07 January 2010

Frans Seda Pahlawan Flores




Selamat jalan Bapak Frans Seda!
Beristirahatlah dalam damai di sisi-Nya!
Resquescat ini pace!


Bagi orang Flores, Frans Seda adalah legenda, bahkan sejak beliau masih hidup. Sejak kecil nama Frans Seda sering disebut-sebut oleh guru-guru SD di pelosok-pelosok Flores. Anak-anak kampung yang sederhana itu dimotivasi agar bisa menjadi Frans Seda.

"Kalau kalian rajin belajar, kelak besar akan menjadi seperti Bapak Frans Seda," begitu antara lain kata-kata bapak dan ibu guru di kampung.

Karena itu, meskipun sudah ada beberapa tokoh nasional dan menteri berasal dari Flores, sebut saja Sonny Keraf, Jacob Nuwa Wea, yang diingat tetaplah Frans Seda. Maklum, tokoh asal kampung Lekebai, Kabupaten Sikka, ini paling sering menjadi menteri sejak era Bung Karno, kemudian era Soeharto.

"Frans Seda itu tokoh tiga zaman. Almarhum punya kontribusi besar pada bangsa dan negara," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat melayat jenazah almarhum di Pondok Indah, Jakarta. Saya kira, Frans Seda bukan hanya tokoh tiga zaman, melainkan sepanjang zaman semasa hidupnya.

Bagi kami, orang Flores, Frans Seda bukan sekadar role model, tapi juga "tokoh ajaib". Bayangkan, pada tahun 1950-an, ketika mayoritas rakyat Flores masih buta huruf, Frans Seda sudah bersekolah tinggi. Jago bahasa Belanda, otak encer, bahkan dikirim ke Belanda untuk kuliah ilmu ekonomi pembangunan. Nyaris tak ada tokoh lain dari Flores yang punya nasib secemerlang seorang Frans Seda.

Kembali ke Indonesia, Frans Seda diajak Bung Karno untuk membantunya di kabinet. Secara tak langsung nama Flores dikenal masyarakat Indonesia berkat kiprah Frans Seda di pemerintahan. Apalagi, almarhum menempati posisi menteri keuangan pada awal Orde Baru. Masa ketika inflasi membubung tinggi, perekonomian kacau-balau, situasi politik tidak kondusif. Frans Seda terlibat aktif sebagai arsitek ekonomi masa itu.

Pada 1980-an, bahkan 1990-an, angka buta huruf [dan buta bahasa Indonesia] di Flores, khususnya Kabupaten Flores Timur, masih tinggi. Saya sendiri bahkan masih sulit berbahasa Indonesia meski sudah duduk di bangku SMP. Maka, jika ada surat-surat dari keluarga di Malaysia--orang Flores Timur paling banyak merantau di Malaysia Timur--guru-guru SD di kampung mendapat tugas khusus membaca, menerjemahkan, kemudian membalas surat itu.

Saya kadang-kadang tertawa sendiri mengingat pengalaman masa lalu di kampung itu. "Kok bisa ada orang Flores yang sudah begitu hebat macam Bapak Frans Seda? Bagaimana dia belajar? Siapa yang membiayai?" tanya saya dalam hati.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini pelan-pelan terjawab setelah saya membaca tulisan-tulisan Frans Seda maupun buku biografinya. Yang juga membanggakan, Frans Seda tak hanya dikenang sebagai tokoh besar asal Flores, tapi juga tokoh Katolik berpengaruh. Di kalangan aktivis mahasiswa Katolik pada era 1990-an, ada dua nama tokoh Katolik yang selalu disebut-sebut: Ignatius Joseph Kasimo dan... Frans Seda.

Kini, Frans Seda telah tiada. Tugas dan pengabdiannya bagi gereja dan tanah air [pro ecclesia et patria] paripurna sudah. Kapan muncul lagi Frans Seda-Frans Seda yang baru dari Flores dan NTT umumnya?

Sayang, ketika sekolah-sekolah sudah masuk ke kampung-kampung pelosok di Flores, ketika bisnis seluler sudah menjangkau kecamatan-kecamatan di pelosok Flores, belum muncul tokoh baru sekaliber Frans Seda.

Almarhum Frans Seda justru muncul ketika masyarakat Flores masih primitif.

2 comments:

  1. Hallo salam kenal..blogie walking neh sambil memperkenalkan cincin pernikahan, harga dan model sesuai pesanan, atau anda bisa juga melihat koleksi wedding card yang unik.

    ReplyDelete
  2. Mungkin nanti akan ada pengganti Om Frans ini. sekarang banyak koq orang kita yg pintar2 ngomong,nulis dll...

    Bagaimanapun bagi saya abang yg paling pintar karena tulisan abang hurek mudah dimengerti,apalagi tentang flores dan Lamaholot..serasa suasana helon nolhon tite rae lewo tanah. go banyak baca diskusi orang2 flores timur,adonara lembata di facebook... uhh.. terlalu tinggi ilmu politik dan bahasanya.susah tite pahami ama. makanya go lebih senang baca tulisan abang,Adreas harsono, Dahlan iskan di koran.
    Semoga go juga berusaha belajar tulis helon mio wahan kae.

    selamat tahun baru abang.... lebih sukses 2010

    ReplyDelete