21 December 2010

Mudika KR Juara Jingle Bells

Berakhir sudah Festival Jingle Bells versi Jawa Pos yang digelar sejak 1 Desember di empat mal terkemuka di Kota Surabaya. Paduan Suara Mudika Paroki Kristus Raja (KR) alias Youth Catholic Choir terpilih sebagai juara pertama kategori paduan suara.

Adapun pemenang kedua dan ketiga berturut-turut Fratz Choir dari SMAK Frateran dan Angelii Vox Choir dari Paroki Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya. Dengan demikian, tiga pemenang lomba paduan suara menyambut Natal 2010 ini diborong oleh paduan suara asal Gereja Katolik.

“Ini sekaligus menjadi kado istimewa bagi Paroki Kristus Raja yang baru saja merayakan HUT ke-80. Sebab, Festival Bells ini merupakan festival dengan tingkat persaingan yang ketat dengan peserta dari berbagai denominasi gereja,” ujar Frans Santoso.

Jemaat Paroki Kristus Raja ini ikut mendukung paduan suara mudika parokinya bersama ratusan umat lain di babak grandfinal akhir pekan lalu. Tak heran, Youth Catholic Choir juga terpilih sebagai paduan suara favorit versi penonton.

Di babak final, lima finalis paduan suara berusaha menyajikan penampilan terbaik. Selain kostum dan teknik vokal, para penyanyi juga menampilkan gerakan-gerakan yang kompak dan menghibur. Angelii Vox Choir, misalnya, membawakan lagu Mangga-Mangga Sami Nderek Gusti.

Komposisi bercorak etnis Jawa ini dibawakan dengan rancak dan menghibur. Mereka juga menampilkan suasana Natal menurut adat Jawa. Ada Maria, Yosef, dan bayi Yesus yang berbusana Jawa. Namun, rupanya nilai yang diperoleh Angelii Vox Choir ini masih kalah dari Mudika Kristus Raja.

“Rata-rata semua peserta sudah tampil bagus. Persaingan di semua kategori memang seimbang,” kata Theis Watopa, tokoh paduan suara senior Jawa Timur, yang menjadi salah satu anggota dewan juri.

Kelima finalis memang kelompok paduan suara yang sudah punya jam terbang tinggi dalam pelayanan paduan suara gerejawi di lingkungannya masing-masing.

Sementara itu, Jenny Stephanie Daely dari GII Hok Im Tong menjadi juara pertama kategori vokal tunggal. Irene Novella (GKI Pondok Candra) dan Bagas Wahyunugroho juara kedua dan ketiga. Kategori vokal tunggal B dimenangi Liong Noveane (GKT Malang), disusul Ecce Palentina (Bethany Nginden).

Adapun juara pertama musik gereja (band) DC Band dari GPDI Dukuh Pakis disusul Keroncong Gembili (GKJW Rungkut) dan Believe in God (Paroki Yakobus Citraland). Para peserta berharap Festival Jingle Bells dijadikan agenda tahunan untuk memeriahkan suasana Natal di Kota Surabaya. (*)

20 December 2010

Mandarin, Tionghoa, Putonghua




MANA yang benar: Bahasa Mandarin, Bahasa Tionghoa, atau Bahasa China, Putonghua? Bisa terjadi kebingungan massal di Indonesia.

Oleh LAMBERTUS HUREK


DI sejumlah toko buku di Kota Surabaya, kita saat ini bisa dengan mudah menemukan buku-buku pelajaran bahasa, kamus, percakapan, bahasa Mandarin dan bahasa Tionghoa. Juga ada Kamus Besar Tionghoa-Indonesia karya Mudiro, pakar bahasa asal Indonesia, yang tinggal di Tiongkok sejak 1964.

Huang Licheng, yang lebih dikenal dengan Wiliting, menyusun Kamus Indonesia-Inggris-Tionghoa. Kamus susunan Mudiro dan Wiliting ini termasuk yang paling banyak dipakai kalangan mahasiswa dan pelajar baik di Indonesia maupun Tiongkok. Namun, masih di toko-toko buku, kita pun akan banyak menemukan buku-buku tentang bahasa Mandarin.

Mana yang benar?

“Kedua-duanya benar. Bahasa Mandarin itu, ya, sama saja dengan Bahasa Tionghoa. Jadi, tidak usah bingung,” kata Muryani Semita, penulis sejumlah buku pelajaran bahasa Mandarin, belum lama ini.

Istilah Mandarin lebih banyak dipakai orang-orang Barat, yang berbahasa Inggris, untuk menyebut bahasa nasional di Tiongkok alias Zhongguo alias China. Mula-mula kata Mandarin merujuk pada bahasa para pejabat di Beijing, ibu kota Tiongkok sejak era Dinasti Yuan. Dan kebetulan logat Beijing itulah yang kemudian ditetapkan sebagai bahasa nasional negara Tiongkok.

Anehnya, warga negara Tiongkok sendiri tidak pernah menggunakan istilah Mandarin untuk menyebut nama bahasa nasionalnya. Mereka menyebut bahasa nasionalnya dengan Putonghua. Artinya, kira-kira bahasa umum atau bahasa standar. Putonghua inilah yang dimaksud dengan bahasa Mandarin oleh orang Barat.

Orang Indonesia ikut-ikutan menyerap istilah Mandarin dalam bahasa Inggris. Apalagi, orang Indonesia (non-Tionghoa) sebagian besar memang tidak menguasai Putonghua. Apalagi, selama 32 tahun rezim Orde Baru (1966-1998) melarang Putonghoa alias bahasa Mandarin baik lisan maupun tertulis. Tak hanya Putonghua, bahasa Tionghoa logat Hokkian (Fujian), Hakka, Kanton, dan seterusnya pun dilarang.

Selain di Tiongkok, Putonghoa alias Mandarin ini menjadi bahasa nasional Taiwan. Orang Taiwan juga tidak menyebut Mandarin, tapi guoyu. Singapura juga menjadikan Mandarin sebagai bahasa nasionalnya dengan istilah Huayu. Semuanya merujuk pada bahasa yang sama.

Bahasa Mandarin = bahasa Tionghoa = bahasa China = bahasa Cina, Putonghua = Guoyu = Huayu = Zhongwen.


Orang Indonesia cenderung asing dengan bahasa Mandarin alias Putonghua. Kita lebih akrab bahasa Hokkian mengingat sebagian besar warga Tionghoa di Indonesia berasal dari provinsi di Tiongkok selatan itu.


MAKA, kita kerap mendengar kata-kata angpau, siomai, gopek, nopek, bakpau, kamsia, hoping, cicai, sin cia, cap go meh, topekong, bacang....

Bahasa Mandarin hanya muncul sekelebat melalui lagu-lagu Mandarin atau sejumlah film kungfu yang beredar di tanah air.

Kini, setelah bahasa Tionghoa mulai diajarkan di sekolah-sekolah formal, bahkan ada Program Studi Bahasa Tionghoa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), mau tidak mau, kita di Indonesia harus berkiblat pada Putonghua.

Bunyi Putonghua ini mirip Tionghoa. Karena itu, para akademisi terkemuka macam Mudiro dan Wiliting lebih memilih istilah Bahasa Tionghoa ketimbang Mandarin. Ini tidak berarti istilah Mandarin, yang sangat luas digunakan masyarakat internasional melalui bahasa Inggris, tidak boleh dipakai. Kosa kata bahasa Indonesia justru makin kaya, bukan?

Catatan lain yang penting. Dengan menjadikan Putonghua atau bahasa Tionghoa dialek Beijing sebagai bahasa pendidikan (akademis), maka sistem bunyi (fonologi) yang dipakai pun harus mengacu pada Hanyu Pinyin. Sistem Pinyin, singkatan Hanyu Pinyin, merupakan romanisasi bahasa Tionghoa ala Beijing yang dianggap baku di Tiongkok dan dunia internasional.

Celakanya, dengan Pinyin, orang Indonesia, yang belum belajar Putonghua, dijamin pasti salah baca atau salah ucap. Kata xiexie (terima kasih) harus dibaca sie-sie. Zhendema harus dibaca centema. Televisi yang bahasa Tionghoanya dianshi harus dibaca tiensye. Dan seterusnya, dan sebagainya!

Sistem Pinyin ini bakal menimbulkan kebingungan massal bagi orang Indonesia, yang bukan Tionghoa, yang belum pernah belajar bahasa Mandarin. Sebab, bagaimanapun juga bahasa Indonesia punya sistem bunyi atau fonologi sendiri yang sangat berbeda dari bahasa Mandarin atau bahasa Inggris.

Karena itu, jangan heran kalau sampai hari ini sekitar 97 persen orang Indonesia masih menyebut ibu kota Tiongkok, Beijing, menurut lafal Indonesia, Beijing, dan bukan Peiching, sesuai bunyi Putonghua yang benar.

Robby Tirtobisono, guru bahasa Mandarin di Surabaya, membuat sistem bunyi Mandarin sesuai dengan lidah Indonesia, tepatnya Jawa Timur. Dia mengabaikan sistem resmi alias Pinyin. Maka, wartawan disebut cice, padahal yang benar zhishe. Gadis yang menurut Pinyin shaonu, oleh Robby dijawakan menjadi sau ni.

Moga-moga para pakar bahasa Tionghoa di Indonesia bisa segera menemukan sistem fonologi terbaik. Sistem yang tidak terlalu jauh melenceng dari Hanyu Pinyin, tapi juga tidak mengadopsi mentah-mentah sistem bunyi ala bahasa Jawa. (*)

17 December 2010

Mitos Rumah Tusuk Sate



Mitos fengshui paling terkenal adalah rumah tusuk sate. Bangunan yang berlokasi persis di tengah-tengah jalan bersimpang tiga.

BEGITU banyak orang yang enggan tinggal di dalam rumah yang menghadap jalan yang seolah menusuk (sate). Berbagai musibah yang menimpa keluarga sering dikait-kaitan dengan posisi rumah. Tusuk sate pun jadi kambing hitam.

Dalam fengshui, menurut Xiang Yi [foto], pakar fengshui terkemuka di Indonesia, tusuk sate adalah jalan dengan arus yang mengarah dan berhenti di depan bangunan. Aliran itu bisa berupa kendaraan, manusia yang lewat, atau air yang mengalir di sungai. Dus, kekuatan tusuk sate bukan hanya berasal dari jalan raya, tapi juga sungai.

Bentuk tusuk sate bermacam-macam: paling sederhana seperti hutuf I, T, atau V, sampai yang rumit seperti W atau X. Makin ruwet bentuknya, begitu mitos yang beredar di masyarakat, makin banyak masalah yang timbul. Apalagi, arus yang mengalir sangat deras.

Dari segi fengshui, menurut Xiang Yi, rumah tusuk sate ibarat sebuah palung berisi udara. Akibatnya, tiupan angin yang keras atau arus kendaraan otomatis menerjang bangunan di ujung jalan. Maka, energi di dalam rumah pun kurang bagus. Dan jelas hal ini berdampak pada penghuninya.

Bukan hanya itu. Pada malam hari, lampu sorot dari kendaraan bermotor yang seliwar-seliwer tentu saja mengganggu penghuni yang ingin beristirahat. Kenyamanan akan terganggu. Belum lagi gangguan asap, karbonmonoksida dari asap kendaraan, debu beterbangan. Tubuh yang kekurangan oksigen tentu tidak sehat.

“Dalam fengshui disebut fengsha,” kata Xiang Yi.

Faktor lain yang tak kalah menakutkan adalah sikap sopir yang ugal-ugalan atau mengantuk. Bangunan atau rumah tusuk sate sangat rawan menjadi korban tabrakan. Gangguan ini disebut xingsha. “Semua efek yang ditimbulkan oleh sebuah jalan yang menusuk disebut qiangsha,” kata Xiang Yi.

Meski begitu, efek jalan yang menusuk bisa diatasi dengan relatif mudah. Kalau gangguan itu terkait dengan bentuk, menurut Xiang Yi, tutup saja agar bentuk asli bangunan tidak kelihatan. Caranya dengan membangun tembok tinggi di ujung jalan yang menusuk. Rumah menjadi tersembunyi dan terhalang dari berbagai gangguan.

“Tembok itu disebut zhaobi yang fungsinya seperti pagar. Bedanya, kalau pagar punya lubang di sana-sini, tembok zhaobi ini sangat solid, membuat pemandangan di depan rumah tertutup rapat,” tandas Xiang Yi.

16 December 2010

SSO Konser Natal 2010




Menyambut Natal 2010, Surabaya Symphony Orchestra (SSO) menggelar Christmas Concert 2010 di ballroom Hotel Shangri-La, Jalan Mayjen Sungkono 120 Surabaya, Selasa (14/12/2010) malam. Ini merupakan konser ke-66 orkes simfoni yang didirikan Solomon Tong, Suwadji Widjaja, dan Rudi Setiawan pada 1996 itu.

Seperti beberapa konser sebelumnya, besok malam Solomon Tong kembali melibatkan musisi Tiongkok. Di antaranya, Yang Hongzi (pemain erhu) dan Yang Yijuan (pemain guzheng) dari Chongqing, Tiongkok.

