29 January 2010

Gus Dur dan Gereja SMK Pagesangan



Sudah sebulan Gus Dur meninggalkan kita semua. Namun, refleksi dan kenangan terhadap 'bapak demokrasi' itu tak habis-habisnya dilakukan masyarakat. Tak hanya kaum nahdliyin, yang memang komunitasnya Gus Dur sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU), tapi juga kalangan minoritas non-Islam.

Umat Katolik di Surabaya, khususnya Paroki Sakramen Mahakudus (SMK), punya kenangan mendalam tentang Gus Dur. Maklum, gereja di kawasan Pagesangan, samping Masjid Al-Akbar, itu diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tepatnya pada 10 November 2000. Upacara peresmian Gereja SMK dilakukan hampir bersamaan dengan peresmian Masjid Agung Surabaya, nama lama Masjid Al-Akbar.

"Mungkin Gereja SMK itu gereja pertama yang diresmikan oleh seorang presiden di Indonesia. Setahu saya selama ini belum pernah ada gereja paroki yang diresmikan oleh pejabat paling tinggi di republik ini," kata Yohanes Haryanto, jemaat Gereja SMK, kepada Radar Surabaya kemarin.

Bagaimana kisah di balik kesediaan Gus Dur meresmikan gereja yang dirintis mendiang Romo Johannes Heijne SVD ini?

Jawabannya ada di Romo Eko Budi Susilo, ketua Komisi Hubungan Antaragama Keuskupan dan Kepercayaan Keuskupan Surabaya, yang sekarang menjabat kepala Paroki Katedral Surabaya. "Ceritanya agak panjang," tutur pastor asal Karanganyar, Surakarta, ini.

Alkisah, pada September 2000 Uskup Surabaya Mgr Johanes Hadiwikarta (sekarang almarhum) mengutus Romo Eko mengantar surat permohonan kepada Presiden Wahid untuk meresmikan Gereja SMK. Sebab, sebelumnya sudah ada informasi bahwa Gus Dur akan ke Surabaya pada Hari Pahlawan tahun 2000 untuk meresmikan Masjid Agung. Karena lokasinya bertetangga, pihak keuskupan ingin agar Gereja SMK diresmikan bersamaan dengan Masjid Agung.

"Sekalian sebagai simbol kerukunan dan kebersamaan," tutur Romo Eko.

Ketika menginap di Malang, Gus Dur sempat bertemu dengan Romo Eko, Romo Benny, Pendeta Wismoady (almarhum), dan KH Hasyim Muzadi. Waktu itu secara informal Gus Dur menyatakan bersedia meresmikan Gereja SMK bersamaan dengan Masjid Agung. "Kesediaan Gus Dur itu yang membuat kami berani mengirim surat permohonan kepada beliau," kata Romo Eko.

Namun, pada 24 September 2000 datang surat dari sekretariat negara bahwa Presiden Gus Dur tidak bisa meresmikan Gereja SMK karena kegiatan presiden di Jawa Timur sangat padat. Uskup Surabaya pun kaget. "Ya, sudah. Kalau memang tidak bisa, bagaimana kalau prasastinya saja yang ditandatangani Gus Dur saat meresmikan Masjid Agung?" tukas Mgr Hadiwikarta.

Romo Eko, yang memang sudah mengenal dekat keluarga Gus Dur sejak Peristiwa Situbondo, 1996, tak kehilangan akal. Dia menelepon Lisa, putri sulung Gus Dur, menceritakan isi surat sekneg ini. Lisa terkejut. Sebab, dalam percakapan telepon sebelumnya, sudah ada konfirmasi bahwa Gus Dur bersedia meresmikan Gereja SMK.

"Kami sudah tidak punya harapan lagi. Apalagi, Anda tahu waktu itu Gus Dur sedang menjadi sasaran tembak politisi di Senayan," kenang Romo Eko.

Tak dinyana, tiba-tiba Lisa menelepon Romo Eko yang sedang ada tugas di Wisma Kinasih, Sukabumi, Jawa Barat. Pastor aktivis yang gemar wayang kulit ini diminta datang ke Istana Negara untuk membahas rencana peresmian Gereja SMK oleh Gus Dur. "Saya diliputi kegembiraan yang luar biasa. Benar-benar kejutan bagi kami," katanya.

Singkat cerita, Gus Dur akhirnya meresmikan Masjid Agung Surabaya bertepatan dengan Hari Pahlawan. Beberapa menit kemudian presiden asal Jombang ini mampir ke halaman Gereja SMK untuk menandatangi prasasti sekaligus meresmikan gereja itu. Ratusan umat Katolik dari berbagai paroki di Surabaya, menyambut Gus Dur dengan sukacita.

Namanya juga Gus Dur, usai menandatangi prasasti, Gus Dur melontarkan guyonan segar. Ceritanya tentang seorang pastor dan seekor harimau di hutan. Pastor yang tidak disebutkan namanya itu konon suka berburu. Si pastor, yang merasa ajalnya sudah dekat, berlutut, memejamkan mata, dan berdoa lama. Pasrah karena si harimau sudah lapar.

Setelah berdoa cukup lama, si pastor membuka matanya. Kaget, si harimau teryata ikut memejamkan mata. "Kok aku tidak dimakan-makan?" ujar Gus Dur menirukan kata-kata si pastor. Si harimau menjawab: "Wow.... wow.... Aku lagi doa sebelum makan."

Uskup Surabaya Mgr Hadiwikarta, para pastor, dan jemaat yang hadir pun tertawa ngakak. (rek)

1 comment:

  1. Kisah Gus Dur yang menyegarkan hati.

    ReplyDelete