29 January 2010

Gus Dur dan Gereja SMK Pagesangan



Sudah sebulan Gus Dur meninggalkan kita semua. Namun, refleksi dan kenangan terhadap 'bapak demokrasi' itu tak habis-habisnya dilakukan masyarakat. Tak hanya kaum nahdliyin, yang memang komunitasnya Gus Dur sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU), tapi juga kalangan minoritas non-Islam.

Umat Katolik di Surabaya, khususnya Paroki Sakramen Mahakudus (SMK), punya kenangan mendalam tentang Gus Dur. Maklum, gereja di kawasan Pagesangan, samping Masjid Al-Akbar, itu diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tepatnya pada 10 November 2000. Upacara peresmian Gereja SMK dilakukan hampir bersamaan dengan peresmian Masjid Agung Surabaya, nama lama Masjid Al-Akbar.

"Mungkin Gereja SMK itu gereja pertama yang diresmikan oleh seorang presiden di Indonesia. Setahu saya selama ini belum pernah ada gereja paroki yang diresmikan oleh pejabat paling tinggi di republik ini," kata Yohanes Haryanto, jemaat Gereja SMK, kepada Radar Surabaya kemarin.

Bagaimana kisah di balik kesediaan Gus Dur meresmikan gereja yang dirintis mendiang Romo Johannes Heijne SVD ini?

Jawabannya ada di Romo Eko Budi Susilo, ketua Komisi Hubungan Antaragama Keuskupan dan Kepercayaan Keuskupan Surabaya, yang sekarang menjabat kepala Paroki Katedral Surabaya. "Ceritanya agak panjang," tutur pastor asal Karanganyar, Surakarta, ini.

Alkisah, pada September 2000 Uskup Surabaya Mgr Johanes Hadiwikarta (sekarang almarhum) mengutus Romo Eko mengantar surat permohonan kepada Presiden Wahid untuk meresmikan Gereja SMK. Sebab, sebelumnya sudah ada informasi bahwa Gus Dur akan ke Surabaya pada Hari Pahlawan tahun 2000 untuk meresmikan Masjid Agung. Karena lokasinya bertetangga, pihak keuskupan ingin agar Gereja SMK diresmikan bersamaan dengan Masjid Agung.

"Sekalian sebagai simbol kerukunan dan kebersamaan," tutur Romo Eko.

Ketika menginap di Malang, Gus Dur sempat bertemu dengan Romo Eko, Romo Benny, Pendeta Wismoady (almarhum), dan KH Hasyim Muzadi. Waktu itu secara informal Gus Dur menyatakan bersedia meresmikan Gereja SMK bersamaan dengan Masjid Agung. "Kesediaan Gus Dur itu yang membuat kami berani mengirim surat permohonan kepada beliau," kata Romo Eko.

Namun, pada 24 September 2000 datang surat dari sekretariat negara bahwa Presiden Gus Dur tidak bisa meresmikan Gereja SMK karena kegiatan presiden di Jawa Timur sangat padat. Uskup Surabaya pun kaget. "Ya, sudah. Kalau memang tidak bisa, bagaimana kalau prasastinya saja yang ditandatangani Gus Dur saat meresmikan Masjid Agung?" tukas Mgr Hadiwikarta.

Romo Eko, yang memang sudah mengenal dekat keluarga Gus Dur sejak Peristiwa Situbondo, 1996, tak kehilangan akal. Dia menelepon Lisa, putri sulung Gus Dur, menceritakan isi surat sekneg ini. Lisa terkejut. Sebab, dalam percakapan telepon sebelumnya, sudah ada konfirmasi bahwa Gus Dur bersedia meresmikan Gereja SMK.

"Kami sudah tidak punya harapan lagi. Apalagi, Anda tahu waktu itu Gus Dur sedang menjadi sasaran tembak politisi di Senayan," kenang Romo Eko.

Tak dinyana, tiba-tiba Lisa menelepon Romo Eko yang sedang ada tugas di Wisma Kinasih, Sukabumi, Jawa Barat. Pastor aktivis yang gemar wayang kulit ini diminta datang ke Istana Negara untuk membahas rencana peresmian Gereja SMK oleh Gus Dur. "Saya diliputi kegembiraan yang luar biasa. Benar-benar kejutan bagi kami," katanya.

Singkat cerita, Gus Dur akhirnya meresmikan Masjid Agung Surabaya bertepatan dengan Hari Pahlawan. Beberapa menit kemudian presiden asal Jombang ini mampir ke halaman Gereja SMK untuk menandatangi prasasti sekaligus meresmikan gereja itu. Ratusan umat Katolik dari berbagai paroki di Surabaya, menyambut Gus Dur dengan sukacita.

Namanya juga Gus Dur, usai menandatangi prasasti, Gus Dur melontarkan guyonan segar. Ceritanya tentang seorang pastor dan seekor harimau di hutan. Pastor yang tidak disebutkan namanya itu konon suka berburu. Si pastor, yang merasa ajalnya sudah dekat, berlutut, memejamkan mata, dan berdoa lama. Pasrah karena si harimau sudah lapar.

Setelah berdoa cukup lama, si pastor membuka matanya. Kaget, si harimau teryata ikut memejamkan mata. "Kok aku tidak dimakan-makan?" ujar Gus Dur menirukan kata-kata si pastor. Si harimau menjawab: "Wow.... wow.... Aku lagi doa sebelum makan."

Uskup Surabaya Mgr Hadiwikarta, para pastor, dan jemaat yang hadir pun tertawa ngakak. (rek)

Tionghoa dan Sepak Bola



Sejak dulu orang Tionghoa di Surabaya aktab dengan sepak bola. Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka, orang Tionghoa sudah mendirikan perkumpulan olahraga bernama Gymnastiek en Sportvereeniging Tionghoa Surabaya pada 1908.

"Perkumpulan olahraga itu kemudian berubah nama menjadi Naga Kuning dan sekarang Suryanaga," ujar RN Bayu Aji kepada Radar Surabaya kemarin (25/1/2010).

Alumnus Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga ini akan segera meluncurkan bukunya bertajuk Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola.

Ide untuk menulis ini sangat sederhana. Saat harus menyelesaikan skripsi, rancangan skripsi tentang Adu Doro di Surabaya tidak disetujui dosen. Karena kecewa, Bayu Aji kemudian bermain sepak bola dan futsal setiap pagi dan sore. Akhirnya, muncul ide menulis kajian sepak bola, terutama kalangan Tionghoa.

"Sebab, dulu banyak pemain sepak bola kita dari kalangan Tionghoa. Bahkan, tim nasional kita pemain utamanya orang Tionghoa. Nah, naskah skripsi saya ini yang kemudian diterbitkan menjadi buku," paparnya.

Menurut Bayu, keterlibatan warga Tionghoa dalam olahraga, khususnya sepak bola sejak era Hindia Belanda, tak lepas dari kedudukan orang-orang Tionghoa yang lebih mapan daripada bumiputra.

Sekolah-sekolah Tionghoa pun lebih maju dan kuat, baik finansial dan manajemen dibanding sekolah-sekolah bumiputra. Bahkan, bisa bersaing dengan sekolah Belanda.

Karena itu, "Orang Tionghoa lebih siap menerima sepak bola melalui ranah pendidikan," ujar Bayu yang sudah menerbitkan buku Enam Tahun MK Mengawal Konstitusi dan Demokrasi dan Mengawal Demokrasi Menegakkan Keadilan Substantif.

Lantas, mengapa saat ini orang Tionghoa di Indonesia, tak hanya Surabaya, hengkang dari sepak bola?

Menurut Bayu, fenomena ini mulai terlihat sejak awal Orde Baru karena ada rasialisme yang muncul di masyarakat. Pemain sepak bola Tionghoa sering diteriaki 'Cino' oleh suporter. Hal itu membuat orang Tionghoa merasa tidak nyaman ketika berada di stadion.

"Perbedaan antara pribumi dan non pribumi juga masih dirasakan dalam kehidupan. Akibatnya, ketika terjadi kerusuhan dalam sepak bola, bisa bergeser pada sentimen ras. Orang Tionghoa yang pragmatis kemudian melihat sepak bola tidak bisa dijadikan sandaran hidup. Mereka lebih suka berdagang," tegasnya.


Pada era Hindia Belanda, komunitas Tionghoa di Surabaya sudah punya manajemen klub dan kompetisi yang rapi. Tidak heran, klub Tionghoa Surabaya dikenal sebagai tim elit bersama UMS Batavia, Union Semarang, dan YMC Bandung.


KLUB Tionghoa Surabaya sering menjadi juara steden wedstrijden dan kompetisi lokal. Di antaranya, Piala Hoo Bie (1921-1922), Piala Tjoa Toan Hoen (1925), Juara CKTH 1927-1929, Juara HNVB (1930-1932).

Masa keemasan terjadi pada 1939 ketika meraih juara kompetisi SVB (Soerabajasche Voetbal Bond) serta juara pertama Java Club Champion.

Sepak bola di era prakemerdekaan itu sarat dengan nuansa politik, baik kalangan Tionghoa, Belanda, maupun Bumiputera. Penggalangan dana dan pertandingan amal merupakan salah satu contoh bahwa sepak bola dekat dengan politik.

"Pertandingan amal bisa dikatakan sebagai bentuk semangat nasionalisme meskipun bersifat simbolik dan sesaat," kata alumnus Universitas Airlangga ini.

Pada 1938, Indonesia yang waktu itu masih bernama Hindia Belanda mengikuti Piala Dunia di Prancis. Ini merupakan fakta menarik mengingat setelah kemerdekaan, 17 Agustus 1945, kesebelasan Indonesia tak pernah sekali pun mencicipi rasanya tampil di ajang sepak bola paling bergengsi di dunia itu. Jangankan ikut Piala Dunia, di tingkat Asia Tenggara tim Indonesia sangat sulit bersaing.

Menurut Bayu, saat akan mengikuti Piala Dunia di Prancis sempat terjadi ketegangan antara NIVB (Persatuan Sepakbola Hindia Belanda) dan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) terkait nama tim nasional. PSSI meminta agar nama timnas yang ikut Piala Dunia adalah Indonesia. Sedangkan NIVB meminta nama Nederlandsch-Indie alias Hindia Belanda alias Dutch East Indies.

FIFA kemudian mengakui nama Nederlansch-Indie dan PSSI menarik diri dari timnas. Nah, peran inilah yang kemudian diisi oleh komunitas Tionghoa untuk ikut pertama kali memperkuat timnas. Pemain Tionghoa Surabaya yang ikut Piala Dunia adalah Tan Mo Heng alias Bing (kiper) dan Tan Hong Djien (striker). Satu pemain lagi dari Surabaya adalah Tan See Han.

