13 January 2010

Isu ALLAH dan Orang Flores di Malaysia


FOTO: Gereja di Kuala Lumpur yang diserang. Sumber: yahoo.com


ALLAH tula kelem nong tanah ekan.

Kalimat dalam bahasa Lamaholot (Flores Timur) ini berarti "Tuhan menciptakan langit dan bumi". Petikan dari KREDO alias pengakuan iman yang biasa diucapkan umat Katolik di Flores Timur. Di Gereja Katolik di Indonesia, kalimat pertama sebagai berikut:

"Aku percaya akan ALLAH, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi..." .

Kalimat aslinya:

"Credo in unum Deum. Patrem omni potentem, factorem coeli et terrae...."

Rumusan kredo -- istilah Protestan: Pengakuan Iman Rasuli -- sudah dikenal jemaat Kristen di Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Ketika agama Katolik masuk Indonesia sekira abad ke-16, dan para misonaris menggunakan bahasa Melayu Pasar sebagai lingua franca, maka kata ALLAH pun digunakan di lingkungan jemaat Kristen mula-mula.

ALLAH tidak menggantikan TUHAN, tapi menambah kosa kata baru tentang Sang Pencipta. Di Flores, bahkan orang-orang di kampung menggabungkan dua kata ini menjadi TUHAN ALLAH. Ada juga istilah ELOHIM, YAHWE, YEHUWA, TUHAN.... Tapi kata ALLAH atau TUHAN ALLAH paling banyak frekuensinya.

Saya masih ingat kalimat pengantar pastor-pastor asal Belanda (Eropa umumnya) yang berkarya di Flores dalam memimpin perayaan ekaristi alias misa kudus:

"Kurban misa hari ini dipersembahkan kepada TUHAN ALLAH untuk kedamaian dan keselamatan bangsa Indonesia...."

Begitulah. Kata ALLAH sebagai alternatif TUHAN sudah sangat lazim dipakai di lingkungan kristiani. Semua denominasi gereja menggunakannya. Kitab suci, Alkitab, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Lembaga Biblika Indonesia, juga beberapa Alkitab terjemahan Indonesia lain pasti mengandung kata ALLAH dalam jumlah sangat besar. Dan tidak ada masalah selama ratusan tahun.

Mengapa saat ini kata ALLAH jadi masalah di Malaysia, negara tetangga yang bahasanya (hampir) sama dengan bahasa Indonesia? Orang Melayu di Malaysia, yang seluruhnya beragama Islam, plus Kerajaan Malaysia tiba-tiba melarang ALLAH digunakan di luar lingkungan Islam. Saya baca di Bernama, kantor berita Malaysia, para tokoh Melayu bilang istilah ALLAH itu khusus untuk orang Islam.

"Kalau dipakai di lingkungan Kristian bisa membingungkan orang Islam," begitu antara lain keberatan orang Melayu.

Wah! Begitu bodohkan orang Islam di Malaysia sehingga bisa dibingungkan dengan kata ALLAH? Konteksnya bagaimana? Kalau orang-orang tempo doeloe, ratusan tahun lalu, saja tidak bingung, mengapa Kerajaan Malaysia melecehkan kecerdasan warganya sendiri? Sedungu itukah akal sehat orang Malaysia? Hari gini, di zaman internet, informasi melimpah, masih ada pemerintah dan pemuka masyarakat menghina kecerdasan rakyatnya.

Yang pasti, gereja-gereja di Malaysia sudah dibakar dan dirusak... hanya karena kata ALLAH. Di koran saya baca ada tujuh gereja. Kalau tidak dicegah, bukan tak mungkin gereja-gereja lain di seluruh Malaysia mengalami nasib sama. Begitu juga sekolah-sekolah, seminari, panti asuhan, rumah sakit, dan macam-macam fasilitas milik umat Nasrani terancam.

Sejak kata ALLAH jadi kontroversi luar biasa di Malaysia tahun lalu, saya khawatir dengan nasib ribuan orang Flores [umumnya Nusatenggara Timur] di Malaysia. Sebagian besar tinggal di Malaysia Timur macam Sabah, Sandakan, Sarawak, Labuan, Kuching, Lahaddatu, Kinabalu.

