Penerangan pakai lampu minyak tanah macam di pelosok Flores. Tempat ini kerap dikunjungi orang-orang kaya dari Surabaya.

Saya kenal dekat Mbok Tani, Mbok Jono, Mbak Saning, Mas Sembodo, para pemilik gubuk derita itu. Mbok Tani sangat sering menanak nasi jagung. Komposisinya 1:2, satu bagian jagung, dua bagian beras putih. "Kenapa tidak dibalik, Mbok? Duanya jagung, satu beras?" tanya saya.

"Nanti nasinya tenggelam, jadi kuning semua. Orang di sini sukanya yang begini," kata Mbok Tani yang suka bercanda dan meledek orang-orang kampung itu.

Nasi jagung buatan Mbok Tani memang asyik. Apalagi, mama tua ini sering juga mencampur dengan sayur daun kelor alias "merungge" [kata orang Flores]. Terlalu lama tinggal di kota besar, sok sibuk urus macam-macam, dugem di tempat-tempat hiburan, kenalan dengan artis ayu make up tebal, main internet sampai kecanduan, ada baiknya sekali-sekali kita kembali ke desa.

Makan nasi jagung, ikan asin, sayur lodeh tewel, lalapan, urap-urap, peyek, tempe bacem. Minum kopi tubruk, main suling:

"Cinta itu seperti kupu-kupu yang terbang tinggi
Hinggap di mana saja yang dia... ingini."

3 comments:

  1. Wah cocok banget nih ama yang saya pingin banget... sayangnya di jakarta belum nemu :(, padahal sudah terbayang begitu nikmatnya nasi jagung + lodeh + gerih + sambel. hm hm hm so yummy.

    ReplyDelete
  2. pak ada juga yang jual empog keringnya dan bisa dimasak sendiri lebih mudah. coba aja liat di http://nasijagungmetropolis.blogspot.com/

    ReplyDelete