"Yang Hongzi ini termasuk pemain erhu senior di negaranya. Dia juga dikenal sebagai guru musik yang sudah berhasil mencetak banyak musisi muda," ujar Solomon Tong, dirigen SSO.

Adapun Yang Yijuan, yang juga guru guzheng di Little Sun School Surabaya, sudah tak asing lagi bagi penggemar SSO. Nona Tiongkok ini pernah diajak Solomon Tong untuk mengisi konser Natal bersama SSO tahun lalu.

Selain memamerkan kebolehannya bermain guzheng, sejenis sitar, Yijuan pernah melantunkan lagu tradisional negaranya.

Menurut Tong, sejak didirikan 14 tahun silam, SSO memang punya banyak penggemar yang suka lagu-lagu dan musik khas Tiongkok. Karena itu, Tong selalu memasukkan komposisi khas Tiongkok di konser-konser SSO.

Selain itu, seperti biasa, SSO menampilkan petikan opera, concerto, serta paduan suara. Nah, kali ini Tong mengundang Geoffrey Saba, pianis senior yang tinggal di London, Inggris. Geoffrey membawakan Piano Concerto No 1 in E Minor Op 11 karya F. Chopin. Tong berharap para penggemar musik klasik di Surabaya bisa mengapresiasi concerto piano Geoffrey Saba.

Nuansa kegembiraan khas Natal ditampilkan Surabaya Oratorio Society (SOS), paduan suara gabungan gereja-gereja di Surabaya, dalam lagu O Kota Kecil Bethlehem, Malak Surga Benyanyilah, O Datang Imanuel, While Shepherd Watch Their Flocks, Hark! The Herald Angels Sing. Juga ada kantata Natal karya John W Peterson berjudul The Wonder of Christmas.

Tak ketinggalan, Tong menampilkan beberapa solis andalannya seperti Pauline Poegoeh (sopano), Dewi Endrawati (mesosoprano), Robert Soewanto (tenor), Jusuf Suradi (tenor), dan Samuel Tong (bas).

Solomon Tong optimistis konser akhir tahun 2010 ini diminati penggemar musik klasik, khususnya umat kristiani di Surabaya dan sekitarnya. (*)

12 December 2010

Kaisar Victorio - Wono Kairun



Oleh LAMBERTUS HUREK
Radar Surabaya 12 Desember 2010

Selama hampir 40 tahun, Achmad Affandi (64) bergelut dengan radio. Arek Suroboyo ini sukses melahirkan tokoh-tokoh fiktif yang populer di Radio Suzana Surabaya. Sebut saja Bunali, Kaisar, Wono Kairun, Brodin, Selleh, Wan Abud, Tee Ing Han, Joko Bodo, hingga Bun Ke Ke. Figur-figur fiktif itu sempat menghilang selama lima tahun gara-gara Kaisar Victorio -- sapaan akrab Achmad Affandi -- terpilih sebagai anggota DPR RI (2004-2009).


LENGSER sebagai anggota DPR RI, Achmad Affandi kembali ke habitat aslinya di Radio Suzana, Jalan Wali Kota Mustajab 62 Surabaya. Dan figur-figur lawas itu pun kembali menghiasi udara Surabaya.

Di sela-sela memandu acara Trio Burulu, kemarin (11/12/2010), Achmad Affandi melayani Radar Surabaya untuk wawancara khusus. Berikut petikannya:

Bung Kaisar, Anda berkarir sebagai penyiar radio selama puluhan tahun, kemudian jadi anggota DPR RI. Mengapa balik lagi ke radio?


Ini permintaan dari masyarakat. Mereka rame-rame mengirim SMS dan meminta saya kembali. Saya juga ditelepon oleh bosnya Radio Suzana, tolong bantuin! Yah, saya bantu aja. Jadi, saya ini bukan datang untuk kerja lagi, tapi hanya membantu radio yang telah membesarkan saya. Radio Suzana sudah menjadi bagian dari hidup saya.

Bagi saya, pertama, kerja seperti ini menjadi hiburan bagi diri saya sendiri. Kedua, saya bisa membagikan ilmu untuk orang lain. Ini amal. Menghibur orang itu ada pahalanya lho! Menghibur satu orang saja ada pahalanya. Lha, kalau saya menghibur ratusan ribu orang, berapa pahala itu? Allah akan memberikan barokah-Nya.

Selama menjadi anggota dewan, otomatis program unggulan Anda ikut tergerus. Apakah Anda bisa mengembalikan penggemar Anda?

Alhamdulillah, sudah banyak penggemar yang kembali. Greget acara-acara kami naik lagi. Tapi kita kan perlu waktu untuk mengembalikan posisi seperti dulu. Pendengar itu, bagi saya, adalah konstituen yang harus dirawat. Pendengar itu aset. Ya, pendengar lama dan keluarganya. Jadi, selalu ada regenerasi pendengar.

Bukankah tren radio terus berubah, begitu juga selera massa? Apakah Anda bisa menjaga popularitas program Anda?

Gak masalah. No problem. Yang penting, bagaimana sebuah program itu menarik dan menghibur. Yang pertama itu menghibur dulu. Kalau orang sudah terhibur, pasti akan menarik.

Bagaimana Anda melihat perkembangan radio sekarang?


Radio-radio sekarang sudah kehilangan ciri khas. Banyak yang plagiat, menjiplak program radio lain. Ketika trennya news, news semua. Ketika koplo ngetren, koplo semua. Mereka tidak punya pendirian. Tidak punya prinsip, tidak punya ciri khas. Sejak saya masuk ke Radio Suzana dulu, saya ingin menciptakan program-program agar Suzana ini beda dengan yang lain. Dan, insyaallah, program-program itu tidak bisa ditiru pihak lain.

Selama 30 tahun lebih, Radio Suzana ini terkenal karena punya ciri. Ada Trio Burulu, Kaisar, Wono Kairun, bahasa kocak, dan sebagainya. Itu sudah trade mark. Brand image-nya sudah di situ. Kalau kita ubah, maka masyarakat akan lari. Apa bedanya dengan radio lain?


Pendengar mencari sesuatu yang beda, yang memasyarakat. Nah, ini kan hiburan untuk rakyat kecil. Mereka butuh hiburan ringan. Di mana sih radio di Surabaya yang mengadakan acara seperti ini? Tidak ada.

Tapi acara-acara populer itu kan identik dengan Kaisar. Ketika Anda pindah ke Jakarta, acara-acara itu kehilangan greget?


Yah, itu risiko. Ketika saya akan berangkat ke Jakarta, saya sudah pamitan di udara berkali-kali. Saya juga bilang bahwa suatu saat saya kembali. Saya jadi anggota DPR RI itu kan demi pengabdian kepada negara. Maka, penggemar saya dengan sedih dan bangga melepaskan saya. Now, Kaisar is back!

Jangan-jangan setelah lengser jadi anggota dewan, Anda terkena post power syndrome?


Hehehe... Kata-kata post power syndrome itu tidak ada dalam kamus saya. Sebab, saya memang banyak belajar dari sisi agama, filosofi... bahwa hidup itu mengalir. Grafiknya hidup memang naik turun, up and down. Jadi, biasa kalau saya dari Senayan kembali lagi ke sini. Hidup manusia itu ada siklus: lahir, dewasa, tua, sakit, kemudian mati. Ini hukum alam, sunatullah, sudah ketentuan Tuhan.

Kita harus menyadari itu, kemudian mengukur diri kita. Kita ini siapa. Kemampuan kita apa. Apa yang pernah kita berikan buat orang lain. Terus, apa yang akan kita berikan berikutnya. Jangan kita memaksa diri, melakukan sesuatu di luar kemampuan. Itu namanya utopia. Bahasa Mandarinnya: Pi Si Ang Long. Mimpi siang bolong! Hehehe... Kita harus optimis. (rek)



Penguasa Negeri Antah Berantah

JULUKAN Kaisar Victorio bermula saat awal-awal Achmad Affandi bergabung dengan Radio Suzana pada 1972. Kala itu, Radio Suzana masih belum cukup dikenal. Radio yang dulunya berlokasi di Jalan Taman Apsari 7 Surabaya ini lebih banyak memutar lagu-lagu Tionghoa.


Ketika bergabung, Achmad Affandi berpikir keras bagaimana radio bisa menjalin interaksi sebanyak-banyaknya dengan pendengar. Kalau hanya membaca surat pendengar, memutar lagu, kata dia, itu tak cukup.

Maka, Achmad Affandi pun mencoba menciptakan acara yang sedikit membuat orang tergugah untuk ikut menggambarkan imajinasi masing-masing. “Saya paling yakin bahwa radio adalah theatre of mind. Masing-masing pendengar tergoda untuk selalu menggambarkan cerita dan wajah tokoh yang dilakonkan,” ujar ayah empat anak ini.

Maka, lahirlah acara Praktek Terang Kerajaan Antah Berantah dari Puncak Gunung Bohong. Namanya kerajaan, ya, tentu ada rajanya. Lantas, dicomotlah nama Kaisar Victorio sebagai raja. Harapannya, tentu agar raja selalu meraih kejayaaan.

Acara Praktek Terang, pelan tapi pasti, mulai diminati penggemar di Surabaya, bahkan kota-kota lain di Jawa Timur. Kaisar setiap sore membahas masalah-masalah sepele, tapi penting, yang ada di masyarakat. Rasan-rasan di kampung-kampung ini diangkat untuk didiskusikan di udara. Kaisar Victorio alias Achmad Affandi berperan layaknya moderator sebuah diskusi interaktif.

Pekan lalu, misalnya, Praktek Terang antara lain membahas mitos rumah tusuk sate dan kebiasaan ‘memancing anak’. Pasangan suami-istri yang lama tak dikarunia momongan biasanya mengangkat seorang bayi dengan harapan lekas hamil. “Anak kok dipancing dengan anak? Kelihatannya nggak logis, nggak masuk akal, tapi sering dilakukan di masyarakat,” pancing Kaisar.

Pancingan Kaisar biasanya cukup manjur. Tak lama kemudian, telepon pun berdering. Pendengar Suzana seakan berlomba berbagi pengalaman atau berkomentar tentang topik yang dilempar sang Kaisar.

Kaisar optimistis Praktek Terang yang sudah dilakoninya selama empat dekade ini akan tetap disukai pendengar meski sempat absen ketika dia aktif menjadi anggota DPR RI di Senayan. Alasannya, acara macam ini tak ada di radio-radio mana pun di tanah air.

Ihwal studio Suzana FM yang kian sempit di Jalan Wali Kota Mustajab 62, berbeda dengan studio lama di Taman Apsari yang lapang, Kaisar tak mempersoalkannya. Toh, dia tetap bisa berkreasi dengan leluasa.

“Ingat, kerajaan saya itu ada di udara. Mau studionya di Taman Apsari, Wali Kota Mustajab, atau tempat lain nggak masalah,” tegasnya. (*)


BIODATA SINGKAT

Nama asli : Achmad Affandi
Lahir : Surabaya, 14 Juni 1946.
Orangtua : H Abdul Rosyid dan Nasichah (tokoh Nyamplungan, kampung Arab di Surabaya)
Istri : Helen Safarni
Anak : Hendi Effendi, Afni Royida, Ali Akbar, Suzana Indah Agustina
Pekerjaan : Penyiar Radio Suzana Surabaya

Pendidikan :
SD Al Khairiyah Surabaya
SD Al Irsyad Surabaya
SMP Negeri 2 Surabaya
SMA Negeri 3 Surabaya.

Pengalaman Politik
Ikut merintis Partai Amanat Nasional (PAN) di Jatim, 1998
Pencipta Himne & Mars PAN
Anggota DPR RI, 2004- 2009


Wono Kairun Paling Beken

DARI sekian banyak figur imajiner ciptaan Achmad Affandi, Wono Kairun tergolong paling beken. Si Mbah ini diciptakan pada 1975. Ketika itu, acara Trio Burulu (Bunali, Rukem, Lumut) membutuhkan figur seorang kakek tua yang cerewet, usil, dan suka ikut campur urusan orang lain.

Wono Kairun digambarkan memakai kain sarung yang sering melorot karena tidak disabuki. Suka batuk-batuk sehingga mengganggu lawan bicaranya. Gigi ompong, kepala botak, hanya tinggal dua helai rambut di kepala.

“Usia Wono Kairun ini 80-an tahun, belum pernah menikah. Tua-tua keladi, sok muda, sok gaya, tapi tidak berdaya,” tutur Kaisar Victorio, sapaan akrab Achmad Affandi.

Figur-figur fiktif ini kerap merepotkan si penciptanya bila sedang beraksi di acara Trio Burulu. Sebab, Kaisar harus berkali kali mengubah karakter vokal. “Apalagi, kalau suara-suara itu saling berdialog,” katanya.

Sejumlah seniman komedi Jawa Timur sering nimbrung mendampingi Wono Kairun cs sebagai bintang tamu. Di antaranya, Paimo, Harry Koko, Sussi Sunaryo, Sokran, hingga Roy Markun.

