15 January 2010

Gurita Cikeas Copy-Paste




Kemarin, saya membeli buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS di pertigaan lampu merah Buduran, Sidoarjo. Buku kualitas fotokopian dengan harga murah-meriah. Buku karangan George Junus Aditjondro ini memang dijajakan anak-anak tukang koran di Surabaya dan Sidoarjo secara gencar dalam dua pekan terakhir. Dan laku keras.

GURITA CIKEAS sejatinya bikin heboh sejak pekan terakhir Desember 2009. Tapi kita sulit menemukan buku setebal 183 halaman, terbitan Galangpress, Jogjakarta, ini. Apa boleh buat, kita hanya bisa melihat diskusi yang ramai di televisi dan membaca koran-koran. Anda mungkin sama dengan saya: penasaran dengan GURITA CIKEAS.

Maka, begitu mendapatkan GURITA CIKEAS, saya langsung melahap sampai habis. Kurang dari 50 menit buku ini saya lahap. Dan betapa kecewanya saya! Buku GURITA CIKEAS ternyata hanya "hebat" di media massa, sementara aslinya jelek. Sangat jelek!

Sulit dimengerti Dr. George Aditjondro yang sangat terkenal itu menyusun buku picisan macam ini. Editing atau penyuntingan yang dilakukan Nurjannah Intan dan Sigit Suryanto sangat buruk. Aneh, dua orang ini tidak akrab dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Apa kerja kedua editor Galangpress ini?

Yang paling parah tentu isinya. Membaca judul buku, Membongkar GURITA CIKEAS, saya langsung membayangkan tulisan bekas wartawan majalah TEMPO ini berisi investigasi mendalam tentang kerajaan bisnis Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), presiden kita. Ternyata, hanya sekadar kutipan macam-macam koran, situs internet, blog, laman (website), brosur, dan sebagainya.

George sendiri tidak melakukan verifikasi apa-apa. Tak ada wawancara dengan SBY maupun orang-orang yang disebut-sebut sebagai bagian dari GURITA CIKEAS. Wartawan sangat senior -- George Junus Aditjondro lahir di Pekalongan, 27 Mei 1946 -- kota tidak melakukan wawancara dengan narasumber? Kok tidak menelepon sumber-sumber yang hampir semuanya figur publik?

Gaya George persis wartawan-wartawan malas yang suka berselancar di internet, mencari data di Google [atau mesin pencari lain], kemudian copy-paste, goreng sana-sini, menjadi tulisan. Memang George mencantumkan sumber-sumber yang dikutip. Tapi akhirnya buku GURITA CIKEAS hanya menjadi kumpulan kliping yang kurang bermutu.

Saya kecewa berat. Saya membayangkan buku GURITA CIKEAS ini paling tidak seperti investigasi kerajaan bisnis mantan Presiden Soeharto yang dilakukan majalah TIME dulu. TIME menggunakan data yang sangat komplet. Wawancara macam-macam sumber, termasuk pihak Soeharto. Pembaca dikasih gambaran tentang harta kekayaan Soeharto di berbagai yayasan.

Di GURITA CIKEAS kita tidak menemukan apa-apa, selain nama-nama pendukung SBY, tim sukses, yayasan-yayasan sosial, daftar penerima sumbangan, susunan pengurus yayasan, dan -- itu itu tadi -- kliping atau copy-paste media massa. George hanya menggoreng data-data sekunder sampai 80 halaman. Dus, halaman 81 sampai 182 berisi lampiran.

Aha, lampiran jauh lebih banyak daripada isi bukunya sendiri yang nota bene hasil kliping media massa! Tapi, akhirnya, saya pun bisa memaklumi bahwa begitulah kualitas cendekiawan Indonesia. Titel akademis banyak, tapi jarang atau hampir tidak pernah membuat karya yang berbobot dan layak dibaca dari masa ke masa.

3 comments:

  1. BAng,

    Kirim satu buku ke sini bang. Saya jadi penasaran :D

    ReplyDelete
  2. Oke, Ning Dyah. Kirim alamatmu yang jelas, ntar saya kirim via pos. Selamat kerja.

    ReplyDelete
  3. Dari awal saya sudah menduga mas, buku itu cuman numpang tenar dengan judul kontroversialnya dan media massa

    ReplyDelete