Belajar dari sejarah, di mana orang-orang Tionghoa berprestasi hebat di sepak bola pada 1930-an, Bayu mengajak semua pihak untuk 'mengembalikan' kejayaan sepak bola Indonesia dengan cara merangkul semua warga negara dari etnis apa saja, termasuk Tionghoa. Momentum itu mulai datang ketika Presiden Abdurrahmah Wahid (Gus Dur) mengembalikan kembali hak-hak Tionghoa sebagai WNI.

"Dan bukan tidak mungkin orang Tionghoa berkiprah lagi dalam sepak bola dan bisa menunjukkan prestasi yang lebih. Bahkan, bisa membawa kejayaan sepak bola Indonesia lagi dan ikut Piala Dunia seperti tahun 1938," tegasnya.

26 January 2010

James Chu, Musik Jawa di Hongkong




James Chu, pemusik asal Banyuwangi yang tinggal di Hongkong, belum lama ini menggelar konser bersama Didi Kempot di Queen Elizabeth Stadium, Hongkong. Konser ini selain dihadiri para pekerja asal Indonesia, juga masyarakat setempat yang tertarik dengan budaya Indonesia.

"Saya tidak menyangka kalau konser saya bersama Didi Kempot ini disaksikan sekitar 2.500 TKW (tenaga kerja wanita) dan masyarakat Indonesia di Hongkong. Luar biasa!" ujar James Chu yang menghubungi Radar Surabaya kemarin (25/1).

Meski kurang dikenal di Indonesia, nama James Chu merupakan pemusik internasional yang disegani di mancanegara. James komposer serbabisa dan piawai memainkan gitar Hawai (Hawaian guitar). Sejauh ini dia sudah memproduksi sembilan cakram digital (CD) berjudul James Chu Relaxation yang diedarkan di dalam maupun luar negeri.

Tinggal bertahun-tahun di negeri orang tak membuat James lupa pada akarnya sebagai arek Blambangan, Banyuwangi. Karena itulah, dia manggandeng Didi Kempot, penyanyi campursari, untuk mengembangkan musik bernuansa Jawa di Hongkong. "Saya juga ada rencana ke Indonesia, termasuk Surabaya," ujar James Chu.

Supardi, wartawan senior Xingzhou Ribao di Hongkong menjelaskan, setelah menyelesaikan kuliahnya di Tiongkok, James Chu menetap di Hongkong dan tekun menggeluti musik. "James ini orang Tionghoa, tapi ciri Jawanya lebih menonjol daripada ciri Tionghoa. Dia sangat kagum pada kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa," jelasnya.

Selain di Hongkong, menurut Supardi, James Chu pernah mengadakan pertunjukan di daratan Tiongkok. Konser-konser James Chu selalu mendapat perhatian orang Indonesia maupun warga setempat. "Makanya, dia dipuji sama pejabat di Konjen Indonesia di Guangzhou," kata Supardi.

Oleh Lambertus Hurek
Dimuat Radar Surabaya, 26 Januari 2010, halaman 8

24 January 2010

Menikmati Nasi Jagung



Anda pernah makan nasi jagung?

Orang Jawa Timur yang tinggal di kota mungkin belum pernah. Kecuali di Pulau Madura dan kawasan timur Jatim macam pelosok Bondowoso dan Situbondo, jagung merupakan makanan pokok selain beras. Tapi di Surabaya kita sangat sulit menemukan warung-warung yang berjualan nasi jagung.

Ada sebuah lapak kecil di samping Gelora Delta Sidoarjo yang rutin menjajakan nasi jagung plus lauk khasnya, ikan asin, lalapan. Saya lihat cukup ramai. "Saya ini aslinya dari desa. Dulu di kampung saya sering makan nasi jagung, apalagi kalau sedang membantu orang tua di sawah," kata Pak Gatot, karyawan yang tinggal di Sidoarjo, kepada saya.

Sama dengan Pak Gatot, saya sering mampir ke warung lesehan ini karena ada nuansa nostalgia. Orang NTT, khususnya Flores, memang terbiasa makan nasi jagung. Beras sangat mahal karena tidak bisa tumbuh subur di Flores, kecuali beberapa kawasan barat seperti Ngada atau Manggarai. Kawasan Flores Timur, Lembata, Solor, Adonara, jangan harap bisa tanam padi. Kecuali jenis gogo yang tahan kering dan tak butuh banyak air.

Sayang, si gogo ini pun tidak banyak. Maka, nasi jagung menjadi menu harian orang Flores Timur dan Lembata. Bahkan, dulu Gubernur ben Mboi pernah mengusulkan agar pegawai negeri sipil dan anggota TNI/Polri di NTT tidak dikasih jatah beras, tapi jagung. Usulan ini ditolak karena jagung dianggap makanan kelas tiga atau kelas lima. Di beberapa buku, jagung bahkan dianggap sebagai makanan ternak. Wuih!

Alah bisa karena biasa! Biarpun dianggap makanan ternak, kalau sudah terbiasa makan jagung, awalnya sulit menikmati nasi yang dari beras. Sama dengan orang Jawa yang sulit makan roti karena kulino makan nasi (dari beras). "Kalau tidak makan jagung, kita punya perut tidak bisa kenyang le," kata teman dari Flores yang belum lama tinggal di Surabaya.

Maka, demi mengenang kampung halaman yang makanan pokoknya nasi jagung, saya kerap mampir di warung lesehan samping Gelora Delta Sidoarjo. Jagungnya tidak 100 persen, tapi dicampur beras kira-kira 10 persen. Rasanya memang hebat, gurih, dan asyik. Layaknya kita sedang bancakan atawa makan rame-rame di ladang di pelosok NTT yang belum dijangkau kendaraan bermotor, listrik, dan berbagai fasilitas modern.

Suasananya pun khas desa. Para pengunjung bertegur sapa, bertukar cerita, tentang macam-macam hal. Soal politisi yang doyan cewek, musik keroncong, pilkada Sidoarjo, gosip artis, hingga pengalaman masa kecil. Hal-hal kecil macam ini tentu sulit diperoleh jika makan di McDonald's Taman Pinang yang jaraknya tidak sampai 100 meter dari warung lesehan nasi jagung ini.

Kalau kangen nasi jagung, saya juga kerap main-main ke Trawas, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya di Desa Seloliman, dekat Candi Jolotundo dan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup. Di situ ada lima pondok alias gubuk sederhana: berdinding gedhek, atap alang-alang, tak ada lisrik. Penerangan pakai lampu minyak tanah macam di pelosok Flores. Tempat ini kerap dikunjungi orang-orang kaya dari Surabaya.

Saya kenal dekat Mbok Tani, Mbok Jono, Mbak Saning, Mas Sembodo, para pemilik gubuk derita itu. Mbok Tani sangat sering menanak nasi jagung. Komposisinya 1:2, satu bagian jagung, dua bagian beras putih. "Kenapa tidak dibalik, Mbok? Duanya jagung, satu beras?" tanya saya.

"Nanti nasinya tenggelam, jadi kuning semua. Orang di sini sukanya yang begini," kata Mbok Tani yang suka bercanda dan meledek orang-orang kampung itu.

Nasi jagung buatan Mbok Tani memang asyik. Apalagi, mama tua ini sering juga mencampur dengan sayur daun kelor alias "merungge" [kata orang Flores]. Terlalu lama tinggal di kota besar, sok sibuk urus macam-macam, dugem di tempat-tempat hiburan, kenalan dengan artis ayu make up tebal, main internet sampai kecanduan, ada baiknya sekali-sekali kita kembali ke desa.

Makan nasi jagung, ikan asin, sayur lodeh tewel, lalapan, urap-urap, peyek, tempe bacem. Minum kopi tubruk, main suling:

"Cinta itu seperti kupu-kupu yang terbang tinggi
Hinggap di mana saja yang dia... ingini."

Pance Mencipta dengan Hati



FOTO: Pance ketika berusia 27 tahun merilis album pertama.


Pance Frans Pondaag. Nama ini begitu kondang di era 1980-an dan 1990-an. Jika Anda rajin mengikuti acara Selekta Pop atau Aneka Ria Safari di TVRI -- satu-satunya televisi masa itu -- [hampir] pasti ada lagu-lagu romantis, melankolis, ciptaan Pance Pondaag. Orang Flores, dan Nusatenggara Timur umumnya, rata-rata sangat gila lagu-lagu Pance. Sampai sekarang.

Setiap kali saya mampir ke rumah orang-orang NTT di Jawa Timur, amboi, lagu-lagu Pance pun terdengar. Berkali sudah, kupendam kecewaku. Sering kau tinggalkan diriku sendiri.... Lagu-lagu Om Pance sangat familier, mudah, dan nyanthol lama:

Walau Hati Menangis. Begitu Indah. Kerinduan. Simfoni Rindu. Mengapa Tak Pernah Jujur. Tak Ingin Sendiri. Untuk sebuah Nama. Rindu Bilanglah Rindu. Mutiaraku. Di Saat Kau Harus Memilih. Demi Kau dan Si Buah Hati. Yang Pertama Kali. Kucari Jalan Terbaik.

Yang pertama di dalam hidup ini
Rindu dan sayang menyiksa diri
Yang pertama di dalam hidup ini
Kasih dan sayang menerpa diri

Terkadang tak sadar bibirku ini
Menyebut dan memanggil namamu, Sayang
Pertama kali di dalam hidupku ini
Menyayang dirimu...


Ah, romantis banget, khas remaja tempo doeloe. Gaya rayuan ketika belum ada ponsel, HP, e-mail, Facebook, blog, bahkan telepon rumah pun belum ada. Pance Pondaag menawarkan kelembutan syair, bahkan (terlalu) banyak menceritakan penderitaan orang yang patah hati, dikhianati pasangan.

Kucoba bertahan mendampingi dirimu
Walau kadang kala tak seiring jalan
Kucari dan selalu kucari... jalan terbaik
Agar tiada penyesalan dan air mata."


Malam Minggu, 23 Januari 2010, saya menyaksikan program musik MALAM MINGGU-ONE di TVOne yang dipandu Ricky Jo. Beberapa artis top masa lalu macam Harvey Malaiholo, Rita Effendi, Rida, Yana Julio, Agus Wisman tampil. Sekali-sekali ditampilkan klip video masa lalu. Wow, saya terkejut melihat rekaman singkat kondisi Pance Pondaag sekarang.

Dibandingkan beberapa tahun lalu, saat ini Pance sudah tidak lumpuh total gara-gara stroke. [Terlalu banyak makan enak, kurang olahraga, Bung?] Pance juga sudah bisaa bicara, tapi sangat tidak jelas. Ibarat anak kecil yang baru belajar berkata-kata. Organ-organ bicara Bung Pance ini terlihat sulit memproduksi kata-kata meskipun alur pikirannya sudah bagus.