“Sayang, mereka telah meninggalkan kita semua. Saat ini seniman ludruk yang masih aktif sebagai bintang tamu adalah Sapari dan Jhuss,” papar Kaisar. (*)

10 December 2010

Roti Gandum NEWSTART




Dua pekan lalu, saya mampir ke markas NEWSTART di Jalan Ketabangkali 2 Surabaya. Hanya ada Bu Nanik bersama asistennya di sana. Pakar gizi ini memperkenalkan roti serta beberapa camilan khas NEWSTART.

Semua makanan buatan NEWSTART, klaim Nanik, menyehatkan. Cocok untuk orang-orang yang ingin terbebas dari penyakit-penyakit khas orang kota macam kencing manis (diabetes), kegemukan, kanker, hipertensi, jantung koroner, reumatik, asam urat.

NEWSTART merupakan salah satu gaya hidup kembali alam. Back to nature! Ada delapan elemen NEWSTART yang harus diperhatikan dalam menjalani NEWSTART:

1. Nutrition.
2. Exercise.
3. Water.
4. Sunshine.

5. Temperance.
6. Air.
7. Rest.
8. Trust in Divine power.

Mengapa makanan-makanan NEWSTART bikin sehat?
Mengapa roti gandum NEWSTART lebih baik bagi kesehatan?
Mengapa orang-orang kota patut memilih makanan-makanan NEWSTART?

Menurut Nanik, NEWSTART tidak menggunakan MSG, gula pasir, tepung putih, bahan pengawet, pewarna, bahan hewani, dan sebagainya. 100% alami. Kandungan seratnya tinggi.

Si serat ini sangat penting buat pencernaan manusia. Orang menjadi kegemukan, obesitas, gara-gara kurang mengonsumsi serat. Bukan serat karung goni atau kapas, tapi serat makanan. Nah, beras yang kita makan sehari-hari sebetulnya kurang sehat karena serat-serat dan sejumlah nutrisi penting yang dibutuhkan manusia sudah disosoh.

Roti yang beredar di Surabaya, Indonesia umumnya, pun tidak baik untuk kesehatan. Mengapa? Roti-roti di pasar itu dibuat dari terigu alias tepung putih. Meskipun dibuat dari gandum, serat-seratnya sudah hilang. Dan itu tidak membantu proses pencernaan manusia. Jika tepung putih ini dicampur gula pasir... efeknya sangat buruk bagi tubuh.

Karena itu, NEWSTART hanya menyediakan ROTI GANDUM. Teksturnya kasar, warna kekuningan, padat. Saya pun mencicipi roti gandum yang katanya hebat untuk kesehatan itu. Ciamik! Gurih dan enak meskipun tak dicampur gula atau pemanis. Wow, rupanya roti macam ini yang kita butuhkan untuk sarapan atau penyedia karbohidrat pengganti nasi.

Karena banyak serat, menurut Nanik, roti gandum bisa bikin kenyang. Bandingkan dengan roti-roti biasa di pasar yang sukar mengenyangkan karena terbuat dari tepung putih. Tepung putih dan gula pasir = karbohidrat jelek.

"Kami sudah punya banyak langganan meskipun belum sebanyak bakery biasa. Sosialisasinya memang masih kurang," kata Nanik yang ramah ini.

Saya akui roti gandum NEWSTART memang punya banyak keunggulan ketimbang roti biasa. Meskipun harganya dua kali lipat roti biasa, roti NEWSTART jauh lebih tahan lama. Disimpan satu minggu lebih, tanpa perlu dimasukkan kulkas, pun awet. Bandingkan dengan roti biasa yang sudah jamuran hanya dalam tempo dua hari.

Pekan lalu, saya bertemu Saleha Wulandari, staf kantor pusat NEWSTART Indonesia, di Trawas, Mojokerto. Saya cerita tentang roti gandum NEWSTART yang saya peroleh di Surabaya. Wulandari, yang sedang hamil delapan bulan, tersenyum mendengar cerita saya.

"Roti gandum itu hasil penelitian yang cukup panjang di sini," kata Wulandari. Para staf NEWSTART Indonesia, yang hampir semuanya sarjana ilmu gizi, melakukan trial and error berkali-kali hingga menghasilkan roti NEWSTART seperti yang sekarang dijual di markas NEWSTART.

Karena dibuat dari gandum utuh, bukan tepung putih, menurut Wulandari, awalnya si roti sangat padat dan keras. "Dipakai untuk melempari asu, iso matek. Hehehe," kenang Wulandari yang ramah ini.

Para peneliti NEWSTART tak putus asa. Mereka terus mencoba, mencoba, mencoba, akhirnya ditemukan roti gandum khas NEWSTART. Roti gandum yang berbeda dengan roti-roti gandum di berbagai bakery di Jawa Timur.

Tidak percaya? Silakan coba di markas NEWSTART terdekat?

INFORMASI LEBIH LANJUT

NEWSTART INDONESIA (kantor pusat)
Jalan Raya Trawas, Slepi, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur
Telepon (0343) 885265, 885267

NEWSTART SURABAYA
Jalan Ketabangkali 2 Surabaya
Telepon (031) 534 1524, 031 709 95630

NEWSTART JAKARTA
Jalan MT Haryono Blok A Kav. 4-5 Jakarta Selatan
Telepon (021) 8370 6629, 7138 3234

Soe Tjen Bahas Kematian



Oleh Lambertus Hurek

Orang Tionghoa di Surabaya itu kompleks. Warna-warni. Tak homogen. Dr Soe Tjen Marching mengangkat kerumitan Tionghoa Surabaya itu dalam novel terbarunya, MATI BERTAHUN YANG LALU. Sastrawan, komponis, dan pendidik ini menggambarkan warna-warni kehidupan orang Tionghoa yang berbeda-beda penghayatan agama dan kulturnya.

Berbicara dalam launching novelnya, pekan lalu, di kampus Universitas Kristen Petra Surabaya, Soe Tjen secara blak-blakan mengungkapkan warna-warni kehidupan Tionghoa Surabaya itu. “Saya ambil dari pengalaman sendiri maupun apa yang saya lihat di lingkungan sekitar saya,” kata Soe Tjen.

Mantan dosen University of London, Inggris, ini menceritakan kematian Vincentius Budi Surya, seorang wartawan berdarah Jawa yang beristrikan wanita Tionghoa Surabaya, pada 1995. Mendiang Budi yang terkenal dengan inisial Bs ini (bisa Balsam, Brengkes, Bedhes, kata Soe Tjen) beragama Katolik.

Nah, menjelang saat penguburan, terjadi konflik hebat di kalangan keluarga almarhum yang kebetulan berbeda-beda agama dan kepercayaan. Putri Budi berbaju putih polos layaknya suasana kematian Tionghoa. Soe Tjen menulis:

“Beberapa keluarga besar Papa protes: Budi kan bukan orang Tionghoa? Mereka bilang kalau Mama harus pakai cara Jawa....”

Cara Jawa yang bagaimana? “Nggak pakai peti mati, tapi dibungkus kain putih (kafan), dan dibacakan Quran,” papar Soe Tjen di hadapan sekitar 80 mahasiswa dan dosen Sastra Inggris UK Petra.

Kontroversi berlanjut. Keluarga besar almarhum Budi yang Katolik juga protes. Mereka ingin dipanggilkan pastor (romo) untuk memimpin misa requiem sebelum melepas almarhum ke tempat pemakaman.

“Gantian keluarga Mama yang beraliran Konghucu protes karena mereka sudah membawa hio, peralatan sembahyang, serta rohaniwannya,” ungkap pendiri Sekolah Mandala Surabaya itu.

Ribut-ribut soal agama dan tradisi itu pun tak berujung. Akhirnya, di meja sembahyang ada salib Yesus, hio, serta tulisan beraksara Arab. “Budi kan nikah sama orang Jawa, ya, gini jadinya. Gak tahu cara Tionghoa,” komentar keluarga besar dari kalangan Tionghoa totok.

Meski tidak seekstrem seperti dilukiskan di novelnya, menurut Soe Tjen Marching, sampai sekarang pun orang Tionghoa di Surabaya, dan Indonesia umumnya, masih sering meributkan tetek-bengek seperti ritual kematian seseorang. Perbedaan agama, orientasi budaya, hingga kekayaan kerap menjadi kerikil dalam relasi di kalangan Tionghoa maupun non-Tionghoa.

“Wong sudah mati kok diributkan? Semua pihak berlomba-lomba mengurus. Padahal, saat masih hidup, belum tentu mereka itu memberi perhatian,” ujar Soe Tjen lantas tertawa kecil.

Stefanny Irwan, dosen UK Petra, yang juga cerpenis, menilai novel perdana Soe Tjen Marching ini penuh dengan satir-satir yang dinamis dan lincah. Soe Tjen menyentil berbagai aspek kehidupan orang Indonesia, khususnya Tionghoa. (*)

09 December 2010

Gayus Tambunan Ketua KPK






Bersamaan dengan hari antikorupsi sedunia, rakyat Indonesia diajak menonton sidang perkara Gayus Tambunan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sidang kasus mafia pajak ini disiarkan langsung METRO TV. Gayus duduk santai, tenang, sering senyum, jawabannya kadang bikin geli. Tapi juga bikin orang geleng-geleng kepala.

Kepada hakim ketua, Albertina Ho, Gayus mengaku punya simpanan Rp 35 miliar. Uang itu, kata Gayus, fee tiga perusahaan yang dia bantu: Bumi Resources, Arutmin, Kaltim Prima Coal. Total Gayus mendapat komisi Rp 35 miliar.

Ini belum termasuk fee dari perusahaan-perusahaan lain yang belum terungkap.

Bukan main pegawai pajak golongan 3A ini! Masih 30-an tahun, uangnya miliaran rupiah. Sekali me-review pajak, dia dapat fee USD 2 juta atau setara Rp 20 miliar.

Selain geleng-geleng kepala, jutaan rakyat Indonesia yang nonton Metro TV barangkali cemburu dengan Gayus Tambunan. Kok begitu mudahnya Gayus mendapat uang jutaan dolar dari macam-macam sumber? Kok orang lain yang kerja puluhan tahun, jadi PNS macam Gayus, tidak bisa kaya-raya?

Ketimbang bolak-balik menyalahkan Gayus Halomoan Tambunan, yang tak pernah merasa bersalah dengan permainan uang pajak ini, sebaiknya Gayus dijadikan konsultan rakyat. Tugasnya mengajari rakyat Indonesia menjadi kaya-raya secara cepat dan instan. Mengajari rakyat Indonesia agar tidak terus-menerus hidup dalam kemiskinan.

Hari-hari ini, terus terang saja, rakyat asal Indonesia Timur yang tinggal di Pulau Jawa sedang pening kepala gara-gara tiket pesawat naik tiga kali lipat. Ingin cuti, pulang kampung, untuk Natal dan Tahun Baru, tapi maskapai penerbangan rame-rame menaikkan tiket. Tiket paling bawah, yang selama ini menjadi andalan rakyat kecil, tidak dijual sejak November silam.

Kapan ya kita bisa kaya macam Gayus? Ah, andai saja uang Rp 35 miliar milik Gayus itu dipakai untuk carter pesawat Boeing, selesailah masalah pengangkutan orang-orang NTT, Maluku, Papua, Sulawesi Utara yang hendak mudik natalan.

Tadi siang, saya melihat sejumlah aktivis rame-rame demo antikorupsi di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lain. Retorikanya:
"Korupsi dianggap kejahatan luar biasa.
Korupsi merugikan negara.
Korupsi melanggar hak asasi manusia.
Korupsi bisa merusak masa depan anak bangsa.
Dan sebagainya, dan seterusnya...."

Tapi, bagi Gayus Tambunan dan kawan-kawan, korupsi justru sangat penting dan berguna. Korupsi, menurut Gayus, bisa dengan cepat memperbaiki kemakmuran seorang PNS, khususnya pegawai pajak. Tanpa korupsi orang akan tinggal miskin sampai tujuh turunan.

"Salah sendiri, kenapa kalian tidak korupsi?" begitu kira-kira pandangan Gayus Tambunan.

ICW, aktivis antikorupsi, media massa, agamawan... sudah capek berteriak agar korupsi diberantas. Koruptor dipenjara, bahkan kalau perlu ditembak mati. Tapi, seperti terlihat di Metro TV, aparat hukum yang menangani kasus Gayus pun -- mulai polisi, jaksa, hakim, pengacara -- pun doyan korupsi. Korupsi berjemaah ala mafia. Lantas, siapa yang menjamin Gayus dihukum berat, dibuat kapok berkorupsi ria?

Kalaupun divonis penjara, kita tahu, Gayus Tambunan setiap saat bisa keluyuran ke rumahnya, nonton pertandingan tenis, kongko-kongko di luar. Mengapa Gayus tidak dimanfaatkan saja untuk memperkaya seluruh rakyat Indonesia?

Atau, sekalian saja Gayus dijadikan ketua KPK: Komisi Pemerataan Korupsi! Siapa tahu dengan pemerataan korupsi, rakyat Indonesia akan hidup lebih makmur, punya tabungan puluhan miliar di bank dan tujuh miliar di rumah!

Siapa sih yang tak ingin kaya kayak Gayus!

