
FOTO: Gereja di Kuala Lumpur yang diserang. Sumber: yahoo.com
ALLAH tula kelem nong tanah ekan.
Kalimat dalam bahasa Lamaholot (Flores Timur) ini berarti "Tuhan menciptakan langit dan bumi". Petikan dari KREDO alias pengakuan iman yang biasa diucapkan umat Katolik di Flores Timur. Di Gereja Katolik di Indonesia, kalimat pertama sebagai berikut:
"Aku percaya akan ALLAH, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi..." .
Kalimat aslinya:
"Credo in unum Deum. Patrem omni potentem, factorem coeli et terrae...."
Rumusan kredo -- istilah Protestan: Pengakuan Iman Rasuli -- sudah dikenal jemaat Kristen di Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Ketika agama Katolik masuk Indonesia sekira abad ke-16, dan para misonaris menggunakan bahasa Melayu Pasar sebagai lingua franca, maka kata ALLAH pun digunakan di lingkungan jemaat Kristen mula-mula.
ALLAH tidak menggantikan TUHAN, tapi menambah kosa kata baru tentang Sang Pencipta. Di Flores, bahkan orang-orang di kampung menggabungkan dua kata ini menjadi TUHAN ALLAH. Ada juga istilah ELOHIM, YAHWE, YEHUWA, TUHAN.... Tapi kata ALLAH atau TUHAN ALLAH paling banyak frekuensinya.
Saya masih ingat kalimat pengantar pastor-pastor asal Belanda (Eropa umumnya) yang berkarya di Flores dalam memimpin perayaan ekaristi alias misa kudus:
"Kurban misa hari ini dipersembahkan kepada TUHAN ALLAH untuk kedamaian dan keselamatan bangsa Indonesia...."
Begitulah. Kata ALLAH sebagai alternatif TUHAN sudah sangat lazim dipakai di lingkungan kristiani. Semua denominasi gereja menggunakannya. Kitab suci, Alkitab, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Lembaga Biblika Indonesia, juga beberapa Alkitab terjemahan Indonesia lain pasti mengandung kata ALLAH dalam jumlah sangat besar. Dan tidak ada masalah selama ratusan tahun.
Mengapa saat ini kata ALLAH jadi masalah di Malaysia, negara tetangga yang bahasanya (hampir) sama dengan bahasa Indonesia? Orang Melayu di Malaysia, yang seluruhnya beragama Islam, plus Kerajaan Malaysia tiba-tiba melarang ALLAH digunakan di luar lingkungan Islam. Saya baca di Bernama, kantor berita Malaysia, para tokoh Melayu bilang istilah ALLAH itu khusus untuk orang Islam.
"Kalau dipakai di lingkungan Kristian bisa membingungkan orang Islam," begitu antara lain keberatan orang Melayu.
Wah! Begitu bodohkan orang Islam di Malaysia sehingga bisa dibingungkan dengan kata ALLAH? Konteksnya bagaimana? Kalau orang-orang tempo doeloe, ratusan tahun lalu, saja tidak bingung, mengapa Kerajaan Malaysia melecehkan kecerdasan warganya sendiri? Sedungu itukah akal sehat orang Malaysia? Hari gini, di zaman internet, informasi melimpah, masih ada pemerintah dan pemuka masyarakat menghina kecerdasan rakyatnya.
Yang pasti, gereja-gereja di Malaysia sudah dibakar dan dirusak... hanya karena kata ALLAH. Di koran saya baca ada tujuh gereja. Kalau tidak dicegah, bukan tak mungkin gereja-gereja lain di seluruh Malaysia mengalami nasib sama. Begitu juga sekolah-sekolah, seminari, panti asuhan, rumah sakit, dan macam-macam fasilitas milik umat Nasrani terancam.
Sejak kata ALLAH jadi kontroversi luar biasa di Malaysia tahun lalu, saya khawatir dengan nasib ribuan orang Flores [umumnya Nusatenggara Timur] di Malaysia. Sebagian besar tinggal di Malaysia Timur macam Sabah, Sandakan, Sarawak, Labuan, Kuching, Lahaddatu, Kinabalu.
Orang NTT di Malaysia Timur ini punya komunitas sendiri yang sangat kuat. Setiap hari Minggu mereka bikin kebaktian, kalau ada pastor ikut misa, berpaduan suara, membaca Alkitab, dan aktivitas kekatolikan lainnya. Sudah tentu orang-orang NTT yang beragama Katolik ini menyebut-nyebut ALLAH puluhan, bahkan ratusan kali.
Akankah mereka ditangkap, dicokok, diperiksa di kantor polisi karena ALLAH?