Saya kasihan melihat komposer kelahiran Makassar 18 Februari 1951 yang dulu sangat populer di NTT -- mungkin juga di tempat lain di Indonesia -- itu. Tapi, syukurlah, Pance sudah bisa bicara, meskipun sangat sedikit, tentang musik atau lagu-lagu ciptaannya. Sudah terlalu banyak kritikus yang mengecam karya Pance.

"Musik tiga jurus lah. Musik comberan lah. Musik sangat tidak bermutu lah. Musik cengeng lah. Musik pengantar bunuh diri lah. Musik orang pesimis lah. Musik yang tidak mendukung pembangunan lah....."

Pance tidak mau ambil pusing. Yang penting, dia berkarya terus, menyusun begitu banyak lagu pop yang pernah disukai pada eranya. Kini, setelah 20-an tahun kemudian, terbukti lagu-lagu Pance masih diputar orang. Bandingkan dengan lagu-lagu pop "berkualitas", dari band-band "papan atas", yang ternyata tak mampu bertahan dua tahun.

Sang waktu sudah kasih jawaban, bukan?

Mengutip referensi dari sebuah universitas di Amerika Serikat, Pance mengatakan bahwa yang penting dalam menciptakan lagu adalah soal HATI, bukan OTAK. Bikin lagu pakai HATI, bukan OTAK.

"Saya selalu menulis lagu dengan HATI, dengan PERASAAN. Saya tidak begitu peduli dengan tuntutan akademis yang muluk-muluk," ujar Pance dengan intonasi yang sulit dicerna.

Pihak TV-One sampai-sampai harus membuat teks untuk membantu "menerjemahkan" kalimat-kalimat Pance.

Sebagai orang yang sudah makan asam garam di dunia musik, menurut Pance, industri musik itu senantiasa berputar dari waktu ke waktu. Ibarat roda, musik selalu berputar-putar. Kalau dulu orang suka musik pop ala Rinto Harahap atau Pance, kemudian berganti, dan terus berganti. Kalau dulu Pance terkenal karena lagu-lagunya banyak dinyanyikan, kini Pance harus bergulat dengan penyakitnya.

"Tapi saya tetap Pance. Saya ini old fashioned people. Saya tidak bisa ikut gaya musik anak muda sekarang. Silakan orang lain berganti-ganti fashion, bikin musik yang berganti-ganti agar disukai orang. Saya hanya bisa menciptakan lagu dari HATI dan PERASAAN saya," tegasnya.

Dan rekaman yang hitam-putih itu pun selesai.

23 January 2010

Pansus yang Miskin Etika



Kasus Bank Century harus diusut tuntas sampai ke akar-akarnya. Dan semua pihak yang bertanggung jawab harus mendapat hukuman setimpal. Karena itu, panitia khusus alias pansus Century di Dewan Perwakilan Rakyat harus didukung.

Sikap kritis anggota pansus, kecuali yang dari Partai Demokrat, layak dipuji. Mereka tak percaya begitu saja penjelasan-penjelasan panjang lebar dari Sri Mulyani Indrawati, Boediono, Raden Pardede, Marsilam Simanjuntak, Susno Duadji, Robert Tantular, dan sebagainya. Sikap skeptis dan kritis memang layak dipelihara oleh anggota dewan yang ingin tahu seluk-beluk bailout Bank Century senilai Rp 6,7 triliun.

Namun, saya perhatikan sebagian anggota pansus ini sudah kehilangan etika, kesopanan, dalam "menginterogasi" para saksi. Nyaris tak ada sikap hormat terhadap pejabat-pejabat tinggi macam Boediono yang wakil presiden atau Sri Mulyani sebagai menteri keuangan. Cara bertanya anggota pansus lebih sadis ketimbang penyidik kepolisian.

Boleh saja pansus sudah punya simpulan bahwa Raden Pardede, Sri Mulyani, Boediono... punya kesalahan fatal ini-ini-ini. Tapi mereka tidak boleh dipermalukan di depan umum mengingat sidang pansus ini disiarkan langsung di televisi. Sri Mulyani, Boediono, dan kawan-kawan bukanlah terdakwa di sidang pengadilan. Majelis hakim di pengadilan negeri sekalipun saya rasa tak membentak-bentak, apalagi mempermalukan saksi dan terdakwa macam itu.

Pansus bertanya, para saksi menjelaskan. Ini agar kisruh bailout Century ini jadi terang. Anehnya, beberapa anggota pansus malas atau enggan mendengarkan para tamunya. Boediono atau Sri Mulyani baru bicara sedikit langsung dipotong. Si anggota pansus komentar ngalor-ngidul, bikin simpulan sendiri, kemudian memberondong saksi dengan pertanyaan lain. Baru dijawab, dipotong lagi, dan seterusnya.

Terus terang, saya ngeri melihat sidang pansus yang mirip pengadilan inkuisisi. Boediono, Sri Mulyani, Raden Pardede diperlakukan lebih rendah daripada terdakwa kelas teri di pengadilan negeri. Tapi saya juga geli sendiri. Baru kali ini saya melihat Boediono atau Sri Mulyani yang sangat pintar itu dikuliahi oleh beberapa anggota pansus yang nota bene politisi kemarin sore macam si Ara atau si Andi. Pansus, kecuali yang dari Demokrat, ibarat harimau lapar yang sangat rakus menghabisi mangsanya.

Di dunia jurnalisme ada prinsip dasar wawancara yang harus dipegang. Pertanyaan harus sependek mungkin, bila perlu hanya pakai kata MENGAPA, tapi Anda harus bisa mendapat jawaban selengkap mungkin dari narasumber. Wartawan hanya mengatur fokus pembicaraan agar tidak melebar ke mana-mana. Melebar sedikit tak apa, asalkan pelan-pelan digiring kembali secara halus.

Narasumber wajib dihormati. Dia harus merasa nyaman diajak ngobrol wartawan. Ada hubungan batin meskipun pendapat atau penjelasan narasumber tidak disetujui si wartawan. Hargailah narasumber yang sudah menyisihkan waktu untuk wawancara.

Nah, prinsip-prinsip dasar menggali informasi ala wartawan ini dilanggar hampir secara total oleh Pansus Bank Century. Bayangkan, selama 9 jam, 10 jam, bahkan 11 jam, pejabat-pejabat macam Sri Mulyani, Boediono, Raden Pardede harus "diterkam" dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang tidak bersahabat. Plus celetukan-celetukan yang kerap melecehkan. Mana ada orang baik-baik yang senang mendengar umpatan kasar seperti "bangsat" atau "kodok"?

Alih-alih mengambil simpati rakyat, karena pansus berani kritis dan skeptis, publik malah jatuh kasihan pada para saksi seperti Boediono, Sri Mulyani, atau Raden Pardede. Maka, ketika Marsillam Simanjuntak berani melakukan perlawanan dengan gantian "menginterogasi" anggota pansus, sejumlah masyarakat yang saya temui malah senang dan tertawa-tawa.

"Rasain! Pansus kena batunya! Makanya, anggota pansus itu jangan arogan," kata Cak Tohir.

18 January 2010

Calon Bupati Sidoarjo Bayar Rp 100 Juta



Anda tak punya uang? Jangan pernah bermimpi jadi bupati atau wakil bupati Sidoarjo. Biaya pendaftaran lewat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) saja Rp 100 juta. Kalau sekadar calon wakil bupati bayar Rp 50 juta.

Ini sebenarnya baru "bakal calon", belum calon. Pengurus PKB akan "menggodok" lagi nama-nama "bakal calon" untuk diperas menjadi calon resmi PKB. Pasangan inilah yang akan didaftarkan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sidoarjo, Jalan Raya Cemengkalang, tak begitu jauh dari Gelora Delta Sidoarjo.

Apa boleh buat. Sejak ada pemilihan langsung, entah itu wali kota, bupati, gubernur, presiden, uang menjadi segala-galanya. Pengurus partai-partai yang saya temui selalu bicara soal uang, uang, dan uang. Uang untuk pengurus ranting, anak cabang, cabang, provinsi, kemudian DPP di Jakarta, dan seterusnya.

Uang sosialisasi. Bikin poster, spanduk, iklan di media massa. Uang untuk bikin tim sukses. Bayar macam-macam. Biaya politik memang luar biasa mahal, sehingga sekali lagi, sulit bagi orang biasa-biasa saja bisa tampil sebagai pemimpin di daerah.

Tapi, syukurlah, di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo, masih banyak orang kaya yang punya ambisi menjadi bupati. Karena itu, biaya pendaftaran yang "hanya" Rp 100 juta masih dianggap murah. "Saya langsung bayar tunai. Biar tidak menjadi beban," kata Saiful Ilah, yang mendaftar di PKB Sidoarjo pada 15 Januari 2010.

Abah Saiful -- sapaan akrab Saiful Ilah -- tak asing lagi di Sidoarjo. Dua kali menjabat wakil bupati Sidoarjo, Saiful dikenal sebagai keturunan juragan tambak. Tambaknya ratusan, bahkan ribuan hektare. Perusahaannya juga sangat banyak. Saya sampai lupa nama-nama perusahaannya saking terlalu banyak.

Abah Saiful pula yang menggelontorkan uang pribadinya untuk Deltras, klub bola dari Sidoarjo, yang prestasinya minim. Sayang, kini Saiful tersingkir dari manajemen Deltras.

Akankah Abah Saiful dipercaya rakyat Sidoarjo yang jumlahnya hampir 2 juta orang ini sebagai bupati periode 2010-2015? Kita tunggu saja.

15 January 2010

Gurita Cikeas Copy-Paste




Kemarin, saya membeli buku MEMBONGKAR GURITA CIKEAS di pertigaan lampu merah Buduran, Sidoarjo. Buku kualitas fotokopian dengan harga murah-meriah. Buku karangan George Junus Aditjondro ini memang dijajakan anak-anak tukang koran di Surabaya dan Sidoarjo secara gencar dalam dua pekan terakhir. Dan laku keras.

GURITA CIKEAS sejatinya bikin heboh sejak pekan terakhir Desember 2009. Tapi kita sulit menemukan buku setebal 183 halaman, terbitan Galangpress, Jogjakarta, ini. Apa boleh buat, kita hanya bisa melihat diskusi yang ramai di televisi dan membaca koran-koran. Anda mungkin sama dengan saya: penasaran dengan GURITA CIKEAS.

Maka, begitu mendapatkan GURITA CIKEAS, saya langsung melahap sampai habis. Kurang dari 50 menit buku ini saya lahap. Dan betapa kecewanya saya! Buku GURITA CIKEAS ternyata hanya "hebat" di media massa, sementara aslinya jelek. Sangat jelek!

Sulit dimengerti Dr. George Aditjondro yang sangat terkenal itu menyusun buku picisan macam ini. Editing atau penyuntingan yang dilakukan Nurjannah Intan dan Sigit Suryanto sangat buruk. Aneh, dua orang ini tidak akrab dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Apa kerja kedua editor Galangpress ini?