Chelsea Kalah Lagi



Marseille 1 Chelsea 0

Untuk kesekian kalinya Chelsea kalah. Kalah, kalah, kalah, seri, seri... tidak pernah menang dalam banyak pertandingan terakhir. Bagi saya, penggemar Chelsea, kabar kekalahan Chelsea yang terus berulang jelas menyedihkan.

Kok kalah terus sih? Bukankah Chelsea punya pemain-pemain hebat? Bahkan, boleh jadi paling hebat di antara semua klub Liga Inggris? Tapi, begitulah sepak bola, klub tidak bisa menang terus. Tapi juga tak boleh kalah melulu.

Saya baru ngefans sama Chelsea dalam lima tahun terakhir. Saya melihat cara main Chelsea sangat hidup. Kokoh. Bersemangat. Penuh motivasi. Taktis. Semua lini hidup. Bahkan, Barcelona yang sangat dahsyat saja bertekuk lutut saat Liga Champion beberapa tahun lalu.

Tapi itu dulu. Sekarang Chelsea sudah hampir kehilangan semuanya, kecuali pemain-pemain hebat yang kehilangan motivasi dan ketajaman. Chelsea tak lagi garang. Drogba sudah lupa cara bikin gol. Anelka tak jelas juntrungannya. Terry gak karuan. Lampard larut dalam cedera. Cech kerasan pakai helm.

Lama-lama aku muak melihat permainan Chelsea. Dan, akhirnya tidak lagi menjadi fan setia Chelsea. Pun klub-klub lain yang juga hebat, entah Barcelona atau Manchester United. Lebih baik saya jadi orang netral. Hanya mendukung klub-klub yang bermain bagus... dan menang!

Siapa tahan menjadi fan klub yang selalu kalah dan kalah melulu?

07 December 2010

Chang Jue Ramal Tahun Kelinci 2011



Tahun baru Imlek masih tiga bulan lagi. Tepatnya, 3 Februari 2010. Namun, saat ini buku-buku primbon Tionghoa alias fengshui sudah beredar di sejumlah toko buku di Surabaya.

Selain karya penulis lokal seperti Bingo Tanuwijaya, primbon karya penulis Singapura pun sudah beredar. Salah satunya buku Keberuntungan di Tahun Kelinci karangan Chang Jue. Buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ini bahkan lebih murah ketimbang buku-buku karya penulis dalam negeri.

“Rupanya, globalisasi juga terjadi di lingkungan fengshui. Penulis-penulis luar sudah berani masuk ke Indonesia dengan manggandeng jaringannya di Indonesia,” ujar Benny, profesional muda, yang gemar mengoleksi buku-buku fengshui, kemarin.

Menurut Chang Jue, penerbitan buku Tahun Kelinci 2011 yang lebih awal perlu dilakukan untuk memberikan gambaran garis besar kepada masyarakat, khususnya pebisnis. Mereka bisa membuat langkah-langkah antisipasi lebih dini.

“Kita punya cukup waktu untuk melihat kembali target-target kita,” tulis Chang Jue dalam kata pengantar bukunya.

Menurut Chang, era yang kita jalani sekarang adalah periode kedelapan, 2004-2023, yang tidak menentu. Ada kekacauan ekonomi, gunung meletus, tsunami, kebakaran hutan, gempa bumi, hingga penyakit menular. Begitu pula di Tahun Kelinci mendatang, kondisinya tak jauh berbeda dengan Tahun Macan sekarang.

Namun, di balik kondisi suram itu, Chang juga memberikan gambaran yang optimistis. “Sektor keuangan dan pasar saham mengalami masa keemasan. Perbaikan ekonomi akan memulihkan banyak industri yang kolaps,” tulisnya.

Chang meminta masyarakat di Asia Tenggara untuk mewaspadai penyakit-penyakit yang terkait radang sendi, paru-paru, mata, jantung, saluran usus, dan sistem pencernaan. Bersikaplah yang sopan, kuatkan pendirian.

“Pada tataran pribadi akan terjadi lebih banyak skandal dan sengketa,” papar Chang.

Suroan di TITD Cokro



Tak hanya orang Jawa, warga Tionghoa pun kemarin ikut menggelar perayaan Tahun Baru Jawa, 1 Suro. Upacara ditandai dengan kebaktian dan makan siang bersama di Tempat Ibadat Tridharma (TITD) Hong San Ko Tee. Ritual suroan memang sudah menjadi tradisikan kelenteng di Jalan Cokroaminoto Surabaya itu.

"Kalau tidak salah, kami sudah melaksanakan upacara 1 Suro secara rutin selama 15 kali. Bagaimanapun juga, sebagai orang Tionghoa yang lahir dan dibesarkan di Jawa, kami perlu melestarikan budaya Jawa," kata Juliani Pudjiastuti, pengurus TITD Hong San Ko Tee, kepada saya, Selasa (7/12/2010).

Selain warga Tionghoa, perayaan tahun baru Jawa ini juga diikuti warga sekitar dan undangan yang kebanyakan etnis Jawa. Karena itu, sembahyangan dilaksanakan dalam dua sesi. Di bagian dalam kelenteng dipimpin suhu dan pengurus kelenteng, sedangkan ritual suroan dipimpin seorang modin.

Jemaat kemudian berdoa secara pribadi di altar Dewi Sri, yang dikenal sebagai dewi padi dan kemakmuran di tanah Jawa. Menurut Juliani, sejak didirikan 91 tahun silam, para pengelola kelenteng memang telah memberikan penghormatan khusus kepada tradisi dan budaya Jawa. Salah satunya dengan menempatkan Eyang Putri Dewi Sri pada sebuah altar khusus di dalam kompleks Kelenteng Cokro.

"Jadi, sekarang ini kami hanya tinggal merawat dan melestarikan tradisi yang sudah bagus itu," kata Juliani seraya tersenyum. "Nah, suroan ini kami memohon berkah kepada Eyang Putri Dewi Sri, dewi padi dan dewi kesuburan," ujarnya.

Seperti suroan di tempat lain, jemaat Kelenteng Cokro tak lupa menyediakan tumpang berisi nasi berserta lauk pauknya serta jajanan pasar. Setelah didoakan oleh modin, sebanyak 134 tumpeng dibawa pulang oleh umat dan sebagian lagi diserahkan ke pihak kelenteng untuk dinikmati warga sekitar.

"Suroan ini kita bersihkan diri kita, introspeksi, melihat kembali apa yang sudah kita perbuat selama ini. Semoga ke depan keluarga dan masyarakat kita menjadi lebih baik," harap Yuli. (*)

06 December 2010

Andre Su: Cuci Piring untuk Kuliah di Taiwan




MENDAMPINGI Dr Huang Wenshen, salah satu dekan Kaoyuan University, Kaohsiung, Taiwan, Andre Su menceritakan pengalaman bersekolah di SMA, kemudian kuliah dan bekerja selama 16 tahun di Taiwan di depan puluhan peserta seminar.

Selain Andre, ada tiga saudaranya yang menempuh SMA dan universitas di negara kecil di selatan Tiongkok itu.

“Sekaya apa pun orangtua kita, pasti tidak mungkin membayar biaya kuliah empat orang sekaligus di luar negeri,” kata Andre Su yang juga pengajar (laoshi) di Indonesia-Tionghoa Culture Center (ITCC) Surabaya.

Maka, mau tidak mau, Andre Su bersaudara harus mencari kerja di sana. “Saya kerja cuci piring di Taiwan. Lumayan, penghasilan saya (kalau dirupiahkan) sekitar Rp 6 juta,” ungkapnya.

Dengan duit sebanyak itu, Andre mengaku bisa membayar biaya pendidikannya selama di Taiwan. Dia tak pernah meminta uang pada orangtua untuk biaya pendidikan dan sebagainya.

“Jadi, mulai SMA sampai universitas saya bayar sendiri,” tutur pria asal Gorontalo, provinsi hasil pemekaran Sulawesi Utara, ini.

Mencari pekerjaan di Taiwan, menurut Andre, termasuk urusan gampang. Sebab, negara kecil ini memang sejak beberapa tahun terakhir kekurangan tenaga kerja. Keberhasilan program keluarga berencana, kecenderungan orang Taiwan untuk tidak punya banyak anak, membuat jumlah penduduk usia produktif berkurang drastis.

Karena itu, banyak pekerjaan seperti mencuci piring, cucu pakaian, mengurus taman, kelistrikan... tersedia melimpah. Tinggal kemauan si pelajar/mahasiswa untuk meringankan beban orangtua, plus menabung, dengan mengambil pekerjaan-pekerjaan paruh waktu.

Ini juga membuat mahasiswa Indonesia di Taiwan jarang pulang kampung saat liburan selama 2,5 bulan. “Mereka lebih suka bekerja karena bayarannya sudah bisa menutup biaya kuliah,” tandas Andre.

Berkali-kali laoshi yang juga pemandu wisata andalan ITCC Surabaya ini meyakinkan para pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Jatim tentang berbagai kelebihan kuliah di Taiwan.

Yang tak kalah penting, tiket pesawat terbang Indonesia-Taiwan atau Indonesia-Tiongkok, misalnya Guangzhou, relatif murah. Bahkan, ada maskapai penerbangan yang menawarkan tiket seharga Rp 800.000.

“Jadi, lebih murah ketimbang tiket ke kampung saya di Gorontalo yang Rp 2 juta lebih,” bebernya.

Calon mahasiswa yang hendak kuliah di Taiwan mulai sekarang harus mulai memperbaiki etos belajarnya. Sistem belajar mahasiswa di sana berbeda dengan di Indonesia.

PARA mahasiswa di Taiwan--juga Tiongkok--tinggal di asrama dengan fasilitas memadai. Disiplin ketat ala tentara dilakoni sejak bangun pagi hingga menjelang tidur malam hari. Jam kuliahnya pun jauh lebih panjang ketimbang di Indonesia.

“Kuliah di sana mulai jam tujuh pagi sampai setengah sepuluh malam. Jadi, hampir 15 jam mahasiswa kerjanya hanya belajar, belajar, dan belajar,” kenang Andre Su.

Staf manajemen Indonesia-Tionghoa Culture Center (ITCC) Surabaya ini menempuh pendidikan SMA di Taiwan, kemudian kuliah dan bekerja di negara itu. Total, Andre menghabiskan waktu 16 tahun di Taiwan. Karena itu, pria asal Gorontalo ini tahu betul gaya belajar dan pola pergaulan anak-anak muda Taiwan dan Tiongkok.

Tidak ada kebiasaan santai-santai ala mahasiswa di Indonesia. Juga tak ada dosen yang malas-malasan karena sibuk cari ceperan di luar tugas pokoknya. Tak ada praktik ‘titip absen’ dan sejenisnya.

Saking padatnya jadwal kuliah, mahasiswa hanya punya waktu sembilan jam sehari untuk urusan nonkuliah. Namun, karena energi mereka tersedot ke urusan perkuliahan, menurut Andre, penampilan mahasiswa di Taiwan dan Tiongkok tidak segaul dan semodis mahasiswa di kampus-kampus Indonesia.

“Orangnya culun-culun, gak gaul blas. Mahasiswinya juga nggak sempat dandan. Gimana mau gaul, jadwal kuliah sudah benar-benar padat,” papar Andre Su.

Mereka pun nyaris tak punya waktu untuk berselencar di dunia maya, sekadar menikmati jejaring sosial seperti Facebook. Di Tiongkok, misalnya, situs-situs gaul macam Facebook diblokir pemerintah karena dianggap hanya membuang-buang waktu produktif. Internet hanya dipakai untuk kepentingan perkuliahan.

Menurut Andre, kalau memang ingin kuliah di Taiwan, mau tidak mau, para pelajar dan mahasiswa kita harus sudah mulai menyiapkan mental dari sekarang. Harus berani mendisiplinkan diri meskipun atmosfer di tanah air belum memungkinkan. Hanya dengan begitu, mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia bisa bersaing. (lambertus hurek)

02 December 2010

Kiat Kuliah di Taiwan





Oleh Lambertus Hurek
Radar Surabaya, 30 November - 3 Desember 2010

Taiwan ternyata sangat merindukan kehadiran mahasiswa Indonesia. Kaoyuan University di Kota Kaosiong bahkan mengirim dekannya untuk mempromosikan kampusnya di Jawa Timur.

“KAMI sangat welcome dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Silakan datang dan kuliah di negara kami,” ujar Dr Huang Wenshen, salah satu dekan Kaoyuan University, dalam seminar yang diadakan Indonesia-Tionghoa Culture Center (ITCC) di Graha Pena Lantai 3 Surabaya.

Huang kemudian membeberkan berbagai kelebihan bagi mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan. Salah satunya gampang mendapatkan pekerjaan paruh waktu. Ketika musim liburan tiba, selama 2,5 bulan para mahasiswa bisa dengan mudah mencari uang.

Nah, uang hasil bekerja selama liburan ini bisa dipakai untuk biaya kuliah dan biaya hidup di sana. Menurut Huang, yang berbicara dalam bahasa Inggris dan Mandarin, saat ini Taiwan mulai mengalami kekurangan penduduk usia produktif gara-gara program keluarga berencana. Sangat jarang keluarga Taiwan yang punya banyak anak. Padahal, negara sangat membutuhkan pekerja-pekerja dan tenaga ahli yang terampil.