Orang NTT di Malaysia Timur ini punya komunitas sendiri yang sangat kuat. Setiap hari Minggu mereka bikin kebaktian, kalau ada pastor ikut misa, berpaduan suara, membaca Alkitab, dan aktivitas kekatolikan lainnya. Sudah tentu orang-orang NTT yang beragama Katolik ini menyebut-nyebut ALLAH puluhan, bahkan ratusan kali.

Akankah mereka ditangkap, dicokok, diperiksa di kantor polisi karena ALLAH?

Akankah kitab suci alias ALKITAB yang dibawa dari Indonesia disita, bahkan mungkin dibakar, karena menggunakan kata ALLAH, TUHAN ALLAH, PUTRA ALLAH, KEMULIAAN KEPADA ALLAH, KERAJAAN ALLAH, JEMAAT ALLAH, ALLAH BERFIRMAN, dan seterusnya?

Akankah buku-buku nyanyian, buku sembahyang, yang dibawa dari Indonesia juga disita karena pakai kata ALLAH? Saya ingat betul buku-buku doa dan nyanyian yang dipakai orang Flores antara lain:

JUBILATE
YUBILATE (versi baru JUBILATE)
SYUKUR KEPADA BAPA
MADAH BAKTI
PUJI SYUKUR
EXULTATE
UMAT ALLAH BERIBADAT
BAPA KAMI
PUJIAN SENJA DAN PUJIAN MALAM
TUHAN SUMBER GEMBIRA
SYUKUR KEPADA ALLAH
TURUT SERTA
TATA PERAYAAN EKARISTI
TUHANLAH GEMBALAKU
DOA-DOA HARIAN
KATEKISMUS KATOLIK
30 IBADAT SABDA UNTUK DOA ROSARIO
UPACARA SABDA
UPACARA PEMAKAMAN
................ (masih banyak lagi)

Belum buku-buku nyanyian dan paduan suara terbitan Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta, yang populer di Indonesia itu. Apakah Kerajaan Malaysia akan mengirim polisi-polisi untuk mencari dan menyita sekian ratus judul buku itu?

Apakah Kerajaan Malaysia akan memata-matai jemaat Kristen asal Indonesia, khususnya Flores, di Malaysia Timur agar tidak menyebut ALLAH ketika bernyanyi atau berdoa?

Apakah Kerajaan Malaysia akan menyita dan memusnahkan semua kaset/CD/VCD/DVD milik orang Nasrani karena ada kata ALLAH?

Apakah Kerajaan Malaysia akan memblokir semua situs Kristen di internet, termasuk yang dari Indonesia, karena pakai kata ALLAH?

Apakah majalah-majalah rohani terbitan Indonesia seperti HIDUP, UTUSAN, DIAN, KUNANG-KUNANG dilarang masuk ke Malaysia? Apakah surat kabar FLORES POS, POS KUPANG, dan sebagainya juga tak boleh beredar di Malaysia, dan dibaca oleh orang-orang Flores, karena biasa menggunakan kata ALLAH?

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan konyol jika Kerajaan Malaysia tidak segera melihat isu agama ini secara bijak dan lapang. Saya khawatir, setelah melarang kata ALLAH, suatu ketika orang non-Islam di Malaysia dilarang menggunakan bahasa Melayu karena Melayu diklaim sama dengan Islam dan Islam = Melayu.

Alamak! Macam mana pula nih Pak Cik? Tak paham lah awak!!!

11 comments:

  1. Bang Bernie,

    Saya juga tidak mengerti kenapa hal ini jadi soal besar di Malaysia..
    Picik rasanya ya kalau penggunaan kata Allah hanya boleh untuk satu agama saja.

    Moga2 tidak terjadi apa2 dengan komunitas masyarakat NTT di Malaysia ya bang. Prihatin juga dengan keadaan di sana sekarng. Kalau sedang ada kisruh soal hal sepele begini...rasanya toleransi bangsa di tanah air masih jauh lebih baik ya bang? hehehe

    ReplyDelete
  2. Di malaysia emang gitu mas.. Ga ada persatuan-kesatuan dan toleransi agama kaya di indonesia..