Yang paling parah tentu isinya. Membaca judul buku, Membongkar GURITA CIKEAS, saya langsung membayangkan tulisan bekas wartawan majalah TEMPO ini berisi investigasi mendalam tentang kerajaan bisnis Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), presiden kita. Ternyata, hanya sekadar kutipan macam-macam koran, situs internet, blog, laman (website), brosur, dan sebagainya.

George sendiri tidak melakukan verifikasi apa-apa. Tak ada wawancara dengan SBY maupun orang-orang yang disebut-sebut sebagai bagian dari GURITA CIKEAS. Wartawan sangat senior -- George Junus Aditjondro lahir di Pekalongan, 27 Mei 1946 -- kota tidak melakukan wawancara dengan narasumber? Kok tidak menelepon sumber-sumber yang hampir semuanya figur publik?

Gaya George persis wartawan-wartawan malas yang suka berselancar di internet, mencari data di Google [atau mesin pencari lain], kemudian copy-paste, goreng sana-sini, menjadi tulisan. Memang George mencantumkan sumber-sumber yang dikutip. Tapi akhirnya buku GURITA CIKEAS hanya menjadi kumpulan kliping yang kurang bermutu.

Saya kecewa berat. Saya membayangkan buku GURITA CIKEAS ini paling tidak seperti investigasi kerajaan bisnis mantan Presiden Soeharto yang dilakukan majalah TIME dulu. TIME menggunakan data yang sangat komplet. Wawancara macam-macam sumber, termasuk pihak Soeharto. Pembaca dikasih gambaran tentang harta kekayaan Soeharto di berbagai yayasan.

Di GURITA CIKEAS kita tidak menemukan apa-apa, selain nama-nama pendukung SBY, tim sukses, yayasan-yayasan sosial, daftar penerima sumbangan, susunan pengurus yayasan, dan -- itu itu tadi -- kliping atau copy-paste media massa. George hanya menggoreng data-data sekunder sampai 80 halaman. Dus, halaman 81 sampai 182 berisi lampiran.

Aha, lampiran jauh lebih banyak daripada isi bukunya sendiri yang nota bene hasil kliping media massa! Tapi, akhirnya, saya pun bisa memaklumi bahwa begitulah kualitas cendekiawan Indonesia. Titel akademis banyak, tapi jarang atau hampir tidak pernah membuat karya yang berbobot dan layak dibaca dari masa ke masa.

13 January 2010

Isu ALLAH dan Orang Flores di Malaysia


FOTO: Gereja di Kuala Lumpur yang diserang. Sumber: yahoo.com


ALLAH tula kelem nong tanah ekan.

Kalimat dalam bahasa Lamaholot (Flores Timur) ini berarti "Tuhan menciptakan langit dan bumi". Petikan dari KREDO alias pengakuan iman yang biasa diucapkan umat Katolik di Flores Timur. Di Gereja Katolik di Indonesia, kalimat pertama sebagai berikut:

"Aku percaya akan ALLAH, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi..." .

Kalimat aslinya:

"Credo in unum Deum. Patrem omni potentem, factorem coeli et terrae...."

Rumusan kredo -- istilah Protestan: Pengakuan Iman Rasuli -- sudah dikenal jemaat Kristen di Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Ketika agama Katolik masuk Indonesia sekira abad ke-16, dan para misonaris menggunakan bahasa Melayu Pasar sebagai lingua franca, maka kata ALLAH pun digunakan di lingkungan jemaat Kristen mula-mula.

ALLAH tidak menggantikan TUHAN, tapi menambah kosa kata baru tentang Sang Pencipta. Di Flores, bahkan orang-orang di kampung menggabungkan dua kata ini menjadi TUHAN ALLAH. Ada juga istilah ELOHIM, YAHWE, YEHUWA, TUHAN.... Tapi kata ALLAH atau TUHAN ALLAH paling banyak frekuensinya.

Saya masih ingat kalimat pengantar pastor-pastor asal Belanda (Eropa umumnya) yang berkarya di Flores dalam memimpin perayaan ekaristi alias misa kudus:

"Kurban misa hari ini dipersembahkan kepada TUHAN ALLAH untuk kedamaian dan keselamatan bangsa Indonesia...."

Begitulah. Kata ALLAH sebagai alternatif TUHAN sudah sangat lazim dipakai di lingkungan kristiani. Semua denominasi gereja menggunakannya. Kitab suci, Alkitab, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Lembaga Biblika Indonesia, juga beberapa Alkitab terjemahan Indonesia lain pasti mengandung kata ALLAH dalam jumlah sangat besar. Dan tidak ada masalah selama ratusan tahun.

Mengapa saat ini kata ALLAH jadi masalah di Malaysia, negara tetangga yang bahasanya (hampir) sama dengan bahasa Indonesia? Orang Melayu di Malaysia, yang seluruhnya beragama Islam, plus Kerajaan Malaysia tiba-tiba melarang ALLAH digunakan di luar lingkungan Islam. Saya baca di Bernama, kantor berita Malaysia, para tokoh Melayu bilang istilah ALLAH itu khusus untuk orang Islam.

"Kalau dipakai di lingkungan Kristian bisa membingungkan orang Islam," begitu antara lain keberatan orang Melayu.

Wah! Begitu bodohkan orang Islam di Malaysia sehingga bisa dibingungkan dengan kata ALLAH? Konteksnya bagaimana? Kalau orang-orang tempo doeloe, ratusan tahun lalu, saja tidak bingung, mengapa Kerajaan Malaysia melecehkan kecerdasan warganya sendiri? Sedungu itukah akal sehat orang Malaysia? Hari gini, di zaman internet, informasi melimpah, masih ada pemerintah dan pemuka masyarakat menghina kecerdasan rakyatnya.

Yang pasti, gereja-gereja di Malaysia sudah dibakar dan dirusak... hanya karena kata ALLAH. Di koran saya baca ada tujuh gereja. Kalau tidak dicegah, bukan tak mungkin gereja-gereja lain di seluruh Malaysia mengalami nasib sama. Begitu juga sekolah-sekolah, seminari, panti asuhan, rumah sakit, dan macam-macam fasilitas milik umat Nasrani terancam.

Sejak kata ALLAH jadi kontroversi luar biasa di Malaysia tahun lalu, saya khawatir dengan nasib ribuan orang Flores [umumnya Nusatenggara Timur] di Malaysia. Sebagian besar tinggal di Malaysia Timur macam Sabah, Sandakan, Sarawak, Labuan, Kuching, Lahaddatu, Kinabalu.

Orang NTT di Malaysia Timur ini punya komunitas sendiri yang sangat kuat. Setiap hari Minggu mereka bikin kebaktian, kalau ada pastor ikut misa, berpaduan suara, membaca Alkitab, dan aktivitas kekatolikan lainnya. Sudah tentu orang-orang NTT yang beragama Katolik ini menyebut-nyebut ALLAH puluhan, bahkan ratusan kali.

Akankah mereka ditangkap, dicokok, diperiksa di kantor polisi karena ALLAH?

Akankah kitab suci alias ALKITAB yang dibawa dari Indonesia disita, bahkan mungkin dibakar, karena menggunakan kata ALLAH, TUHAN ALLAH, PUTRA ALLAH, KEMULIAAN KEPADA ALLAH, KERAJAAN ALLAH, JEMAAT ALLAH, ALLAH BERFIRMAN, dan seterusnya?

Akankah buku-buku nyanyian, buku sembahyang, yang dibawa dari Indonesia juga disita karena pakai kata ALLAH? Saya ingat betul buku-buku doa dan nyanyian yang dipakai orang Flores antara lain:

JUBILATE
YUBILATE (versi baru JUBILATE)
SYUKUR KEPADA BAPA
MADAH BAKTI
PUJI SYUKUR
EXULTATE
UMAT ALLAH BERIBADAT
BAPA KAMI
PUJIAN SENJA DAN PUJIAN MALAM
TUHAN SUMBER GEMBIRA
SYUKUR KEPADA ALLAH
TURUT SERTA
TATA PERAYAAN EKARISTI
TUHANLAH GEMBALAKU
DOA-DOA HARIAN
KATEKISMUS KATOLIK
30 IBADAT SABDA UNTUK DOA ROSARIO
UPACARA SABDA
UPACARA PEMAKAMAN
................ (masih banyak lagi)

Belum buku-buku nyanyian dan paduan suara terbitan Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta, yang populer di Indonesia itu. Apakah Kerajaan Malaysia akan mengirim polisi-polisi untuk mencari dan menyita sekian ratus judul buku itu?

Apakah Kerajaan Malaysia akan memata-matai jemaat Kristen asal Indonesia, khususnya Flores, di Malaysia Timur agar tidak menyebut ALLAH ketika bernyanyi atau berdoa?

Apakah Kerajaan Malaysia akan menyita dan memusnahkan semua kaset/CD/VCD/DVD milik orang Nasrani karena ada kata ALLAH?

Apakah Kerajaan Malaysia akan memblokir semua situs Kristen di internet, termasuk yang dari Indonesia, karena pakai kata ALLAH?

Apakah majalah-majalah rohani terbitan Indonesia seperti HIDUP, UTUSAN, DIAN, KUNANG-KUNANG dilarang masuk ke Malaysia? Apakah surat kabar FLORES POS, POS KUPANG, dan sebagainya juga tak boleh beredar di Malaysia, dan dibaca oleh orang-orang Flores, karena biasa menggunakan kata ALLAH?

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan konyol jika Kerajaan Malaysia tidak segera melihat isu agama ini secara bijak dan lapang. Saya khawatir, setelah melarang kata ALLAH, suatu ketika orang non-Islam di Malaysia dilarang menggunakan bahasa Melayu karena Melayu diklaim sama dengan Islam dan Islam = Melayu.

Alamak! Macam mana pula nih Pak Cik? Tak paham lah awak!!!

Ada BANGSAT di Senayan



Almarhum Gus Dur benar ketika menyebut anggota DPR di Senayan mirip anak-anak TK. Berisik, ramai, seru, tapi miskin substansi. Dan tingkah pola 'anak-anak TK Senayan' itu makin kentara saat Ruhut Sitompul (Demokrat) bertengkar dengan Gayus Lumbuun (PDIP). Benar-benar tak bermutu!

Malu deh melihat anggota DPR RI, wakil rakyat yang terhormat, melontarkan kata-kata kasar. Mirip pertengkaran antara ibu-ibu di pelosok kampung. Kata-kata kasar, sumpah serapah, penghinaan... dilontarkan habis. "Bangsat!" ujar Ruhut Sitompul.

Alih-alih menyesal, si Ruhut ini rupanya bangga ketika bicara di televisi. Senyumnya lebar. "Saya ini bekas pengacara dan pelawak," katanya.