Karena itu, menurut Huang Wenshen, pemerintah Taiwan berharap mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang menyelesaikan kuliah bisa langsung kerja di Taiwan. “Bahkan, sebelum kalian lulus pun banyak pekerjaan sudah antre dengan penghasilan yang bagus,” tambah Andre Su dari ITCC, yang menjadi penerjemah Mandarin Huang Wenshen.

Andre sendiri kuliah dan bekerja di Taiwan selama 16 tahun. Begitu butuhnya perusahaan-perusahaan di sana akan pekerja-pekerja terampil, yang mampu berbahasa Mandarin tentu saja, Andre digandholi ketika hendak kembali ke Indonesia.

“Beda dengan kita di sini. Sarjana-sarjana kita banyak yang nganggur karena nggak ada lowongan,” tukas Andre Su lantas tertawa kecil.

Menjawab pertanyaan peserta, Huang Wenshen juga meyakinkan orang Indonesia, yang beragama Islam, tentang ketersediaan makanan halal di Taiwan. Menurut dia, kampus-kampus di Taiwan juga menyediakan makanan halal untuk mahasiswa-mahasiswa muslim dari berbagai negara.

"Jangan khawatir," katanya.

Di Taiwan juga terdapat banyak food court yang menyediakan makanan halal. Kalau masih juga khawatir juga, para mahasiswa bisa berbelanja dan memasak sendiri makanannya di apartemen atau asrama.

Berbeda dengan di Eropa atau Amerika Serikat, kuliah di Taiwan (juga Tiongkok) tidak membutuhkan syarat yang berat-berat. Peserta cukup mengajukan aplikasi dalam bahasa Inggris.

TENTU akan lebih bagus lagi kalau aplikasi kepada perguruan tinggi yang dituju itu ditulis dalam bahasa Mandarin. Pihak Taiwan juga tidak mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris dengan angka TOEFL tertentu.

“Sebab, bahasa nasional kami memang bukan bahasa Inggris,” tegas Dr Huang Wenshen.

“Kalau ingin kuliah dalam bahasa Inggris, ya, lebih baik Anda ke Amerika Serikat atau Inggris. Bukan ke Taiwan. Bahasa nasional negara kami adalah bahasa Mandarin,” tambahnya.

Pada semester-semester awal, menurut Huang Wenshen, mahasiswa-mahasiswa asing (internasional) masih bisa menikmati perkuliahan dalam bahasa Inggris. Tapi secara sistematis mereka mendapat materi bahasa Mandarin secara intensif agar mahasiswa-mahasiswa itu bisa mengikuti kuliah sebenarnya dalam bahasa Mandarin.

Memang, awalnya mahasiswa asing, yang sama sekali belum punya bekal bahasa Mandarin, agak kesulitan. Tapi setelah banyak bersosialisasi dengan warga dan mahasiswa setempat, mereka menjadi terbiasa. Sesulit apa pun sebuah bahasa pasti bisa dipelajari oleh siapa pun.

“Jadi, jangan khawatir dengan kendala bahasa,” tegas Huang Wenshen yang getol mempromosikan universitas ternama di Kota Kaosiong, Taiwan, itu.

Andre Su dari ITCC Surabaya, yang pernah kuliah dan bekerja selama 16 tahun di Taiwan, menambahkan, pihak universitas (daxue) di Taiwan maupun Tiongkok selama ini memandang kemampuan bahasa Inggris pelajar dan mahasiswa Indonesia sudah bagus. Paling tidak lebih baik ketimbang orang Taiwan atau Tiongkok sendiri. Karena itu, mereka tak akan mengetes kemampuan bahasa Inggris pelajar/mahasiswa Indonesia.

“Yang penting, memang bahasa Mandarin,” tegas pria asal Gorontalo itu.

Senyampang sudah banyak lembaga kursus bahasa Mandarin di Surabaya, juga kota-kota lain di Jawa Timur, Andre mengimbau para pelajar dan mahasiswa kita untuk memanfaatkan sebaik mungkin. Pelajari bahasa itu secara serius agar bisa dikuasai. Itu akan sangat membantu ketika si mahasiswa masuk ke perguruan tinggi di sana.

Renata, Mama Suzana FM





Belajar bahasa Tionghoa bisa juga dilakukan sambil bercanda. Itulah resep Fransisca Renata, penyiar senior Radio Suzana (91,3 FM).

“NI hao ma?” begitu sapaan di seberang telepon.

“Wo hen hao,” jawab Mama Cho Kit Ban di studio Radio Suzana, Jalan Wali Kota Mustajab 62 Surabaya.

Sang mama memang menjawab sapaan dalam bahasa Mandarin, yang artinya ‘saya sangat baik’, tapi logat Jawanya sangat kental.

Vokalnya pun diolah sedemikian rupa, sehingga persis encim-encim atau wanita peranakan Tionghoa yang berbahasa gado-gado--Mandarin, Hokkian, Jawa, Indonesia, bahkan Madura. Terkadang si mama berperan sebagai nainai alias nenek-nenek yang suka menasihati cucu kesayangannya.

Pembicaraan pun kemudian akrab, lancar, dan hangat. Layaknya orang yang sudah saling kenal. Sang Mama dan pendengar bicara ngalor-ngidul, nyentil sana-sini, bercanda, kemudian tertawa bersama. Begitulah aktivitas rutin Fransisca Renata tiga kali sepekan: Kamis, Jumat, Sabtu.

“Saya siaran tiap pukul 13.00 sampai 15.00. Saya berperan sebagai Mama Cho Kit Ban yang siap menjadi mama sekaligus teman para pendengar. Mereka bicara apa saja, ya, saya ladeni,” tutur Renata (57) kepada saya pekan lalu.

Kehadiran program interaktif dan hiburan Mandarin di Suzana FM ini tak lepas dari buah reformasi yang digerakkan mahasiswa pada 1998. Ketika rezim Orde Baru tumbang, Presiden KH Abdurrahman Wahid (almarhum) mencabut berbagai produk perundang-undangan yang melarang ekspresi budaya dan bahasa Tionghoa di muka umum.

Maka, bahasa Tionghoa yang selama tiga dasawarsa hanya digunakan warga keturunan Tionghoa di lingkungan terbatas mulai muncul lagi ke ruang publik. Nah, Radio Suzana yang sejak dulu memang sudah punya program hiburan multietnis, antara lain dengan karakter tokoh Tionghoa, merasa perlu membuat program khusus bernuansa Tionghoa.

“Kaisar yang menggagas acara ini, sekaligus menjadi pengasuhnya,” terang Renata sambil tersenyum. Kaisar yang dimaksud tak lain Kaisar Victorio alias Achmad Affandi, penyiar senior yang piawai menciptakan sejumlah tokoh fiktif di Suzana FM, termasuk Mbah Wono Kairun itu.

Renata sendiri sudah bertahun-tahun menjadi mitra siar Achmad Affandi di program Burulu (Bunali, Rukem, Lumut) yang sangat terkenal itu. Ketika sang kaisar terpilih sebagai anggota DPR RI pada 2004, program yang sudah berhasil merebut hati pendengar dari kalangan Tionghoa ini sempat limbung.

Sebagai penyiar senior, Fransisca Renata (57) mau tidak mau harus bisa menggantikan posisi Kaisar Victorio, nama populer Achmad Affandi, yang terpilih sebagai wakil rakyat di Senayan, Jakarta.

BERMODAL tekad serta kemauan yang keras, Fransisca Renata akhirnya bisa menjadi host acara Ni Hao Ma di Radio Suzana 91,3 FM. Program bernuansa Tionghoa ini menuntut sang penyiar paling tidak punya kemampuan berbahasa Mandarin meski tidak perlu sefasih seorang native speaker dari dataran Tiongkok.

Renata yang kelahiran Madiun, 27 Juni 1953, asli Jawa, sama sekali tak punya darah Tionghoa, ‘dipaksa’ untuk secepat mungkin menguasai bahasa negeri panda ini. Caranya? “Saya mengamati tetangga saya yang Tionghoa. Cara bicaranya sehari-hari, logatnya, nada suaranya, saya perhatikan dan tiru,” kenang Renata seraya tersenyum.

Dari situ, ibu empat anak ini menemukan bahwa warga keturunan Tionghoa di Jawa Timur, khususnya Surabaya, tidak 100 persen berbicara dalam bahasa Guoyu alias bahasa Mandarin, melainkan gado-gado. Ada unsur Mandarin, Hokkian (Fujian), Jawa, Indonesia, kemudian sedikit istilah bahasa Inggris.

Hampir tidak ada orang Tionghoa di Surabaya yang murni berkomunikasi sehari-hari dalam bahasa nasional Tiongkok itu. Bahkan, banyak pula orang Tionghoa, khususnya generasi mudanya, yang sama sekali tak bisa berbicara dalam bahasa leluhurnya.

“Makanya, di radio pun saya bicara mixed, campuran. Yah, kayak encim-encim itulah,” tutur Renata yang juga fasih main ludruk ala Radio Suzana itu.

Nggak ikut kursus Mandarin?

“Waduh, mana ada waktu?” tukasnya. Renata mengaku belajar bahasa ini melalui tetangga atau kenalan Tionghoa atau dengan pendengarnya. Lama-kelamaan dia bisa mampu berinteraksi dengan penggemar acaranya yang hampir semuanya orang Tionghoa.

Bahkan, tak sedikit orang Tionghoa yang mengaku kalah fasih berbahasa Tionghoa dibandingkan Mama Cho Kit Ban. Mereka juga kaget ketika bertemu langsung dengan Renata yang ternyata bukan Tionghoa.

Tak hanya bahasanya yang gado-gado, Renata pun selalu memutar lagu-lagu berbahasa Mandarin dengan irama yang gado-gado. Ada pop Mandarin nostalgia, yang sedang ngetop, hingga lagu-lagu pop Indonesia yang dimandarinkan. Karena itu, jangan kaget kalau suatu ketika Anda mendengar musik dangdut dengan lirik bahasa Mandarin. (lambertus hurek)

01 December 2010

Lili Widjaja Ratu Taijiquan




Namanya Lili Widjaja. Tubuhnya ramping, nyaris tanpa lemak. Gerakannya lincah. Lili, 50 tahun, juga sangat ramah, paling tidak sama saya. Minggu lalu, 28 November 2010, Lili Widjaja memborong medali emas dalam turnamen nasional taijiquan di Gedung Langit, Kenjeran, Surabaya.

Mama tiga anak ini memang luar biasa. Dia tercatat sebagai ratu taijiquan Indonesia. Bulan lalu, Lili Widjaja merebut empat medali emas dalam kejuaraan dunia taijiquan di Beijing, Tiongkok.

Tiga tahun terakhir memang tahun prestasi bagi Lili. Tahun 2008 Lili memperoleh tiga emas kejuaraan taujiquan [kelompok senior] di Korea Selatan. Tahun berikutnya, 2009, kejuaraan dunia di Singapura, tiga medali emas.

Hari-hari Lili Widjaja memang diisi dengan berlatih taijiquan selama tiga jam penuh di Sasana Serumai dan Sasana Galaxiy Berbagai jurus dia dalami seperti jurus bermain pedang, tangan kosong, dongyue, dan dongyuebang.

Sebelum berangkat ke Beijing, Lili diperiksa dokter pribadi dan dirawat suster pribadi pula agar terhindar dari kelebihan lemak. Tubuh harus tetap ramping. “Badan saya memang tidak boleh kegemukan,” jelas Lili.

Lili juga memperdalam ketrampilannya di Akademi Wushu Indonesia (AWI) di Jalan Sumatera dan dilatih khusus laoshi asal Beijing. Sang laoshi dari Tiongkok itu sangat keras. Dia tak segan-segan kasih hukuman. Metode macam inilah yang membuat atlet-atlet Tiongkok selalu berprestadi di level dunia.

"Saya anggap gemblengan laoshi itu sebagai cambuk. Itu yang membuat saya dapat empat emas di Beijing," kata ibunda Sherly, Silvia, dan Stephany Limansantoso ini.

Udara dingin Beijing memaksa Lili harus bekerja ekstrakeras menjaga tubuhnya. Resepnya? Banyak minum anggur dan makan daging kambing. Vitamin B dan C juga dikonsumsi. Banyak makan buah-buahan.

Tak sia-sia Lili ikut kejuaraan dunia taujiquan di Beijing. Dia borong emas emas. "Saya persembahkan medali emas itu untuk warga Kota Surabaya, khususnya Wali Kota Ibu Tri Rismaharini," katanya. Lili memang mengundang Bu Risma untuk syukuran atas prestasinya.

Ke depannya Lili ingin menjadi pelatih, laoshi. Masyarakat bisa datang berlatih taiji tanpa dipungut bayaran. Saya ingin masyarakat Surabaya menyukai taiji," jelasnya.

Sejak kecil Lili Widjaja memang suka olahraga, khususnya basket, bola voli, dan renang. Kebetulan orangtuanya sangat mendukung hobi putri keenam dari delapan bersaudara tersebut. Dia juga doyan sport karena melihat tubuh saudara-saudaranya ringkih, kurang kuat.