Akankah kitab suci alias ALKITAB yang dibawa dari Indonesia disita, bahkan mungkin dibakar, karena menggunakan kata ALLAH, TUHAN ALLAH, PUTRA ALLAH, KEMULIAAN KEPADA ALLAH, KERAJAAN ALLAH, JEMAAT ALLAH, ALLAH BERFIRMAN, dan seterusnya?
Akankah buku-buku nyanyian, buku sembahyang, yang dibawa dari Indonesia juga disita karena pakai kata ALLAH? Saya ingat betul buku-buku doa dan nyanyian yang dipakai orang Flores antara lain:
JUBILATE
YUBILATE (versi baru JUBILATE)
SYUKUR KEPADA BAPA
MADAH BAKTI
PUJI SYUKUR
EXULTATE
UMAT ALLAH BERIBADAT
BAPA KAMI
PUJIAN SENJA DAN PUJIAN MALAM
TUHAN SUMBER GEMBIRA
SYUKUR KEPADA ALLAH
TURUT SERTA
TATA PERAYAAN EKARISTI
TUHANLAH GEMBALAKU
DOA-DOA HARIAN
KATEKISMUS KATOLIK
30 IBADAT SABDA UNTUK DOA ROSARIO
UPACARA SABDA
UPACARA PEMAKAMAN
................ (masih banyak lagi)
Belum buku-buku nyanyian dan paduan suara terbitan Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta, yang populer di Indonesia itu. Apakah Kerajaan Malaysia akan mengirim polisi-polisi untuk mencari dan menyita sekian ratus judul buku itu?
Apakah Kerajaan Malaysia akan memata-matai jemaat Kristen asal Indonesia, khususnya Flores, di Malaysia Timur agar tidak menyebut ALLAH ketika bernyanyi atau berdoa?
Apakah Kerajaan Malaysia akan menyita dan memusnahkan semua kaset/CD/VCD/DVD milik orang Nasrani karena ada kata ALLAH?
Apakah Kerajaan Malaysia akan memblokir semua situs Kristen di internet, termasuk yang dari Indonesia, karena pakai kata ALLAH?
Apakah majalah-majalah rohani terbitan Indonesia seperti HIDUP, UTUSAN, DIAN, KUNANG-KUNANG dilarang masuk ke Malaysia? Apakah surat kabar FLORES POS, POS KUPANG, dan sebagainya juga tak boleh beredar di Malaysia, dan dibaca oleh orang-orang Flores, karena biasa menggunakan kata ALLAH?
Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan konyol jika Kerajaan Malaysia tidak segera melihat isu agama ini secara bijak dan lapang. Saya khawatir, setelah melarang kata ALLAH, suatu ketika orang non-Islam di Malaysia dilarang menggunakan bahasa Melayu karena Melayu diklaim sama dengan Islam dan Islam = Melayu.
Alamak! Macam mana pula nih Pak Cik? Tak paham lah awak!!!

Bang Bernie,
ReplyDeleteSaya juga tidak mengerti kenapa hal ini jadi soal besar di Malaysia..
Picik rasanya ya kalau penggunaan kata Allah hanya boleh untuk satu agama saja.
Moga2 tidak terjadi apa2 dengan komunitas masyarakat NTT di Malaysia ya bang. Prihatin juga dengan keadaan di sana sekarng. Kalau sedang ada kisruh soal hal sepele begini...rasanya toleransi bangsa di tanah air masih jauh lebih baik ya bang? hehehe
Di malaysia emang gitu mas.. Ga ada persatuan-kesatuan dan toleransi agama kaya di indonesia..
ReplyDeleteini soal kewajaran melampaui sensiviti umat yang punya iman pada hari akhirat. Allah kata nama khas dalam bahasa melayu yg merujuk tuhan yang esa yg diimani umat islam dimalaysia. manakala kristian mereka guna bahasa inggeris ..dan tidak ada orang melayu yg menganut kristian disini, fahami sendiri apa itu maksud nama khas
ReplyDeleteSaya dari Sabah Malaysia amat bangga dengan sikap toleransi kalian di Indonesia, tidak seperti di Malaysia terutamanya di Semenanjung. Sekatan disini sangat keras, sehingga Alkitab dari Indonesia juga tidak dibenarkan. Sila add saya dalam FB (Jonathan Peter Angkati) untuk teruskan perbincangan ini. Salam dari Sabah.
ReplyDeletesaya rasa persoalan pokok adalah bahwa Malaysia memang tidak mengenal HUMAN RIGHTS, hanya ada MALAY RIGHTS. wajar saja kalau orang2 melayu Malaysia sangat membenci agama2 lain yang tidak dianut oleh orang2 Melayu.
ReplyDeleteorg2 melayu memang paling SUCI di dunia. mereka berhak menentukan siapa yang masuk surga dan neraka.
ReplyDeletemelayu malaysia penguasa surga, berhak memaksakan pandangan kepada siapa saja. melayu malaysia is the best!!! brengsek!!!
ReplyDelete