"Ada 300-an SMS yang mendukung saya. Mungkin hanya dua SMS saja yang menentang saya. Paling yang dua itu bukan pendukung Partai Demokrat," kata si Ruhut dengan gayanya yang enteng-entengan.

Tak tahulah awak ini mau ngomong apa lagi. Panitia Khusus Angket Bank Century yang seharusnya fokus pada tugasnya, investigasi, mencari kebenaran material, justru dikacaukan oleh anggota parlemen yang tak punya etika. Bicara seenaknya. Kasar. Hilang etiket dan tata krama.

Di mana predikat terhormat itu, Bung Ruhut? Masih pantaskah Anda menyandang wakil rakyat yang terhormat? "Mulut Ruhut terlalu longgar. Perlu diberi gembok agar suaranya teratur," tulis seorang pembaca Media Indonesia edisi 9 Januari 2010.

"Ruhut itu memang tidak pernah diajarkan sopan santun oleh nenek moyangnya. Saya sangat malu melihat seorang anggota dewan seperti itu," tulis pembaca yang lain di koran yang sama.

Ruhut Sitompul yang budiman! Sekarang ini Anda anggota DPR RI, wakil rakyat. Bukan hanya wakil pendukung Anda di Partai demokrat. Jabatan yang tinggi menuntut kadar sopan-santun, etika, moral, yang tinggi pula. Anda tak bisa lagi berkelit sebagai "pelawak" yang bebas bicara apa saja tanpa kontrol.

Parlemen memang tempat politisi berbicara. Tapi bukan asal bicara. Apalagi membawa-bawa "bangsat" masuk ke ruang sidang yang seharusnya terhormat dan berwibawa itu.

Ah, bangsat!

11 January 2010

Kong Miao di TMII Jakarta


Taman Mini Indonesia Indah (TMII) akan segera dilengkapi dengan Kong Miao. Tempat ibadah Khonghucu ini diperkirakan rampung pertengahan tahun ini.

SELAMA Orde Baru (1966-1998) hanya ada lima agama yang diakui negara. Yakni, Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha. Karena itu, Kong Miao akan melengkapi lima rumah ibadah yang sudah berdiri di kompleks TMII di kawasan Jakarta Timur.

Setelah reformasi, Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (alm) mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat-istiadat Tionghoa. Maka, sejak 17 Januari 2000 eksistensi agama Khonghucu diakui sebagaimana lima agama resmi sebelumnya.

Sejalan dengan itu, pengelola TMII akhirnya menyediakan sebidang tanah untuk Kong Miao alias klenteng Khonghucu. “Pembangunan Khong Miao baru benar-benar intensif dikerjakan sejak tahun lalu. Mudah-mudahan tahun 2010 ini bisa rampung,” kata Budi S Tanuwibowo, ketua umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), pekan lalu.

Saat ini bangunan fisik klenteng baru itu sudah mulai terlihat. Sejumlah tukang asal Bandung dan Solo pun sibuk mengerjakannya. Namun, menurut Budi, proses pembangunannya masih memerlukan waktu lama. Diperkirakan, Khong Miao ini baru selesai pertengahan atau akhir tahun ini.

“Bangunan utamanya sih bisa cepat selesai. Tapi detil-detil dan berbagai ornamen akan memakan waktu lama. Sebab, akan ada ukiran-ukiran baik di dalam maupun di luar,” ujar rohaniwan senior ini.

Bila dilihat dari arah selatan, bangunan pertama berbentuk lingkaran dengan diameter sembilan meter. Ini sebagai simbol Thian, Tuhan Yang Mahakuasa. Adapun dua bangunan lain sebagai simbol Ti (bumi) dan Ren (manusia).

“Filosofi ini kita pegang teguh. Ada hubungan yang harmonis, tak bisa dipisahkan, antara Thian, bumi, dan manusia,” tegas Budi Tanuwibowo.

Menurut dia, kehadiran Kong Miao di TMII sangat bermakna bagi jemaat Khonghucu di tanah air. Pertama, melengkapi lima rumah ibadah yang sudah ada sebagai miniatur kemajemukan di tanah air. Kedua, agama Khonghucu makin eksis sebagai salah satu dari enam agama resmi di tanah air.

Yang tak kalah penting, “Kalau ada ritual-ritual kegamaan dan atraksi kesenian Tionghoa, bisa menarik wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri,” katanya.

Sejak peletakan batu pertama di TMII, Februari 2009, banyak umat Khonghucu berharap Kong Miao itu sudah bisa digunakan pada perayaan tahun baru Imlek 2561 yang jatuh ada 14 Februari mendatang. Ternyata, proses pengerjaannya tak bisa secepat yang dibayangkan.

“Kami sih tergantung pasokan material dari bos aja. Kalau semuanya oke, ya, bisa cepat selesai. Wong bangunannya tidak seberapa besar,” ujar seorang tukang kepada saya.

07 January 2010

Frans Seda Pahlawan Flores




Selamat jalan Bapak Frans Seda!
Beristirahatlah dalam damai di sisi-Nya!
Resquescat ini pace!


Bagi orang Flores, Frans Seda adalah legenda, bahkan sejak beliau masih hidup. Sejak kecil nama Frans Seda sering disebut-sebut oleh guru-guru SD di pelosok-pelosok Flores. Anak-anak kampung yang sederhana itu dimotivasi agar bisa menjadi Frans Seda.

"Kalau kalian rajin belajar, kelak besar akan menjadi seperti Bapak Frans Seda," begitu antara lain kata-kata bapak dan ibu guru di kampung.

Karena itu, meskipun sudah ada beberapa tokoh nasional dan menteri berasal dari Flores, sebut saja Sonny Keraf, Jacob Nuwa Wea, yang diingat tetaplah Frans Seda. Maklum, tokoh asal kampung Lekebai, Kabupaten Sikka, ini paling sering menjadi menteri sejak era Bung Karno, kemudian era Soeharto.

"Frans Seda itu tokoh tiga zaman. Almarhum punya kontribusi besar pada bangsa dan negara," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat melayat jenazah almarhum di Pondok Indah, Jakarta. Saya kira, Frans Seda bukan hanya tokoh tiga zaman, melainkan sepanjang zaman semasa hidupnya.

Bagi kami, orang Flores, Frans Seda bukan sekadar role model, tapi juga "tokoh ajaib". Bayangkan, pada tahun 1950-an, ketika mayoritas rakyat Flores masih buta huruf, Frans Seda sudah bersekolah tinggi. Jago bahasa Belanda, otak encer, bahkan dikirim ke Belanda untuk kuliah ilmu ekonomi pembangunan. Nyaris tak ada tokoh lain dari Flores yang punya nasib secemerlang seorang Frans Seda.

Kembali ke Indonesia, Frans Seda diajak Bung Karno untuk membantunya di kabinet. Secara tak langsung nama Flores dikenal masyarakat Indonesia berkat kiprah Frans Seda di pemerintahan. Apalagi, almarhum menempati posisi menteri keuangan pada awal Orde Baru. Masa ketika inflasi membubung tinggi, perekonomian kacau-balau, situasi politik tidak kondusif. Frans Seda terlibat aktif sebagai arsitek ekonomi masa itu.

Pada 1980-an, bahkan 1990-an, angka buta huruf [dan buta bahasa Indonesia] di Flores, khususnya Kabupaten Flores Timur, masih tinggi. Saya sendiri bahkan masih sulit berbahasa Indonesia meski sudah duduk di bangku SMP. Maka, jika ada surat-surat dari keluarga di Malaysia--orang Flores Timur paling banyak merantau di Malaysia Timur--guru-guru SD di kampung mendapat tugas khusus membaca, menerjemahkan, kemudian membalas surat itu.

Saya kadang-kadang tertawa sendiri mengingat pengalaman masa lalu di kampung itu. "Kok bisa ada orang Flores yang sudah begitu hebat macam Bapak Frans Seda? Bagaimana dia belajar? Siapa yang membiayai?" tanya saya dalam hati.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini pelan-pelan terjawab setelah saya membaca tulisan-tulisan Frans Seda maupun buku biografinya. Yang juga membanggakan, Frans Seda tak hanya dikenang sebagai tokoh besar asal Flores, tapi juga tokoh Katolik berpengaruh. Di kalangan aktivis mahasiswa Katolik pada era 1990-an, ada dua nama tokoh Katolik yang selalu disebut-sebut: Ignatius Joseph Kasimo dan... Frans Seda.

Kini, Frans Seda telah tiada. Tugas dan pengabdiannya bagi gereja dan tanah air [pro ecclesia et patria] paripurna sudah. Kapan muncul lagi Frans Seda-Frans Seda yang baru dari Flores dan NTT umumnya?

Sayang, ketika sekolah-sekolah sudah masuk ke kampung-kampung pelosok di Flores, ketika bisnis seluler sudah menjangkau kecamatan-kecamatan di pelosok Flores, belum muncul tokoh baru sekaliber Frans Seda.

Almarhum Frans Seda justru muncul ketika masyarakat Flores masih primitif.

04 January 2010

Syafi’i Prawirosedono Pelukis Wayang



Sejak tanggal 1 Suro (18/12/2009) Syafi’i Prawirosedono, 66 tahun, sibuk melayani konsultasi seputar budaya Jawa serta menjamas pusaka. Untuk sementara, aktivitas rutinnya sebagai pelukis wayang di rumahnya di Semolowaru Indah Surabaya I Blok H-15 Surabaya dikesampingkan dulu.

“Beginilah aktivitas saya setiap bulan Suro. Nguri-uri kabudayaan Jawi biar gak hilang ditelan arus globalisasi. Jangan lupa, kita sekarang sedang dilanda gelombang globalisasi yang sangat dahsyat,” ujar Syafi’i Prawirosedono kepada Radar Surabaya pekan lalu.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Sejak kapan Anda aktif membersihkan (menjamas) keris setiap bulan Suro?


Sudah lama sekali. Sebagai orang Jawa yang besar di kawasan Mataraman (Syafi’i lahir di Blitar, Red), tradisi penjamasan pusaka ini memang sangat akrab di masyarakat. Di Surabaya atau Sidoarjo yang kelihatannya kurang kelihatan karena budayanya budaya arek. Orang arek itu, meski sama-sama orang Jawa, agak berbeda dengan budaya Mataraman. Apalagi, dengan masyarakat di Solo atau Jogja.

Sebenarnya, yang dijamas itu bukan hanya keris, tapi semua benda pusaka. Benda-benda itu disimpan dengan baik di rumah, dirawat, dijamas... karena dianggap punya tuah. Menyimpan benda-benda pusaka itu berbeda dengan mengoleksi lukisan atau menyimpan benda-benda biasa. Sebab, ini menyangkut tradisi dan budaya Jawa.

Tapi mengapa ada kesan keris yang paling banyak dijamas?