“Saya juga bandel dan tomboi sejak kecil," kenang lulusan SMA Trisilia Surabaya ini.

Sekitar 25 tahun silam, ketika baru saja menikah dengan Nie Antonie Salim, Lili dinyatakan menderita radang otak oleh dokter. Walau hatinya galau, Lili bertekad keras agar sembuh dari penyakitnya itu. Lili pun lantas menekuni taiji. Berkat olahraga khas Tiongkok ini, radang otak itu sembuh.

Anda ingin tetap sehat hingga usia senja?

Lili Widjaja menganjurkan, sekarang juga ikut berlatih setiap hari bersama komunitas taiji/taijiquan di kota Anda.

27 November 2010

Michael Bambang Hartono dan Taijiquan




MICHAEL BAMBANG HARTONO [kiri] dan Soetiadji Yudho, pemilik Kenpark Surabaya. Foto: Lambertus Hurek.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Siapa tak kenal MICHAEL BAMBANG HARTONO? Bos PT Djarum ini oleh majalah Forbes disebut sebagai orang terkaya di Indonesia. Kemarin (27/11/2010), Bambang Hartono membuka jambore dan turnamen nasional kedua taijiquan di Gedung Langit Kenpark, Surabaya.



MENURUT versi Forbes pada Maret 2010, Michael Bambang Hartono (71) bersama saudaranya, Robert Budi Hartono (70), membukukan kekayaan masing-masing USD 3,5 miliar. Total kekayaan dua bersaudara itu mencapai USD 7 miliar atau sekitar Rp 65 triliun.

Meski setiap tahun namanya masuk dalam daftar seribu orang terkaya di dunia versi Forbes, Michael Bambang Hartono tetap low profile. Pria bernama asli Oei Hwie Siang yang lahir di Semarang, 2 Oktober 1939 ini, juga selalu terlihat sederhana dan ramah.

Dalam kapasitas sebagai ketua umum Asosiasi Taijiquan Nasional Indonesia (ATNI), kemarin Bambang Hartono hadir di Gedung Langit atau Pagoda Kenpark untuk membuka jambore dan turnamen nasional kedua taijiquan (baca: taichi chuan). Turnamen ini, menurut dia, menjadi ajang seleksi atlet-atlet Indonesia menuju even internasional yang lebih bergengsi.

Dia optimistis kualitas atlet kita tidak kalah dengan atlet Tiongkok, negara asal taijiquan. “Sebab, taijiquan sudah menjadi milik dunia. Siapa pun punya kesempatan yang sama untuk mempelajarinya dengan baik dan benar,” tegas Bambang.

Bambang Hartono menekuni olahraga yang dikembangkan di Tiongkok pada 1247 ini sejak 25 tahun lalu. Suami Ikawati Budiarto ini belajar dari Tan Ching Nge, master asal Singapura, dan William CC Chen, master asal New York, USA. Om Hwie Siang, sapaan akrabnya, mengaku menggeluti taijiquan untuk kesehatan dan bela diri.

“Juga life balance (keseimbangan hidup). Karena hobi saya semuanya adalah hal-hal yang memacu adrenalin, maka saya mencari sesuatu yang bersifat menenangkan,” tuturnya.

Di tengah kesibukan mengurus PT Djarum dan sejumlah perusahaan lain, ayah empat anak dan kakek empat cucu ini selalu menyediakan waktu untuk berlatih taijiquan. Cukup satu jam sehari, pukul 07.00 sampai 08.00. “Yang penting, bagaimana membuat manajemen waktu benar,” kata pengusaha yang juga hobi menembak, balap mobil, bridge, dan musik (high-end) ini.

Menurut Bambang, perkembangan taijiquan di sangat pesat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Olahraga ini sudah menjadi milik dunia dan dipraktikkan bebagai kalangan masyarakat. Ritmenya lembut, konsentrasi penuh, napas teratur. Sehingga, praktisi tenggelam dalam apa yang disebut meditasi bergerak.

Pada 17 November 2007 berlangsung musyawarah nasional yang diikuti semua pengurus asosiasi taijiquan se-Jawa dan Bali. Saat itulah, Bambang Hartono menggagas pembentukan Asosiasi Taijiquan Nasional Indonesia (ATNI) dengan pusat di Semarang. Dia optimistis asosiasi ini bakal mampu membawa nama harum Indonesia ke ajang internasional.

Menurut dia, gerakan-gerakan taijiquan yang lamban memang cocok dengan para lansia karena tidak mudah membuat cedera. Namun, dia membantah image di masyarakat seakan-akan taijiquan merupakan olahraganya kaum lansia. “Ini adalah suatu anggapan yang salah,” tegasnya.

Nah, berkat taijiquan itulah, di usia 71 tahun, Bambang Hartono bisa tetap fit memimpin PT Djarum dan beberapa anak perusahaan serta menikmati hobi-hobinya.

25 November 2010

Putri Ayu dan Seriosa



Ajang Indonesia Mencari Bakat sudah lama selesai. Klantink, kelompok musik jalanan asal Joyoboyo, Surabaya, terpilih sebagai juara pertama. Arek-arek Klantink pun jadi selebritas baru. Tak lagi ngamen di bus-bus di Surabaya, tapi ‘ngamen’ di televisi. Klantink bahkan jadi bintang iklan seluler.

Yang perlu pula dicatat dari IMB di Trans TV itu adalah fenomena PUTRI AYU SILAEN. Disebut fenomenal karena si Putri baru 12 tahun, tapi kemampuan olah vokalnya luar biasa. Nyanyi seriosa. Kategori musik yang sudah lama kehilangan pendengar di tanah air.

Musik seriosa yang dilombakan dalam Bintang Radio tahun 1950-an, kemudian Bintang Radio dan Televisi, pernah sangat populer. Seriosa membutuhkan teknik vokal klasik (opera) yang sempurna. Tak bisa nyanyi asal-asalan, asal bunyi. Karena itu, seriosa senantiasa terkait dengan art song. Art music.

Sejak era Christopher Abimanyu, Aning Katamsi, Binu Sukaman, Linda Sitinjak, Johnson Hutagalung, Mangapul Hutapea, atau Trivina Samderubun (di Surabaya) pada 1980-an dan 1990-an, penyanyi-penyanyi seriosa memang selalu muncul. Saya selalu mengatakan, selama paduan suara masih ada di Indonesia, selama sekolah atau kursus musik klasik masih ada... yang namanya seriosa tak akan mati.

Orang-orang gereja yang menjadi pemazmur, menekuni gregorian, musik gerejawi, mau tidak mau, suka tidak suka, harus belajar teknik seriosa. Maka, seriosa tak akan pernah mati. Layaknya musik klasik, ia selalu dilestarikan dari masa ke masa. Namun, seriosa sudah pasti tak akan diputar di radio-radio atau televisi seperti era 1950-an hingga 1970-an.

Dengan latar belakang ini, sejak awal saya deg-degan melihat Putri Ayu di ajang IMB. Sampai berapa lama dia bertahan? Mungkinkah jutaan penonton televisi kita, yang sudah 20 tahun tidak disuguhi musik seriosa, mau mendukung Putri Ayu? Ingat, IMB ini ajang kuat-kuatan SMS. Kualitas penampilan bukan lagi yang terpenting.

Puji Tuhan, Putri Ayu terus bertahan dan bertahan hingga dua besar. Saya sungguh terharu. Ternyata, jutaan penonton televisi kita masih suka musik seriosa. Suka suara soprano Putri Ayu, murid SMP Katolik Santo Thomas I Medan, Sumatera Utara.

Masyarakat Indonesia yang sepanjang hari dihajar dengan lagu-lagu pop industri, yang mutunya makin tak karuan, ternyata masih punya sense of quality. Tahu memilih dan memilah musik yang baik. Tahu bahwa teknik menyanyi klasik, bel canto, ala Putri Ayu punya keunggulan tersendiri. Putri Ayu memang bukan penyanyi biasa.

Kehadiran Putri Ayu di pentas nasional juga membuktikan bahwa seriosa selalu punya jalan untuk menjangkau masyarakat luas. Boleh saja kita kehilangan BRTV, yang megap-megap dalam 10 tahun terakhir. Televisi-televisi tak lagi menyiarkan seriosa seperti era TVRI tempo doeloe.

Tak ada lagi apresiasi musik di televisi seperti di era almarhumah Ibu Sud dan Pak Pranajaya (almarhum). Tapi siapa sangka, seriosa ternyata bisa menyusup melalui IMB, ajang hiburan populer yang sama sekali tak ada kaitan dengan apresiasi musik klasik.

Saya percaya masih banyak Putri Ayu-Putri Ayu lain di Medan, Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, Semarang, Makassar, Maluku, Papua, Manado, Kupang, Balikpapan, Banjarmasin... yang diam-diam telah melestarikan seni suara klasik bernama seriosa ini. Dan itu berarti seriosa tak akan pernah mati.

Horas Putri Ayu!

BACA JUGA
Lagu Seriosa Itu Apa

23 November 2010

Kaisar Victorio - Radio Suzana




Oleh Lambertus Hurek
Radar Surabaya, 24 November 2010

Bahasa Mandarin sering disebut sebagai salah satu bahasa tersulit di dunia. Namun, bukan berarti bahasa nasional Zhongguo (baca: Cungkuo) itu tidak bisa dipelajari oleh orang Indonesia yang bukan keturunan Tionghoa.

“Asalkan kita belajar serius, punya niat, mau memanfaatkan teknologi, dan berlatih berbicara pasti bisa,” tegas Achmad Affandi, penyiar senior Radio Suzana 91,3 FM, kepada saya di studionya, Jalan Wali Kota Mustajab 62 Surabaya. Selasa (23/11/2010).

Kaisar Victorio, nama populer Achmad Affandi, selepas menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI periode 2004-2009, kembali mengisi program-program humor di Radio Susana. Salah satunya, Ni Hao Ma, program interaktif berbahasa Tionghoa dan lagu-lagu Mandarin.

Sebagai host, Kaisar Victorio selalu berbahasa Mandarin dalam program rutin selama dua jam pada pukul 13.00-15.00. “Penggemar acara ini sangat banyak. Dan saya pastikan hampir semuanya orang Tionghoa,” ujar penyiar yang menciptakan Trio Burulu (Bunali, Rukem, Lumut) pada 1972 itu.

Lahir di kawasan Ampel, Surabaya, 14 Juni 1946, Achmad Affandi sama sekali tak punya darah Tionghoa. Dia juga mengaku tak pernah belajar atau ikut kursus bahasa Mandarin di mana pun. Les privat pun tak dilakoninya. “Saya belajar sendiri, otodidak. Nggak pakai guru sama sekali,” akunya.

Sang kaisar Suzana ini mengaku sangat termotivasi belajar bahasa Mandarin karena ada kebutuhan untuk memperkaya program siarannya. Ini penting karena sejak dulu radio di gelombang 91,3 FM itu senantiasa menampilkan program yang multietnis.

Nah, ketika larangan terhadap bahasa dan budaya Tionghoa dicabut oleh Presiden Abdurrahman Wahid (almarhum), Victorio kian intensif belajar bahasa negara panda ini.

“Saya manfaatkan program komputer untuk belajar sendiri. Saya belajar mendengarkan, pengucapan, intonasi, nada-nadanya, sampai karakter hutufnya,” terang ayah empat anak ini.

Victorio pun tak malu-malu berkomunikasi dengan warga Tionghoa Surabaya dalam bahasa Mandarin. Perlahan tapi pasti, kemampuan berbahasa Mandarinnya semakin baik. “Semua yang dikatakan pendengar saya mengerti. Saya juga memberi respons atas komentar-komentar mereka,” katanya.

Ketika berkunjung ke Beijing, Tiongkok, sebagai anggota DPR RI, Victorio bisa menjajal kemampuan berbahasa Mandarinnya dengan warga Tiongkok. Dia pun tak perlu bantuan penerjemah seperti halnya anggota-anggota dewan yang lain.

BLOG KAISAR VICTORIO
http://duniakaisar.blogspot.com/

21 November 2010

Gereja Kristus Raja 80 Tahun




Hari Minggu (21/11/2010), Gereja Kristus Raja Surabaya memperingati hari jadi ke-80. Puncak peringatan ditandai dengan misa syukur yang dipimpin Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono.


MESKI bukan yang tertua, gereja yang terletak di Jalan Residen Sudirman 3, dekat Stadion Tambaksari, ini tergolong salah satu dari tiga Gereja Katolik bersejarah di Kota Surabaya.

Dua gereja yang lain adalah Gereja Kelahiran Santa Maria di Jalan Kepanjen dan Gereja Hati Kudus Yesus (Katedral) di Jalan Polisi Istimewa.

“Boleh dikata, Gereja Kristus Raja (KR) ini sudah menjadi ikon Kota Surabaya. Hampir semua orang Surabaya tahu kawasan Kristus Raja karena memang usianya yang sudah cukup matang. Delapan puluh tahun,” ujar Prof Tondowidjojo Tondodiningrat CM, mantan Pastor Paroki Kristus Raja.