    ReplyDelete
  3. ini soal kewajaran melampaui sensiviti umat yang punya iman pada hari akhirat. Allah kata nama khas dalam bahasa melayu yg merujuk tuhan yang esa yg diimani umat islam dimalaysia. manakala kristian mereka guna bahasa inggeris ..dan tidak ada orang melayu yg menganut kristian disini, fahami sendiri apa itu maksud nama khas

    ReplyDelete
  4. Saya dari Sabah Malaysia amat bangga dengan sikap toleransi kalian di Indonesia, tidak seperti di Malaysia terutamanya di Semenanjung. Sekatan disini sangat keras, sehingga Alkitab dari Indonesia juga tidak dibenarkan. Sila add saya dalam FB (Jonathan Peter Angkati) untuk teruskan perbincangan ini. Salam dari Sabah.

    ReplyDelete
  5. saya rasa persoalan pokok adalah bahwa Malaysia memang tidak mengenal HUMAN RIGHTS, hanya ada MALAY RIGHTS. wajar saja kalau orang2 melayu Malaysia sangat membenci agama2 lain yang tidak dianut oleh orang2 Melayu.

    ReplyDelete
  6. org2 melayu memang paling SUCI di dunia. mereka berhak menentukan siapa yang masuk surga dan neraka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow nampaknya orang melayu Malaysia sudah mau menyamakan diri mereka dengan Allah.sebab hanya
      Allah shaja yg layak menentukan siapa yg layak masuk surga.terang-terangan ini adalah sikap Lucifer.

      Delete
  7. melayu malaysia penguasa surga, berhak memaksakan pandangan kepada siapa saja. melayu malaysia is the best!!! brengsek!!!

    ReplyDelete
  8. Ave Bung Hurek, sudah lama tidak bisa membaca Artikel anda, sebab di Tiongkok Internet-nya disensor, tidak ada Blog atau Youtube, dll-nya. Sekarang kebetulan awak berada di Eropa, karena bojo-ku ingin merayakan Natalan dan Tahun Baru bersama anak2 dan cucuk, ergo bisa membaca Blog anda.
    Beberapa kata2 Latein yang tercantum dalam Artikel anda diatas, membuat saya terkenang akan masa lalu.
    Ditahun 1968 seorang Jerman, teman sekamar diasrama, mengajak saya untuk menonton Bioskop, judul Film-nya " If ".
    Kisahnya tentang kehidupan anak2 didik diasrama Katolik di England.
    Coba anda lihat di Youtube, ketik : Sanctus Film " If ", atau
    Missa Luba. Anda akan dapat mendengarkan lagu2 Credo yang
    sangat indah. Sanctus, Kyrie, Gloria.
    Berdiskusi tentang Agama-Agama Keturunan Abraham dibenua Asia, sampai kiamat pun tak akan ada hasilnya. Karena Abraham adalah orang Timur Tengah, kecuali itu orang Asia tidak memiliki budaya Dialog yang sehat.
    Daripada pegel nganggur, lebih baik mendengarkan musik sambil ngelamun.
    Salam.

    ReplyDelete
  9. Sebelum penulis artikel ini menabur fitnah lebih jauh, izinkan saya membela bagi pihak Malaysia dan kebetulan seorang Muslim.

    Larangan untuk Kristian di Malaysia hanya atas penggunaan kalimah Allah, bukan atas penerbitan Injil (sebetulnya bible) dalam bahasa Melayu. Yang ini, anda harus jelas.

    Di Malaysia, penutur asli bahasa Melayu ialah penganut Islam. Malah belum ditemui penutur asli bahasa Melayu yang menganut agama lain selain itu.

    Di Malaysia, Tiap bahasa selain Melayu berkembang baik tak sebagaimana bahasa daerah di Indonesia yang menanti masa untuk pupus. Di negara ini, tiap etnik atau ras masih berbicara bahasa aslinya kerana semuanya diajarkan formal di sekolah. perkembangan ini juga beri impak yang baik atas penerbitan bible. Semua bible yang beredar di Malaysia diterbitkan dalam bahasa masing-masing etnik. Yang Iban berbahasa Iban, yang Kadazan berbahasa kadazan, yang cina berbahasa Cina. Termasuk Bible bahasa Inggeris yang sudah lama beredar.