Memang. Bagi orang Jawa, keris itu dianggap sebagai benda yang adiluhung, sehingga menjadi barang pusaka. Tapi tidak semua keris masuk benda pusaka. Sejak zaman Kerajaan Singosari, kita mengetahui bahwa keris itu merupakan karya seni yang luar biasa dari empu-empu saat itu. Siapa sih yang tidak pernah dengar nama Empu Gandring?

Nah, empu-empu zaman dulu tidak sembarang dalam membuat keris. Mereka memilih besi-besi kualitas terbaik. Sebelum membuat keris, mereka juga melakukan ritual-ritual tertentu. Kapan hari yang baik untuk membuat. Karena itu, dalam sebulan mungkin hanya dihasilkan satu dua keris saja. Beda dengan industri kerajinan yang tiap hari bisa menghasilkan puluhan atau ratusan keris. Hehehe.....

Itu yang membuat keris punya nilai yang sangat tinggi, kecuali keris hasil kerajinan tangan zaman sekarang. Zaman dulu, kalau kita mendengar cerita dari orang-orang tua, keris-keris ini punya kekuatan gaib, supranatural. Sulit dipahami dengan logika biasa, tapi kenyataannya memang begitu.

Keris itu ada berapa macam?

Secara umum ada tiga. Pertama, keris tayuh, yang biasa dipakai untuk melindungi diri. Keris jenis ini diyakini punya tuah dan punya dampak bagi kolektornya. Kedua, keris ageman atau aksesoris. Biasa dipakai dalam upacara-upacara tertentu. Untuk menghadiri pemakaman orang yang meninggal ada jenisnya sendiri. Untuk pernikahan ada sendiri. Ketiga, keris sebagai senjata atau untuk berperang.

Selain penjamasan pusaka, apa lagi tradisi yang biasa dilakukan setiap Suro?

Ruwatan. Sebuah ritual tradisional untuk menolak bala. Anak-anak diruwat, sekaligus didoakan, agar mendapat lindungan dari Allah SWT, tidak terkena malapetaka. Yang perawan tua diruwat supaya dapat jodoh. Perusahaan yang kurang maju juga bisa diruwat dan seterusnya. Tentu saja, orangtua atau peserta ruwatan harus berdoa kepada Allah agar mendapat perlindungan dari-Nya.

Tradisi lain adalah sedekah bumi. Ini biasa dilakukan masyarakat di pedesaan. Bulan Suro dianggap sebagai bulan terbaik untuk melakukan sedekah bumi. Jangan lupa, orang-orang desa itu semuanya petani. Masyarakat agraris. Bumilah yang menyediakan kehidupan untuk mereka. Dengan melakukan sedekah bumi, mereka berharap mendapat hasil panen yang melimpah. Dijauhkan dari hama dan penyakit.

Kabarnya, Anda pernah diundang ke Singapura untuk menjamas keris?

Ya. Itu pengalaman yang sulit dilupakan dalam hidup saya karena saya diminta untuk nguri-uri kabudayaan Jawi di luar negeri. Itu juga bukti bahwa tradisi dan kebudayaan Jawa ternyata diminati di mancanegara. Masak, kita yang orang Jawa tidak mau melestarikan kebudayaan kita sendiri?

Nah, Bapak Haji Raja Sadam itu orang Singapura yang hobinya adalah berburu keris ke berbagai tempat di Indonesia. Koleksi kerisnya lebih dari 2.000. Nilainya mungkin lebih dari Rp 1 miliar.

Suatu ketika Pak Raja Sadam ini bertemu saya di sebuah pameran keris di Malang. Kami saling tukar kartu nama. Beberapa saat kemudian, beliau menelepon minta saya datang ke rumahnya di Singapura. Ongkos transportasi, penginapan, makan dia yang tanggung.

Apa saja yang Anda lakukan di Singapura?

Saya diminta mendata semua keris yang dikoleksi Pak Raja Sadam. Sebab, beliau ini orang Melayu-Singapura yang tidak sepenuhnya paham jenis-jenis keris, tahun pembuatan, fungsi, dan sebagainya. Selama dua bulan saya harus mengidentifikasi 2.000 keris itu, mulai tahun pembuatan, pamor, dan sebagainya. Saya terkesan karena Pak Raja Sadam ini menyimpan keris-keris itu sebagai harta pusakanya.

Lantas, mengapa tradisi Jawa justru makin luntur di sebagian masyarakat Jawa sendiri?

Itu banyak sebabnya. Salah satunya karena perkembangan zaman yang sangat pesat. Begitu banyak budaya luar, khususnya Barat, masuk dan dipromosikan dengan gencar, sehingga budaya kita sendiri mulai terdesak ke pinggiran. Orang kemudian menganggap budaya Jawa seperti penjamasan pusaka atau ruwatan sebagai budaya kuno, tidak modern. Orang-orang kita ini kan sering kali ‘terlalu modern’ sehingga lupa akar kebudayaannya sendiri.

Faktor lain, pendidikan bahasa dan budaya Jawa di sekolah-sekolah kurang mendapat tempat. Dulu bahasa Jawa diajarkan di SD sampai SMA. Sekarang pelajaran bahasa Jawa tidak ada lagi di sekolah-sekolah. Kalaupun diajarkan, jamnya sangat sedikit dan tidak menjadi pelajaran yang menentukan. Sekarang ini kita sulit menemukan anak-anak muda yang bisa macapat, nembang, dan sebagainya.

Pemerintahnya sendiri bagaimana?

Jelas sangat berpengaruh. Kebijakan pendidikan di suatu daerah kan ditentukan pemerintah daerah setempat. Kalau pejabatnya tidak suka kebudayaan daerah, bahkan antibudaya Jawa, ya, jelas tidak akan ada ruwatan atau penjamasan pusaka di daerahnya. Latar belakang si bupati atau wali kota sangat menetukan apakah kebudayaan Jawa bisa hidup di daerah itu.

Dulu, setiap Suro ada gelar pusaka di pendapa-pendapa kabupaten karena masing-masing kabupaten itu menyimpan benda-benda pusaka yang sangat bernilai budaya dan sejarah. Tapi, karena kebetulan si pejabat atau DPRD-nya tidak mau nguri-uri kabudayaan, ya, akhirnya tradisi itu hilang. Bahkan, bisa jadi, benda-benda pusaka itu hilang atau tidak jelas keberadaannya.

Saya dengar banyak benda-benda bersejarah kita yang disimpan di Negeri Belanda. Maka, suatu ketika kita harus berangkat ke Belanda atau negara lain untuk mempelajari kebudayaan atau kesenian kita sendiri. Lha, wong kita sendiri kurang menghargai. (*)




Prihatin dengan Dalang-Dalang Instan


SEBAGAI orang Jawa yang lahir dan besar di Blitar, kawasan Mataraman, Syafi'i Prawirosedono (66) mengaku menekuni hampir semua kesenian tradisional Jawa yang berkembang di masyarakat saat itu. Seni pedalangan, katawitan, macapat, wayang orang, hingga aneka benda pusaka.


"Lama-kelamaan saya jadi tahu apa filosofi di balik semua kesenian Jawa itu. Semuanya saya pelajari secara otodidak. Langsung bertemu dengan seniman-seniman di lapangan," ujar Syafi'i Prawirosedono kepada Radar Surabaya pekan lalu.

Dari sekian banyak kesenian tradisional itu, Syafi'i merasa jatuh cinta pada seni wayang. Setiap kali ada pergelaran wayang kulit, wayang orang, dan wayang apa saja, Syafi'i kecil berusaha untuk nonton. Dan dia bukan penonton yang sifatnya sambil lalu. Syafi'i memperhatikan semua karakter wayang secara saksama. Gaya bercerita ki dalang, teknik olah suara, gaya bahasa, perubahan karakter vokal, hingga tembang-tembang yang disuarakan para sinden.

"Ternyata, semua punya filosofi yang luar biasa. Apalagi, dalang-dalang kita pada era 50-an, 60-an, sampai 70-an sangat menekankan pakem. Mereka benar-benar mempertahankan wayang sebagai seni adiluhung," urai ayah lima anak ini.

Karena jatuh cinta pada wayang, Syafi'i akhirnya memutuskan menekuni seni rupa. Jadilah dia seorang pelukis wayang. Selain pelukis wayang sangat sedikit, dia memang punya komitmen untuk ikut nguri-uri kebudayaan Jawa. Sampai sekarang, menurut dia, belum banyak orang yang memilih menekuni seni rupa tradisional seperti lukisan wayang.

"Padahal, kita punya kekayaan yang luar biasa di bidang ini. Dan itu tidak hanya seni tradisi Jawa. Kesenian dari daerah-daerah lain di Indonesia pun, kalau ditekuni sungguh-sungguh, wah, luar biasa," kata Syafi'i dengan nada tinggi.

Karena itu, Syafi'i Prawirosedono mengaku getun ketika mengetahui bahwa banyak karya seni adiluhung kita, seperti patung atau keris, yang bernilai sejarah justru disimpan di Negeri Belanda. Para kurator, pengelola museum, bahkan masyarakat umum, di bekas negara penjajah Indonesia itulah yang justru mampu merawat barang-barang berharga itu dengan baik.

"Jadi, kalau Anda mau mempelajari keris Empu Gandring, misalnya, ya harus datang ke Belanda dulu. Di sini kita hanya bisa membaca buku sejarah atau mendengar cerita dari orang-orang tua," tukasnya.

Khusus mengenai seni wayang, khususnya lagi wayang kulit, Syafi'i Prawirosedono mengaku prihatin melihat kinerja para dalang yang ada. Wayang yang seharusnya menjadi "tontonan dan tuntunan", menurut Syafi'i, mulai kehilangan filosofi dan jatidiri. Sebab, para dalang terlalu menekankan sisi "tuntunan" dan lebih asyik mengedepankan "tontonan". Kata-kata kasar, jorok, umpatan, omongan yang tidak terkontrol ditumpahkan begitu saja oleh sejumlah dalang.

"Ini membuat saya prihatin. Sebab, jangan lupa, yang namanya wayang itu tetap kesenian adiluhung. Ada tata kramanya. Ada unggah-ungguhnya. Dalang yang suka disoraki, dikeploki, dia bukan seniman. Yah, pop art-lah," tegas Syafi'i.

Budaya instan pun, sambung dia, sudah merambah ke dunia pedalangan. Kalau tempo dulu seorang dalang harus nyantrik, berguru langsung, diproses bertahun-tahun, kini bisa dicetak lewat bangku kuliah. Dalang-dalang muda bergelar sarjana pun bermunculan.