Usia 10 windu ini dirayakan secara khusus oleh jemaat Paroki KR. Sejak beberapa beberapa bulan lalu, mereka menggelar berbagai kegiatan di lingkungan gereja. Juga diadakan pembinaan rohani untuk memaknai 80 tahun keberadaan Gereja KR sebagai peristiwa iman.

Salah satu acara yang mendapat sambutan meriah adalah pergelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Mantep Soedharsono. Menampilkan lakon Semar Gugat, pertunjukan kesenian tradisional ini berlangsung hingga pukul 04.00. Tak dinyana, jemaat rame-rame memenuhi halaman gereja.

“Bahkan, misa pagi jam lima ditiadakan. Ini luar biasa karena jarang terjadi. Umat dan warga sekitar benar-benar menikmati permainan Ki Mantheb,” ujar Sisilia, jemaat Paroki KR, seraya tersenyum.

Bagi Romo Tondo, yang juga menekuni tradisi Jawa, lakon Semar Gugat punya makna rohani sangat dalam. Dan ia berlaku universal, untuk siapa saja. Semar, menurut dia, adalah dewa yang ngejawantah. Dewa yang mengubah wujud dirinya sebagai manusia di dunia. Dalam falsafah Jawa, Kiai Semar atau Ki Lurah Semar menjadi public figure.

“Ia melambangkan kebenaran yang hakiki. Ia menjadi jaminan kemenangan dan keselamatan. Ia adalah suara rakyat kecil, suara hati nurani manusia yang asasi,” urai Romo Tondo.

Ketika di negara Astina sedang diadakan rapat membahas Perang Baratayuda, menurut Romo Tondo, Ki Semar tiba-tiba angkat bicara. Dia meminta majelis agung agar lebih baik membahas situasi masyarakat yang dilanda kemiskinan, bencana alam, wabah penyakit, angkara murka, hingga penyimpangan moral. Ki Semar malah diseret keluar istana oleh seorang siswa Begawan Dewaningrat karena dinilai mengacau pembicaraan.

“Padahal, apa yang diungkapkan Ki Semar itu suara rakyat,” tegas Romo Tondo.



Seperti gereja-gereja tua di kota besar, Gereja Kristus Raja Surabaya dibangun dengan arsitektur yang unik. Tak heran, Gereja KR tercatat sebagai salah satu cagar budaya di Kota Surabaya.

MENURUT Romo John Tondowidjojo CM, bangunan gereja di Jalan Residen Sudirman 3 ini mengacu pada nilai-nilai lokal. Menara lonceng menjulang tinggi di ujung atap. Ini merupakan perpaduan atap joglo dengan menara gaya Barat yang runcing dan tinggi.

Pembagian tata ruang dalam (interior) terasa lapang dan longgar. Dalam ruang utama, menurut Romo Tondo, titik pandang kita akan tertuju ke panti imam. Sehingga, secara tidak sengaja pandangan umat seakan-akan dituntun ke arah tabernakel.

“Ini disebabkan pancaran sinar dari jendela kaca patri di dinding panti imam. Secara keseluruhan berjumlah 53 buah,” papar Romo Tondo yang juga guru besar ilmu komunikasi Universitas Bhayangkara Surabaya itu.

Panti imam sendiri ditata sedemikian rupa seperti bagian dalam rumah adat Jawa yang disebut senthong. Bagian tengahnya menjadi tempat paling sakral, yaitu tabernakel. Ruang di kanan panti imam adalah sakristi. Tempat pastor dan misdinar (putra altar) berganti pakaian.

Mewakili pastor paroki yang berhalangan hadir, kemarin Romo Tondo menceritakan kembali sejarah singkat Gereja KR di hadapan ribuan jemaat. Menurut Tondo, keberadaan Gereja KR tak lepas dari rintisan Monsinyur Th de Backere CM yang konsen pada karya pendidikan. Pada 1 April 1929, Monsinyur de Backere meletakkan batu pertama pembangunan gedung sekolah untuk anak-anak pribumi di kawasan Ketabang.

Tiga bulan kemudian, Juli 1929, gedung sekolah tersebut kelar dan diresmikan. Namanya nama HIS (Hollands Indische School) Santa Theresia. Sekolah yang setara dengan sekolah dasar. Kegiatan belajar-mengajarnya dimulai tahun 1930.

Nah, pada saat itu, setiap hari Minggu, gedung sekolah itu dipakai juga sebagai gereja bagi umat Katolik di kawasan Ketabang dan sekitarnya. Gereja darurat itu kemudian dikenal sebagai Santa Theresia Hulpkerk atau Gereja Bantu Santa Theresia.



Setelah dirintis 80 tahun silam, Santa Theresia Hulpkerk atau Gereja Bantu Santa Theresia terus berkembang. Pada 1933 dibangun gereja baru di bekas bangunan taman kanak-kanak.

Nama gereja tetap sama: Santa Theresia Hulpkerk. Sebagian gedungnya masih disekat untuk taman kanak-kanak. Karena gedung pastoran sudah selesai dibangun, sejak saat itu Romo J Haest CM selaku pastor paroki bersama Romo G van Ravensteijn CM menetap di Ketabang.

Tidak lama kemudian, Prefek Apostolik (cikal bakal Keuskupan Surabaya) Monsinyur Th de Backere CM ikut pindah ke Pastoran Santa Theresia Ketabang. Sejak 1933 Stasi Ketabang berubah status menjadi paroki. Paroki ketiga di Surabaya menyusul Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kepanjen) dan Gereja Hati Kudus Yesus atau Katedral di Jalan Polisi Istimewa.

Mengingat Gereja Theresia Ketabang masih darurat, pada 1938 diadakan renovasi dan diperluas. Bangunan yang tadinya sebagian dipakai untuk sekolah kini sepenuhnya sebagai gereja. Nama gereja yang semula Santa Theresia Hulpkerk diubah menjadi Kristus Koningkerk atau Gereja Kristus Raja.

Ketika tentara Jepang masuk pada awal Maret 1942 di Surabaya, Sekolah Santa Theresia dan Gereja Kristus Raja diduduki tentara Jepang. Semua pastor berkebangsaan Belanda ditangkap dan diinternir tentara Jepang.

“Sehingga, kegiatan rohani diasuh dua romo asal Jawa Tengah, yakni Romo PCL Dwidjosoesanto dan Romo Padmoseputra,” tutur Romo John Tondowidjojo. Mantan Pastor Paroki Kristus Raja ini secara khusus menulis buku peringatan 80 tahun Gereja Kristus Raja.

Setelah Jepang kalah perang, Romo Haest CM dan Romo E van Mensvoort CM kembali ke Ketabang. Di masa kemerdekaan, meski masih dengan berbagai keterbatasan, jumlah jemaat terus bertambah. Gereja sederhana yang dibangun pada 1933 sudah tidak lagi menampung umat.

Maka, pada 1956 Romo Dijkstra CM bersama Romo Passchier CM berinisiatif untuk membangun sebuah gereja baru. Setahun kemudian, 1957, Gereja Kristus Raja diresmikan oleh Uskup Surabaya Monsinyur JAM Klooster CM. Nah, bangunan gereja inilah yang bertahan sampai sekarang.

Baswedan dan RS Al-Irsyad Surabaya



Sebagai putra pengusaha keturunan Arab terkemuka, Said Faisal Basymeleh tak asing lagi dengan kota tua dan bangunan-bangunan bersejarah di kawasan Ampel dan sekitarnya. Salah satu tetenger yang masih berdiri kokoh hingga sekarang adalah bangunan Rumah Sakit Al-Irsyad di Jalan KH Mansur 210-24 Surabaya.

“Itu bekas rumah milik nenek dari istri saya (Laila Baswedan),” ujar Said Basymeleh kepada saya, Kamis (18/11/2010).

Almarhum Basymeleh dikenal sebagai tokoh di kawasan Ampel dan punya keluarga besar. Layaknya tokoh berpengaruh tempo doeloe, Baswedan sengaja membuat rumah besar untuk dihuni anak-anak dan cucu-cucunya. Di dalamnya dibuat kamar-kamar, yang juga sangat luas, untuk ditempati masing-masing keluarga.

“Nah, ruang tengah yang sekarang menjadi ruang tunggu pasien RS Al-Irsyad itu dulunya ruang keluarga. Kalau keluarga besar berkumpul, makan bersama, ya, di ruang tengah itu,” tuturnya.

Baswedan sendiri meninggal dunia jauh sebelum tahun 1970-an. Para anak cucunya kemudian mewarisi rumah besar di jalan raya strategis di kawasan Ampel itu. “Belakangan, mereka merasa rumah itu terlalu besar. Lantas, masing-masing keluarga kemudian pindah ke beberapa rumah yang lebih kecil,” kenangnya.

Yayasan Al-Irsyad kemudian tertarik menjadikan bangunan milik almarhum Baswedan itu sebagai rumah sakit. Mereka bernegosiasi dengan ahli waris Baswedan. “Bahkan, sebagian dari bangunan rumah itu dihibahkan untuk Al-Irsyad. Jadi, dibeli dengan harga yang katakanlah di bawah harga sebenarnya,” tuturnya.

Maka, sejak 1972 rumah itu dijadikan RS Al-Irsyad sampai sekarang. Menurut Said, keluarga besar Baswedan tak punya kaitan apa-apa dengan rumah rumah sakit itu. Said sendiri hanya punya ‘hubungan emosional’, bahwa tempo doeloe leluhur istrinya pernah menghuni bangunan dengan plafon yang sangat tinggi itu.

“Itu sudah sepenuhnya milik Yayasan Al-Irsyad. Sudah dihibahkan, ya sudah, mereka yang kelola sebagai rumah sakit biar lebih profesional,” tandas Said.

Rupanya, pengalamannya sebagai arek Suroboyo keturunan kampung Ampel yang berpengaruh di masa lalu diam-diam membuat Said Basymeleh punya kecintaan yang sangat kuat pada sejarah. Dia senang menjadi filatelis, kolektor prangko, kemudian kolektor foto-foto tua tentang Surabaya.

Melalui foto-foto lama itu, Said bisa bernostalgia jauh ke masa lalu. Oud Soerabaia! (lambertus hurek)

Said Basymeleh dan Foto Oud Soerabaia



Sebuah foto lebih berbicara ketimbang seribu kata! Ungkapan klasik ini benar-benar dibuktikan oleh Said Faisal Basymeleh (53). Berkat ketekunannya berburu foto, arek Suroboyo asal kampung Ampel ini berhasil menghadirkan kembali Wadjah Lama Soerabaia (1890-1940).

HINGGA 25 November 2010, sebagian kecil dari ribuan foto koleksi Said Faisal Basymeleh dipamerkan di Graha Wismilak, Jalan Soetomo Surabaya. Tanpa perlu banyak penjelasan, kita bisa menikmati secara detil suasana Oud Soerabaia, Surabaya Tempo Doeloe.

Kota Surabaya, yang didesain meneer-meneer Belanda sebagai kota perdagangan, yang mengandalkan sungai-sungai di dalam kota sebagai moda lalulintas utama. Kota dengan bangunan-bangunan kolonial yang eksotis. Kesibukan di Arabische Camp dan Chinese Kamp.

“Saya hanya ingin agar masyarakat Surabaya turut menikmati foto-foto indah koleksi saya,” kata Said Basymeleh pada pameran fotonya yang dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf, Kamis (18/11/2010) sore.

Berikut petikan percakapan wartawan Radar Surabaya LAMBERTUS LUSI HUREK dengan Said Faisal Basymeleh.



Sejak kapan Anda menjadi kolektor foto-foto Surabaia Tempo Doeloe?

Sudah 20 tahun saya mengumpulkan foto-foto tua tentang Surabaya ini. Sejak tahun 1990 sampai sekarang.

Awal mulanya bagaimana?

Saat itu saya ada kesempatan ke Negeri Belanda. Saya coba mampir ke salah satu pasar. Saya kaget ketika menemukan kartu pos bergambar Jalan Panggung, Surabaya. Objek foto itu tepat di depan toko milik kakek saya. Jadi, saya tahu persis apa yang ada di foto tersebut. Itu foto tahun 1910.

Sejak itulah saya langsung mencari foto-foto Surabaya yang lain. Saya dapat sekitar 10 lembar. Selanjutnya, dari tahun ke tahun saya terus memburu, hunting, mencari foto-foto lama.

Cari di Belanda lagi?

Di mana saja. Pokoknya, kalau ada foto-foto lama tentang Surabaya, saya usahakan agar bisa dikoleksi. Tapi memang sebagian besar memang saya dapatkan di Negeri Belanda.

Sekarang koleksi foto Anda sudah berapa?

Hingga tahun 2010 ini, koleksi saya sudah mencapai 2.000 lebih. Seluruhnya foto-foto tentang Surabaya. Soerabaia tempo doeloe!

Ada kesulitan mencari foto-foto itu?

Yah, memang sulit. Nggak gampang. Tapi karena saya memang sudah niat dan intens sekali, ya, akhirnya dapat juga. Mencari foto-foto lama itu memang gampang-gampang sulit. Ada kalanya dapat agak banyak, tapi kadang nggak dapat sama sekali.