    Semua bible berbilang bahasa ini menamakan Tuhan bukan dengan nama Allah, tapi diberikan nama dalam dialek masing-masing. Jadi intinya disisi, nama Tuhan Kristian tak semestinya Allah.

    Yang jadi persoalan di sini, tiba-tiba bible yang diterjemahkan ke bahasa Melayu menyebut Allah sebagai Tuhan, walhal dalam bible versi bahasa-bahasa lain, nama Tuhan boleh pula dipanggil dalam nama lain. Jadi mahkamah Malaysia berpendapat, sebutan nama Tuhan, bukanlah pegangan pokok dalam ajaran Kristian, kerana setiap bible berlainan bahasa, nama Tuhan pun beza-beza.

    Prinsip ini dipakai oleh mahkamah Malaysia ketika menghalang bible versi bahasa Melayu menggunakan nama Allah. Kerana di Malaysia, yang kenal bahawa Tuhan itu Allah hanya orang Islam sedangkan penganut agama lain, sekaligus orang non-Melayu, hanya kenal Tuhan dalam bahasanya sendiri.

    Jadi muncul andaian di sini tentang, mengapa Bible berbahasa Melayu mengamankan Tuhan dengan nama Allah, Padahal mereka boleh ambil nama-nama lain yang sudah mereka pakai dalam bible versi bahasa lain. Katika ini, tujuan mereka bersikeras hendakkan nama Allah, mula dipertanyakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cinta Bahasa Indonesia3:01 AM, July 02, 2014

      Orang Malaysia ini aneh, menyebut dirinya Cinta Bahasa Melayu (CBM), tetapi mau mendiktekan cara menggunakan Bahasa Melayu kepada orang lain, mau mengatur-atur bagaimana suatu kaum beragama menyebut Tuhan mereka? Apa sih yang ditakutkan?

      "Mengapa Bible berbahasa Melayu mengamankan Tuhan dengan nama Allah, Padahal mereka boleh ambil nama-nama lain yang sudah mereka pakai dalam bible versi bahasa lain". Betapa sangat bodoh dan tidak logis, sama bodohnya dengan hakim mahkamah yang memutuskan perkara ini. Namanya saja Alkitab Bahasa Melayu, ya jelas saja menggunakan istilah Bahasa Melayu. Untuk "Lord" (Bahasa Yunani: Kyrios), digunakan Tuhan. Untuk "God" (Bahasa Yunani: Theos), tidak bisa digunakan Tuhan lagi! Lantas apa, mau gunakan sebutan Bahasa Mandarin, atau Bahasa Dayak, di dalam Alkitab Bahasa Melayu? Di mana logikanya, di dengkul?

      Saya kira jawabannya sudah jelas dari tulisan CBM: "Di Malaysia, penutur asli bahasa Melayu ialah penganut Islam. Malah belum ditemui penutur asli bahasa Melayu yang menganut agama lain selain itu." Artinya, di Malaysia ada rejim otoriter yang melarang orang Melayu untuk beragama lain selain Islam, dan melarang orang beragama selain Islam untuk berbahasa Melayu. Mengapa? Karena mereka takut (secara tidak logis) bahwa orang Melayu akan pindah agama selain Islam. Itu saja, akui saja, jangan gunakan alasan2 yang tidak logis dan berpanjang-panjang kata menghabiskan waktu orang lain untuk membaca. Malaysia negara otoriter yang mendiskriminasi kaum selain Melayu, dan agama selain Islam, karena ketakutan yang tidak rasional.

      Coba lihat di Indonesia, sudah 400 tahun lebih Gereja Katolik dan Protestan menggunakan "Allah" di dalam Alkitab berbahasa Indonesia, apa Islam menjadi agama minoritas? Tidak! Malahan sekarang, masjid di mana-mana, orang Islam makin rajin sholat, panggilan azan 5x sehari berkumandang dengan pengeras suara.

      Ke laut aja deh lu.

      Delete