"Tapi, karena prosesnya instan, dia tidak punya roh. Sulit menjadi dalang yang punya karakter kuat seperti almarhum Ki Narto Sabdo," ujar Syafi'i mengacu pada maestro wayang Indonesia yang juga seniman idolanya. (*)



BIOGRAFI

Nama : Syafi'i Prawirosedono
Lahir : Blitar, 18 Agustus 1943
Anak : 5 orang
Alamat : Semolowaru Indah I Blok H-15 Surabaya
Pendidikan : SMAN Blitar

Organisasi :
Paguyuban Sutrisna Pusaka Budaya Jawa
Dewan Kesenian Surabaya
Idola : Ki Narto Sabdo
Karya : Lukisan wayang, tembang macapat
Pameran : Surabaya, Jakarta

Penghargaan:
Pekan Wayang Indonesia, 1993

Puisi Bingky untuk Gus Dur



Hingga kemarin (3/1/2009) Bingky Irawan, rohaniwan Khonghucu, masih terpukul atas kepergian Gus Dur ke alam baka. Almarhum KH Abdurrahman Wahid, sapaan akrab mantan presiden dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu, memang sangat dekat dengan Bingky Irawan.

“Hubungan saya dengan Gus Dur itu sudah seperti saudara kandung, bahkan lebih. Kami seperti sulit dipisahkan,” ujar Bingky Irawan yang saya hubungi via telepon. Saat itu pengusaha asal Sepanjang, Sidoarjo, ini berada di Jakarta.

Kedekatan Gus Dur dengan jemaat Khonghucu, khususnya Bingky Irawan, tak lepas dari diskriminasi yang diterapkan rezim Orde Baru terhadap agama Khonghucu. Meski diakui sebagai agama resmi keenam pada era Bung Karno, rezim Orba tiba-tiba menerbitkan berbagai peraturan untuk melarang segala bentuk budaya, bahasa, hingga kepercayaan Tionghoa di Indonesia.

Klenteng-klenteng Khonghucu mengalami kesulitan selama 30 tahun lebih. Bahkan, jemaat Khonghucu yang menikah sesuai dengan ajaran agamanya di klenteng pun tidak diakui. Maka, sejak 1980-an Bingky Irawan dan kawan-kawan berjuang untuk mengembalikan hak-hak sipilnya.

Sejak itulah mereka mendapat dukungan penuh dari Gus Dur yang waktu itu ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). “Anda kan tahu saya berkali-kali ditangkap aparat karena perjuangan ini. Syukurlah, ada saudara saya bernama Gus Dur yang selalu bantu,” tutur Bingky.

Setelah gerakan reformasi sukses menggulingkan rezim Orde Baru, Gus Dur yang tadinya oposisi kini berganti posisi menjadi presiden menggantikan BJ Habibie. Pada 17 Januari 2000 Presiden Abdurrahman Wahid menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang pencabutan Instruksi Presiden (Soeharto) Nomor 14 Tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat-istiadat Tionghoa.

Gus Dur juga membolehkan perayaan tahun baru Imlek. Hak-hak sipil warga Tionghoa pun perlahan-lahan dipulihkan. “Kalau bukan karena Gus Dur, nggak mungkin warga Tionghoa, khususnya umat Khonghucu, mendapatkan kembali hak-hak sipilnya seperti sekarang. Jadi, kami benar-benar berutang budi kepada beliau,” ujar Bingky Irawan.

Seminggu sebelum kematian Gus Dur, Bingky mengaku masih sempat berbicara dengan tokoh idolanya itu di kantor PBNU Jakarta. Namanya juga sahabat akrab, mereka ngobrol ngalor-ngidul tentang situasi politik nasional yang lagi hangat dengan kasus Bank Century. “Gus Dur guyon, tapi juga serius seperti biasanyalah,” kenang Bingky.

Ternyata, ini menjadi pertemuan terakhir Bingky dengan sang guru bangsa dan sahabat terbaiknya itu. Maka, ketika menerima kabar kematian Gus Dur pada 30 Desember 2009, Bingky langsung syok. Lidahnya kelu, tak mampu bicara apa-apa. “Saya hanya bisa menangis, menangis... dan berdoa saja. Semoga beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Setelah upacara pemakaman di Jombang, yang dihadiri puluhan ribu orang, Bingky Irawan bersama jemaat Khonghucu di seluruh Indonesia menggelar doa bersama untuk Gus Dur. Bukan itu saja. Bingky juga mengusulkan kepada Dewan Rohaniwan Khonghucu agar memasukkan tanggal 30 Desember dalam kalender umat Khonghucu di Indonesia sebagai hari wafatnya Gus Dur.

“Saya ingin agar setiap tanggal 30 Desember umat Khonghucu bersama-sama mendoakan Gus Dur. Sebab, beliau mendapat tempat yang sangat khusus di dalam hati kami,” kata Bingky dengan suara bergetar.

Kepada Radar Surabaya, Bingky Irawan secara spontan menyusun sebuah puisi untuk almarhum Gus Dur:


UNTUK GUS DUR SAUDARAKU

Oleh Bingky Irawan



Alam sunyi purnama redup
Purnama hilang langit jadi gelap
Hujan pun turun rintik-rintik membasahi pertiwi
Bersamaan dengan tetesan tangis Indonesia
Putra terbaik bangsa yang belum ada penggantinya
Telah pergi jauh meninggalkan jutaan kenangan
Pertanda apakah ini?

Derita bangsa ini masih belum habis
Mengapa telah Engkau jemput saudaraku,
Bapak bangsaku, guru bangsaku, juru penyelamat bangsa?
Kami masih membutuhkan beliau

Kami pun menyadari batas-batas rahasia alam
Yang tidak dapat kami ketahui
Kami yakin Allah mempunyai kehendak lain
Semoga segera terlahir pengganti beliau
Meneruskan juang untuk bangsaku

Gus Dur sahabatku, saudaraku
Selamat jalan sahabatku, saudaraku
Tubuh jasad boleh hancur ditelan bumi
Namun semangatmu tak akan habis dimakan zaman

02 January 2010

Sama Linda Keliling Jakarta



Sudah dua tahun lebih saya tidak sempat main-main ke Jakarta. Padahal, berkali-kali kerabat dekat di ibukota meminta saya datang ke ibukota. Dan harus tinggal beberapa hari di ibukota.

Akhirnya, kesempatan itu datang. Saat cuti Natal, saya pun datang juga ke rumah Linda Hurek di kawasan Karet Belakang CC/6 Setiabudi Jakarta Selatan. Linda putri bungsu pasangan Bapak Chanis Kia Hurek (almarhum) dan Ibu Mulyati. Ama Kia, sapaan almarhum Chanis Kia, tak lain paman saya. Sesama orang kampung asal Flores Timur.

Orang Jakarta pasti tahu rumahnya Linda ini sangat strategis. Terletak di segitiga emas Jakarta. Dikelilingi jalan-jalan protokol utama: Jalan Sudirman, Jalan HR Rasuna Said, Jalan MH Thamrin, Kuningan. Gedung-gedung menjulang tinggi mengepung kampung asli orang Betawi di Karet ini.

Perbedaan sangat ekstrem: di jalan-jalan utama terpapar gedung-gedung paling mewah di Indonesia, sementara di kampung hiduplah orang Betawi asli, pendatang, hingga anak-anak kos. Bisnis kos-kosan memang sangat subur di sini. Paling murah Rp 450.000. Padahal, kos-kosan yang Rp 450.000 itu di Surabaya dan Sidoarjo tak akan sampai Rp 200.000.

Ah, betapa jauhnya Jakarta dan Surabaya. Apalagi, mau dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Apalagi dengan luar Jawa. Setiap kali masuk kampung Karbela, singkatan Karet Belakang di Setiabudi, pikiran saya terusik oleh ketimpangan pembangunan itu. Surabaya yang makin maju dalam lima tahun terakhir, ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan Jakarta. Jakarta melesat sendiri.

Surabaya yang dulu kota nomor 6 [bukan nomor 2] sekarang menjadi kota nomor 10 di Indonesia. Urutannya begini: 1. Jakarta Selatan. 2. Jakarta Pusat. 3. Jakarta Barat. 4. Jakarta Utara. 5. Jakarta Timur. 6. Tangerang. 7. Depok. 8. Bekasi. 9. Tangerang.

Adapun kota nomor 10 bernama SURABAYA. Beberapa ahli ekonomi menyebutkan bahwa 80 persen uang yang ada di Indonesia beredar di 9 kota di Jakarta dan sekitarnya. Dus, wajarlah kalau Jakarta menjadi makin maju dan maju, sementara kota-kota lain, apalagi di NTT, makin kedodoran saja.

Linda yang kerja di kawasan Kuningan ini sejak dulu memang dekat dengan saya. Gadis manis ini kerap menghubungi saya baik via SMS maupun telepon. Banyak informasi tentang Jakarta yang saya ketahui dari Linda. Karena ibunya Betawi asli, lahir dan tinggal di Karet belakang, Linda dan keluarganya saya anggap paling tahu tentang Jakarta. Lain dengan keluarga atau kenalan lain yang tinggal di kawasan pinggiran macam Jatinegara, Sunter, Cilincing, Tangerang, Depok, atau Bogor.

"Kak Bernie, enaknya kite ke mane? Terserah Kak Bernie aje deh. Linda kebetulan libur nih," kata Linda dengan logat Betawi aslinya.

"Terserah Linda aje deh," kata saya.

Akhirnya, saya putuskan pertama-tama nyekar di makam almarhum Bapak Kia Hurek di Tempat Pemakaman Umum Karet. Almarhum meninggal pada 19 Maret 2009. Dan saya tak sempat menghadiri pemakaman atau berdoa di makamnya. Maka, saya bersama Linda pun nyekar di makam salah satu generasi pertama orang Flores yang merantau di Jakarta pada 1960-an itu.

Karena menikah dengan gadis Betawi, Bapak Kia pindah agama menjadi Islam. Keluarganya muslim taat. Sering puasa sunnah dan bikin pengajian di rumah. Toh, hubungan kami sangat baik meski berbeda agama. Linda berdoa secara Islam, sementara saya secara Katolik. Cukup lama.

"Linda baca doa sendiri aja. Di Karet ini banyak lho orang-orang yang kerjanya khusus membaca doa untuk orang meninggal," kata Linda. Okelah.

Dari TPU Karet, saya dan Linda kemudian berkelana keliling Jakarta. Saya meminta diantar ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur. Selain belum pernah ke TMII, saya punya kepentingan untuk "meliput" Taman Budaya Tionghoa dan klenteng baru Khonghucu. Saya juga ingin melihat langsung stan Provinsi NTT yang katanya kurang terurus itu.

Asyik juga berekreasi di TMII. Terlalu banyak hal menarik tentang Indonesia yang bisa dipelajari di sini. Kita bisa mampir di stan 33 provinsi serta menikmati taman yang hijau dan asri. Kami juga menjajal kereta gantung TMII dengan tarif Rp 25.000 per orang. Keretanya mirip di Pulau Sentosa, Singapura.