Tahun 2010 ini, misalnya, saya hanya dapat tiga lembar foto. Jadi, makin tahu memang kita semakin sulit menemukan foto-foto lama. Dan kebetulan sudah hampir semua foto lama tentang Surabaya sudah hampir saya miliki semua. Jadi, ada saja foto lama yang saya temukan, tapi tidak menambah koleksi saya. Saya hanya mengumpulkan foto-foto yang memang belum saya punyai.

Anda mengoleksi foto-foto dari buku-buku lama juga?

Betul. Buku-buku lama, yang sebagian besar berbahasa Belanda, memang sering memuat foto-foto lama tentang Surabaya. Bisa juga foto-foto itu dari kartu pos atau foto cetakan biasa.

Bagaimana Anda menyimpan dan merawat ribuan foto itu?

Sebagian besar saya masukkan ke album-album agar mudah dicari dan dinikmati. Kalau yang tidak bisa dimasukkan album, saya buatkan folder khusus. Kalau yang di buku, ya, disimpan saja bukunya. Saya juga kebetulan punya banyak buku mengenai Surabaya tempo doeloe.

Hobi seperti ini tentu banyak makan uang?

Hehehe.... Sudah pasti keluar uang karena harus beli. Mana ada yang gratis sekarang? Kalau dikasih, siapa yang mau kasih saya foto segini banyaknya.
Semakin hari orang semakin sadar bahwa foto-foto lama, buku-buku klasik, itu punya nilai yang tinggi. Sehingga, kolektor juga semakin sulit mendapatkan foto-foto lama. Tapi saya harus berani investasi. Ke Negeri Belanda jelas butuh biaya untuk tiket, akomodasi, dan sebagainya. Tapi kalau tidak berani investasi, ya, kita tidak akan pernah mendapatkan foto-foto yang bagus.

Mungkin Anda dipengaruhi keluarga yang suka sejarah atau fotografi?

Sebenarnya tidak juga. Saya tertarik sekali dengan foto-foto kuno karena saya melihat foto-foto itu begitu indah dan punya nilai sejarah. Dan, waktu itu, tahun 1990, banyak teman-teman di Belanda yang menyarankan saya agar menjadi kolektor foto-foto tentang Surabaya.

Lantas, siapa yang mengajak Anda pameran di Graha Wismilak?

Dari teman-teman seperti Pak Eddy Samson, Pak Freddy Istanto (dosen Universitas Ciputra, penggiat Surabaya Heritage, Red), dan Pak Henry Najoan dari Wismilak. Suatu ketika kami diskusi santai, ngobrol-ngobrol, lalu tercetus gagasan untuk bikin suatu acara dan akhirnya terwujudlah pameran ini. Mudah-mudahan pameran ini mendapat respons dari masyarakat Kota Surabaya. (rek)





BIODATA SINGKAT

Nama : Said Faisal Basymeleh
Lahir : Surabaya, 1957
Istri : Laila Baswedan
Anak : Ikrima, Aslam, Abizar
Pekerjaan : Pengusaha
Hobi : Koleksi prangko, foto lama, kuliner
Alamat : Jalan KH Mansyur 185 Surabaya

Pendidikan
- SD-SMA Al Irsyad Surabaya
- Sarjana Teknik (S-1) di Surabaya

17 November 2010

Lima Naga - Wushu & Barongsai



Sejak diakui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 1990-an, wushu berkembang pesat di tanah air. Sasana wushu bermunculan di berbagai kota.

Saat ini wushu bahkan menjadi salah satu olahraga unggulan Indonesia di even-even bergengsi di tingkat internasional. Ivana Ardelia Irmanto, wushuwati asal Jogjakarta, kemarin, menjadi atlet Indonesia pertama yang meraih medali di Asian Games Guangzhou, Tiongkok. Ivana diganjar medali perak dalam nomor nanquan putri.

Luar biasa! Wushu, yang dulu dikenal sebagai kungfu atau kuntao, itu kini berhasil mengharumkan nama Indonesia di pesta olahraga se-Asia meski sempat mengalami masa suram pada era Orde Baru.

Kebangkitan wusuhu di tanah air ini sebetulnya bisa dipahami mengingat seni bela diri khas Tionghoa yang satu ini sudah ada di Indonesia seiring keberadaan huaqiao alias masyarakat Tionghoa perantauan.

Tak kalah dengan kota-kota lain, di Surabaya pun sasana wushu muncul di mana-mana. Kalau zaman dulu wushu atau kungfu hanya dilatih untuk sekadar ‘jaga diri’, pasca-Orde Baru wushu benar-benar dipandang sebagai salah satu cabang olahraga prestasi. Dilombakan di berbagai even antarbangsa seperti SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.

Salah satu sasana wushu di Surabaya adalah Lima Naga. Sasana di Jalan Bongkaran 63 ini, menurut Chriswanto AH, memang ingin melestarikan budaya Tionghoa seperti wushu, barongsai, liang-liong, dan chi kung.

“Kita punya sekitar 70 anggota, mulai anak-anak hingga usia sekolah menengah,” kata pembina Lima Naga ini kemarin.

Dibandingkan barongsai dan liang-liong, menurut Chriswanto, wushu sebetulnya lebih mudah dipelajari. Akan lebih optimal jika seni bela diri ala negeri tirai bambu itu dipelajari sejak kanak-kanak. “Kita lebih mudah membentuk fisik dan ototnya. Gerakan-gerakannya juga lebih lincah,” paparnya.

Seperti juga barongsai, wushu menjadi ajang pembauran yang efektif antara warga Tionghoa dan non-Tionghoa. Di Sasana Lima Naga, misalnya, sebagian besar atlet justru didominasi orang Jawa dan Madura.

“Orang Tionghoanya malah sangat sedikit. Di bidang olahraga, sekat-sekat suku, ras, agama, dan sebagainya hilang. Semua orang bisa menyatu dan berlatih bersama,” kata Chriswanto.

Jika sasana-sasana wushu yang tersebar di seluruh tanah air ini dikelola dengan sungguh-sungguh, dia optimistis wushu bakal menjadi tambang medali bagi Indonesia. Sebab, anak-anak Indonesia memang punya bakat yang luar biasa dalam memainkan gerakan-gerakan silat ala Tiongkok itu.

Kiprah Ivana Ardelia di Asian Games Guangzhou sudah membuktikannya. (*)

15 November 2010

Rapor Kesehatanku Masih Buruk



Aku mejeng sama teman-teman dan band NETRAL.

Sudah berapa kali Anda melakukan general checkup? Saya baru enam kali. Dan hasilnya selalu membuat saya tidak tenang. Rapor merah di banyak item!

Pekan lalu, hasil tes kesehatan kami, para karyawan, diumumkan. Lagi-lagi angka kolesterol dan turunannya masih merah. Tapi, dibandingkan tes tahun lalu, kali ini kemajuan. Nilainya membaik meskipun belum masuk kriteria normal.

Kolesterol total 243 [normal < 200]
Trigliserida 187 [normal < 150]
HDL 42 [normal 40-60]
LDL 164 [normal < 100]

Asam urat 6,4 [normal 3,4 - 7,0]
Glukosa puasa 80 [normal < 100]

SGOT 18,7 [normal < 40]
SGPT 23,0 [normal < 41]
Tekanan darah 120/70

Tinggi badan 172 cm
Berat badan 74 kg


Karena selalu mendapat rapor merah, dan banyak teman juga mengalami, kali ini saya tidak secemas ketika pertama kali membaca hasil tes kesehatan. Apalagi, ada beberapa item yang mengalami perbaikan signifikan.

Tahun lalu kolesterol total saya 307, sekarang 243. Trigliserida 260 menjadi 187. LDL 205 turun ke 164. Asam urat dari 7,3 ke 6,4.

Semua orang sih ingin semua item pemeriksaan normal. Tak ada masalah kolesterol, hati, jantung, tekanan darah, dan sebagainya. Tapi menekuni pekerjaan di depan komputer, bukan kerja fisik, jarang berolahraga, membuat rapor kesehatan kita tidak bisa optimal. Stres selalu menghantui. Banyak pikiran. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Orang-orang kampung di luar Jawa, misalnya, tak pernah checkup sepanjang hidupnya. Mereka pun tak paham apa itu general checkup. Toh, semua manusia akan mati kalau memang ajal sudah menjemput.

Dokter-dokter spesialis yang paling hebat sekalipun akan mati juga meskipun dia melakukan checkup kesehatan tiap minggu. Kalau mau bisa saja setiap hari. Hehehe....

Tapi, paling tidak, dengan mengetahui rapor kesehatan, maka saya lebih hati-hati dalam hidup. Mengurangi makan daging. Mengurangi gula. Tidak makan di atas jam tujuh malam. Makan tengah malam, bahkan di atas pukul 23:00, saya lakukan setelah pulang dari kantor setiap hari. Mungkin kebiasaan buruk inilah yang menyebabkan berat badan saya naik terus, angka kolesterol di atas normal.

Hiperkolesterol!

Begitu banyak warung di pinggir jalan di Surabaya dan Sidoarjo yang menyediakan berbagai menu istimewa. Godaan-godaan makan pada malam hari ini tidak mudah diatasi penduduk kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, dan sebagainya.

Beda dengan penduduk kota kecil macam Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang rata-rata sudah tidur sebelum pukul 21:00. Atau, orang-orang desa di kampung saya, Flores Timur, yang tidur rata-rata sekitar pukul 19:00. Kita di Surabaya umumnya tidur terlampau larut.

Kalau ada pertandingan bola di televisi yang melibatkan klub-klub elite dunia macam Barcelona, Real Madrid, Chelsea, Manchester United, Inter Milan, AC Milan... saya bahkan melekan terus. Baru tidur pukul 02:00. Atau, biasanya, tidur sebentar, pasang alarm agar dibangunkan pukul 01:00... demi menyaksikan pertandingan bola di televisi.

Kita, khususnya saya, terlalu asyik menonton orang lain berolahraga di televisi atau lapangan, tapi awak sendiri jarang berolahraga. Bagaimana hasil tes kesehatan bisa bagus?

Mudah-mudahan hasil general checkup Anda, pembaca blog ini, lebih bagus ketimbang saya. Amin!

14 November 2010

Gedung Hakka yang baru




Rapat Kerja Nasional III Perkumpulan Hakka Indonesia di Grand City Surabaya berakhir kemarin (14/11/2010). Sebelum kembali ke daerah masing-masing, sekitar 250 delegasi dari seluruh tanah air menghadiri peresmian Gedung Hwie Tiauw Ka di Mangga Dua, Jagir Wonokromo.

Gedung berlantai tiga ini diharapkan bisa menjadi pusat kegiatan komunitas Hakka di Kota Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Selama ini segala aktivitas Hwie Tiau Ka yang baru merayakan ulang tahun ke-190 ini dipusatkan di Jalan Slompretan.

Gedung tua di kawasan pecinan itu telah menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Kota Surabaya. “Jadi, kita tidak bisa mengubah bentuk atau memperluas gedung itu. Sementara aktivitas Hwie Tiauw Ka dan Perkumpulan Hakka makin meningkat akhir-akhir ini,” jelas Dr Joshie Halim, ketua panitia rakernas, di sela peresmian Gedung Hwie Tiauw Ka.

Karena itu, para pengurus dan tokoh masyarakat Hakka di Surabaya memandang perlu membuka sebuah gedung serbaguna yang baru. Apalagi, Surabaya selama ini menjadi motor penggerak aktivitas Perkumpulan Hakka di Jawa Timur. “Syukurlah, gedung serbaguna itu akhirnya bisa diresmikan,” kata Joshie Halim.

Menurut Joshie, ke depan gedung di kompleks ruko Mangga Dua ini akan lebih banyak dipakai oleh kaum muda Hwie Tiauw Ka alias Perkumpulan Hakka. Di situ juga dibuka kursus bahasa Mandarin, kursus bahasa Hakka, serta aneka seni budaya Tionghoa, khususnya yang terkait dengan Hakka.

“Orang-orang Hakka ini punya tradisi berbalas pantun seperti kebiasaan masyarakat Batak di Sumatera. Ada tradisi sastra lisan. Tradisi dan budaya seperti ini memang perlu dilestarikan dari generasi ke generasi,” papar Joshie seraya tersenyum.

Acara peresmian Gedung Hwie Tiauw Ka kemarin berlangsung meriah. Diiringi atraksi barongsai Lima Naga, para delegasi rakernas meninjau ruangan dari lantai satu hingga lantai tiga. Nuansa Jawa pun terlihat kental dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama makanan khas Surabaya.

Setelah itu, para pemuka masyarakat Hakka berdiri berjejer di depan gedung untuk memotong pita merah. Tirai penutup papan nama gedung pun terbuka. Acara yang dipandu MC dalam bahasa gado-gado Mandarin, Hakka, Indonesia, dan Jawa itu pun berlangsung gayeng. Semuanya bertepuk tangan meriah.

Sebelumnya, Sabtu (13/11/2010) malam, ratusan peserta rakernas menikmati atraksi seni budaya persembahan komunitas Hakka di Surabaya. Tahun depan, menurut Joshie Halim, bakal digelar musyawarah nasional Hakka di Medan, Sumatera Utara. (*)

BACA JUGA
Hwie Tiauw Ka di Surabaya