Pulang dari TMII, Linda mengajak saya menikmati berbagai sudut Jakarta yang mewah, padat, dan sibuk. Semua orang tergesa-gesa, berani terabas, seakan dikejar-kejar setan. Kata dokter, jumlah orang stres dan gila di Jakarta makin banyak. Rumah Sakit Jiwa di Grogol, seperti saya baca di Kompas, makin banyak pasiennya. Kemarinnya, bahkan ada seorang perempuan stres yang membakar mobil milik petinggi Mabes Polri.

"Mal dan plaza sekarang bagus-bagus lho," kata Linda.

Tapi saya kurang tertarik. Bagi saya, pusat belanja apa pun namanya--mal, plaza, shopping center--di mana-mana sama saja. Merangsang orang untuk belanja, belanja, dan belanja terus. Budaya konsumsi digalakkan di mal-mal. Orang dipaksa jadi konsumen begitu barang-barang yang belum tentu kita butuhkan.

Hari berikutnya saya sengaja menjajal bus Transjakarta yang melaju di atas Busway. Cukup dengan Rp 3.000 kita bisa menikmati suasana jalan-jalan utama di Jakarta tanpa kemacetan. Naik di Blok M, kita dibawa hingga ke Kota. Ganti bus, balik lagi dan turun di Halte Setiabudi yang di depan jalan masuk ke rumahnya Linda di Karbela Setiabudi.

Apa pun kritik orang, salut buat Bang Jos dan Bang Foke yang berani bikin terobosan busway ini. Jakarta tidak bisa dibiarkan macet sampai macet-cet-cet-cet. Sistem transportasi massal harus mulai dikembangkan. Dan nafsu memiliki mobil-mobil pribadi harus diredam.

Lha, kalau tiap hari tambah mobil pribadi, sepeda motor, bagaimana Jakarta 10, 20, 30 tahun lagi? Maka, bus Transjakarta yang terawat baik itu pun bisa menjadi solusi awal. Bagi warga Surabaya macam saya, naik Transjakarta selain sejuk dan nyaman, kita juga berkesempatan bertemu dengan wanita-wanita cantik nan modis. Orang-orang Tionghoa yang kaya pun tak risi lagi naik angkutan umum.

Di Surabaya, mana ada orang kaya mau naik bus kota yang bobrok, panas, dan tidak tepat waktu itu?

01 January 2010

Selamat Tahun Baru




Malam pergantian tahun di Surabaya ditandai hujan deras. Maka, saya yang sempat nongkrong di Jalan Raya Bandara Juanda pun cepat-cepat ngacir. Balik kucing. Nyetel televisi, ikuti program mengenang almarhum Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sangat menarik memang bekas presiden ini.

Gus Dur itu serbabisa. Ulama, intelektual, budayawan, pengamat sepak bola, pengurus dewan kesenian, penikmat musik klasik, khususnya Beethoven, dan macam-macam lagi. Kita, bangsa Indonesia, sangat kehilangan Gus Dur. Kaum minoritas seperti Tionghoa, Kristen, Ahmadiyah, penganut aliran kepercayan [dan agama-agama yang tidak diakui negara] selalu mengadu pada Gus Dur.

Romo Franz Magnis-Suseno SJ, profesor filsafat dan pastor Katolik dari ordo Yesuit yang dikutip kantor berita AP mengatakan:

"Gus Dur was a very open person. ... All minorities, underdogs or those suffering always felt secure with him. That was very extraordinary. He was a humanist. ... For people like me, he emitted a friendly Islam that made us feel safe."

Usai program Gus Dur di Metro TV, saya membaca beberapa koran edisi 31 Desember 2009 yang menulis panjang lebar sosok Gus Dur. Setelah itu saya mematikan lampu dan... tidur. Bangun tidur sudah pukul 06.00 yang berarti sudah 1 Januari 2009. Saya melewatkan begitu saja malam penuh terompet, hiburan musik, pesta kembang api, dan sebagainya.

Sami mawon. Yah, ternyata tahun lama sama saja dengan tahun baru. Kalendernya saja yang baru. Matahari terbit seperti biasa, orang sibuk bersing agar bisa makan minum, cari uang, dan sebagainya. "Semalam saya juga gak ke mana-mana. Di rumah saja. Ngapain keluar rumah untuk bermacet-macet di jalanan," kata seorang seniman tua kenalan saya yang ternyata satu paham dengan saya.

Yah, kalau mau jujur, tahun baru itu sebetulnya bukan milik rakyat biasa macam saya. Ia milik artis. Pengusaha hiburan. Event organizer. Pedagang trompet. Pengusaha hotel. Pemilik restoran. Pembuat kembang api. Pengusaha sound system.

"Malam tahun baru Kris Dayanti dibayar Rp 1 miliar," tulis sebuah koran di Surabaya.

Wuih, wuih, wuih....

Gus Dur dan Tionghoa



Oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Sumber: Editor, 21 April 1990

Jadi orang Tionghoa di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah. Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan 'nama asli'nya kalau mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti nama Nagaria.


Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan. Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.

Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Tionghoa terasa tidak sreg di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk membedakan orang Tionghoa dari pribumi. Memang tidak ada peraturan tertulis, melainkan dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang Tionghoa tersendiri.

Mengapa? Karena mereka kuat, punya kemampuan, sehingga dikhawatirkan akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya. Apalagi mereka terkenal dalam hal kewiraswastaan. Kombinasi kemampuan finansial yang kuat, dan kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan akan membuat mereka jauh melebihi orang lain dalam waktu singkat.

Secara terasa, 'kesepakatan' meluas itu akhirnya mengambil bentuk pembatasan bagi ruang gerak orang Tionghoa. Mau jadi tentara? Boleh masuk AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan, tidak akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel. Mau jadi dokter? Silakan, namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga menjadi kepala rumah sakit umum.

Mau masuk dunia politik? Bagus, tetapi jangan menduduki jabatan kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis sajalah, jangan jadi eselon satu. Apalagi jadi menteri.

Sialnya lagi, 'jalan buntu' itu ternyata tidak membawakan alternatif yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan itu sesuai pula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa lampau, karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang. Usaha berhasil, uang masuk berlimpah-limpah, kekayaan makin bertambah. Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan pula: penyebab kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata tidak membawa keberuntungan.

Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan si kecil, padahal orang Tionghoa hanyalah satu saja dari sekian banyak faktor kemiskinan.

Dengan kata lain, orang Tionghoa dipersalahkan bagi kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita.

Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan bertahan. Potensi untuk survive ini dimiliki orang Tionghoa, di mana pun mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka, dengan memanfaatkan satu-satunya 'jalur kolektif' yang masih terbuka: bidang ekonomi.

Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Tionghoa yang menjadi intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.

Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah 'sasaran kolektif' mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar hasilnya. Apa pula dibantu oleh kemudahan di segenap faktor produksi dan sektor usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil, tidak perlu dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan kepada rujukan akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang Tionghoa melakukan hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat dianggap sebagai watak rasial atau sifat etnis dari orang Tionghoa. Orang lain juga berbuat sama.

Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Tionghoa itu bisa dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka dapat diberikan perlakuan yuang benar-benar sama di segala bidang kehidupan. Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan memperkokoh 'posisi kolektif' mereka dalam kehidupan bangsa, karena hal-hal seperti itu dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu yang berupa mitos belaka.


Keperkasaan orang putih ternyata dapat disaingi oleh keperkasaan orang hitam di Amerika Serikat. Orang Melayu di Singapura juga menyimpan kemampuan sama maju dengan orang Tionghoa, seperti semakin banyak terbukti saat ini. Begitu pula bangsa-bangsa lain, baik yang menjadi minoritas maupun mayoritas.

Tesis pokoknya di sini adalah: dapatkah kelebihan kekayaan orang Tionghoa dimanfaatkan bagi usaha lebih memeratakan lagi tingkat pendapatan segala lapisan masyarakat bangsa kita di masa depan? Jawabnya, menurut penulis, adalah positif.

Orang Tionghoa, sebagaimana orang-orang lain juga, dapat di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan masa depan bangsa dan negara. Tentu dengan tetap menghormati hal-hal mendasar yang mereka yakini, seperti kesucian hak-milik dari campur-tangan orang lain.

Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Tionghoa, karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk merampungkan upaya akumulasi modal yang bukan main besarnya. Salah satu instink untuk tetap bertahan hidup bagi orang Tionghoa adalah realisme sangat besar yang mereka miliki.

Akal mereka akan mendiktekan keputusan pemindahan kekayaan secara masif kepada mereka yang lebih lemah, dalam upaya mendukung pihak lemah itu agar juga menjadi kuat. Tetapi itu semua harus dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik mereka, bukan dengan cara paksaan atau keroyokan.

Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Tionghoa kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau sekarang ada tiga orang Arab menjadi menteri, tanpa ada pertanyaan atau kaitan apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial mereka, hal yang sama juga harus diberlakukan bagi orang Tionghoa kepada semua bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun.

Kalau prestasi para dokter orang Tionghoa sama baiknya dengan yang lain-lain, mereka pun berhak menjadi kepala rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal, dan demikian seterusnya.

Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari orang Tionghoa. Orang Jawa, kata cerita itu, akan senantiasa menanyakan kesehatan kita kalau bertemu: "Sampean waras?" Bagi orang Jawa yang mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah perhatian utama.

Ini berbeda dengan orang Tionghoa. Kalau berjumpa dengan orang lain, pertanyaan yang diajukan: "Sampean apa sudah cia?" alias apakah sudah makan atau belum. Mengapa? Karena mereka dahulu datang kemari akibat bahaya kelaparan di daratan Tiongkok, negeri asal mereka.

"Keanehan" seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh mengganggu keserasiah hidup sebuah bangsa. Apalagi bagi bangsa yang pada dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa kita. Kita sudah harus dapat melihat karakteristik khusus orang Tionghoa seperti juga 'keanehan' suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus mengubah cara pandang kita kepada orang Tionghoa. Mereka harus dipandang sebagai unit etnis. Bukan unit rasial.

Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores, Maluku, dan Irian sebagai satuan etnis - padahal mereka bukan dari stok Melayu (karena stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus melakukan hal yang sama kepada stok Tionghoa. Juga stok Arab. Mereka bukan orang luar, melainkan kita-kita juga.

Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada ajakan "menyatukan dengan orang Tionghoa". Akan banyak alasan dikemukakan dan argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri kita telah ada keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Tionghoa sebagai "orang sendiri". Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa merasakan kehadiran mereka.

Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu kita beri sofistikasi sangat canggih. Tetapi, ia tetap saja merupakan keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional. Justru itulah yang harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin.

Mengapakah hal itu menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair dari kita sebagai bangsa kepada orang Tionghoa sajalah yang dapat mendorong timbulnya rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib antara mereka dan pengusaha kecil kita. Ini kalau kita benar-benar jujur, lain halnya kalau tidak....